Rabu, 15 Agustus 2018

Kontekstualisasi Makna Jihad



Jihad dalam konteks ajaran Islam memiliki arti yang cukup luas dan kerap diperdebatkan oleh berbagai komunitas akademik. Perdebatan tentang jihad menjadi lebih menarik ketika maknanya dibajak ke dalam berbagai nuansa yang bersifat eksklusif dan radikal. Atas nama jihad, seseorang rela menyabung nyawa demi iming-iming kebahagiaan yang bersifat pintas dan instan. Dengan pemahaman yang sangat sederhana dan dangkal, jihad kerap kali digunakan sebagai media pencabut nyawa dan keranjang keresahan sosial.

Membaca Realitas
Akhir-akhir ini, karena perkembangan media informasi begitu masif, jihad yang sejatinya dipahami dan dilaksanakan secara proporsional mengalami defisit makna dan cenderung kering. Tak jarang terminologi jihad melahirkan kegusaran hati dan rasa ngeri yang tinggi bagi berbagai kalangan. Jihad diartikan dengan membunuh atau dibunuh (to kill or to be killed) atas nama agama. Kaum jihadis dipersepsi sebagai  kelompok yang diklaim bernalar dangkal, rela melakukan apa pun termasuk membeli kematian dengan cara tak wajar demi predikat sebagai seorang syahid.
Pemaknaan yang terkesan sembrono dan tendensius tersebut semakin kuat karena peran media massa barat, untuk hal ini adalah Eropa dan Amerika beserta semua kerabat politiknya, dalam memberikan dan menafsirkan makna jihad itu. Barat dengan kepentingannya menjadikan jihad sebagai senjata yang terbilang ampuh dalam rangka melumpuhkan akal sehat umat Islam, menstigmatisasi, memecah dan kemudian menancapkan hegemoni di dunia Islam. Akar makna jihad yang semula mulia menjadi kotor, keras dan beraspek sempit. Kesan inilah yang menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Energi jihad menyedot tidak saja aktor intelektual yang kerap berdiri di belakang layar, tapi juga kelompok putus harapan yang terpinggirkan secara ekonomi, pendidikan, bahkan mungkin status sosial.  Mereka menjadi eksekutor lapangan. Menurut beberapa informasi, tidak semua yang direkrut menjadi martir memiliki latar belakang agama baik. Ada yang sebelumnya menjadi penjudi, peminum, pencuri, pengangguran dan tersisihkan dari masyarakat. Mereka mendapat tawaran untuk memperbaiki diri. Agar hidup mereka lebih bermakna dan memiliki dimensi religius, maka jihad menjadi semacam kanalisasi demi sebuah kebermaknaan dan bermuara pada kebajikan.
Dengan jumlah yang tidak kecil, anak-anak muda berbekal semangat keislaman tinggi, namun miskin pengetahuan sosial, berdiri di garda terdepan untuk aksi bela Islam. Jihad dalam arti holy war (perang suci) memberi tarikan kuat agar mereka turut bergabung. Mereka ingin merubah tatanan dunia yang cenderung tidak adil dan merugikan umat Islam. Selain itu mindset keagamaan untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahiy munkar menjadi pilihan utama. Sistem sosial barat yang sekuler dan kafir mesti diruntuhkan agar umat Islam jaya. Di tangan mereka, Islam dengan konsep jihadnya yang semula ramah dan penuh harapan menjadi berubah mengerikan dan bersifat mematikan.  

Jihad Substantif
Benarkah makna jihad sesempit dan sesederhana itu? Dari segi ruang lingkup, jihad sesungguhnya amalan yang bersifat luas dan tak terbatas. Jihad juga dapat dikategorisasikan ke dalam banyak varian, misalnya; ada yang disebut dengan jihadul fikr (jihad dengan mempergunakan pemikiran), jihadun nafs (jihad dengan menggunakan jiwa dan mengendalikan diri), jihadul mal (jihad dengan menggunakan harta). Meskipun salah satu makna jihad adalah qital (peperangan), namun secara kuantitatif tidak banyak. Disinilah kemudian jihad perlu dan harus dimaknai secara proporsional dan kontekstual.
Sebagai contoh, dalam Alquran dijelaskan bahwa proses perbaikan dan penyucian diri sehingga seseorang dekat kepada Allah disebut jihad (Q.S. al-Ankabut/ 29: 6). Sementara pada ayat lain ditemukan bahwa termasuk dalam kategori jihad adalah membantu kaum dhu’afa dalam bentuk advokasi ekonomi (Q.S. As-Shaf/ 62: 11). Di sini terlihat jelas bahwa jihad tidak mesti terkait war (peperangan) antara satu pihak kepada yang lain. Jihad lebih terletak pada mujahadah (kesungguhan) dan pengorbanan untuk menyelamatkan kehidupan pihak-pihak yang membutuhkan.
Secara kebahasaan, jihad seakar dengan jahd atau juhd. Kata tersebut mengandung makna kesungguhan, keletihan dan kesukaran. Dapat dimengerti mengapa lapangan jihad demikian luas. Jihad dapat dilakukan di berbagai bidang. Jihad tidak boleh dikebiri menjadi aktifitas sempit dan statis. Jihad sesungguhnya aktifitas yang bersifat dinamis dan mencerahkan. Jika sebuah aktifitas, tentu yang sejalan dengan Alquran dan As-Sunnah, dilakukan dengan sungguh-sungguh, pelakunya merasa sangat letih dan dicapai dengan cara yang tidak mudah, maka itulah sesungguhnya jihad.
Untuk bangsa Indonesia, jihad tidaklah tepat jika dimaknai dengan qital. Ketidaksesuaian ini tentu terkait dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berada dalam situasi dan kondisi yang aman dan damai. NKRI menuntut umat Islam menjadi mujahid-mujahid yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, jihad mesti sejalan dengan realitas masyarakat. Ada dua problem mendasar yang dihadapi umat Islam Indonesia saat ini, yaitu; kemiskinan dan kebodohan. Kemiskinan terkait dengan aspek ekonomi dan kebodohan terkait dengan aspek pendidikan. Jika jihad harus diartikan perang, maka perang dalam hal ini adalah tindakan radikal melawan kemiskinan dan kebodohan.
Mencermati masalah tersebut, maka pemberian beasiswa bagi anak-anak kurang mampu menjadi kebutuhan mendasar. Untuk hal ini, umat Islam mesti memenuhi panggilan jihad dalam bidang pendidikan. Secara kuantitatif, umat Islam dapat dibanggakan, namun keunggulan kuantitatif tak selalu berbanding lurus dengan kualitas yang dimiliki. Secara natural, generasi muda Islam memiliki potensi yang besar untuk maju, namun hal ini sering tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, akhirnya potensi tersebut tidak dapat berkembang dengan baik. Semangat iqro’ (bacalah) sebenarnya mengandung pesan moral tentang arti pentingnya jihad dalam aspek pendidikan ini. Tak ada sejarah bangsa-bangsa maju di dunia ini tanpa diawali kemajuan dalam aspek pendidikan.
Demikian pula jihad dalam aspek ekonomi, menjadi sebuah aktifitas sakral bagi umat Islam. Dari 261 juta penduduk Indonesia, menurut informasi Badan Pusat Statistik (2017), 26,58 juta (10,12%)  hidup di bawah garis kemiskinan. Dapat diduga, dari jumlah itu sebagian besar adalah umat Islam. Jika pada lapisan elit ekonomi umat Islam berkembang pemeo, “Hari ini akan makan dimana dan makan dengan menu apa, bahkan mungkin makan siapa”, tak sedikit umat Islam yang lain juga memiliki pemeo, “Hari ini tak tahu akan makan apa”. Kenyataan pahit ini memanggil para mujahid ekonomi untuk mengatasi minimal mengurangi angka kemiskinan.
Fenomena getir dan menyesakkan dada mestinya dapat dihempang dan ditekan semaksimal mungkin. Dapat dibayangkan betapa serombongan anak kampung menuju sekolah, tidak saja berjalan belasan bahkan puluhan kilo meter, mereka juga mesti menyeberangi sungai berarus deras di atas sebuah tali yang rentan putus. Tentu saja nyawa taruhannya. Belum lagi di saat musim hujan tiba, mereka sampai ke sekolah dengan baju yang basah kuyup dan perut yang kembung. Di pundak merekalah nasib bangsa dan umat Islam ke depan diamanahkan. Apa jadinya jika pendidikan mereka tidak memadai, tentu saja wajah umat Islam Indonesia ke depan akan suram.
Tak hanya itu, potret buram umat Islam juga dinarasikan oleh para orang tua yang sudah sepuh dengan bakul dagangan di punggungnya, atau berdagang sayur dan buah-buahan yang sudah layu. Hal tersebut turut serta memaksa mata ini sembab karena tak kuasa menahan kesedihannya. Recehan uang kecil dikumpulkan demi sesuap nasi di tengah raksasa kapitalisme yang melahap kehidupan mereka. Dengan demikian, makna jihad yang segar menjadi suluh penerang di kegelapan dan harapan terhadap masalah yang menerpa. Jihad bukan sekedar teriakan suci dan bunuh diri atas nama Tuhan, melainkan aktifitas mulia untuk menghilangkan rasa haus dan lapar pada aspek ekonomi, atau mencerdaskan otak-otak umat Islam pada aspek pendidikan. Wallahu a’lam.



Jumat, 29 Desember 2017

PETANI KEBAJIKAN


Sungguh menjadi sebuah kewajaran jika dikatakan bahwa Islam adalah agama penyempurna dari risalah agama-agama terdahulu. Pernyataan ini cukup logis mengingat berbagai aspek yang terkandung di dalam ajaran Islam meliputi tidak saja persoalan teologis dan ritual sebagaimana yang dapat dilihat selama ini, namun juga meliputi persoalan-persoalan kemanusiaan secara ril. Berbagai aktifitas manusia dalam kehidupan tak terlepas dari bingkai keislaman.
Semangat keislaman yang merasuk ke dalam berbagai aktifitas menuntun pelakunya untuk tetap sadar bahwa semua yang dilakukan berasal dari perintah Allah dan tentu saja bermuara pada kesadaran religius bahwa Allah Maha Memiliki segalanya. Aktifitas manusia dalam pandangan Islam tidak mengantarkan pelakunya untuk menjadi makhluk superior yang lupa terhadap kesejatian dirinya sebagai hamba. Sebaliknya, aktifitas itu menjadi media untuk mengimplementasikan ibadah kepada Allah dalam beragam bentuk.
Ibadah itu sendiri masuk ke dalam kategorisasi kebajikan (al-birr). Kebajikan cukup luas dan tak terbatas, tidak saja menyangkut ritualisme yang kerap diekspresikan melalui shalat, puasa, zakat, haji, namun juga menyangkut berbagai aktifitas sosial di tengah kehidupan masyarakat. Untuk yang pertama para ulama kerap menyebutnya dengan ibadah khaasshah (khusus), sementara untuk yang kedua disebut dengan ibadah ‘aammah (umum). Namun kedua kategorisasi itu disebut kebajikan.
Fazlurrahman, Guru Besar Pemikiran Islam, di Universitas Chicago Amerika Serikat dalam buku “Major Themes of The Qur’an”, menguraikan secara detail tentang aspek-aspek ajaran Islam yang demikian luas. Rahman terkesan memaparkan bahwa Islam tidak boleh dikerdilkan dan dibonsai menjadi agama yang sempit dan alpa untuk merespons berbagai persoalan kemasyarakatan. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa tema-tema Alquran meliputi berbagai hal yang sebagian besar lekat dengan kehidupan masyarakat.
Buku yang ditulis Rahman boleh jadi sudah usang, namun pesan yang disampaikannya tetap bersifat kekinian dan kedisinian. Di sisi lain, ada semacam kekhawatiran besar Rahman, satu ketika Islam akan dilihat orang sebagai agama yang sempit dan bersifat tidak dialogis dengan berbagai kebutuhan masyarakat. Akhirnya pesan Islam tidak sampai dan misi mulia yang semestinya untuk menyelamatkan umat manusia menjadi kering dan tumpul. Islam memang ada namun sebatas agama wacana dan tidak faktual. Dalam konteks ini, secara substantif mungkin saja Islam akan dijauhi orang.
Sebab itulah, mulai dari aspek keimanan sampai pelayanan terhadap kebutuhan kemanusiaan, sejauh dilakukan dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan Alquran dan As-Sunnah, Islam melihatnya sebagai kebajikan. Dari sisi ini terlihat jelas bahwa kebajikan bukan lapangan yang kecil dan sempit sehingga pelakunya merasa cemas tidak mendapatkan bagian. Sebaliknya, lapangan kebajikan sangat luas dan tak terbatas. Kemampuan manusialah yang mengenal batas karena tidak sanggup melakukan berbagai kebajikan itu.
Alquran dan As-Sunnah saja pun menjelaskan betapa kebajikan itu dapat dilakukan dalam berbagai keadaan dan oleh siapa saja tanpa dikerangkeng oleh status sosial. Dalam Alquran dijelaskan secara eksplisit bahwa kebajikan yang diistilahkan dengan al-birr terdiri dari banyak elemen; mulai dari elemen keimanan, elemen ritual sampai elemen filantrofi. Untuk elemen yang terakhir, Alquran banyak menjelaskan baik yang bersifat umum maupun sampai penjelasan yang bersifat detail, tentu saja muaranya adalah lahirnya komunitas takwa (Q.S. Al-Baqarah/ 2: 177).
Menariknya lagi, karakteristik orang-orang yang bertakwa tidak saja dilihat dari aspek keimanan dan ritualisme secara sempit. Alquran juga melabelkan predikat takwa kepada mereka yang dengan ikhlas melakukan berbagai kebajikan sosial. Misalnya; membantu fakir dan miskin dalam keadaan lapang dan sempit, mengendalikan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain (Q.S. Ali-Imran/ 3: 133-135). Terdapat ruang yang disebut dengan kebajikan dalam aktifitas-aktifitas yang demikian. Sejauh aktifitas yang dilakukan seorang Muslim tidak bertentangan dengan Alquran dan As-Sunnah, maka sejauh itu pula aktifitas tersebut menjadi kebajikan.
Karenanya, kebajikan tidak saja muncul dari aktifitas keagamaan simbolik sebagaimana yang selalu dilakukan masyarakat seperti sekarang ini, namun sejauh aktifitas itu memberikan manfaat untuk kemanusiaan, itulah sesungguhnya kebajikan. Kebajikan bukan monopoli para tokoh agama yang memiliki pengetahuan mendalam tentang Islam, melainkan milik semua orang tanpa melihat latar belakang kehidupannya. Sebab itulah, Islam melihat bahwa peluang setiap orang adalah sama, sama-sama berhak melakukan kebajikan, dan sama-sama berpeluang masuk ke dalam surga.
Bahkan sebaliknya, jika ritualisme dilakukan dengan tujuan untuk kepentingan mendapatkan apresiasi manusia dan bukan ridha Allah, bisa saja aktifitas tersebut menjadi riya’, bukan pahala yang didapatkan melainkan murka dari Allah. Ritualisme ini ramai dilakukan dengan gegap gempita namun kering makna dan boleh jadi sia-sia. Namun meskipun sebuah aktifitas yang dilakukan tidak terkait simbol-simbol agama, sejauh memberikan kebahagiaan dan manfaat kepada banyak pihak, inilah contoh kebajikan itu. Meskipun terkadang tidak mendapatkan apresiasi manusia, namun Allah mencatatnya sebagai amal shaleh.
Karena itu, setiap orang bisa menjadi petani kebajikan. Petani kebajikan mengandung dua makna, yaitu; petani yang memang bersungguh-sungguh menggeluti dunia tanaman (flora) sehingga memberikan hasil maksimal dan memberikan faedah untuk kehidupan; selain itu petani kebajikan adalah para pegiat amal shaleh yang hidup di tengah-tengah masyarakat, melakukan berbagai aktifitas dan memberikan manfaat untuk kehidupan orang banyak. Kedua kategorisasi ini sama-sama berpeluang masuk ke dalam surga.
Setiap orang berpotensi menjadi petani kebajikan. Seorang penarik becak dapat menjadi petani kebajikan ketika pada hari-hari tertentu dan waktu-waktu tertentu, ia mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuan dengan cuma-cuma, tanpa menakar imbalan. Tukang parkir dapat menjadi kebajikan ketika dalam beberapa kasus ia tidak memungut tarif parkir kepada pemilik mobil. Para pimpinan perusahaan, para pejabat di semua tempat dapat menjadi petani kebajikan ketika tiba di kantor ia menyapa lembut dan menebar senyum kepada para bawahannya. Supir angkot dapat menjadi petani kebajikan ketika ia bersifat ramah kepada para penumpang dan tidak sembrono berlalu lintas.
Dengan demikian, surga mustahil digapai oleh orang-orang yang anti dengan kebajikan. Meskipun di tengah-tengah masyarakat sering muncul orang-orang yang sepertinya cinta kebajikan dan secara simbolik menjadi petani kebajikan, jika secara substantif perilakunya bertentangan dengan norma agama dan tradisi umum di masyarakat, ia tidak dapat dikategorikan sebagai petani kebajikan, melainkan  penjagal terjadinya kebajikan. Ruh kebajikan di tangan orang-orang seperti ini kering dan mati, karena kebajikan simbolik yang dipraktikkannya hanya untuk menjadi bingkai egoisme personal.
Di masyarakat juga sering muncul orang-orang yang lisannya tidak fasih berbicara tentang agama, kesalehan simbolik juga tidak pernah ia tampilkan apalagi untuk menaikkan citra positif dengan tujuan mendapatkan simpati, namun aktifitas-aktifitas yang dikerjakannya sangat bermanfaat untuk kehidupan, inilah sesungguhnya petani kebajikan itu. Ia bekerja bukan untuk meraih apresiasi manusia, melainkan untuk merawat kehidupan. Baktinya bukan untuk kepentingan diri melainkan ridha ilahi.

Petani kebajikan tidak lahir dari rahim perguruan tinggi bergengsi kelas dunia dan bertarif sangat mahal, atau kursus-kursus yang dilaksanakan lembaga-lembaga ternama yang bereputasi internasional. Petani-petani kebajikan lahir dari universitas kehidupan. Kurikulum disusun oleh masyarakat. Kampusnya boleh jadi di berbagai jalanan dan gang-gang sempit, pasar rakyat yang kumuh, panti asuhan, parit mampet, rumah yatim piatu, hamparan bencana alam, bahkan mungkin lipatan-lipatan konflik sosial. Meskipun demikian, universitas tersebut mampu melahirkan para sarjana yang peka dan sensitif dengan tangisan kaum dhu’afa dan berbagai bentuk nestapa. Inilah sesungguhnya hakikat dari petani kebajikan itu. Wallaahu a’lam.

Jumat, 10 November 2017

Dakwah Muhammadiyah Melintas Zaman

Tanggal 18 Nopember 1912 Miladiyah atau 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah, menjadi momen penting bagi Muhammadiyah. Sebab pada tanggal tersebut Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Salah satu variabel penting berdirinya Muhammadiyah disebabkan karena terjadinya gerak menjauh praktik keislaman di Indonesia dari sumber utamanya, Alquran dan As-Sunnah. Muhammadiyah hadir untuk melakukan purifikasi terhadap paham dan pengamalan keagamaan Umat Islam saat itu.
Semangat berdirinya Muhammadiyah dapat dipahami secara rasional, mengingat sinkretisme ajaran Islam dengan budaya lokal demikian kental. Saat itu, sulit dibedakan ajaran otentik Islam dengan aktifitas yang lahir dari tradisi masyarakat setempat. Takhyul, Bid’ah, Churafat, yang dikenal dengan TBC menjadi sorotan utama Muhammadiyah. Gerakan kembali kepada Alquran dan As-Sunnah menjadi choice of movement (pilihan gerakan) organisasi pembaruan tersebut.
Selain itu, massifnya misi kristenisasi yang mendompleng pemerintah kolonial Belanda juga turut serta memantik kesadaran religius KH. Ahmad Dahlan.  Alwi Shihab dalam buku “Membendung Arus: Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (2016)”, menjelaskan bahwa agama Kristen yang secara moral dan finansial didukung pemerintah kolonial menjadi ancaman yang sangat mengkhawatirkan dakwah Islam, sebab itu gerakannya perlu untuk dibendung dan diimbangi.
Namun menariknya, meskipun terjadi kontestasi antara dakwah Islam dan misi penyebaran ajaran Kristen, relasi sosial yang dibangun KH. Ahmad Dahlan dengan tokoh-tokoh Kristen tetap berjalan secara baik. Haedar Nashir dalam buku “Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam (2010)”, menjelaskan bahwa KH. Ahmad Dahlan tak sungkan belajar tentang kelebihan-kelebihan gerakan misi Kristen. Uniknya, KH. Ahmad Dahlan melakukan, jika boleh diistilahkan,  “Muhammadiyahisasi” kelebihan-kelebihan gerakan keagamaan itu.
Kekuatan finansial yang dimiliki gerakan misi Kristen, terutama Katolik, memungkinkan mereka membangun lembaga pendidikan, panti asuhan, gereja, dan lembaga kesehatan. Keempat institusi itu menjadi kebutuhan mendasar masyarakat. Inilah yang pada akhirnya menyadarkan KH. Ahmad Dahlan betapa keberhasilan sebuah gerakan keagamaan sangat dipengaruhi oleh berdirinya lembaga-lembaga itu.
Kini usia Muhammadiyah sudah lebih dari satu abad, gerak melintasi zaman yang  pernah  dilalui  Persyarikatan ini mengambil model yang beragam, demikian pula tantangan-tantangan yang dihadapi. Benang merah gerakan Muhammadiyah dari masa ke masa tetap sama, tidak mengalami perubahan, meskipun terjadi kontekstualisasi. Terdapat empat wilayah gerakan Muhammadiyah yang senantiasa  menjadi karakteristik unik dalam dirinya, yaitu: purifying (memurnikan akidah dan meluruskan ibadah), schooling (sekolah dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan), feeding (memberi makan dengan menyantuni kaum dhu’afa dan mendirikan panti asuhan), healing (menyembuhkan penyakit dengan mendirikan lembaga-lembaga kesehatan).
Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan zaman menuntut Muhammadiyah melakukan pola gerakan yang semula sangat fokus pada urusan keagamaan ke arah kemanusiaan. Predikat sebagai gerakan puritan yang terkesan  berwatak keras dan eksklusif bergeser ke arah gerakan humanis yang berwatak inklusif dan terbuka. Pada level atas, lapisan elit Muhammadiyah tentu tidak tepat mendapat predikat puritan dan dan eksklusif, namun pada lapisan yang luas dan arus bawah, puritanisme dan eksklusifisme sangat kental. Inilah mungkin salah satu sebab mengapa di banyak tempat Muhammadiyah tidak dapat diterima dengan baik.
Oleh kebanyakan warga Muhammadiyah, eksklusifisme pada konteks tertentu (baca: ibadah), jarang diikuti dengan sikap toleran dan apresiatif terhadap perbedaan. Di banyak masjid, Muhammadiyah sering dirasakan sebagai “musuh” bersama. Warga Muhammadiyah seharusnya menyadari situasi seperti ini. Menelisik teks-teks ideologis Muhammadiyah, ditemukan secara eksplisit bahwa Muhammadiyah adalah persyarikatan terbuka dan cukup toleran. Gerakannya juga tidak melulu persoalan keagamaan as sich, melainkan gerakan-gerakan yang bersifat humanis dan responsif dengan tantangan zaman.
Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam “Kepribadian Muhammadiyah”  sejalan dengan predikat itu.  Pada butir kedua, ketiga dan keempat ditegaskan beberapa karakteristik Muhammadiyah, yaitu; Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah islamiyah; Lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam; Bersifat keagamaan dan kemanusiaan. Dalam konteks ini, sifat terbuka dan humanis sangat jelas. Karakteristik ini sering tidak mendapat perhatian warga Muhammadiyah secara luas.
Kekeliruan dalam memandang buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) juga kerap terjadi. HPT sering dianggap satu-satunya sumber, paling tidak bersifat dominan, yang merepresentasikan Muhammadiyah. Berbicara tentang Muhammadiyah selalu dilihat dari perspektif  HPT. Padahal Muhammadiyah tidak bisa dibonsai dengan menggunakan HPT itu. Seluruh aspek kebutuhan masyarakat disentuh oleh Muhammadiyah. Jumlah majelis dan lembaga yang demikian banyak menjadi bukti akan hal itu. Sebagian besar majelis dan lembaga tersebut terkait dengan persoalan humanitas.
Muktamar Muhammadiyah ke-46 yang dikenal dengan “Muktamar Satu Abad” di Yogyakarta tahun 2010 lalu menegaskan kembali jati diri Muhammadiyah sebagai gerakan tengahan dan kemanusiaan. Salah satu rumusan ideologis yang diputuskan dalam Muktamar tersebut adalah: “Pernyataan  Pikiran Muhammadiyah  Abad  Kedua”.  Ditegaskan dalam rumusan itu bahwa aktifitas Muhammadiyah bermuara pada kepentingan kemanusiaan secara universal tanpa diskriminasi. Muhammadiyah juga menegaskan ideologinya sebagai ummatan wasathaan (umat moderat) dan syuhadaa’a ‘alannaas (saksi untuk umat manusia). Kerja-kerja persyarikatan Muhammadiyah bermanfaat untuk semua tanpa memandang suku, agama, bangsa, dan budaya.
Salah satu hal menarik, sebagaimana mata rantai tak terputus dari misi sebelumnya, dalam rumusan ideologis itu dinyatakan bahwa Muhammadiyah mengintegrasikan keislaman dan keindonesiaan. Dua pesan penting yang terkandung dalam konteks ini, yaitu islamisasi dan indonesianisasi. Bagi Muhammadiyah, menjadi Muslim tidak harus menanggalkan bingkai keindonesiaan. Muhammadiyah melakukan integrasi antara Islam dengan budaya khas Indonesia. Muhammadiyah meniscayakan bahwa mencintai Islam selalu  melahirkan semangat kuat untuk mencintai Indonesia.
Pada Muktamar ke-47 di Makassar 2015 yang lalu, dirumuskan konsep Muhammadiyah tentang “Negara Pancasila Sebagai Daarul Ahdi Wa Syahaadah”. Rumusan ini sangat penting, mengingat pasca reformasi telah terjadi disorientasi kehidupan yang berpotensi menggerus pemahaman bangsa Indonesia tentang Negara bangsa. Sebab itulah, Muhammadiyah hadir untuk meluruskan kiblat bangsa. Ada empat hal yang terkandung dalam rumusan itu, yaitu; NKRI menjadi keputusan final yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika. Konsep itu akan bermuara pada lahirnya cita-cita  Negara bangsa sebagaimana disebut dalam Alquran “Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur”.
Usia 100 tahun merupakan waktu yang matang bagi Muhammadiyah untuk terus berkiprah. Program Muhammadiyah secara nasional dalam lima tahun  ke depan (2015-2020), diarahkan pada tiga bidang penting, yaitu; respons Muhammadiyah terhadap persoalan keumatan, respons Muhammadiyah terhadap persoalan kebangsaan, dan respons Muhammadiyah terhadap dinamika kehidupan global. Tiga ranah perhatian Muhammadiyah ini menjadi ikhtiar untuk turut serta memberikan kontribusi penting bagi kepentingan kemanusiaan. Sebab itu, setiap warga Persyarikatan harus memahaminya dan sedapat mungkin melaksanakan pesan-pesannya. Wallaahu a’lam.

Selasa, 31 Oktober 2017

Membaca Perubahan Zaman


Perintah membaca dalam Alquran yang diekspresikan dengan kata iqro’ (bacalah), mengandung berbagai aktifitas akademik yang tidak sederhana. Termasuk dalam lingkup perintah membaca adalah mengamati, mencermati, menganalisa, menghubung-hubungkan, mengkritik, mendalami, meninggalkan, dan tentu aktifitas yang sejenis.
Kata iqro’ sendiri dapat dipahami dalam dua konteks, yaitu; membaca yang tersurat. Pembacaan ini tentu saja terkait dengan ayat-ayat Alquran yang jumlahnya terbatas, menurut sebuat versi 6236 ayat, sementara versi lainnya 6666 ayat. Membaca yang tersirat terkait dengan perkembangan sosial kemasyarakatan yang jumlahnya tidak terbatas.
Khusus membaca yang tersirat, diperlukan respons yang serius karena ada dua hal yang terkandung, yaitu hal-hal positif dan tentu hal-hal negatif dan cenderung tidak sesuai dengan norma agama . Di sinilah respons jeli kita dituntut, karena Islam telah melintasi berbagai zaman, keluar masuk ruang dan waktu, berikut berbagai tantangan zaman yang mengitarinya. Sebab itu dibutuhkan daya baca kritis untuk mengantisipasi berbagai hal negatif yang boleh jadi masuk dan mempengaruhi pola pikir dan sikap hidup masyarakat.
Era informasi yang kini tengah melanda dunia merupakan fase kehidupan yang tidak dapat dihindari termasuk juga oleh umat Islam. Era ini menyediakan berbagai kemudahan di antaranya cara berkomunikasi. Dunia yang luas dan jauh terasa dekat sekali dan seolah tak berjarak. Peristiwa yang terjadi di berbagai bagian dunia pada saat yang sama dapat disaksikan di bagian dunia lain, bahkan bisa saling berinteraksi. Meskipun demikian, nilai-nilai kebebasan yang terkandung dalam era ini tidak kecil, bahkan tidak sedikit yang bertentangan dengan doktrin agama.
Berangkat dari paham antroposentris, dimana manusia memiliki otoritas mutlak untuk mengatur dirinya sendiri dan mengendalikan dunia, hidup manusia berputar dari manusia dan bermuara kepada manusia itu. Manusia merasaa sudah dewasa, agama tidak lagi dibutuhkan. Tidak ada unsur teleologis (akhirat) dalam paham itu. Demikian pula dengan paham liberal yang berkembang pesat di Barat dan kini menjadi konsumsi warga dunia secara luas, kebebasan individu harus dihormati dan dijunjung tinggi. Semuanya boleh dilakukan selama tidak mengganggu kepentingan orang lain.
Revolusi informasi melalui jaringan internet menjadi semacam pasar dunia dan bersifat sangat bebas. Siapa pun berhak untuk mengakses informasi dan konten yang ada di dalamnya. Sebut saja misalnya sekolah Prostitusi yang didirikan di Spanyol, selain legal, sekolah Prostitusi tersebut membekali para siswa dengan ilmu tentang sejarah prostitusi dan bagaimana menjadi praktisi prostitusi yang profesional dan berpendapatan tinggi.  Gaya hidup bebas (free life) dan praktik sex bebas (free sex) yang menyertainya akan berkompetisi melawan ideologi negara yang memegang kuat prinsip-prinsip agama.
Informasi lain yang tak kalah menantangnya adalah sekolah Lesbian, Gay, Bi Sexual, dan Trans Gender (LGBT). Sekolah ini didirikan di New York dan Atlanta Amerika Serikat, diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki kecenderungan sex berbeda di lingkungan masyarakat, dan wadah bagi mereka yang selalu mendapatkan perlakuan sosial yang tidak baik. Sekolah ini legal dan mendapatkan dukungan masyarakat. Meskipun ditentang, namun otorita sekolah tidak mempedulikan hal tersebut.
Melalui teknologi informasi, bukan tidak mungkin kedua lembaga pendidikan aneh ini akan diimpor ke Indonesia. Potensi ke arah itu sangat besar. Meskipun prostitusi dan LGBT dianggap ilegal dan tidak memiliki akar historis kuat, namun faktanya tidak sedikit para praktisi dan pegiat kedua penyakit sosial itu menunjukkan eksistensinya. Bahkan kini banyak yang mencari dukungan, tidak saja secara konstitusional namun juga agama.
Perlu pembacaan yang komprehensif terhadap berbagai perubahan masyarakat yang bergerak dan ditopang oleh kecanggihan teknologi itu. Para penganut agama dalam konteks ini tidak bisa tinggal diam. Sebuah agama yang marketable (banyak diminati orang) adalah agama yang mampu untuk memberikan respons konkrit terhadap persoalan yang muncul di rahim sejarah. Sebaliknya, agama yang hanya berisi janji-janji manis tentang keselamatan akhirat (salvation) perlahan akan ditinggalkan orang dan ceritanya hanya dimuat dalam kitab masa lalu.
Tak terkecuali Islam, agama termuda dalam rumpun agama-agama semitik  (Abrahamic Religions) ini tak kurang kayanya dengan nilai-nilai sakral yang sampai kapan pun tak lekang dari kehidupan. Mulai dari etika pribadi sampai etika sosial diatur secara detail. Meskipun demikian, bukan tidak mungkin Islam juga tinggal kenangan dan korban peradaban modern-liberal jika umat Islam gagal merespons perubahan.
Sebagai agama langit, kebenaran Islam tidak diragukan lagi. Namun, siapa pun tidak pernah menyangkal agama langit ini pasti menapak dan dilaksanakan di bumi. Di sinilah kemudian umat Islam amat bertanggung jawab dalam mengawal jatuh dan bangunnya peradaban Islam, maju dan mundurnya peradaban tersebut. Melihat betapa beratnya tantangan dakwah kini dan ke depan, sudah saatnya umat Islam membangun kesadaran kolektif dan membuat sebuah common platform (platform umum) yang dapat menyatukan berbagai elemen.
Media perekat umat Islam bukan lagi pada kesamaan mazhab dan aliran, namun terletak pada ikhtiar bersama untuk menghadapi tantangan yang diajukan zaman. Sunni dan Syi’ah dalam konteks global, Muhammadiyah, NU, Al-Washliyah dalam konteks nasional, harus kita anggap sebagai media penafsiran dan alat ikhtiar untuk memperjuangkan Islam. Perbedaan teologis dan perbedaan detail ibadah praktis mestinya harus diakhiri, meskipun tetap dapat didiskusikan, namun bukan instrumen yang dapat menjauhkan relasi persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah) yang indah itu, apalagi sebagai alat justifikasi benar dan salah sebuah kelompok.
Jika cangkang ketertutupan dipecah dan umat Islam melihat dunia lebih luas, betapa umat Islam sudah jauh tertinggal dibanding dengan yang lain. Peradaban yang dibangun di Eropa dan Amerika, serta kemajuan ekonomi dan politik Negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Taiwan, berat untuk ditandingi. Jangankan berjalan, berlari kencang pun umat Islam mungkin tidak dapat mengejarnya. Ekspor ilmu pengetahuan, teknologi dan gaya hidup yang mereka kirimkan ke Indonesia dengan mayoritas masyarakat Muslim jelas terasa. Terkadang nilai positif dan negatif terintegrasi menjadi satu dan sulit untuk dipilah.
Bagi mereka, Indonesia menjadi pasar global yang dapat mendatangkan devisa negara. Lihat saja teknologi Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Tiongkok, atau gaya hidup Barat  bergumul menjadi satu. Belum lagi penyelundupan narkoba dalam jumlah besar, bahkan narkoba kini seperti malaikat maut yang mencabut akal dan nyawa anak bangsa secara perlahan. Umat Islam mesti melek perubahan dan memberikan respons, sambil melakukan ikhtiar untuk mengejar ketertinggalan dari mereka, meskipun tidak sama, minimal tidak berjarak terlalu jauh.
Tidak ada pilihan lain, umat Islam Indonesia harus melakukan integrasi dan akomodasi. Apa saja yang datang dari luar, sejauh sejalan dengan Alquran dan As-Sunnah dan bermanfaat bagi kemajuan umat Islam harus diambil. Sikap kritis  (tabayyun) dan terbuka diperlukan untuk merespons ini. Generasi cerdas Islam mesti mengambil bidang kajian beragam, bukan saja tafsir, hadis, teologi, tapi juga bidang-bidang yang terkait dengan teknologi, ekonomi, politik dan seterusnya.
Melawan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat dan negara-negara Asia Timur bukan dengan gerakan radikal, melainkan dengan mempromosikan nilai-nilai luhur dan beradab berbasis agama, mereka kering dalam konteks ini. Namun demikian, nilai-nilai itu bukan yang bersifat eksklusif dan cenderung memojokkan orang lain, melainkan nilai-nilai Islam berkemajuan dan Islam yang mencerahkan, yaitu Islam rahmatan lil ‘alamin, sebuah Islam yang dapat memayungi berbagai perbedaan religius dan kultural.

Karena itu, umat Islam mesti memiliki kesadaran kolektif, bahwa hidup bersama di bawah payung persaudaraan Islam  harus ditempatkan  di atas berbagai kepentingan golongan. Selama ini umat Islam banyak menghabiskan potensi energi untuk urusan konflik, lalu berdebat untuk urusan penafsiran yang tak pernah sampai ke muara, kini hal tersebut harus dikelola lebih produktif untuk membangun peradaban islami. Wallaahu a’lam.