Sabtu, 10 Agustus 2013

Nyawa Agama Tak Terhingga



Judul dalam tulisan ini terinspirasi oleh sebuah buku yang ditulis oleh Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu: Agama Punya Seribu Nyawa (2012). Dalam buku tersebut, penulisnya memaparkan bahwa setidaknya ada dua kutub pemikiran yang saling berseberangan ketika berhadapan dengan agama. Kutub pertama menerima agama sebagai sebuah institusi sakral, pembawa kebaikan bagi umat manusia baik di dunia maupun di akhirat. Sementara kutub kedua berpendapat sebaliknya, agama mengajarkan berbagai persoalan yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, seperti: Tuhan, malaikat, surga dan neraka. Menurut kutub ini, dalam konteks sosial dan politik tidak sedikit konflik antar umat manusia dipicu oleh agama. Deretan fakta yang menunjukkan ke arah itu cukup mudah untuk dibentangkan. Meskipun membahas dua kutub yang berhadapan, namun Komaruddin Hidayat jelas terlihat mewakili kutub pertama, hal itu dapat dilihat dari berbagai argumen yang ia kemukakan tentang pentingnya agama bagi kebahagiaan hidup manusia. Judul buku yang ia tulis juga demikian, mengesankan bahwa agama tidak akan pernah mati dan selamanya akan ada. Hal tersebut dapat dicermati dari kata “Seribu Nyawa”. Senada dengan itu, judul yang saya pilih dalam tulisan ini bertujuan untuk memperkuat argumen tentang arti pentingnya agama sekaligus mendukung kutub pertama. Lebih daripada seribu nyawa, ternyata nyawa agama tak pernah terhingga. Artinya, agama akan tetap hidup dan lestari sepanjang masa.

Jalan Menuju Kebahagiaan
Agama berasal dari huruf  “a” yang berarti “tidak” dan “gama” yang berarti “kacau”. Dari segi kebahasaan maka dapat dipahami bahwa “agama” berarti “tidak kacau”. Dengan demikian, orang yang menganut agama tidak akan kacau baik di dunia maupun di akhirat. Ada yang menjelaskan bahwa agama diambil dari bahasa Indo-Germania yang berarti “jalan” sehingga agama adalah “jalan menuju kebahagiaan”. Dengan kata lain, orang yang menganut suatu agama maka ia akan merasakan kebahagiaan. Dalam bahasa Alquran, agama ditunjukkan dengan kata “diin”. Kata yang terdiri dari tiga huruf tersebut “dal”, “ya” dan “nun” mengandung arti hubungan antara dua pihak, yang salah satu dari keduanya mempunyai kedudukan lebih tinggi. Kata “dain”, misalnya diartikan dengan hutang, yang menggambarkan relasi antara pihak pemberi dan penerima hutang di mana si pemberi berkedudukan lebih tinggi. Demikian juga dengan “diin”, yang berarti pembalasan. Orang yang membalas memiliki kedudukan lebih tinggi daripada yang menerima balasan. “Diin” dalam arti agama adalah hubungan manusia dengan satu kekuatan yang jauh melebihinya di mana manusia patuh pada kekuatan itu. Kekuatan itulah yang disebut “ilaah”. Lihat QS. Al-Jaatsiyah/ 45: 23. “Ilaah” itu bisa berwujud dewa, pimpinan, dll. Dalam bahasa Inggris agama ditunjukkan dengan kata “religion”, berasal dari kata “religere” dengan makna yang juga terkait dengan, keterikatan, kehati-hatian, kebaikan, keselamatan dan kepatuhan.
Makna agama yang saya kemukakan dalam tulisan ini tidak jauh dari kebahagiaan. Dengan kata lain, agama memang merupakan sumber berbagai kebahagiaan terpancar. Tidak ada alasan untuk meragukan agama. Namun persoalan yang penting dikaji adalah bagaimana para pemeluk agama dapat membumikan pesan agama agar menyejarah dan mencerahkan kehidupan umat manusia? Dalam konteks ini tampaknya tidak semua penganut agama memiliki kecakapan untuk itu. Jika kita bercermin pada sejarah masa lalu, tidak sedikit orang menaruh rasa curiga bahkan membenci agama. Motivasi mereka tentu dikarenakan peran dan fungsi agama yang mengambang dan tidak jelas, apalagi ketika agama berselingkuh dengan berbagai kepentingan umat manusia seperti: kepentingan ekonomi, maupun politik. Tak jarang agama menjadi korban, digunakan hanya sebatas bingkai maupun alat tikam nalar sehat. Inilah yang membuat kecewa banyak pihak, di antaranya adalah Friedrich Nietzsche (1844-1900). Semula ia seorang penganut Kristen yang cukup taat, namun kemudian bergerak menjauhi bahkan mengutuk agama yang menjadi keyakinannya. Pemikiran yang ia kemukakan bermuara pada ateisme (paham tidak mengakui adanya Tuhan). Nietzsche tidak sendirian, sejumlah tokoh kaliber dunia penerus paham ateis terus bermunculan dan saling menyambung dengan para pendahulunya. Sebut saja Sam Haris, Richard Dawkins, dan Christopher Hitchens berdiri di garda terdepan menyerang agama dan menjadikan penganut agama dibuat ragu-ragu. Bahkan tokoh lain seperti Nigel Barber memperkirakan, baik di negara maju maupun di negara berkembang, sebagian besar orang akan menjadi ateis. Di masa depan, orang akan cenderung lebih peduli terhadap kondisi finansial dari pada keyakinan agama. Menurutnya, paling lambat agama akan punah tahun 2041 mendatang.
Apa sesungguhnya yang keliru dari agama itu sehingga dikritik banyak orang? Bagi saya sebagai seorang Muslim, tidak ada yang salah pada agama dalam hal ini Islam, sebagai sebuah agama yang saya yakini kebenarannya. Dalam pencermatan saya, telah terjadi kesenjangan yang demikian jauh antara sisi normatif sebuah agama (baca: Alquran dan hadis) dengan perilaku kaum Muslim, dalam hal ini disebut sisi historis. Keyakinan terhadap kebenaran Alquran dan hadis seringkali tidak dibarengi dengan perwujudan pesan-pesannya dalam kehidupan. Selain itu, kaum Muslim mengalami pemahaman yang retak terhadap Islam sebagai sebuah agama yang komprehensif dan sempurna. Misalnya saja, Alquran menjelaskan bahwa kemenangan yang dicapai oleh orang-orang Muslim terjadi manakala mereka dapat menegakkan shalat dengan khusyu’. Akhirnya, shalat diyakini sebagai satu-satunya  persyaratan utama terwujudnya kemenangan. Hal ini diperkuat dengan sebuah hadis yang menjelaskan bahwa amal yang pertama sekali dihitung pada Hari Kiamat adalah shalat, dan ibadah ini merupakan kunci diterimanya ibadah yang lain. Keyakinan ini menjadi semacam pakem yang tidak dapat ditolak. Konsekuensi dari hal itu menyebabkan Islam sebagai agama yang cukup luas dan sempurna dipahami hanya sebatas shalat semata. Dengan demikian, lahir sebuah keyakinan bahwa seorang Muslim yang baik ketika shalatnya tidak pernah tinggal. Lebih daripada itu, nilai-nilai shalat sebagai bagian penting ritual tersebut justru tercerabut dari ruang publik.
Saya hanya ingin menjelaskan bahwa Islam juga merupakan sebuah agama yang berisi etika (akhlak), bukan melulu persoalan shalat. Ini sering hilang dari kesadaran agama kaum Muslim. Sesungguhnya shalat hanya merupakan salah satu elemen penting ajaran Islam, sementara elemen penting lainnya dapat dilihat misalnya dari zakat. Ibadah ini menyimbolkan kebersamaan dan kepedulian pada sesama. Bahkan dalam sebuah ayat dijelaskan bahwa kebajikan sempurna (al-birr) dapat dicapai melalui pemberian harta yang dicintai kepada kaum kerabat, ini juga merupakan sejenis zakat (QS. Al-Baqarah/ 2: 177). Dengan kata lain, keislaman kita tidak akan sampai pada puncak kesempurnaan sebelum kita melakukan amalan yang membuat orang lain merasa bahagia, terbebas dari kemiskinan dan penderitaan. Justru yang terlihat ironis ketika kita merasa berdosa meninggalkan shalat sementara tidak merasa demikian ketika tidak tertib berlalu lintas, bermental korup, melakukan suap, bagi para pelajar curang dalam ujian dan berbagai tindakan amoral lainnya. Padahal melakukan itu semua boleh jadi dosanya sama dengan meninggalkan shalat dan sama-sama tercela di depan Tuhan. Yang lebih mengherankan lagi adalah para pelaku berbagai penyakit sosial itu adalah orang-orang yang mengaku dirinya beragama dan tekun melakukan shalat.
Motivasi lain yang membuat agama dikritik orang adalah karena berbagai konflik antar umat beragama banyak dipicu oleh agama itu sendiri. A.N. Wilson dalam bukunya, Against Religion, Why We Should Try to Live Without It (1991) / Melawan Agama, Mengapa Kita Tidak Mencoba Hidup dengan Meninggalkannya,  menyatakan bahwa tidak ada kekacauan di masyarakat di mana agama tidak memberikan peran di dalamnya. Agama, menurutnya, harus ikut bertanggung jawab atas berbagai situasi itu. Dorongan yang diberikan agama amat besar dalam kaitannya dengan penganiayaan kepada orang lain.  Pendapat yang dikemukakan Wilson tersebut bukan hanya sebatas deskripsi normatif melainkan fakta yang tertulis dalam catatan sejarah. Ajaran agama tidak dipahami sebagai misi suci Tuhan untuk melepaskan nestapa kemanusiaan melainkan diubah menjadi mesin pemusnah manusia lainnya. Banyak contoh yang dapat dikemukakan dalam hal ini, misalnya: kekerasan kaum fundamentalisme seperti: Protestan di Amerika, Yahudi di Israel, Islam di Mesir dan Iran, ditambah lagi dengan tragedi WTC 11 September 2001 di Amerika adalah sederetan fakta sejarah yang tak dapat dibantah. Khusus di Indonesia, konflik antara umat Kristen dan Islam di Ambon, teror bom Bali (I) 12 Oktober 2002, bom JW. Mariot Hotel 5 Agustus 2003, bom Kuningan 9 September 2004 di Jakarta, serta teror bom Bali (II) 1 Oktober 2005, turut memperkuat tesis Wilson  itu.
Inilah mungkin beberapa variabel penting yang membuat Nietzsche dan kelompoknya menyerang agama secara membabi buta. Meskipun jika dilihat dari optik historis, kebencian Nietzsche terhadap agama karena persoalan psikologis. Ia menganggap ajaran agama dalam hal ini Kristen, terlalu lemah. Ia melihat, Kristen mengajarkan cinta kasih, pemaaf dan sejenisnya. Hal itu menurutnya memperlemah manusia yang mestinya memiliki otoritas sebagai penguasa. Agama juga menurutnya mengajarkan harapan berlebihan kepada Tuhan, padahal manusia dapat berusaha secara maksimal minus Tuhan dalam hatinya. Seharusnya, manusia dapat menentukan jalan hidup, agung dan tinggi, dan dapat menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Mental cengeng inilah yang membuat Nietzsche membuang agama dari relung kalbunya. Wajar saja, kemudian ia mengeluarkan sebuah kalimat yang cukup kontroversial terhadap agama: “Gott ist tot/ Tuhan sudah mati”. Memang, kecintaan manusia kepada agama melahirkan kesalehan, sedangkan kebenciannya menciptakan ateisme.
Meskipun cerdas, Nietzsche dan para pengikutnya lupa, bahwa siklus kehidupan tidak berhenti di dunia ini saja, masih ada fase kehidupan pasca di dunia ini. Inilah yang luput dari filsafatnya, sehingga ia banyak melakukan tindakan-tindakan yang menurut kacamata agama bermuara pada dosa: seperti berzina, berjudi, mabuk-mabukan. Deretan perbuatan itu dianggapnya sebagai simbol keperkasaan manusia. Baginya tidak ada balasan atas segala jenis perbuatan itu, karenanya setiap manusia diberikan kebebasan untuk melakukannya.  Hidup adalah di dunia ini dan di sini, tidak ada istilah di sana (akhirat). Sementara agama (baca: Islam) mengajarkan bahwa dunia ini merupakan tempat sementara, keabadian tempatnya di akhirat. Menurut sebuah hadis dijelaskan bahwa manusia seperti seorang musafir yang beristirahat sebentar di bawah sebatang pohon rindang karena cuaca panas, setelah panas mereda musafir itu kemudian meneruskan perjalanan. Rasulullah mengumpamakan musafir itu sebagai manusia sementara pohon adalah dunia. Dunia pasti suatu saat akan kita tinggalkan. Alangkah fananya dunia ini. Dan yang paling harus disadari adalah bahwa semua amal, baik atau buruk semua akan dimintai tanggung jawabnya oleh Allah.

Tak Terhingga
Secara alamiah, manusia mengakui kekuatan di luar dirinya. Ini dapat dilihat ketika manusia mengalami kesulitan hidup, musibah, dan berbagai bencana. Ia mengeluh dan meminta pertolongan kepada sesuatu yang serba maha, yang dapat membebaskannya dari keadaan itu. Naluri ini membuktikan bahwa manusia perlu beragama dan membutuhkan Tuhan. Manusia dalam Alquran di antaranya disebut dengan kata insaan, berarti makhluk yang memiliki dua entitas, yaitu: jasmani dan ruhani. Di dalam ruhani itulah pengakuan tentang Tuhan bersemayam, itulah sesungguhnya agama. Sementara dalam bahasa Inggris manusia disebut dengan human being, human mengacu kepada jasmani (body), sementara being mengacu pada ruhani (soul). Dari segi kebahasaan saja, manusia sekalipun yang menyatakan dirinya penganut ateisme tidak akan pernah jauh dari agama. Tentu yang lebih menarik adalah terjadinya perjanjian primordial antara manusia kepada Tuhannya sejak dalam kandungan. Dalam perjanjian itu dijelaskan bahwa secara spiritual manusia membutuhkan Tuhan (agama). Hal itu tersimpul dalam sebuah kalimat, “alastu bi rabbikum? qaaluu balaa syahidnaa/ bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, ya kami bersaksi bahwa Engkau Tuhan kami.” (QS. Al-A’raaf/ 7: 172). Sementara pada ayat lain dijelaskan bahwa agama merupakan fitrah yang diartikan dengan bawaan sejak lahir. Dengan demikian, potensi beragama memang sudah melekat dan ada sejak manusia dalam kandungan sampai kepada kelahirannya. Fitrah itu harus dipertahankan karena dapat mengarahkan hidup manusia ke jalan yang benar (Lihat QS. Al-Ruum/ 30: 30). Argumentasi psikologis dan keagaamaan ini menjadi bukti yang cukup kuat tentang perlunya manusia terhadap agama. Sekalipun terdapat sekelompok orang yang menyatakan bahwa agama akan menemui ajalnya dan Tuhan pasti ditinggalkan orang, namun dari waktu ke waktu ungkapan sinis mereka tidak menemui titik terang. Manusia yang menolak agama sama artinya dengan mengingkari hakikat kesucian dalam dirinya. Fakta kini menunjukkan, ternyata orang semakin butuh terhadap agama. Dengan demikian agama tidak pernah mati, ini sama artinya dengan ungkapan “Nyawa Agama Tak Terhinga.” Allaahu a’lam.

0 komentar: