Minggu, 03 November 2013

Iman dalam Belenggu Sekularisme



Doktrin tentang iman menempati urutan terdepan pada mata rantai ajaran Islam. Jika dakwah Rasulullah ditelisik, maka aksentuasinya adalah persoalan iman. Bahkan di dalam Alquran terhitung mulai Surah pertama al-Faatihah sampai Surah terakhir al-Naas juga membahas tentang iman. Dalam kitab-kitab hadis mu’tabar pembahasannya sama, masalah iman tetap dipaparkan pada bab pertama sebelum bab-bab yang lain. Hal-hal tersebut menunjukkan betapa iman merupakan sesuatu yang amat esensial.

Hakikat Iman
Iman lahir dari kosa kata bahasa Arab “amina”. Semua kata yang terdiri dari huruf alif, miim dan nuun, mengandung makna pembenaran dan ketenangan hati. Iman satu akar kata dengan amaanah yang berarti dapat dipercaya, dan lawan dari khiyaanah, yang berarti tidak dapat dipercaya. Iman juga satu akar kata dengan aamaan yang berarti sejahtera, sentosa dan tenteram. Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa iman selain sebuah pembenaran, ia juga berkonsekuensi pada lahirnya ketenangan hati dan jauh dari khianat. Iman juga akan melahirkan rasa aman, terhindar dari ketakutan dan berbagai ancaman.
Terdapat tiga tungku iman yang saling menguatkan, yaitu: tashdiiq (pembenaran), iqraar (ucapan lisan) dan ‘amal (perbuatan). Tiga tungku iman tersebut sesungguhnya hakikat keimanan itu. Iman terletak tidak hanya di hati tapi juga diejawantahkan melalui akhlak terpuji. Orang yang beriman disebut Mu’min (Mukmin), yang berarti pemberi rasa aman. Seorang Mukmin selain memberikan rasa aman bagi lingkungan sekitarnya, ia juga akan bersifat amanah, artinya dapat dipercaya. Bagi seorang Mukmin, antara keyakinan, ucapan dan perbuatan adalah sesuatu yang bersifat senyawa.
Alquran banyak mendeskripsikan berbagai parameter iman. Misalnya, dalam beberapa ayat diuraikan tentang karakteristik iman, yaitu: mengelola lisan secara baik dan menyimpan energi yang kuat untuk menganalisa berbagai ketimpangan ekonomi di sekitarnya. Untuk itu seorang Mukmin sebagai pemilik keimanan selalu mencoba menggelorakan filantrofi Islam seperti zakat, infak dan sedekah (Q.S. Al-Mu’minuun/ 23: 2-4). Sementara Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia memuliakan tetangganya....” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah juga menegaskan, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari Muslim). Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada iman tanpa perbuatan baik.

Belenggu Sekularisme
Sakralitas iman bertujuan untuk memuliakan manusia. Iman yang benar adalah pangkal seluruh sifat-sifat terpuji. Ketika seseorang mendeklarasikan diri sebagai seorang Mukmin, maka akhlaknya mesti terpuji pula. Namun jika tindakannya mencederai nilai-nilai kemanusiaan, ini berarti keimanannya hanya sebatas getaran hati dan ucapan lisan. Pada fase inilah sekularisme muncul dan menemukan bentuknya. Indikator merasuknya sekularisme dapat dilihat dari tercerabutnya iman dari berbagai aktivitas. Dalam konteks sejarah, iman maupun sekularisme tidak pernah sejalan. Namun uniknya, sekularisme sebagai sesuatu yang amat lembut bisa merangsek masuk dalam diri seorang panganut agama.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), sekularisme didefinisikan sebagai paham atau pandangan yang menyatakan bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada agama (baca: iman). Penganut paham atau pandangan ini disebut sekularis. Sekularisme berasal dari kata Latin saeculum yang berarti dunia, dan dalam bahasa Arab disebut ‘ilmaaniyah yang juga berarti dunia. Jika boleh dibedakan, maka sekularisme memiliki dua tipologi, yaitu: sekularisme transparan dan sekularisme terselubung. Sekularisme transparan menolak segala bentuk keimanan secara jelas dan terjadinya kehendak untuk memisahkan agama dari dunia. Sementara sekularisme terselubung lebih terletak pada sikap dan tindakan yang dapat mencederai nilai-nilai keimanan meskipun secara literal terlihat beriman. Sekularisme terselubung meniscayakan perilaku sehari-hari dengan mengabaikan iman.
Seseorang yang mengaku dirinya beriman sementara berbagai aktivitasnya justru menodai keimanan, maka ia sesungguhnya telah menganut sekularisme terselubung. Pribadi seperti ini selalu menonjolkan simbol-simbol keimanan seperti shalat, puasa, maupun haji, namun hidupnya tidak humanis. Ia bisa jadi berteriak lantang tentang iman ke mana-mana, tapi di sisi lain ia gemar menceritakan aib orang lain, memutuskan persaudaraan, suka berkhianat, dan berbagai kejahatan sosial lainnya. Benar, bahwa lisannya menunjukkan keimanan namun berbagai perilakunya justru mengotori nilai-nilai keimanan tersebut. Inilah iman yang menjadi pasif dan  tidak produktif. Tanpa disadari, sekularisme sebagai sebuah paham yang kerap ia cerca, ternyata menjelma dalam setiap perilaku buruk yang dilakukannya. Inilah sesungguhnya sekuralisme yang telah membelenggu iman tersebut.
Fakta-fakta berikut ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita betapa sekularisme terselubung telah merasuki berbagai aktivitas keagamaan: Seorang Ibu dengan mengendarai mobil mewahnya membuka kaca jendela mobil dan membuang sampah sembarangan dan terus berlalu. Padahal ia memakai pakaian yang menunjukkannya sebagai seorang Muslimah. Ibu ini telah membuang iman dalam aktivitasnya tentang kebersihan. Seorang pejabat publik pernah menunaikan ibadah umroh dari hasil suap. Sampai di tanah air ia langsung diamankan aparat keamanan. Di sini, umroh seharusnya membuat ia berperilaku jujur. Namun justru iman ia lepaskan dengan melakukan kebohongan. Sekelompok orang berteriak atas nama Allah sembari melakukan kekerasan fisik terhadap saudaranya. Mereka ingin mengawal iman, anehnya justru sikap mereka bertentangan dengan iman yang semestinya diwujudkan melalui kasih sayang.
Sekularisme terselubung tidak selalu terjadi di tengah masyarakat yang terang-terangan sekular, namun sangat mungkin terjadi di tengah masyarakat yang justru  menganggap iman seperti mutiara paling berharga. Tentu yang lebih mengejutkan, sekularisme terselubung ini tumbuh dan berkembang sedemikian cepat seiring dengan maraknya simbol-simbol agama. Oleh karena itu, kita mesti bersikap lebih awas terhadap model sekularisme ini. Memahami iman secara komprehensif dan tidak parsial merupakan jalan keluar terbaik, yaitu iman yang dibuktikan melalui fakta-fakta berupa budi pekerti yang baik dan lingkungan yang sehat. Iman seperti ini akan melahirkan kemaslahatan bagi banyak pihak. Allaahu a‘lam.

0 komentar: