Jumat, 15 Juni 2012

Oase Perjalanan


CATATAN KECIL DI PERJALANANKU

Nasehat yang disampaikan almarhum ayahku masih terngiang hingga kini. Padahal, usia perjalanannya sudah lebih daripada tiga dekade. Tapi ku rasakan, semakin cepat waktu berjalan nasehat itu semakin menguat dalam rongga nalarku. Adalah sesuatu yang tak dapat dipungkiri, bahwa waktu terasa demikian angkuh dan tinggi hati. Ia menempatkan diri di singgasana tertinggi yang tidak ingin digapai oleh setiap orang. Namun pada sisi lain, ia menciptakan sebuah taman hidup yang begitu indah bagi yang menjadikannya danau berair bening yang dapat membasuh debu dan membersihkan luka lara kehidupan. Dimensi perjalanan waktu yang linier, tidak berhenti apalagi mundur ke belakang, mengharuskan setiap orang mengakrabinya dengan penuh makna, mengisinya dengan berbagai kebajikan vertikal dan horizontal sebagai deposito akhirat yang tidak akan pernah musnah sampai semesta lenyap. Salah satu oase penting dalam hidup ini adalah bagaimana setiap kita berupaya menjadi yang terbaik dan bermanfaat untuk semua makhluk hidup. Inilah beberapa percikan suara hati dari ayahku yang kerap muncul ketika aku terasa letih dan terpojok dalam hidup.
Ayahku telah pergi untuk selamanya. Di saat Allah mengutus malaikat maut untuk menjemputnya tepat di hadapanku, aku terdiam seribu bahasa kala itu. Titik air mataku mengalir karena kehilangan dirinya yang memiliki arti begitu besar dalam hidupku. Keputusan Allah untuk memberinya “pensiun dini” tak dapat ku terima begitu saja. Allah tidak adil dan Dia sepertinya amat kejam kepadaku. Momen kebahagiaan yang selalu ku lukis di kanvas sejarah hidup bersama ayahku telah direnggut oleh-Nya. Namun aku sadar, bahwa hidup dan mati adalah dua teman seperjalanan yang tidak pernah sama namun selalu ada. Hidup amat dicintai orang, sebaliknya, mati amat dibenci dan dijauhi oleh kebanyakan orang. Beberapa tahun pasca nama ayahku dicoret sebagai warga dunia, aku kehilangan arah. Ku rasakan hidupku seperti layang-layang terputus dari benangnya. Rasa itu semakin menikam kalbuku setelah aku beranjak remaja dan menjalani masa itu di tengah luapan spirit keremajaan yang demikian bergejolak. Ku gapai bayangan ayahku di setiap sudut hidupku, namun semua itu sia-sia. Sikapnya yang penyayang dan terkadang keras sangat ku butuhkan untuk menjadi jangkar hidupku. Aku mengarungi samudera kehidupan berbekal asa yang selalu ia kibarkan setiap waktu. Walaupun dalam volume yang amat kecil, asa yang ia wariskan kepadaku merupakan alat kecakapan tersendiri bagiku untuk membelah kehidupan ini dengan arif dan bijak.
Seperti kebanyakan orang, setiap anak berharap warisan dari orang tuanya untuk bekal dalam hidup yang sementara ini. Aku juga punya perasaan untuk itu. Namun keinginanku tidak berjalan mulus, ia terbentur realitas kehidupan dan bahkan mencibir syahwat duniaku itu. Pikiranku yang dangkal dan daya jangkau nalarku yang cukup sempit beralih status menjadi pemberontak atas kenyataan itu. Tapi ada satu hal yang aku lupa, meskipun ayahku tidak meninggalkan warisan materi yang terkadang menjadi pisau pemutus persaudaraan, ia meninggalkan warisan lain yang sifatnya abadi, yaitu: kejujuran dan kekuatan untuk terus belajar. Dua warisan itu begitu agung dan indah meskipun butuh perhatian dan keseriusan untuk mengejawantahkannya.  Menurut cerita dari kakak-kakakku, ayahku adalah sosok yang amat jujur. Cerita tersebut bukan dongeng sebagai instrumen penghibur untuk memejamkan mata anak menjelang tidur. Aku juga menyaksikannya sendiri. Hal itu dapat dilihat dari sikapnya yang tidak mau mengambil sesuatu yang dilarang dalam perspektif hukum positif maupun agama. Ayahku memang dikenal sosok yang religius, kejujurannya diakui banyak orang. Bertahun-tahun aku merenungi warisan itu, kini aku memahaminya dan merasakannya  seperti sebuah lentera yang memberiku cahaya dan kehangatan di tengah gelapnya pragmatisme dan oportunisme kehidupan.
Sementara warisan kedua adalah hasrat untuk terus belajar. Aku masih ingat, hampir setiap pagi ayahku membangun aku untuk shalat shubuh dan membaca Alquran di bawah bimbingannya. Dua hal yang amat ku benci dan selalu ku caci maki kala itu. Namun ayahku menciptakan sebuah optimisme, jika aku shalat shubuh secara konsisten dan rajin mengaji maka ia akan menghadiahiku sebuah layang-layang sendaren, yaitu layang-layang sepesial  dan eksklusif yang hampir tidak dimiliki setiap anak seusiaku. Aku pun mulai mendengarkan nasehat ayahku namun hanya dengan satu tujuan yaitu: untuk mendapatkan hadiah itu. Aku tidak menyangka, warisan kedua ini dapat menembus batas waktu. Ia tidak pernah pergi dalam kehidupanku layaknya kepergian jasad ayahku menghadap Sang Pencipta. Bahkan ku rasakan, hari demi hari ia menempati bilik tersendiri dalam hatiku. Ku biarkan ia tumbuh subur, karena ia yang akan menjadi teman sejatiku setiap waktu. Aku bersyukur kepada Sang Pencipta, warisan ini ku rasakan tak pernah padam. Aku juga berharap bahwa warisan kedua ini  dapat hilang dari hidupku seiring dengan terdaftarnya diriku sebagai salah satu penduduk akhirat seperti ayahku.
Kata sebagian orang, aku tergolong anak yang pintar. Menjadi bintang kelas memang predikat yang selalu ku dapatkan hampir di setiap semester, mulai dari Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Strata Satu, Strata Dua dan bahkan sampai Strata Tiga. Pada sisi tertentu, aku sedikit kebingungan dengan predikat itu jika mungkin tersinggung. Meskipun pada skala tertentu aku sedikit senang. Namun jika ku telanjangi diriku di depan cermin kejujuran, aku menempati posisi yang jauh dari predikat yang disematkan teman-temanku itu. Mereka memahami aku secara simbolik dan formal, namun tidak diikuti dengan pencermatan terhadap diriku secara lebih komprehensif dan mendalam. Aku mencoba terjun bebas ke hamparan dunia intelektual yang cukup luas demi untuk memahat peta sejarah dalam hidupku. Aku malu, peta diriku demikian buram bahkan remang-remang. Diriku seolah tak bermakna dibanding dengan kaum intelektual yang sudah berjasa besar dalam membangun peradaban bergengsi untuk pencerahan kehidupan. Aku menatap diriku yang kecil ini. Aku seperti burung alit yang demikian tidak diperhitungkan. Andaikan namaku turut ku cantumkan dalam deretan nama-nama mereka pastilah tidak menggenapkan. Andai juga namaku ku coret maka tidak akan ada yang merasa bahwa sesuatu telah hilang. Demikianlah diriku dalam hamparan dunia intelektual itu. Uraianku ini dengan sendirinya membantah predikat teman-temanku terhadap diriku.
Pasca menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah, hidupku terasa gamang. Beberapa sahabatku hijrah ke kota lain untuk terus menuntut ilmu. Keinginanku cukup besar untuk itu, namun  kemampuan finansialku menjadi penjara tersendiri bagiku. Aku kemudian menyerah. Seperti kebanyakan anak-anak lainnya, waktu-waktuku selalu ku habiskan dengan berkumpul bersama mereka. Malam-malamku juga mengalir begitu saja tanpa bekas berharga. Alangkah malangnya aku waktu itu. Namun itu tidak berlangsung lama.  Usiaku yang beranjak dewasa membuat aku sadar bahwa aktivitas itu harus segera ku ganti dengan berbagai hal yang lebih bermanfaat untuk masa depanku. Aku mulai menekuni bahasa Inggris yang pernah ku pelajari di kursus di kotaku. Aku juga sempat diangkat sebagai salah seorang tenaga pengajar amatir di kursus itu. Malam-malamku juga tidak terlewat begitu saja. Meskipun sedikit, aku rutin membaca Alquran. Dengan itu, aku mencoba berkomunikasi dengan Allah dan melanjutkan tradisi profetik yang diwariskan ayahku. Aku masih ingat, saat itu pemahamanku terhadap Alquran masih amat sederhana dan tekstual.
Hasrat untuk meneruskan studi seperti yang terlebih dahulu dilakukan sahabat-sahabatku menjadi atensi tersendiri bagiku. Momen penting itu datang ke pelataran hidupku. Aku diterima sebagai mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Kampus itu merupakan salah satu cagar intelektual yang dimiliki Muhammadiyah dan Umat Islam secara umum di Sumatera Utara. Di kampus itu, aku diperkenalkan cara berpikir rasional dan pentingnya bermasyarakat dalam sebuah komunitas akademik yang ilmiah. Awalnya, aku terseok-seok menyamakan diri dengan para sahabat kampusku yang intelektualnya sudah terbilang matang. Beberapa di antaranya bahkan pernah menjadi santri di berbagai pesantren kenamaan. Sudah tentu kemampuan bahasa Asing mereka (Arab dan Inggris) di atas kebanyakan orang. Tapi pada akhirnya aku dapat melakukannya. Satu modal dasar yang ku miliki dan menjadi prinsip dalam hidupku, yaitu: ketekunan. Modal dasar inilah yang membuat diriku sedikit setara dengan rekan-rekanku yang memiliki kecakapan lebih. Meskipun terkadang aku tertinggal, namun ketertinggalan itu tidak begitu fatal. Sebagai anak kampung yang sekian lama terpenjara dalam kultur tradisional dan statis, aku secara perlahan dapat menengadahkan kepala di saat menjalin komunikasi dengan rekan-rekanku.
Agar fokus dalam studi, aku mohon izin kepada ibuku untuk angkat kaki dari kampungku dan hijrah ke kota. Ibuku mengizinkan aku. Aku masih ingat, suatu sore saat kepergianku ia menatap aku dengan linangan air mata. Tangisan seperti itu jarang sekali terjadi. Aku paham, kepergianku membuat kualitas hidupnya menurun. Mungkin juga kepergianku membuat dinding kasihnya luka. Sebenarnya, perasaan yang hampir sama juga kurasakan. Tapi aku segera membasuhnya demi sebuah cita-cita. Ku lihat wajah ibuku yang kian tergerus usia dan penuh dengan berbagai jaring keletihan. Meskipun tidak terungkap, ia seakan menitipkan berbagai harapan kepadaku. Ibuku letih dalam hidup ini pasca kepergian ayahku. Di atas kedua kakinya yang kian rapuh, ia mengais serpihan-serpihan rezeki demi untuk menyambung hidupku. Seperti ayahku, ibuku adalah petarung sejati dalam hidup ini. Harus ku akui, sekenario yang ia ciptakan sering tidak dapat ku pahami tapi kerap memberikan efek perubahan berarti dalam hidupku. Terima kasih ibu, jasamu tak terucap dalam rangkaian kata dan tak dapat ku rekam via goresan pena. Apa yang sudah kau lakukan untuk membesarkan aku semoga menjadi anak tangga untuk meraih ridha Allah sebagaimana impianmu selama ini. Satu hal yang membuatku bangga, bahkan terlalu bangga, ia dapat menjadi salah seorang tamu Allah ke Tanah Suci. Momen itu menjadi spiritual booming dan sempat mengernyitkan mata setiap orang. Bagaimana mungkin sosok renta yang memenuhi kebutuhan perut saja cukup menemui kendala namun dapat menjadi tamu Allah ke Tanah Suci? Inilah sebuah misteri ilahi yang dapat ku pecahkan hanya dengan pendekatan keimanan.
Proses studi yang ku jalani terbilang lancar. Aku juga berupaya melekatkan diri kepada para senior  dengan latar belakang kecakapan beragam. Banyak di antara mereka berupaya mematangkan jiwa akademikku yang masih terbilang mentah. Beberapa di antaranya melahirkan sedikit antipati dalam diriku. Jiwa ku tergores dan perasaan ku pedih. Tapi aku sadar, semua itu mereka lakukan demi sebuah perubahan radikal yang positif. Perlahan namun pasti, aku terbiasa dengan komunitas akademik yang memiliki common platform tersendiri. Dunia kampus saat itu telah menjadi bagian hidupku. Salam hormat dan hangat yang ku berikan  kepada kehidupan kota pada akhirnya diterima secara baik. Arogansi kota dan kultur hidup individualisme yang merupakan karakter harian pada tingkat tertentu tidak begitu ku rasakan,  meskipun hal itu terkadang berkunjung untuk menyapa aku. Kota di mana aku tinggal ku rasakan mendekap diriku dalam bentangan sayapnya-sayapnya yang cukup hangat. Kota itu memberi sejuta arti bagiku, bagi masa depanku, dan menjadi air hujan yang terus menyuburkan benih kemauanku untuk menjadi manusia yang berarti. Bagiku, hidup adalah sebuah proses yang berkelanjutan dan tak pernah selesai. Dalam bahasa agama, hidup adalah pengabdian kepada Allah yang mesti dilakukan secara terus menerus. Penilaian Allah ku yakini terletak dalam setiap proses yang berkelanjutan itu. Oleh sebab itu, pengabdian itu akan terhenti dengan sendirinya seiring Allah mencabut status seseorang sebagai warga dunia.
Problem klasik yang menghantui setiap mahasiswa dalam meneruskan studinya terletak pada kesulitan finansial. Problem itu juga menjadi hantu bagiku. Namun demikian, naluri akademikku mengatakan bahwa aku tak boleh menyerah dengan keadaan. Dengan segala keterbatasan, aku mencoba untuk tetap tegar. Aku masih ingat, ketika aktif sebagai mahasiswa aku rajin pergi ke perpustakaan kampus. Di perpustakaan itu, aku menyelam sedalam-dalamnya di tengah samudera ilmu yang terlalu luas menurut ukuranku. Semakin ku pelajari, aku merasakan bahwa ilmu itu seolah tak bertepi. Aku semakin dahaga dan nalarku berkelana untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya aku belum tahu. Naluriku sebagai penjelajah lautan ilmu semakin ku rasakan di saat aku memutuskan untuk mengoleksi buku-buku baru dan meresapi berbagai pesan yang terkandung di dalamnya. Meskipun pilar ekonomi kehidupanku goyah, aku tetap menyempatkan diri membeli buku-buku baru yang tak ku dapatkan di perpustakaan kampusku. Pada tataran ini, aku mengidap “virus baru” yang terasa agak unik. Aku lebih memilih membeli buku baru daripada baju baru. Tentu saja hal itu berkonsekuensi logis dalam performaku yang tidak atraktif dan cenderung konservatif. Namun aku tidak begitu mempedulikannya kala itu. Yang penting bagiku adalah bagaimana aku dapat masuk dalam perdebatan di dunia akademik dengan sederetan informasi yang mungkin saja belum diketahui oleh para rekanku.
Allah yang satu waktu pernah ke gugat karena merenggut mahligai persahabatanku dengan ayahku perlahan namun pasti menunjukkan sifat Rahman dan Rahim-Nya kepadaku. Ia berperan aktif dalam mengantarkan aku ke pintu Sidang Meja Hijau yang ku ikuti bersama beberapa rekanku yang lain. Beberapa pertanyaan yang dilontarkan para pengujiku dapat ku jawab dengan baik. Bahkan salah seorang di antaranya “menikamku” dengan pertanyaan-pertanyaan dalam bahasa asing. Aku tertatih-tatih menjawab pertanyaannya kala itu namun tetap percaya diri. Setelah ujian ku ikuti, dengan perasaan khawatir bercampur harap aku menunggu hasilnya. Setelah diumumkan, aku dinyatakan lulus Sidang Meja Hijau dengan predikat cum laude. Predikat itu ku raih karena Allah ingin membuktikan kasih sayang-Nya kepadaku. Hasil sidang itu kemudian ku ceritakan kepada ibuku di kampung sembari ku sampaikan bahwa aku meraih hasil cum laude. Meskipun tersenyum karena mendengar aku lulus, ia juga kebingungan dengan istilah cum laude itu. Menurutnya, cum laude adalah sebuah makhluk asing yang sama sekali belum pernah hinggap dalam bangunan pemikirannya. Apakah ibuku paham atau tidak tentang makna cum laude itu, hal tersebut tidak menjadi masalah utama bagiku. Justru yang terpenting adalah ia merasa bahagia menjadi pendampingku ketika aku diwisuda dan diumumkan sebagai wisudawan terbaik. Ya Allah, karena sifat Rahman dan Rahim-Mu aku dapat menyelesaikan studi Strata Satu-ku dengan baik. Tanpa hamparan kasih dan sayang-Mu, aku tak mungkin terhantar di ujung pencarian dan pengembaraan akademikku. Sekali lagi terima kasih ya Allah, Engkau telah menjadi sahabatku dalam suka maupun duka, dalam tangis dan tawa. (bersambung ke episode berikutnya….)



1 komentar:

Anonim mengatakan...

Alhamdulillah