Jumat, 23 Agustus 2013

Kemerdekaan Ruhani



Kata “kemerdekaan” sudah demikian populer di telinga kita, terlebih jika kosa kata itu disandingkan dengan terminologi kolonialisme, yang secara umum dipahami dengan penjajahan. Melalui potret historis dan dalam konteks keindonesiaan, kemerdekaan sering diartikan dengan terlepasnya bangsa Indonesia dari cengkraman penjajah: Portugis, Belanda dan Jepang, sehingga bangsa Indonesia memperoleh kedaulatan secara penuh. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 ditegaskan bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Hal-hal tersebut menunjukkan lekat dan dekatnya kata kemerdekaan dari diri kita. Kemerdekaan setidaknya dapat dipilah ke dalam dua ranah, yaitu: kemerdekaan jasmani dan kemerdekaan ruhani. Keduanya cukup signifikan, namun kemerdekaan ruhani seharusnya mendapatkan atensi  yang sama seriusnya dengan kemerdekaan jasmani. Persoalan yang sering menyeruak kepermukaan adalah bahwa kemerdekaan jasmani tidak serta merta diiringi oleh kemerdekaan ruhani. Bukankah terdapat sebuah bangsa yang merdeka secara jasmani namun masih terjajah secara ruhani?

Mencari Definisi
Untuk mencari defenisi mengenai kemerdekaan ruhani itu, ada baiknya saya mencoba menyelami renungan sufistik Maulana Jalaluddin Rumi, salah seorang pendekar tasawuf, mengenai beberapa jenis unggas yang selalu bersarang dalam diri manusia. Menurutnya, untuk menjadi manusia yang sesungguhnya (ahsani taqwiim), maka kita dituntut untuk berani tidak saja bertarung tapi juga menyembelih unggas-unggas berbahaya itu. Jika kita kalah dalam  pertarungan tersebut, maka selamanya kita akan menjadi manusia terjajah dan terpenjara. Sebaliknya, jika pertarungan itu kita menangkan maka kita menjadi manusia yang berhasil meraih kemerdekaan. Pertarungan yang direkomendasikan Rumi bukan semudah membalikkan kedua telapak tangan kita, begitu gampang dilakukan. Sebaliknya, pertarungan tersebut melewati sebuah proses jatuh dan bangun, serta ikhtiar yang tak kenal lelah. Lalu, apakah unggas-unggas yang dimaksud Rumi itu?
Pertama, itik. Jika kita cermati, itik memiliki paruh yang besar dan lebar dilihat dari struktur tubuhnya. Untuk  mempertahankan hidup, biasanya unggas ini menyusuri selokan kotor maupun tempat pembuangan sampah demi mendapatkan makanan. Ia tidak pernah menghiraukan kaidah baik dan buruk, halal dan haram. Itik juga tak jauh dari mental suka menerabas, mengharapkan sebuah hasil tanpa melalui proses. Fokus utama dalam hidupnya adalah berbagai kepentingan dan keuntungan untuk dirinya. Demikianlah, secara halus namun tajam Rumi ingin mengungkapkan bahwa manusia bisa saja secara fisikal layaknya seperti manusia, namun ruhaninya sama bahkan lebih buruk daripada itik tersebut. Tentunya, di alam nyata tak mungkin itik bersemayam kokoh dalam diri manusia.  Uraian ini juga hanya sebatas tamsil. Namun berbagai karakter buruk yang melekat dalam dirinya bisa saja terdapat dalam diri manusia. Inilah yang ingin diingatkan Rumi, keluarlah dari penjara karakter itik itu agar kita benar-benar merdeka.
Kedua, ayam jantan. Dalam paparan Rumi, ayam jantan adalah sejenis unggas yang hidupnya kental dengan pemuasan nafsu. Bagi Rumi, sifat ayam jantan ini demikian kokoh dalam diri setiap orang. Manusia jenis ini mudah sekali terjebak pada kenikmatan temporer, kemudian mengorbankan harga diri dan menerjang  moralitas agama. Berbagai asesoris bendawi menjadi orbit dari setiap keinginan dan langkah hidupnya. Indikator-indikator berbagai kemuliaan dan status sosial seseorang tidak lagi dilihat dari kualitas  prestasi runahi yang digapai, namun melalui kepemilikan harta benda yang tak terhingga. Dalam pandangan Rumi, karakter ini harus diamputasi. Jika lalai, maka status ruhani manusia tidak lebih baik atau minimal sama dengan ayam jantan tersebut.
Ketiga, burung merak. Apa yang dapat kita renungi dari seekor burung merak? Burung itu memiliki keindahan bulu yang hampir sulit ditandingi oleh berbagai jenis bulu burung lainnya. Karena sedemikian indahnya, maka burung tersebut memiliki rasa percaya  diri yang cukup tinggi di tengah kawanan burung-burung lain. Dengan bulu indah itu, boleh jadi merak merasa memiliki status lebih dibanding burung-burung lain. Tentu saja, status itu dapat saja bermuara pada lahirnya arogansi. Dari burung merak ini, Rumi ingin membidik arogansi yang dimiliki banyak orang karena berbagai status sosial yang melekat pada diri mereka. Rumi mengingatkan, bahwa status sosial merupakan sebuah sarana yang jika tidak dikawal secara baik akan berakibat pada lahirnya kesombongan. Ulama dapat saja sombong karena ilmunya, orang kaya karena hartanya, pejabat publik karena jabatannya, wanita karena kecantikannya. Ketika hal itu terjadi, maka karakteristik burung merak telah bersemayam dalam diri seseorang. Rumi menjelaskan bahaya kesombongan ini. Karenanya, ia mengajak kita untuk tidak mengenal kata damai dengan karakter itu.
Keempat, burung gagak. Burung ini dikenal dengan suaranya yang cukup keras. Kicauannya kerap kali membahana di alam liar dan kemudian didengar oleh mahluk lainnya. Apa yang dapat ditangkap dari tamsil Rumi ini? Ternyata, ia ingin menunjukkan bahwa kita sering kali bersikap seperti burung gagak, memperdengarkan suara kita kemana saja. Isi dari suara itu mengenai berbagai aib yang dimiliki saudara-saudara kita. Suara sumbang itu berkonsekuensi pada hancurnya nama baik seseorang, runtuhnya sendi-sendi persaudaraan, dan sudah barang tentu lahirnya sistem kehidupan yang tidak sehat. Demikian tajamnya sindiran Rumi ini sehingga ia mewanti-wanti jangan sampai karakter negatif gagak ini mengambil tempat di ruang batin setiap kita. Karenanya menurut Rumi, tidak ada kata berhenti dalam pertarungan melawan sifat busuk itu.
Meskipun Rumi tidak menyinggung batasan mengenai kemerdekaan ruhani secara eksplisit, namun secara substantif ia nyatakan bahwa kemerdekaan ruhani terjadi ketika seseorang dapat keluar atau melepaskan diri dari berbagai penjara penyakit psikologis. Penyakit-penyakit itu dalam bahasa agama disebut dengan amraad al-quluub (penyakit-penyakit hati). Meskipun secara fisik merdeka, namun jika berbagai penyakit hati seperti: rakus, tamak, sombong, iri hati, dengki, bermental menerabas dan seterusnya masih menempati kamar-kamar di dada kita, maka kemerdekaan menurut Rumi belum digapai alias kita masih dianggap terjajah. Kemerdekaan benar-benar terjadi jika berbagai penyakit hati itu dibelenggu jika tidak dimusnahkan. Inilah sesungguhnya hakikat kemerdekaan itu, yaitu kemerdekaan pada ranah jasmani berbarengan dengan kemerdekaan pada ranah ruhani. Jika kemerdekaan seperti ini terjadi maka sistem kehidupan berjalan secara baik dan dapat melahirkan berbagai kemaslahatan.
Definisi yang dikemukakan Rumi tersebut dapat saja kita gunakan sebagai alat untuk memotret kemerdekaan bangsa Indonesia. Apakah bangsa kita ini telah benar-benar merdeka dari penjajah sejak diproklamasikan Soekarno Hatta kepada warga dunia? Jawabannya tentu bisa “ya” dan bisa pula “tidak”. “Ya”, karena secara fisik Indonesia telah lepas dari belenggu penjajah. “Tidak”, karena berbagai penyakit hati masih menjadi kanker tersendiri bagi bangsa Indonesia. Korupsi sebagai simbolisasi karakteristik rakus, merupakan indikator kuat yang dapat menjadi argumen atas masih terjadinya penjajahan di Indonesia. Bahkan karena korupsi, negeri ini hampir dapat dikatakan lumpuh dalam pengertian lambat dalam proses percepatan pembangunan. Uniknya lagi, karakter itu telah bermetamorfosa menjadi sebuah kultur yang dimaklumi setiap orang. Korupsi adalah hal biasa, sementara tidak korupsi adalah hal yang tidak biasa. Rakus inilah sesungguhnya sang penjajah itu sendiri. Saya harus mengatakan bahwa kita belum merdeka, dalam artian meraih kemerdekaan jasmani dan ruhani sekaligus. Inilah kemerdekaan yang terpecah dan tidak utuh, sebuah kemerdekaan literal dan kering makna. Namun jika kemerdekaan jasmani dibarengi dengan kemerdekaan ruhani, maka rasa nyaman dan aman cukup terasa ketika kita beraktifitas di berbagai ruang publik. Kemerdekaan itu mewujud dalam berbagai disiplin dan aktivitas sosial. Lingkungan yang bersih, lalu lintas yang tertib sampai kepada terkelolanya birokrasi secara profesional, merupakan indikator-indikator kemerdekaan ruhani itu.

Perintah dalam Alquran
Perintah untuk meraih kemerdekaan ruhani versus melepaskan diri dari kolonialisme penyakit hati memiliki akar teologis yang kuat dalam Alquran. Misalnya, pada QS. Al-Naas/ 114: 1-6, dijumpai kata waswaas. Kata ini dapat diartikan dengan berbagai kekhawatiran yang selalu mendera batin seseorang. Khawatir jatuh miskin, khawatir kehilangan jabatan, khawatir ditinggalkan konstituen, khawatir diberhentikan dari pekerjaan, merupakan elemen-elemen waswaas yang tak jarang membuat seseorang melakukan sederetan tindakan melawan norma agama dan menebas rambu-rambu hukum negara. Dengan Maha Bijaksana Allah menganjurkan agar kita tetap memiliki spirit ilahi dengan cara menguatkan kembali relasi vertikal kepada-Nya. Sampai-sampai tiga nama Allah yaitu: rabb al-naas (Tuhan manusia), maalik al-naas (Raja manusia), dan ilaah al-naas (Sembahan manusia), harus selalu kita sebut dalam bermunajat kepada-Nya. Relasi vertikal inilah yang dapat mengantarkan seseorang meraih kemerdekaan ruhani dan merdeka dari tarikan-tarikan waswaas yang memang demikian kuatnya.
Perjuangan heroik untuk kemerdekakan ruhani juga secara tegas dipaparkan pada QS. al-Hujuraat/ 39: 11-12, di mana pada ayat ke-11 Allah menggunakan kata “laa” yang berarti “jangan” untuk melawan berbagai aktivitas negatif seperti: memperolok-olok orang lain dan memberi gelar-gelar yang dapat mencederai martabat kemanusiaan. Allah menempatkan berbagai aktivitas negatif itu ke dalam kelompok kefasikan (fusuuq) yang cukup berbahaya dan harus diperangi. Sementara pada ayat ke-12 perlawanan terhadap berbagai penyakit hati itu kembali diulangi. Hal itu dapat dilihat dari penggunaan kata “ijtanibuu” yang berarti “jauhi, hindari bahkan perangi”, untuk sederatan aktivitas seperti: buruk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing aib antar sesama (yaghtab). Demikianlah, kemerdekaan jasmani sejatinya harus tetap diiringi oleh kemerdekaan ruhani. Itulah entitas kemerdekaan yang bersifat utuh dan berwujud yang sesungguhnya. Jika kualifikasi ini terpenuhi, maka bangsa Indonesia telah benar-benar merdeka. Wa Allaah a’lam.

0 komentar: