Jumat, 26 Juli 2013

MENGHIDUPKAN GAGASAN KIYAI DAHLAN



Dapat dikatakan bahwa Muhammadiyah merupakan salah satu elemen Civil Islam (Islam Sipil) yang memainkan peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Berbagai penelitian akademik tentang Muhammadiyah mulai dari skripsi sampai disertasi, baik yang ditulis oleh para sarjana Indonesia sendiri maupun yang ditulis oleh para indonesianis, cukup mudah ditemukan di berbagai perpustakaan. Fakta-fakta tersebut merupakan bukti yang tak dapat dibantah untuk menunjukkan kuatnya daya tarik dan eksistensi persyarikatan yang sering diklaim modern itu. Namun demikian, organisasi yang dikenal sebagai lokomotif pembaruan itu tentu saja memiliki mata rantai yang tak terputus dengan gagasan bernas tokoh pendirinya, yaitu Kiyai Dahlan. Dalam konteks ini, mencermati kehidupan sosial dan intelektual Kiyai Dahlan selalu memberikan energi tersendiri, mengingat Muhammadiyah adalah produk dari institusionalisasi  pemikiran dan aktivitas yang ia lakukan. Sosok Kiyai Dahlan merupakan sumber ide (source of idea) yang kerap memberikan suntikan spirit bagi perjalanan organisasi ini. Dengan kata lain, diskursus tentang Muhammadiyah di satu sisi sekaligus merupakan perbincangan tentang sosok Kiyai Dahlan pada sisi lain.

Bagaimana Gagasan Kiyai Dahlan Itu?
Paling tidak ada tiga pendekatan yang selalu digunakan oleh komunitas akademik dalam mengkaji Muhammadiyah, yaitu: pendekatan historis, pendekatan ideologis dan pendekatan struktural. Pendekatan historis memotret Muhammadiyah dari segi sejarah berdirinya, pendirinya, sekaligus latar belakang sosial dan politik yang memberikan pengaruh kala itu. Pendekatan ideologis menjelaskan tentang mind set (gaya berpikir) Muhammadiyah yang dituangkan dalam berbagai keputusan resminya, dan biasanya bersifat mengikat. Jati diri Muhammadiyah dipaparkan secara luas melalui pendekatan kedua itu. Sementara pendekatan struktural mengkaji Muhammadiyah melalui berbagai tingkat kepemimpinan yang ada dan juga menjelaskan berbagai majelis, lembaga dan Organisasi Otonom (Ortom) yang turut membantu Muhammadiyah. Dari ketiga pendekatan ini, maka kajian mengenai sosok Kiyai Dahlan sebagaimana dapat dilihat masuk kategori pendekatan historis.
Kiyai Dahlan (nama lengkapnya adalah Ahmad Dahlan) lahir pada tahun 1868 dari keluarga yang cukup religius. Situasi itu memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap proses pematangan moralitas dan persemaian embrio kecintaannya terhadap Islam di kemudian hari. Benih-benih kecerdasannya jelas terlihat melalui keinginannya yang kuat untuk mendalami berbagai ilmu pengetahuan. Karir intelektualnya berkembang secara drastis ketika ia menunaikan haji untuk yang pertama kali ke Kota Mekkah tahun 1889 dan bermukim di sana selama lima tahun. Di tempat suci itu, ia melakukan kontak intelektual dengan beragam model guru tanpa melihat latar belakang mazhab yang dianut mereka. Termasuk pada saat itu ia menimba ilmu dari Syekh Bakri Syata’, seorang ulama mazhab Syafii. Yang menarik di sini, nama Ahmad Dahlan sesungguhnya merupakan nama hasil pemberian Syekh Bakri Syata’ kepada Muhammad Darwis. Muhammad Darwis adalah nama kecil Kiyai Dahlan sebelum ia menunaikan Haji. Meskipun mengidolakan Syekh Bakri Syata’, ia tidak serta merta menjadi seorang Syafi’iyyun (pengikut mazhab Syafi’i) dan bukan pula seorang “pembebek”, mengikuti apa saja kata gurunya. Ia melakukan seleksi secara ketat terhadap berbagai materi yang diterima.
Kematangan intelektualnya semakin terlihat ketika Kiyai Dahlan menempatkan diri sebagai sosok merdeka di tengah berbagai pengaruh pemikiran pembaruan. Kiyai Dahlan tentu saja bersentuhan dengan pemikiran Muhammad Ibn Abdul Wahhab (1703-1792), sosok yang cukup dikenal dengan gerakan purifikasinya. Namun demikian, Kiyai Dahlan tidak menjadi puritan, literal dan cenderung anti budaya sebagaimana kesan umum yang muncul terhadap pribadi Ibn Abdul Wahhab. Justru sebaliknya, ia mengambil poin penting dari gerakan purifikasi Ibn Abdul Wahhab dan dalam beberapa hal lain berupaya melakukan kontekstualisasi ajaran Islam, seperti misalnya cara berpakaian, terkadang ia berpakaian model budaya Arab, Eropa dan terkadang berpakaian model budaya Jawa. Di sini, corak keislaman yang dipromosikan cukup akomodatif dengan perkembangan budaya setempat. Itulah sebabnya mengapa dakwahnya tidak mengalami resistensi dari masyarakat. Kecuali dalam bidang akidah dan ibadah, ia selalu bertindak tegas dan tidak mengenal kompromi. Baginya, akidah dan ibadah dalam Islam merupakan sesuatu yang final dan tidak ada ruang negosiasi di dalamnya.
Dari Jamaluddin al-Afghani (1839-1897) Kiyai Dahlan belajar bagaimana pentingnya menguatkan persaudaraan sesama umat Islam. Kiyai Dahlan juga melihat pentingnya kekuatan politik untuk memperjuangkan kemajuan Islam dan melepaskan diri dari belenggu kolonialisme. Namun Kiyai Dahlan lebih memilih jalur kultural mengingat hal itu sesuai dengan jiwanya dan akan mudah diterima setiap orang termasuk pemerintah. Ia pernah digoda untuk mengubah gerakan Muhammadiyah menjadi sebuah partai politik. Namun Kiyai Dahlan tetap teguh pada pendiriannya. Menurut David Easton, apa yang dilakukan Kiyai Dahlan disebut dengan high politic (politik tinggi) sebagai lawan dari real politic (politik nyata). High politic berarti mensubstansialisasikan nilai-nilai keislaman dalam berbagai aspek kehidupan termasuk pendidikan. Sementara real politic diwujudkan melalui jalur kekuasaan. Sementara cara berpikir rasional ia dapatkan dari Muhammad Abduh (1849-1905). Tafsir al-Manar sebagai master piece Abduh cukup ia kagumi. Tafsir tersebut membuka cakrawala berpikir Kiyai Dahlan untuk lebih memahami pesan moral berbagai ayat Alquran yang ia baca. Bagi Kiyai Dahlan, sebagian ayat-ayat Alquran masih memiliki ruang terbuka dan bersifat interpretatif. Karena itu, kandungannya perlu terus menerus digali dan dikontekstualisasikan agar tetap segar dan bersifat dinamis. Inilah modal intelektual yang cukup penting bagi Kiyai Dahlan untuk mengeksplorasi ayat-ayat Alquran yang pada akhirnya ia bawa pada tataran praktis. Demikian pula pengaruh yang diberikan Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935), Kiyai Dahlan mendapatkan konsep pendidikan Islam. Namun ia tidak terpengaruh konsep khilafah Rasyid Ridha. Kiyai Dahlan tetap menampilkan Islam dalam konteks keindonesiaan yang fleksibel dan sesuai dengan chemistry bangsa Indonesia. Untuk mematangkan karir intelektualnya, Kiyai Dahlan sempat bermukim di Mekkah untuk yang kedua kalinya tahun 1903, ia tinggal di sana selama dua tahun. Saat itu ia sempat berinteraksi dengan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabaui.
Bahan dasar pembaruan yang diperoleh Kiyai Dahlan dari para tokoh pembaruan tersebut kemudian ia kelola secara cerdas. Ia mengambil bagian-bagian penting dari berbagai ide pembaruan itu seperti: pemurnian tauhid dan pelurusan ibadah agar sesuai dengan Alquran dan sunnah, persaudaraan Islam, pendekatan rasional terhadap Islam dan konsep pendidikan Islam. Bahan dasar itu kemudian ia kelola hingga pada akhirnya melahirkan model keislaman yang khas. Kiyai Dahlan memiliki visi bahwa Islam mesti dijadikan acuan secara normatif dan harus dilaksanakan secara praktis. Perkawinan di antara kedua ranah itulah yang membedakan Kiyai Dahlan dengan para tokoh pembaruan yang cukup dikaguminya itu. Bahkan dapat dikatakan bahwa Kiyai Dahlan berpikir dan berperan jauh melampaui Ibn Abdul Wahhab, al-Afghani, Abduh, Rasyid Ridha, dan Ahmad Khatib. Bagaimana tidak? Jika para tokoh pembaruan itu memainkan satu ranah saja, baik normatif atau praktis, maka Kiyai Dahlan memadukan kedua ranah itu secara konsisten dan berani. Dari hasil kajiannya terhadap QS. Ali-Imran/ 3: 104 Kiyai Dahlan dapat mendirikan Muhammadiyah. Demikian pula hasil kajiannya terhadap QS. Al-Maa’uun/ 107: 1-7, ia dapat melahirkan lembaga Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang kemudian bermetamorfosa menjadi panti asuhan dan rumah sakit. Baginya, Islam bukan hanya sekedar persoalan shalat dan puasa serta haji, melainkan juga harus diartikulasikan lewat aksi-aksi sosial.
Keimanan yang kokoh dan wawasan intelektual yang luas membuat Kiyai Dahlan memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan tidak pernah merasa khawatir terkontaminasi dengan berbagai keyakinan dan ideologi yang ada. Hal itu pula tidak membuatnya bersifat sombong. Justru modal keimanan dan kecerdasaan intelektual tersebut ia gunakan untuk bergaul dan berdialog kepada siapa pun tanpa terkecuali. Alimin, salah seorang tokoh Komunis yang namanya cukup masyhur, juga merupakan rekan dialog Kiyai Dahlan. Bahkan Alimin berkomentar bahwa sosok cerdas dan religius belum pernah ia temukan kecuali terdapat dalam diri Kiyai Dahlan itu. Kiyai Dahlan juga membangun hubungan mesra dengan para pemuka agama, kala itu adalah para tokoh agama Katolik. Tanpa rasa ragu, Kiyai Dahlan terkadang masuk ke dalam gereja untuk membangun dialog atau sekedar berdiskusi tentang masalah sosial keagamaan seperti yang ia lakukan bersama Pastor Van Lith dari Muntilan. Satu hal yang lebih menarik, Kiyai Dahlan menganjurkan agar setiap umat beragama mempelajari berbagai kearifan yang bisa jadi muncul dari berbagai macam agama. Dalam konteks pemikiran Islam kontemporer, apa yang dilakukan Kiyai Dahlan dapat disebut sebagai pluralisme agama dalam ranah sosial, sebuah paham yang mengajarkan bagaimana agar secara sosial setiap umat beragama dapat  hidup berdampingan dan saling bekerjasama serta menjauhi berbagai prasangka.
Meskipun cerdas, Kiyai Dahlan tidak pernah membentengi diri dari berbagai kritikan dan masukan konstruktif yang disampaikan kepadanya. Bahkan nama Muhammadiyah sendiri bukan berasal dari pemikiran murni Kiyai Dahlan, melainkan muncul dari usulan salah seorang sahabat dekatnya, yaitu Muhammad Sangidu. Ia juga belajar manajemen organisasi dari perkumpulan Budi Utomo. Terobosan pemikiran Kiyai Dahlan yang termasuk cukup progresif adalah kepeloporannya untuk mendirikan perkumpulan bagi kaum perempuan. Belakangan perkumpulan itu bernama Aisyiyah. Dalam pemikirannya, laki-laki dan perempuan secara fungsional sejajar, tidak ada bilik pembatas di antara keduanya kecuali prestasinya  dan peran sertanya untuk kemaslahatan kemanusiaan. Saya menduga, Kiyai Dahlan tidak pernah membaca atau bersentuhan dengan berbagai gerakan feminisme saat itu, namun jangkauan pemikirannya jauh melampaui zaman yang ia jalani sendiri. Apa yang dilakukan Kiyai Dahlan menunjukkan ia seorang yang bersifat progresif, pluralis dan liberal transformatif. Namun pluralis dan liberal   transformatif harus dipahami secara komprehensif, bukan seperti yang dipersepsikan masyarakat luas selama ini.

Merawat Api Pembaruan
Berbagai sikap dan pemikiran cerdas Kiyai Dahlan itu kemudian menjadi inspirasi tersendiri bagi Muhammadiyah. Karena hal itu pulalah Muhammadiyah masih bertahan hingga kini. Sebuah lembaga yang mengklaim diri sebagai lokomotif pembaruan bisa saja menjadi fosil sejarah jika kreatifitas berpikir dibelenggu dan dianggap final, serta perbedaan perspektif dianggap menyimpang. Pembaruan sesungguhnya merupakan sebuah proses pencarian yang tidak pernah selesai, dan itu harus dilakukan secara berkelanjutan sembari melakukan berbagai perubahan terhadap persoalan-persoalan yang dianggap penting. Rasa haus terhadap ilmu, berkepribadian terbuka, toleran, dialogis, lapang dada dalam menerima kritik dan progresif, adalah beberapa poin penting dari api pembaruan Kiyai Dahlan yang mesti dirawat dan dilestarikan. Oleh karena itu, “semangat pembaruan” yang saya istilahkan dengan “api pembaruan”, harus tetap dinyalakan setiap saat. Allaahu a’lam.

0 komentar: