Minggu, 03 November 2013

Catatan untuk Muhammadiyah



Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi tajdiid. Secara etimologi, tajdiid dapat diartikan dengan purifikasi maupun dinamisasi. Purifikasi ditujukan untuk memurnikan ajaran Islam dari berbagai keyakinan yang dapat menodai keimanan maupun meluruskan ritualisme yang melenceng. Di lingkungan Muhammadiyah, kata-kata seperti: takhyul, bid’ah dan churafaat (TBC) cukup populer. Pada ranah inilah tajdiid dalam pengertian purifikasi ditujukan. Sementara tajdiid dalam pengertian dinamisasi ditujukan pada berbagai ranah selain keimanan dan ritualisme. Baik purifikasi maupun dinamisasi masing-masing bergerak menjauh, namun saling menguatkan. Purifikasi bergerak ke belakang, sementara dinamisasi bergerak ke depan.
Tajdiid dengan dua maknanya yang integral tersebut menjadi bagian dari kekuatan Muhammadiyah. Itulah sebabnya organisasi ini mendapatkan demikian banyak predikat yang disematkan oleh para pakar. Misalnya saja Deliar Noer  menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern. Abu Bakar Atjeh menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan purifikasi. Clifford Geertz memberikan predikat sebagai organisasi sosial kultural. Azyumardi Azra bahkan menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi civil Islam terbesar di dunia dalam bidang pendidikan.
Dalam proses perjalanan waktu, tajdiid dalam pengertian purifikasi menguat dan mendapat respon positif. Variabel utamanya karena keislaman masyarakat masih sinkretik. Sebab itu perlu dilakukan purifikasi. Sifat purifikasi umumnya kurang toleran dan tertutup. Keadaan ini menggelinding seperti bola salju (snow ball), semakin lama semakin besar dan berlangsung selama puluhan tahun. Hal ini berpengaruh pada mind set warga Muhammadiyah. Organisasi ini secara perlahan dikenal sebagai gerakan yang tertutup, kaku dan tidak kompromistis.
Melalui Majelis Tarjih lahirlah Himpunan Putusan Tarjih (HPT). HPT berisi tuntunan tentang akidah dan ibadah maupun mu’amalah. Patut diapresiasi, bahwa di Muhammadiyah terdapat panduan dalam memahami dan menjalankan Islam. Tapi perlu pula disadari bahwa HPT bagi sebagian kalangan dianggap kitab yang sakral. Jika hal ini dilakukan secara berlebihan maka akan lahir fanatisme yang kebablasan. HPT turut membentuk mind set warga Muhammadiyah. Mestinya HPT tetap diposisikan sebagai produk intelektual yang tidak kebal peninjauan.
Tak seperti purifikasi, dinamisasi berjalan terseok-seok di tengah hegemoni purifikasi. Ada semacam kesan, dinamisasi dipahami sebatas mendirikan panti asuhan, rumah sakit, sekolah dan masjid. Tentu saja makna seperti ini menjadi sempit. Pada masa awal, dinamisasi yang diejawantahkan melalui pendirian lembaga-lembaga seperti itu cukup relevan dan amat dibutuhkan. Namun dinamisasi adalah proses yang terus hidup dalam berbagai pemikiran dan gerakan Muhammadiyah. Tak seperti setting masyarakat tempo dulu, kini Muhammadiyah berjalan di sebuah zaman yang rentan perubahan. Karena itu, Muhammadiyah melalui dinamisasinya diharapkan tetap dapat bertahan seiring berbagai perubahan yang kian kompleks.
Muhammadiyah memang tidak tertandingi dalam kepemilikan lembaga pendidikan, jumlah masjid,  jumlah panti asuhan, jumlah rumah sakit. Namun dalam beberapa aspek lain seperti pemikiran Islam klasik maupun kontemporer Muhammadiyah dapat dikatakan terlambat atau mungkin ketinggalan dibandingkan dengan saudara-saudara dekatnya seperti Nahdhatul Ulama (NU) atau bahkan mungkin Al-Wasliyah. Kedua saudara dekat Muhammadiyah itu terlihat lebih responsif. Pemikiran-pemikiran mereka kerap ditransformasikan melalui berbagai media.
Jauh hari Wertheim sudah mencerrmati bahwa Muhammadiyah secara perlahan bergerak ke arah ketertutupan. Jika pencermatan Wertheim ditambahkan, sikap tertutup terjadi karena stagnasi gerakan intelektualisme. Ini berarti Muhammadiyah ibarat jasad yang kehilangan ruh. Seperti diingatkan Buya Syafii Maarif bahwa stagnasi intelektualisme merupakan preseden buruk bagi organisasi ini. Buya Syafii Maarif menginginkan pemikiran-pemikiran Islam yang segar menjadi sebuah dinamika. Inilah yang menurutnya merupakan karakteristik dari sebuah gerakan tajdiid. Ia mencita-citakan agar Muhammadiyah menjadi sebuah komunitas ilmu (ummat al-‘ilm) dan universitas terbuka (open university) di mana tradisi kajian ilmiah yang bercorak kritis dan rasional hidup dan berkembang.
Agak sedikit memprihatinkan pada aspek pemikiran ini sebagian warga Muhammadiyah kurang responsif bahkan curiga. Sebagai organisasi pembaruan yang bersifat dinamis maka persoalan-persoalan klasik apalagi kontemporer seharusnya mendapat perhatian serius. Seperti diungkapkan Cak Nur,  betapa pun besarnya pujian yang diterima Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi, Muhammadiyah kini menghadapi tugas berat untuk meningkatkan proses demokratisasi umat dan bangsa dengan jalan membangun egalitarianisme, toleransi, inklusivisme, moderasi, dan humanisme universal yang sejati.
Memang tak semua isu itu dapat diterima, perlu pula dilakukan kajian intensif. Semestinya warga Muhammadiyah memiliki healthy scepticism (skeptis sehat), mengkaji terlebih dahulu secara kritis kemudian disimpulkan, bukan sebaliknya sick scepticism (skeptis sakit), rasa curiga yang berlebihan sekaligus menolak hal-hal yang dianggap mencurigakan. Sikap ini tentu saja tidak sehat bagi perkembangan tradisi ilmiah di lingkungan Muhammadiyah. Rasa tidak simpati juga sering ditujukan kepada minoritas warga Muhammadiyah yang kebetulan mendalami isu-isu sensitif tersebut.
Jika ditelisik lebih jauh, aktivitas Muhammadiyah dari Wilayah sampai Ranting tetap sama, belum terlihat pemikiran-pemikiran bernas yang dilontarkan. Jika pun ada, maka pemikiran-pemikiran tersebut tidak berjalan merata, hanya terjadi pada beberapa komunitas kemudian terkubur ritual organisasional. Sebab itulah, perlu pula upaya-upaya segar untuk memperbarui beberapa aspek di dalam tubuh gerakan pembaruan ini. Menurut Hannah Arendt bahwa revolusioner yang paling radikal sekalipun pada akhirnya akan menjadi konservatif sehari setelah revolusi selesai. Bukan tidak mungkin Muhammadiyah menjadi lembaga konservatif tanpa adanya penyegaran.
Potret tersebut menunjukkan bahwa tajdiid yang mengandung dua makna: purifikasi dan dinamisasi berjalan tidak seimbang. Inilah yang menyebabkan Muhammadiyah terkesan lambat. Dua kekuatan yang pada awalnya merupakan ruh Muhammadiyah menjadi terpecah. Peran purifikasi jauh lebih dominan dan melahirkan hegemoni tersendiri. Fenomena ini dapat dilihat di antaranya dari berbagai majelis ta’lim di kebanyakan Cabang dan Ranting yang sebagian besar mengupas masalah iman dan fikih dalam arti sempit ketimbang isu-isu kemanusiaan. Di sini peran mubaligh Muhammadiyah cukup signifikan dalam mengemas materi ta’lim yang lebih bercorak humanis dan terbuka, bukan sebaliknya yang disampaikan justru klaim-klaim kebenaran internal sekaligus memojokkan pihak lain.
Pada aspek lain pembacaan Azyumardi Azra terhadap Muhammadiyah perlu dipertimbangkan. Menurutnya, Muhammadiyah seharusnya lebih mengukuhkan posisinya di jalur tengah. Jalur yang menghubungkan antara pemerintah dengan masyarakat. Bukan sebagai oposisi, yang dinilainya lebih layak diperankan oleh partai politik tertentu. Suara moderatisme tetap digaungkan, terutama dalam kaitannya untuk memutus gerakan Islam transnasional yang kerap melahirkan berbagai radikalisme di tanah air. Muhammadiyah juga bukan lembaga legal semata yang bekerja hanya pada wilayah halal dan haram maupun penentu keberadaan hilal.
Seperti dikemukakan Robert W. Hefner bahwa Muhammadiyah ke depan harus menjadi "a civic organization"  yang berfungsi sebagai "ruang dialog publik" untuk praksis liberatif terhadap masyarakat sipil yang lemah, marginal, dan tertindas di satu sisi, dan di sisi lain berfungsi sebagai "ruang kesadaran kritis" di kalangan sipil dalam melaksanakan fungsinya sebagai checks and balances atas kebijakan negara yang tak demokratis.
Sudah saatnya Muhammadiyah berdaya dan mampu merespons secara konstruktif berbagai macam isu yang muncul di arena sosial dan politik, tentu lewat pendekatan kultural. Makna tajdiid mesti dipahami kembali secara kontekstual. Selanjutnya, Muhammadiyah mesti berperan sebagai kekuatan pengendali sejarah baik nasional maupun global. Kini Muhammadiyah jangan lagi hanya berkutat pada isu-isu yang terkait pada soal ideologis dan formalisasi hukum Islam ke dalam hukum negara, namun juga responsif dengan berbagai isu strategis lain.  Allaahu a’lam.

0 komentar: