Minggu, 03 November 2013

Cerita Tentang Haji



Terdapat sedikit distingsi antara ibadah haji dibanding dengan ibadah-ibadah lain seperti shalat dan puasa. Jika haji membutuhkan cost yang terbilang tinggi, tidak demikian dengan shalat dan puasa. Selain itu, haji dalam konteks sosiologis sering digunakan untuk menunjukkan status keagamaan seorang Muslim. Biasanya orang yang sudah menunaikan ibadah haji dianggap lebih religius dalam berpikir maupun bertindak. Satu hal yang terbilang unik, meskipun cost haji cukup tinggi namun jumlah kaum Muslim yang ingin mengerjakannya semakin bertambah dari waktu ke waktu. Kini, ibadah haji telah menjadi magnet spiritual yang memberikan daya tarik tersendiri bagi pelaksananya.

Sebuah Cerita
Alkisah, dulu di sebuah kampung terdapat serombongan  calon jamaah haji yang bersiap-siap melakukan perjalanan ruhani ini. Mereka dilepas oleh seluruh penduduk kampung yang sekaligus melayangkan doa-doa keselamatan dan harapan agar haji mereka mabrur. Tak lupa, para calon jamaah haji menghiasi unta-unta mereka sebagai tunggangan. Menempuh perjalanan haji kala itu memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Oleh karena itu, bekal yang mereka persiapkan juga harus banyak. Aktivitas menghiasi unta rupanya berubah menjadi semacam festival, yaitu festival merias unta. Siapa saja di antara mereka yang berhasil menghiasi untanya dengan berbagai asesoris maka dialah yang mendapatkan apresiasi. Akhirnya, festival itu membuat mereka lengah dari tujuan semula, yaitu memenuhi seruan Allah.
Syahdan, rombongan calon jamaah haji itu perlahan meninggalkan kampung. Diiringi isak tangis dan lambaian tangan, mereka meninggalkan tanah kelahirannya. Sang Kepala Rombongan menunggang unta yang paling istimewa, penuh dengan berbagai hiasan yang amat mengagumkan. Sebagai Kepala Rombongan, ia harus bertanggungjawab terhadap berbagai persoalan yang muncul selama perjalanan. Sampailah pada akhirnya mereka di sebuah kampung untuk beristirahat. Secara kebetulan, kampung yang mereka singgahi berpenduduk miskin, banyak janda tua yang tak mampu dan anak-anak yatim di sana. Setelah istirahat, mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Malangnya, sepasang suami istri tidak dapat melanjutkan perjalanan karena kehabisan bekal. Setelah diketahui, ternyata bekal haji mereka disumbangkan untuk membiayai hidup dan pendidikan kaum miskin di kampung itu. Akhirnya mereka kembali ke kampung halamannya. Peristiwa tertinggalnya suami istri itu disadari setelah rombongan bergerak cukup jauh dari tempat mereka berhenti.
Singkat cerita, seluruh rangkaian ritual haji telah dilaksanakan oleh rombongan itu. Kini tibalah saatnya mereka akan kembali ke kampung halamannya. Tak lupa, mereka membeli berbagai buah tangan sebagai pertanda telah menunaikan ibadah haji.  Mereka yakin, predikat haji mabrur telah mereka sandang. Setelah melewati perjalanan panjang dan demikian melelahkan, rombongan yang telah menunaikan haji itu disambut warga kampung seperti pejuang yang baru kembali dari medan laga. Meskipun lelah, rona wajah mereka memancarkan kebahagiaan yang tidak terhingga. Satu malam, Kepala Rombongan bermimpi. Dalam mimpi itu, ia mengikuti sebuah maklumat tentang orang-orang yang mendapatkan haji mabrur. Ia yakin dan percaya, dirinya termasuk salah satu nominator utama yang akan meraih predikat haji mabrur itu. Setelah diumumkan, ternyata orang yang mendapatkan haji mabrur adalah sepasang suami istri yang gagal haji karena menyumbangkan bekalnya untuk kaum dhua’afa.
Kepala Rombongan itu sangat sedih, namun akhirnya ia terjaga dari mimpinya.  Ia lalu terdiam dan merasa sangat malu karena ia dan teman-temannya pergi berhaji karena unsur riya’. Riya’ karena berlomba menghiasi unta, riya’ karena membeli oleh-oleh, riya’ ketika mengadakan pesta menjelang keberangkatan dan kedatangan. Secara lahiriah mereka pergi haji, namun hatinya tidak ikut berhaji.  Setelah mimpi itu ia tersadar, bahwa haji mabrur itu tidak cukup hanya sholat, puasa, haji dan memperbanyak asesoris keislaman, melainkan juga senantiasa mendermakan harta kekayaannya bagi kepentingan sosial untuk menolong mereka yang terpinggirkan.

Menangkap Makna
Meskipun bersifat fiktif, cerita ini memunculkan sederetan hikmah yang dapat menjadi cermin bagi kita semua. Pertama, pelaksanaan ibadah haji harus dilakukan secara ikhlas karena Allah bukan karena berbagai motivasi lain. Kedua, ibadah haji mendidik pelakunya untuk tidak mencintai berbagai asesoris duniawi secara berlebihan. Ketiga, haji mabrur tidak selalu ditandai dengan penampilan lahiriah, melainkan mesti dilihat dari berbagai perubahan baik pola pikir maupun perilaku pelaksananya. Keempat, ibadah haji mendidik pelaksananya untuk hidup dalam kebersamaan yang diwujudkan lewat berbagai karitas kepada sesama.
Dalam Ensiklopedi Alqur’an: Kajian Kosa Kata (2007) dijelaskan bahwa kata haji itu diderivasi dari kata hajj, yang merupakan bentuk mashdar dari kata hajja, yahujju, hajjan/ hijjan. Di dalam Alquran, kata hajj dan kata yang seasal dengan itu disebut 33 kali. Secara bahasa, kata hajj berarti al-qashd yang berarti sengaja, bermaksud atau berkunjung. Al-Asfahani sebagaimana Ibnu Manzhur menyamakannya dengan ziyaarah (berziarah). Secara istilah, hajj berarti sengaja mengunjungi tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji, baik ibadah wajib maupun sunnat di dalam waktu dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan agama.
Bagi pelaksana ibadah haji tidak ada keinginan dan harapan yang lebih tinggi kecuali meraih predikat haji mabrur. Lalu, apa sebenarnya substansi haji mabrur itu? Dilihat dari segi bahasa, mabrur berarti baik. Ini mengacu pada perkataan Arab untuk baik yang salah satunya ditunjukkan dengan kata al-birr. Kata al-birr ini misalnya dapat ditemui dalam Alquran, “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (al-birr) sebelum kamu mendermakan apa yang kamu cintai…” (Q.S. Ali-Imraan/ 3: 92). Ayat ini memaparkan secara tegas bahwa yang disebut al-birr adalah kepedulian sosial.
Semua ajaran Islam termasuk ibadah haji memang dirancang untuk memperkuat hubungan pribadi dengan Allah dan sekaligus memperkuat aspek konsekuensialnya berupa berbuat baik kepada sesama manusia. Ibadah haji memang urusan vertikal kepada Allah, namun efek yang ditimbulkannya sangatlah horizontal. Inilah sesungguhnya haji mabrur itu, yaitu adanya relasi antara segi vertikal (habl min Allaah) dengan segi horizontal (habl min al-naas) dalam bingkai kerja-kerja kemanusiaan. Seluruh ajaran Islam jika divisualisasikan akan berbentuk kerucut yang puncaknya adalah peri kemanusiaan. Demikian pula halnya musim haji pada tahun ini, di mana banyak di antara saudara kita yang berangkat, mudah-mudahan haji mereka dapat memberikan perubahan yang bermuara pada kesalehan individual, kesalehan sosial, kesalehan birokrasi dan kesalehan struktural. Amin. Wa Allaah a’lam.

0 komentar: