Kamis, 02 Mei 2013

SELAMAT JALAN UJE (1973-2013)





Dunia dakwah Indonesia kembali kehilangan dai terbaiknya. Ustaz Jeffry Al-Buchori yang kerap disapa “Uje” telah pergi untuk selamanya menghadap Sang Pencipta. Beliau mengalami kecelakaan pada Jum’at, 26 April 2013 pukul 01.00  dini hari di kawasan Pondok Indah Jakarta. Dalam hitungan detik, berita “berpulangnya” Uje menyebar ke seantero Indonesia. Tentu saja, banyak pihak yang tidak menyangka akan kepergian Uje yang demikian cepat. Hari itu dipenuhi duka dan air mata. Ribuan orang melepas kepergiannya ke peristirahatan terakhir dan jutaan pasang mata dengan khidmat mengikuti prosesi pemakaman dai yang cukup akrab dengan berbagai kalangan itu. Doa dimohonkan kepada Allah dan berbagai ungkapan belasungkawa mengalir dari banyak kalangan. Elemen-elemen masyarakat mulai dari para pejabat sampai rakyat biasa, kalangan cendekiawan sampai lapisan awam, semua larut dalam perasaan yang sama, yaitu rasa kehilangan dan duka yang demikian dalam terhadap sosok muda yang dinamis dan religius itu. Tentu, ada hal-hal menarik dari sejarah perjalanan hidup dan konstruk pemikiran Uje yang dapat dicermati sekaligus menjadi pelajaran bagi kita yang ditinggalkan.


Dari Narkoba ke Dunia Dakwah
Uje lahir pada 12 April 1973 di Jakarta dan dibesarkan di sebuah keluarga dengan nilai-nilai agama yang cukup kental. Keadaan tersebut tentu saja memberi warna tersendiri terhadap model kepribadiannya. Namun kemudian dunia malam juga menjadi magnet tersendiri baginya. Ia berada pada posisi yang cukup dilematis kala itu, melestarikan warisan keluarga untuk menjadi pribadi yang religius pada satu sisi atau menjadi sosok liar yang hidup tanpa aturan pada sisi lain. Akhirnya, ia memilih sisi kedua, apalagi karirnya di dunia sinetron kian bersinar dan berpeluang mendukung pilihannya tersebut. Pada saat itu, arogansinya sebagai sosok muda dan bintang yang dipuja banyak orang membuat ia lupa diri. Sampai keadaan tersebut mengantarnya kepada jeratan narkoba dan membuatnya begitu terpedaya. Menjadi pecandu narkoba melahirkan konsekuensi buruk baginya, namanya tidak lagi menjadi prioritas di dunia sinetron. Secara perlahan karirnya di dunia seni peran menjadi redup.
Dalam keadaan jiwa yang rapuh dan menderita rabun masa depan, Uje mengalami fase perubahan yang dapat disebut dengan titik kisar. Titik kisar pertama terjadi ketika ayahnya, H. Ismail Modal, wafat pada tahun 1992. Ketika itu, Uje merasa bersalah karena tidak mengindahkan nasehat-nasehat yang disampaikan Sang Ayah semasa hidup. Titik kisar kedua terjadi ketika ia menunaikan ibadah umroh ke Tanah Suci bersama Sang Bunda, Hj. Tatu Mulyana. Di Madinah, tepatnya di dekat makam Rasulullah, ia melantunkan salawat, namun setelah keluar dari masjid ia merasakan seolah ada tarikan yang amat kuat terhadap dirinya. Uje merasa tak berdaya melawan “tarikan gaib” itu, kemudian dengan energi yang tersisa ia bersandar di tembok masjid dan menangis sekaligus menyesali tapak-tapak hitam kehidupan yang pernah ia ukir. Titik kisar ketiga terjadi ketika Allah menghadirkan bidadari cantik dalam hidupnya. Uje menikah dengan Pipik Dian Irawati, gadis asal Semarang, pada 1999. Noda hitam kehidupan Uje tidak serta merta sirna setelah Pipik mendampingi hidupnya. Justru dalam keadaan ekonomi yang serba terbatas, Uje sempat “bernostalgia” dengan narkoba. Mirisnya, hal itu ia lakukan di depan Pipik sendiri. Namun Pipik bukanlah perempuan biasa, berbasis kesabaran dan anugerah cinta dari Allah, ia tetap setia mendampingi Uje dalam keadaan bagaimana pun. Titik kisar keempat terjadi ketika ia menggantikan kakak kandungnya, Fathul Hayat, menyampaikan khutbah Jum’at di kawasan Mangga Dua pada tahun 2000. Ketika itu, ia merasakan bahwa kembali kepada Allah adalah pilihan akhir hidupnya. Fase keempat itulah yang mengantarkan Uje menjadi dai sampai Allah memanggil untuk menghadap-Nya.
Siklus kehidupan Uje sebagaimana dapat dicermati melewati fase jatuh dan bangun. Menjadi lebih menarik jika kita meminjam kerangka siklus kehidupan yang ditulis oleh Jennifer Prior dalam bukunya The Human Life Cycle (2012) untuk memotret catatan kehidupan dai muda ini. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa siklus kehidupan manusia tidak akan keluar dari beberapa fase, yaitu: fase bayi (infancy), fase anak-anak (childhood), fase remaja (adolencence), fase dewasa (adulthood), fase tua (old age), dan satu lagi yang perlu ditambahkan adalah fase berakhirnya kehidupan (death). Berdasarkan kerangka tersebut kehidupan Uje ternyata ditentukan Allah sampai fase dewasa (adulthood). Fase bayi dan anak-anak tentu diwarnai oleh nilai-nilai agama yang ditanamkan dalam keluarga. Masa kelamnya terjadi pada fase remaja dan sebagian dari fase kedewasaannya. Namun ia mencoret masa kelam itu dan menutup lembaran hidupnya (pada fase dewasa) dengan amat manis (baca: husnul khaatimah), sebab ia kembali ke jalan Allah dan menjadi dai yang kerap mempromosikan nilai-nilai agama. Pergolakan spiritual telah membentuknya sebagai pribadi tangguh yang semula merupakan sumber masalah menjadi pemecah masalah.


Inklusivisme dalam Dakwah
Uje adalah sosok dai yang memiliki daya baca tajam dan paham dengan kondisi sosiologis maupun antropologis umat Islam Indonesia. Sebagaimana dipahami, bahwa umat Islam Indonesia terdiri dari beragam suku dan bahasa serta tingkat pendidikan yang berbeda-beda. Demikian pula dalam konteks paham keagamaan, umat Islam tidak menganut mazhab tunggal melainkan menganut mazhab yang beragam. Secara kultural, umat Islam Indonesia amat kaya. Berangkat dari kondisi ini, Uje mengemas materi dakwahnya secara sederhana dan mudah diterima berbagai strata sosial. Satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah bahwa materi dakwah mesti bersifat inklusif, dalam arti dapat diterima banyak orang dan bukan dicurigai sebagai ancaman. Ia juga berpandangan bahwa metode dakwah seharusnya merangkul bukan memukul.
Dapat dilihat, Uje jarang membahas persoalan khilafiyah (perbedaan pandangan fikih) kecuali dalam situasi tertentu, ia lebih memfokuskan diri pada materi-materi yang bersifat lintas mazhab. Untuk ini, penguatan iman, perbaikan akhlak dan model Islam rahmatan lil ‘aalamiin (Islam sebagai rahmat bagi semesta alam) menjadi pilihannya. Sepertinya Uje banyak belajar dari sejarah Islam masa lalu, bahwa persoalan fikih tidak pernah memiliki muara sepakat dan rentan konflik. Ongkos sosial  yang dibayarkan umat untuk ranah itu cukup mahal. Karena itu, ia melihat bahwa penguatan iman, perbaikan akhlak dan model Islam rahmatan lil ‘aalamiin telah menjadi common platform yang dapat diterima secara umum.
Perkembangan pemikiran keislaman di Indonesia juga turut mempengaruhi pribadi Uje. Sedikitnya pemikiran keislaman itu melahirkan tiga tipologi,  yaitu: pertama, model Islam fikih. Model pertama ini menitikberatkan Islam sebagai agama yang membahas persoalan-persoalan hukum Islam, seperti: halal, haram, mubah, makruh dan sunnah; kedua Islam substantif. Model kedua ini lebih menitikberatkan Islam pada segi isi dan sedikit menampilkan simbol-simbol keislaman. Dengan kata lain, model kedua sebagai kebalikan dari model pertama; ketiga, model Islam spiritual. Model ketiga ini lebih mengedepankan penataan batin dan perbaikan akhlak, tentu dengan tidak mengabaikan model pertama dan kedua. Berdasarkan ketiga tipologi tersebut, pemikiran keislaman Uje berada pada tipologi yang ketiga, yaitu model Islam spiritual. Hal itu dapat dilihat dari sikap dan lontaran-lontaran pemikirannya yang kental dengan nuansa spiritual. Berdasarkan alasan ini pula maka predikat sebagai Sufi Kota layak disematkan kepadanya.
Dakwah yang dilakukan Uje berlangsung di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang bersifat massif. Era tersebut ditandai dengan inovasi-inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk di dalamnya teknologi informasi. Uje bukan termasuk sosok yang menolak datangnya era tersebut. Ia justru melibatkan diri dan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi seperti media cetak dan media elektronika untuk mendukung kegiatan dakwahnya. Ikhtiar yang dilakukan Uje tentu saja bernilai positif, dakwah-dakwahnya diikuti tidak hanya di tempat tertentu melainkan dapat diikuti di berbagai pelosok tanah air bahkan merambah sampai ke manca negara. Dari sinilah kemudian sosok Uje cukup populer, karena ia kerap menghiasi media cetak dan media elektronika.
Uje juga dikenal sebagai Ustaz Gaul. Predikat tersebut memiliki dua makna: pertama, ia dapat bergaul kepada siapa saja tanpa melihat latar belakang; kedua, ia memiliki komunitas tertentu yaitu kalangan muda. Predikat tersebut tentu saja merupakan ciri tersendiri yang tidak dimiliki oleh setiap dai dan menjadi icon khusus dalam dakwah di Indonesia. Ustaz Gaul juga sebuah simbol bahwa dirinya adalah sosok yang terbuka secara personal maupun intelektual. Usaha Uje yang juga harus diapresiasi adalah seruannya yang tak kenal lelah untuk menjauhi narkoba. Lewat pengalaman pribadi, ia telah membuktikan bahwa para pecandu narkoba dapat disembuhkan dengan cara merevitalisasi nilai-nilai agama secara individual maupun kolektif.
Setiap kita boleh saja merasa sedih telah berpisah dengan sosok yang kita cintai tersebut. Namun harus diingat, Uje juga manusia yang tak lepas dari sifat fana. Demikian pula, penghormatan dan ekspresi cinta yang berlebihan terhadap sosoknya sedapat mungkin harus dihindari. Uje bukan saja milik keluarga, tapi juga milik umat, bangsa, dan yang pasti ia adalah milik Sang Pencipta. Kini, ia telah kembali kepada Zat Yang Maha Memiliki itu. Saat-saat terakhir menjelang kepergiannya ia menyatakan: "Pada akhirnya, semua akan menemukan yang namanya titik jenuh. Dan pada saat itu, kembali adalah yang terbaik…". “…innaa lillaahi wa innaa ilaihi roji‘uun (sesunggunya kami adalah milik Allah dan kami pasti akan kembali kepada Allah) (QS. Al-Baqarah/ 2: 156)”. Selamat jalan Uje, semoga Allah memberikan tempat terbaik untukmu dan doa-doa kami tetap mengiringmu.

0 komentar: