Minggu, 19 April 2020

Sebuah Cermin Menatap Diri






SEBUAH CERMIN MENATAP DIRI
Oleh Muhammad Qorib
Wakil Ketua PWM Sumut dan Dekan Fakultas Agama Islam UMSU

Ustaz Farhan memacu sepeda motornya dengan kencang. Tak lupa ia melengkapi berbagai surat dan pengaman selama berkendara. Hari itu, ia terikat janji dengan jamaah pada pukul 14.00 sd 16.30. Ustaz Farhan diminta untuk menjadi penceramah dalam sebuah pengajian akbar. Sebelum acara berakhir, Ketua Pengajian juga mendaulatnya untuk memimpin Gerakan Amal Sholeh (GAS). Hasil GAS direncanakan untuk komoditas aktifitas sosial. Sesuai dengan keputusan rapat, dana yang terkumpul dikonversikan menjadi sembako dan diserahkan kepada kaum dhu’afa.
GAS memang menjadi tradisi di pengajian itu. GAS itu pula yang mengantarkan pengajian akbar tersebut sebagai institusi filantrofi. Sungguh sangat membanggakan. Namun jauh lebih membanggakan karena pengajian itu berada di rahim organisasi besar yang masyhur dengan terobosan-terobosan sosialnya. Singkat cerita, pengajian berjalan lancar. Jamaah serius mengikuti uraian demi uraian. Terkadang suasana serius pecah berubah menjadi jenaka, ketika Ustaz Farhan memasukkan humor-humor religius, sebuah metode khas dalam dakwahnya.
Sebagai pembawa GAS, Ustaz Farhan membius jamaah untuk bersedekah. Namun ia memberi contoh terlebih dahulu. Agak kurang elok, jika seruan bersedekah namun tidak dimulai oleh penyerunya. Ketua Pengajian merasa sangat senang dan berterima kasih atas kepiawaian Ustaz Farhan berceramah dan menggerakkan GAS. Setelah pengajian selesai, Ustaz Farhan pamit pulang. Tak lupa Bendahara Pengajian menyelipkan uang transportasi untuknya. Di tengah jalan ban sepeda motornya bocor. Ia harus menuntunnya ke bengkel terdekat. Selesai itu, Ustaz Farhan mengeluarkan uang untuk jasa tambal ban tersebut.
Saat memacu sepeda motor, hujan turun dengan lebatnya. Karena jarak menuju rumahnya masih jauh, Ustaz Farhan menembus derasnya guyuran hujan. Sampai di rumah ia basah kuyup. Istri beliau yang sholehah menyambut kedatangannya, diikuti pula oleh putera dan puterinya yang lucu-lucu. Karena keletihan dan imunitas yang tidak stabil, akhirnya Ustaz Farhan demam. Esok harinya ia pergi ke dokter untuk mendapatkan perawatan. Selesai berkonsultasi kepada dokter, Ustaz Farhan mengambil uang pembayaran. Uang itu berasal dari amplop transportasi yang ia dapatkan dari pengajian akbar sehari sebelumnya. Setelah dihitung, ternyata biaya resep dan  berobat yang mesti ditebus lebih besar.
Dalam konteks ini, pengeluaran uang Ustaz Farhan lebih besar dari yang ia peroleh. Untuk diketahui, selain untuk perobatan, Ustaz Farhan mengeluarkan sedekah ketika memimpin GAS, membayar tambal ban ketika bocor dan mengisi bahan bakar untuk sepeda motornya. Tidak tersisa untuk ekonomi keluarganya. Uniknya, uang transportasi yang kecil dari jamaah sering ia peroleh, namun tak menggerus semangat Ustaz Farhan. Istrinya yang sholehah tampil menguatkan.  Ia kemudian mengambil sejumlah uang dari dompetnya untuk menutupi kekurangan. Uang itu berasal dari simpanan yang dikumpulkan sedikit-demi sedikit. Atas takdir Allah, semua berjalan lancar dan akhirnya Ustaz Farhan sembuh seperti sediakala. Ia dapat melaksanakan peran dan fungsinya kembali sebagai seorang pencerah.
Hari-hari dilalui Ustaz Farhan dengan gembira. Banyak jamaah yang memerlukan sedekah ilmu dan pemikirannya. Aktifitasnya seolah diatur oleh jamaah, tak terbelenggu waktu. Jika sehat dan tidak berbenturan dengan acara yang sudah disusun, Ustaz Farhan selalu memenuhi undangan ceramah yang sampai kepadanya.  Jadwalnya tersusun rapi. Tidak pernah ia membeda-bedakan tempat ceramah, kering atau basah. Hidup dan matinya tetap berada di lingkaran pencerahan. Ia sosok yang ikhlas dan berjiwa sosial tinggi. Ia juga dikenal memiliki loyalitas institusi yang kuat. Filosofi  tersebut ia rujuk dari pendiri organisasi dimana ia aktif.
Karena zaman terus mengalami perubahan dan isu-isu dakwah semakin pelik, Ustaz Farhan juga berpikir untuk meningkatkan kualitas diri. Gerakan pencerahan yang ia lakukan akan ketinggalan zaman jika ia tidak menimba ilmu ke jenjang berikutnya. Ia berniat untuk melanjutkan studi ke tingkat magister. Dalam konteks ini, Ustaz Farhan tetap berkonsentrasi sesuai bidang yang ia dalami selama ini, yaitu dirasah islamiyah. Ia punya visi, jika wawasan ilmu semakin luas tentu jamaah juga akan mendapatkan pemahaman agama ke tingkat yang lebih baik. Perubahan keadaan terjadi jika diawali dengan perubahan pola pikir. Ini bisa dilakukan lewat perbaikan kualitas pendidikan.
Berbekal tabungan pas-pasan, Ustaz Farhan mendaftarkan diri ke perguruan tinggi. Apa yang ia lakukan sangat spekulatif. Selain memikirkan ketersediaan ekonomi untuk keluarga, Ia juga dituntut untuk mencari dana studinya. Keadaan tersebut sudah pernah ia sampaikan secara tersirat ke beberapa jamaah pengajian yang di dalamnya terdapat orang-orang mampu. Namun mereka lebih memilih bersedekah doa ketimbang bersedekah materi yang sedang dibutuhkannya.  Ada yang tidak memberikan respons. Namun beberapa diantaranya memberikan bantuan ala kadarnya. Padahal, diantara mereka ada yang sudah menunaikan haji dan umroh berulang kali.
Meskipun terseok-seok, Ustaz Farhan dapat menyelesaikan studi. Ia meraih gelar yang diimpikan, yaitu magister. Gelar tersebut membuatnya semakin optimis dalam proses gerakan pencerahan. Jadwal ceramahnya semakin padat. Permintaan untuk mengisi acara keagamaan kepada dirinya semakin meningkat. Selain berceramah dari pengajian yang satu ke pengajian lainnya, Ustaz Farhan mengamalkan ilmu dengan menjadi seorang guru di sebuah sekolah kecil. Sekolah itu didominasi oleh  siswa-siswi miskin yang tak berkecukupan materi. Meskipun berpenghasilan di bawah UMR, Ustaz Farhan tak kenal kata menyerah, berhenti, apalagi melarikan diri mencari sekolah dengan penghasilan yang lebih tinggi.
Seiring dengan bergulirnya waktu, kini anak-anak Ustaz Farhan membutuhkan biaya pendidikan. Biaya itu menurut ukurannya terbilang tidak kecil. Keadaan tersebut harus ia tutupi, ditambah lagi dengan sewa kontrakan rumah yang terus naik dari tahun ke tahun. Sepeda motor yang ia gunakan untuk berceramah masih dalam proses angsuran dan belum lunas. Tentunya, Ustaz Farhan dan istrinya harus cerdas dalam mengelola keuangan. Harus ada skala prioritas dalam ekonomi keluarganya. Jika terbentur masalah ekonomi, Ustaz Farhan hanya meluahkan kepada istrinya. Melakukan hal tersebut kepada orang lain dapat menimbulkan aib untuk dirinya, terlebih jika terendus jamaah. Apalagi ia seorang Ustaz. Sosok yang dianggap mumpuni oleh masyarakat.
Beban ekonomi Ustaz Farhan semakin berat dengan munculnya pandemi covid-19. Selama ini, pilar ekonomi Ustaz Farhan ditopang oleh dua kekuatan, yaitu; ceramah agama dan mengajar di sekolah kecil. Praktis setelah mewabahnya pandemic covid-19, sebagian besar jadwal ceramah Ustaz Farhan terhenti. Banyak pengurus masjid memberlakukan lock-down dan social distancing. Pengajian dan khutbah jum’at dibatalkan karena alasan keselamatan. Tentu saja, keputusan para pengurus masjid dapat dibenarkan. Mereka mengacu pada Surat Edaran yang dikeluarkan oleh pemerintah, lembaga ulama maupun keputusan organisasi.
Saat covid-19 memuncak seperti sekarang ini, hampir setiap pengurus masjid dan pengurus Ormas Islam mengadakan kegiatan amal. Kegiatan itu menghimpun dana untuk orang-orang yang terdampak wabah karena minimnya pendapatan. Ada pula yang kehilangan pekerjaan. Dari pendataan yang dilakukan, ternyata Ustaz Farhan tidak dianggap terdampak wabah global tersebut. Ia dianggap mampu. Ustaz Farhan sebenarnya ingin menyampaikan suara hatinya. Namun ini ia anggap sangat sensitif. Akhirnya ia urungkan. Ustaz Farhan berharap agar ada yang menyuarakan, namun keinginannya tidak terwujud. Tidak ada yang merespons. Di kebanyakan jamaah, meminta dan mengusulkan untuk kepentingan diri sendiri dianggap tidak etis. Pelakunya bisa dihukum secara moral dan sosial.
Ustaz Farhan membayangkan hari-harinya dalam himpitan ekonomi yang berat. Jangankan menjaga agar imunitas tubuh tetap stabil, membeli beras saja ia mengalami kesulitan. Terkadang anak-anaknya meminta jajanan. Ustaz Farhan mengalihkan perhatian agar pertanyaan itu teralihkan. Di belakang mereka, Ustaz Farhan hanya bisa menangis dan berdoa, agar masa-masa yang sangat sulit seperti sekarang ini lekas berlalu. Ustaz Farhan berharap agar Zat Yang Maha Pemberi Rezeki itu menurunkan rezeki kepadanya melalui para dermawan yang hatinya terketuk. Ia juga berharap agar pengurus masjid dan pengurus lembaga-lembaga sosial punya kebijakan tertentu untuk orang sepertinya.


Sebuah Refleksi
Kita hidup di sebuah Masyarakat dimana simbol lebih dominan daripada substansi. Kita juga terperangkap pada sebuah budaya dimana tuntutan lebih besar daripada kewajiban. Kita juga kerap lupa bahwa yang jauh lebih menyedot atensi ketimbang yang dekat. Kegiatan sosial yang kita lakukan sering bernuansa media ketimbang ridha Ilahi. Kita hapus perbudakan namun kita lahirkan model perbudakan baru. Perbudakan itu lebih halus, lebih terselubung dan lebih canggih. Mirisnya atas nama dakwah Islam pula. Kita sering menghitung angka-angka kemiskinan nun jauh di sana, namun lalai dalam meneropong kaum dhu’afa di sekitar kita. Seringkali apresiasi manusia menjadi ratu di dada kita. Kehendak langit kita abaikan. Kita dipasung oleh berbagai syahwat yang berserakan di bumi.
Ustaz Farhan adalah contoh kecil yang mestinya menjadi cermin beragama kita. Cermin untuk merefleksi diri. Cermin untuk melihat keangkuhan yang semakin bersenyawa dengan kita. Ustaz Farhan sepi dalam gegap gempitanya syiar agama. Ia menjadi korban penyembelihan dari keangkuhan itu. Ustaz Farhan juga diciptakan menjadi sosok bisu tanpa aksi. Ia dieksploitasi oleh orang-orang yang gagal memahami substansi ajaran Islam ini. Mestinya, sosok seperti Ustaz Farhan lebih berhak menerima santunan sosial. Hidupnya secara manusiawi harus ditopang oleh kekuatan jamaah. Bukankah diantara mereka ada orang-orang yang mampu?
 Sudah banyak yang diberi  Ustaz Farhan untuk sebuah pencerahan. Kini ia hanya bisa berdoa dan menangis dibelakang buah hatinya yang semakin lapar. Boleh jadi, ada puluhan bahkan ratusan Ustaz Farhan lain disana. Karena itu, jangan biarkan Ustaz Farhan dihimpit derita. Jangan biarkan pula hanya ia dan keluarganya saja yang menanggungnya. Semoga saja kritikan pedas Allah dalam Surah Al-Maa’uun terjauh dari kita. Kita ruku’ dan sujud secara khusyu’ namun tetap sebagai pendusta agama. Semoga bermanfaat.



Selasa, 14 April 2020

Munajat Semesta


MUNAJAT SEMESTA
Oleh Muhammad Qorib
Wakil Ketua PWM Sumut dan Dekan Fakultas Agama Islam UMSU

Malaikat tak hendak membantah Allah dalam proses penunjukan manusia sebagai khalifah. Mahluk tak bersyahwat tersebut pernah mencatat pengalaman pahit yang dilakukan manusia. Ini jejak kelam yang tak akan lekang dari rahim sejarah. Sifat tercela yang lekat dalam diri manusia adalah suka membuat kerusakan dan gemar menumpahkan darah. Malaikat sontak terdiam, ketika Allah menjelaskan bahwa Dia Maha Mengetahui apa yang malaikat tidak tahu. Akhirnya manusia dinobatkan menjadi khalifah di muka bumi ini. Amanah sakral itu datang dari Allah. Uniknya, predikat untuk menjadi pemangku amanah sebelumnya ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung, namun semuanya enggan. Dengan sangat berani namun rapuh, manusia menerima hal tersebut.


Nestapa Global
Benar saja, kekhawatiran malaikat sejurus dengan bukti. Sifat iri dan dengki, enggan mengakui eksistensi dan kelebihan orang lain, serta kesenangan menodai bumi dengan percikan darah adalah nestapa perdana dan prahara karena ulah manusia. Nyawa sebagai hasil kreasi Zat Yang Maha Suci menjadi tak berarti di hadapan Kabil, anak Adam yang dikenal buruk perangai itu. Dengan mudahnya ia membunuh saudara sedarahnya, Habil. Modusnya sangat sederhana, yaitu iri, dengki, tak ingin tersaingi dan jiwa serakah. Itulah pembunuhan pertama yang dilakukan manusia dalam catatan bumi. Pembunuhan demi pembunuhan di kemudian zaman tetap langgeng dan seolah tak bertepi. Pembunuhan seperti mahluk  biadab dengan sejuta nyawa, kekar dalam raga namun tanpa rasa. Pembunuhan tersebut tak pernah padam dan terus bergelora. Predikat manusia sebagai pengelola bumi yang lahir dari cetak biru ilahi terkapar kaku di jalan buntu. Alih-alih merangkak dan berjalan sesuai skenario Allah, tindakan manusia justru melahirkan petaka semesta.
Dalam langkah gontai dan ayunan kaki yang hampa, Allah menurunkan agama untuk manusia. Agama seumpama lentera dalam gelap, berfungsi sebagai penunjuk jalan dan selimut untuk menghangatkan jiwa. Tidak dengan tiba-tiba, agama berproses dan menyejarah lewat ajaran para nabi dan rasul. Banyak yang bersorak sorai dengan kemunculan agama. Namun tak sedikit yang mencibir bahkan memaki-maki agama. Yang bersorak sorai juga terbelah ke dalam dua rombongan. Sorak sorai yang pertama menunjukkan kegembiraan yang otentik. Dengan agama, kegamangan hidup umat manusia menjadi sirna berganti keteguhan hidup dan optimisme. Sorak sorai yang kedua menunjukkan bahwa agama adalah injeksi psikologis paling ampuh untuk meninabobokkan umat manusia. Nalar sehat mereka mudah sekali diarahkan sesuai dengan keinginan desainer dan pengelola agama itu.
Dalam konteks ini agama tak lebih dari sekedar korporasi nestapa yang bersifat global. Korporasi tersebut sering tampil gegap gempita namun kering makna dan tak membekas. Agama mestinya menjadi jalan lurus yang berujung pada ketenangan hidup. Agama juga mestinya menjadi melati sukma, harum semerbak yang berujung pada rasa damai dan tenteram serta cinta sesama.  Tapi ternyata idealitas itu tak lebih sebagai teks beku dalam narasi kitab suci. Seperti pinang dibelah dua, sikap beragama tersebut sebangun dan seirama dengan manusia yang meninggalkan agama secara total. Keduanya berseteru secara simbolik namun bersekutu secara substantif. Agama menjadi momongan yang lucu dan menghibur pada satu sisi, namun juga pedang terhunus dari para pendekar mabuk yang haus apresiasi dan kekuasaan pada sisi lain. Secara kasat mata mereka saling berhadapan, namun sesungguhnya dipertemukan dalam hasrat dan cita-cita.
Demikianlah, menembus labirin waktu, dunia dikuasai oleh para penyamun global. Manusia dengan predikat tersebut malahap apa saja yang tersaji di altar kehidupan. Etika agama dan etika publik tak lebih dari bait-bait syair yang didendangkan untuk melepas kepenatan perebutan kesenangan. Duka dan lara, haus dan lapar, jerit dan tangis adalah jenis film dokumenter yang sangat menghibur. Manusia memiliki tangan ajaib. Apapun yang disentuhnya bisa menjadi mainan. Semua keinginannya terimplementasi tanpa ada hambatan berarti. Terlebih ketika ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sejenis tuhan baru, manusia mempensiunkan Allah dari nalar mereka. Allah hanyalah narasi abstrak yang selalu dihayalkan oleh orang-orang yang malas berpikir. Bukankah semesta ini ada dengan sendirinya? Bukankah dengan kemandiriannya manusia bisa melakukan semuanya? Inilah sinisme yang dilontarkan manusia secara pongah.
Perang, apakah atas nama agama atau demi kepentingan politik, adalah drama yang kerap dipertontonkan manusia. Tangisan, jeritan, dan kondisi sekarat pihak-pihak yang dikorbankan menjadi fragmentasi berseri dalam drama itu. Rasa puas belum mencapai grafik klimaks ketika radius korban masih sangat sempit. Perlu perluasan bencana. Hal tersebut menjadi indikator keberhasilan. Senjata perang, mulai dari yang konvensional sampai yang sangat modern, mulai dari yang kasat mata sampai yang abstrak, menjadi standar kemuliaan manusia. Itulah sebabnya, persoalan makan dan minum serta kesejahteraan hidup manusia kerap terabaikan demi koleksi berbagai senjata pemusnah massal itu. Semakin dikoleksi semakin ada saja yang terasa kurang. Dunia yang begitu luas dan layak dihuni oleh semua manusia dikuasai atas nama sebuah bangsa atau korporasi. Benarlah, bagi manusia, dunia tak lebih dari sebuah panggung sandiwara. Masing-masing memiliki peranan. Ada peran yang wajar namun ada pula peran yang lompat ke luar batas kewajaran. Yang akan keluar sebagai pemenang tentunya sutradara yang paling canggih dalam menyusun alur cerita.
Kini manusia bermunajat kepada Allah. Bahwa apa yang dilakukannya selama ini ternyata merupakan fatamorgana. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagian menjadi bumerang mematikan. Ini dibuktikan dengan munculnya virus pada skala global. Sejenak hiruk pikuk dunia terhenti, terdiam dan membisu. Hampir semua wilayah di dunia ini terjajah oleh mahluk mematikan itu. Virus itu tak mengenal kasta. Mulai dari bangsawan dan raja-raja sampai kelompok manusia yang tak berkasta tak lepas dari incarannya. Banyak pemimpin dunia berurai air mata. Mereka seolah menyerah berperang dengan pasukan perang yang bergerak abstrak tersebut. Padahal sebelum wabah global ini muncul, para pemimpin dunia menunjukkan berbagai kemajuan dan keunggulan negaranya masing-masing. Tak terkecuali keunggulan dalam ranah kesehatan. Kini keunggulan itu menjadi cerita duka yang porak poranda. Banyak Negara adi daya kini berubah menjadi tak berdaya.
Tragedi ini menimbulkan ribuan bahkan mungkin ratusan ribu korban jiwa. Ada yang menjadi syahid, tak sedikit diantaranya yang meregang nyawa. Hidup manusia kini dihantui kecemasan, seperti sedang menanti kedatangan malaikat maut. Sebuah penantian yang paling dibenci oleh sebagian besar manusia. Rasa cemas semakin menguat dengan pemberitaan di berbagai media, terutama media sosial, atas pembantaian tragis virus itu. Hidup sepertinya akan segera berakhir ketika beberapa sahabat dekat berpulang dengan begitu cepat. Selain penyakit biologis, yang tak kalah pentingnya adalah munculnya penyakit psikologis. Rasa takut mencuat menjadi momok tersendiri. Takut berbicara kepada orang lain, takut memegang berbagai benda, takut berbelanja, sampai takut menyentuh perkakas makan di rumah masing-masing, adalah diantara persoalan yang menciptakan ruang nestapa tersendiri. Demikianlah kepanikan yang tak beralaskan protokol kesehatan dan basis keimanan yang kokoh. Manusia disiksa oleh lingkungan dan perasaan yang diciptakannya sendiri. Mestinya jiwa menjadi raja yang siap mengatur bala tentaranya.
Fungsi ilmu pengetahuan dan teknologi harus ditinjau kembali. Keduanya bukan tuhan. Sesungguhnya ada Allah yang selama ini diabaikan. Sesungguhnya Allah Maha Penguasa dan Pengatur semesta. Namun Allah disebut ketika bencana menerpa. Allah dilupakan ketika tawa dan pesta pora. Mestinya Allah tetap dijadikan rujukan dalam setiap keadaan, menembus batas ruang dan waktu. Manusia kini bersimpuh dan bertekuk lutut di hadapan Allah. Mereka bermunajat kepada Allah secara mondial. Ternyata manusia sangat rapuh. Kekuatan manusia tidak berarti sedikit pun di hadapan Allah. Mestinya manusia membayangkan kehancuran dunia secara total. Dalam kitab suci keadaan itu disebut Hari Kiamat. Hari itu merupakan kehancuran yang sangat dahsyat. Pandemi virus yang kini terjadi boleh jadi merupakan pengantar dari Hari Kiamat yang sesungguhnya. Meskipun masih sebuah pengantar, manusia kocar-kacir dan berhamburan tunggang langgang.


Menuju Allah
Manusia mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan batin. Allah tidak salah ketika menunjuk manusia sebagai khalifah di bumi. Allah melengkapinya dengan manusia-manusia suci dan kitab-kitab suci. Kesemuanya untuk menjadi pelita yang harus diikuti. Allah juga menetapkan perintah dan larangan. Keduanya adalah materi ujian. Allah Maha Tahu, dari perintah dan larangan akan keluar para pemenang dan para pecundang. Khalifah terbaik ditunjukkan dengan kehadirannya yang membawa manfaat untuk kehidupan. Khalifah yang sesuai dengan cetak biru Allah sibuk mengikuti berbagai festival kebajikan. Allah menjelaskan bahwa kebajikan yang ditanam tidak akan membuahkan hasil kecuali kebajikan pula. Allah juga menjelaskan bahwa keburukan pasti akan kembali kepada inisiatornya. Hidup di dunia bagi manusia adalah pilihan. Ada jalan keburukan dan ada jalan kebaikan. Beruntunglah manusia yang menempuh jalan kebaikan dan merugilah manusia yang menempuh jalan keburukan. Hidup manusia sebagai khalifah penuh dengan tanggung jawab. Tentu tanggung jawab yang abadi ketika khalifah itu sudah kembali kepada Ilahi Rabbi. Sebagai khalifah, mari sesegera mungkin kita kembali kepada Allah sebelum terlambat. Munajat dapat kita lakukan pada konteks individual, regional, nasional maupun semesta. Kita basahi pipi dengan air mata taubat dan kita bagi kebahagiaan kepada mereka yang tak seberuntung kita, terutama pada momen-momen pandemic seperti ini. Semoga bermanfaat.




Selasa, 31 Maret 2020

Muhammadiyahisasi Warga Muhammadiyah



Muhammadiyah adalah gerakan dakwah yang  ditujukan pada dua objek, yaitu, perorangan dan kelompok. Gerakan dakwah tersebut menyentuh tidak saja untuk kalangan non Muslim sebagai ajakan, tapi juga kepada yang Muslim sebagai konfirmasi dan penguatan. Terutama, warga Muhammadiyah, gerakan dakwah Muhammadiyah mengandung informasi ajaran Islam secara komprehensif dengan menggunakan perspektif Muhammadiyah. Respons ideologis dalam hal ini sangat dominan, agar paham keislaman warga Muhammadiyah sejalan dengan cita-cita Muhammadiyah.


Respons Ideologis
Menjadi warga Muhammadiyah berarti berpikir dan bergerak sesuai dengan cita-cita Muhammadiyah. Warga Muhammadiyah perlu penguatan pemahaman dengan mengkaji berbagai pemikiran resmi dan etika institusional yang ada dalam Muhammadiyah. Ini dimaksudkan agar pola pikir dan gerakan warga Muhammadiyah sesuai dengan semangat Muhammadiyah dan tidak mengambang. Menjadi warga Muhammadiyah tidak sebatas mengikuti kegiatan tertentu saja, seperti pengajian di setiap tingkatan. Pada tataran yang jauh dibutuhkan responsibilitas ideologis yang menjadi bingkai kegiatan individual dan kolektif warga Muhammadiyah.
Menjadi warga Muhammadiyah berarti melakukan proses pencerdasan diri. Ini artinya, warga Muhammadiyah mesti belajar secara kontinyu tanpa ada kata henti. Secara jujur, kecerdasan warga Muhammadiyah di lingkungan Persyarikatan dapat diklasifikasikan sebagai berikut; lapisan elit, lapisan menengah dan lapisan umum. Tentu lapisan umum secara kuantitatif sangat dominan, diikuti lapisan menengah dan lapisan elit. Jika digambarkan, berbagai lapisan tersebut seperti segi tiga, semakin keatas semakin kecil. Jika dapat dikatakan, jurang intelektual ini pada sisi tertentu menjadi problem tersendiri.  Di satu sisi Muhammadiyah harus memainkan peran sebagai organisasi berkelas dunia, pada sisi lainnya Muhammadiyah menghadapi sebagian warganya yang masih berpikir sangat sederhana.
Berdasarkan kondisi ini, tidak mudah menjadikan warga Muhammadiyah memiliki kepatuhan kolektif yang sama. Dengan kata lain, berdasarkan kemampuan dan lingkungan yang berbeda, sering terjadi hambatan dalam proses transmisi ide-ide besar yang diputuskan secara kolektif ke lapisan yang dominan di arus bawah. Sebagai contoh, dialog membangun peradaban antara Muslim dan non Muslim, dialog konstruktif Sunni dan Syi’ah, kerjasama antar golongan, sering direspons secara peyoratif. Bahkan tak jarang pelaksana kegiatan itu mendapatkan teror psikologis, sosial, bahkan institusional. Padahal, pada tataran global, Muhammadiyah melihat isu itu sangat penting dan diputuskan secara resmi. Karena itu, mesti banyak kaki penyangga yang dibutuhkan.
Dalam bidang tarjih juga demikian. Para ustaz sering memiliki pendapat yang berbeda. Ini berkonsekuensi pada lahirnya kebingungan warga Muhammadiyah. Anehnya lagi, keputusan resmi yang mestinya dipahami dan dilaksanakan secara struktural tidak terjadi. Jika ditilik kembali, ijtihad di lingkungan Muhammadiyah bersifat jama’iy (kolektif), bukan fardiyah (pribadi). Contoh yang paling jelas adalah Surat Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang tata cara beribadah selama terjadinya pandemi covid-19. Di arus bawah masih menjadi perdebatan dan banyak yang melakukan kontekstualisasi, banyak yang melaksanakan namun tidak sedikit yang tidak mematuhinya. Padahal, Surat Edaran itu diputuskan dengan melewati berbagai kajian matang dan melibatkan banyak pakar yang ahli di bidangnya, tidak hanya terkait dengan produk tarjih.
Sikap warga seperti itu boleh jadi dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan di Muhammadiyah yang bercorak kolegial dan kolektif, bukan kepemimpinan kharismatik. Corak tersebut membuka ruang dialog terbuka dan celah untuk tidak sependapat dengan pimpinan diatasnya. Berbeda dengan corak kepemimpinan kharismatik, posisi sebagai tokoh organisasi dan pemuka Masyarakat dianggap sakral dan harus dipatuhi. Namun perlu untuk dicatat, surat keputusan, surat edaran, himbauan dan sejenisnya, sebelum dibuat dan dipublikasikan, telah melewati berbagai kajian komprehensif. Sehingga ketidakpatuhan terhadap berbagai keputusan resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut merupakan sebuah tindakan yang harus dipertanyakan. Dalam situasi seperti ini, respons ideologis dan institusional harus dominan. Dalam sebuah organisasi, dibutuhkan loyalitas untuk menjaga keberlangsungan cita-cita yang digariskan.
Secara internal, menyangkut persoalan ideologi, warga Muhammadiyah harus ketat dan tidak boleh longgar. Apa Muhammadiyah itu, bagaimana sikap warganya, respons yang diberikannya terhadap perkembangan social, politik, budaya dan masalah agama, harus mengacu pada spirit atau keputusan resmi organisasi. Lain halnya secara eksternal, warga Muhammadiyah tidak dibatasi untuk bergaul dan membangun relasi kepada siapa saja, Muslim atau non Muslim. Namun nilai-nilai kemuhammadiyahan dan kepentingan organisasi harus melekat di dalamnya. Ada dua kareakteristik dalam hal ini, yaitu; otentik dan terbuka. Sikap otentik menunjukkan militansi sebagai warga Muhammadiyah, sementara sikap terbuka berarti siap berdialog, bekerjasama dan membangun relasi ke berbagai macam pihak.
Sikap otentik merupakan garis acuan agar warga Muhammadiyah tidak mencampur adukkan berbagai paham dalam pemikiran dan gerakannya. Sikap ini juga menjadi benteng yang kuat bagi warga Muhammadiyah. Sebab, di kalangan warga Muhammadiyah berkembang tindakan sinkretisasi ideologi Muhammadiyah dengan berbagai macam paham sosial, budaya, dan keagamaan yang ada. Dalam bidang ibadah misalnya, banyak warga Muhammadiyah menerima secara terbuka berbagai praktik ritual yang justru tidak sejalan dengan Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah. Akibatnya, ada warga Muhammadiyah yang berkarakter seperti salafi, berkarakter seperti jamaah tabligh, berkarakter seperti gerakan tarbiyah dan seterusnya. Ini terjadi karena lemahnya proses penghayatan terhadap keputusan-keputusan resmi organisasi. Ironisnya, paham-paham luar itu diberikan ruang dan peran yang besar di lingkungan Muhammadiyah.
Dalam konteks berbangsa dan bernegara juga demikian. Isu-isu tentang penegakan syariat Islam, menghidupkan kembali semangat Piagam Jakarta, sering menjadi komoditas pemikiran yang bersifat seksi. Tak sedikit warga Muhammadiyah tertarik terhadap isu tersebut. Padahal dalam konteks ini, Muhammadiyah telah memutuskan secara resmi sebuah konsep cerdas yang disebut “Negara Pancasila Sebagai Darul Ahdi wa Syahadah”. Namun ide brilian dan kontekstual ini tak selalu mendarat mulus dalam berbagai nalar organisasional warga Muhammadiyah. Faktor utamanya karena dipengaruhi oleh daya tangkap segelintir warga Muhammadiyah yang kurang memadai, pengaruh dominan dari pemikiran luar, atau bahkan mungkin proses penyampaian secara top-down yang kurang mengena. Selain itu, semangat literasi (membaca berbagai literatur) tak sama di lingkungan warga Muhammadiyah. Ada warga Muhammadiyah yang memiliki budaya baca tinggi, namun tak sedikit warga Muhammadiyah yang memiliki budaya sangat rendah.


Kembali Bermuhammadiyah
Salah satu tugas berat warga Muhammadiyah sekarang adalah melakukan pemahaman kembali terhadap Muhammadiyah. Dapat dirancang alur pertanyaan mandiri, yaitu; siapa saya, sedang dimana saya, dalam organisasi apa saya bergerak, kemana dan untuk siapa gerakan ini saya lakukan. Dengan kata lain, Muhammadiyahisasi warga Muhammadiyah menjadi aktifitas yang terus menerus dilakukan. Muhammadiyahisasi warga Muhammadiyah berorientasi terhadap penguatan ideology Muhammadiyah secara internal dan perluasan relasi secara eksternal. Warga Muhammadiyah dapat membangun relasi dan kerjasama dengan siapa saja, dalam bidang apa saja, namun tidak kehilangan identitas diri. Oleh sebab itu, warga Muhammadiyah juga perlu membekali diri dengan berbagai keputusan resmi Muhammadiyah untuk menjadi garis acuan dalam berpikir dan dan bertindak.  Langkah ini turut memperkuat proses Muhammadiyahisasi tersebut. Semoga bermanfaat.

Rabu, 18 Maret 2020

Covid-19 sebagai Cambuk Kecil




Pada Desember 2019, Wuhan, Ibu Kota Provinsi Hubei Tiongkok, dihebohkan oleh merebaknya virus mematikan. Belakangan virus itu populer dengan sebutan Covid-19. Penyebaran Covid-19 terbilang sangat cepat. Dalam hitungan hari saja virus tersebut sudah menyerang ribuan orang dan tak sedikit yang meninggal. Wuhan diisolir dan menjadi sebuah kota mati. Bencana kemanusiaan di Wuhan menarik atensi berbagai pihak. Mata rantai empati dan ungkapan simpati mengalir dari seluruh sudut dunia.


Bencana Global
Relasi, interkoneksi, dan silang budaya antar masyarakat di seluruh dunia merupakan kebutuhan yang tak terelakkan. Variabel-variabel ini pada satu sisi sangat menguntungkan. Namun pada konteks ini justru menjadi faktor percepatan transmisi Covid-19 ke seluruh dunia. Dalam waktu yang sangat singkat, virus itu sudah merambah ke kota selain Wuhan, dan ke berbagai Negara lain. Tak terkecuali Korea Selatan, Jepang, sebagai tetangga terdekat, namun juga Italia, Iran, Amerika Serikat, Australia terkena imbasnya. Akhirnya Covid-19 beralih satus, dari endemi ke pandemi, dari wabah yang bersifat lokal ke wabah yang bersifat semesta.
Meskipun sempat oleng, sebagai negara kaya dan cerdas, Tiongkok mengerahkan seluruh potensinya untuk segera bangkit dan melawan “malaikat maut” tersebut. Tiongkok menggelontorkan dana ribuan trilyun untuk tindakan kuratif dan preventif. Perlahan namun pasti tindakan tersebut berbuah manis dan positif. Menariknya, Tiongkok tidak egois. Di tengah masyarakatnya yang sedang meregang nyawa, mereka berbagi pengalaman dan bersedekah kemanusiaan untuk Negara lain. Satu sisi mereka harus memikirkan nasib rakyatnya, di sisi tertentu mereka juga memikirkan nasib bangsa lain. Ini salah satu poin humanis yang perlu jadi catatan penting kemanusiaan.
Tak hanya Tiongkok, Covid-19 kini mempengaruhi sendi-sendi dunia. Ekonomi menjadi lumpuh. Kota-kota eksotis dan menjadi destinasi wisata seperti; Roma, Tokyo, berubah menjadi muram dan seolah tak berpenghuni. Para pedagang menjerit karena kebutuhan sehari-hari langka, jika pun ada maka harganya melambung tinggi. Hand sanitizer, masker, sembako,  sulit didapatkan. Sedihnya, baku hantam terjadi hanya untuk berebut tisu toilet. Tak sampai di situ, dua Kota Suci Umat Islam, Mekah dan Madinah, di-lockdown. Pemerintah Arab Saudi menghentikan sementara pelaksanaan ibadah umroh. Demikian pula dengan The Holy See, Tahta Suci Vatikan. Audiensi yang dilaksanakan setiap Hari Rabu antara Sri Paus dan ribuan jamaat ditunda entah untuk berapa lama. Sedihnya, Covid-19 juga turut mematikan perasaan kita.
Beberapa pekan sebelum menerjang Indonesia, bangsa yang terkenal religius ini memberikan respons beragam terhadap Tiongkok. Secara amat sederhana dan penuh rasa curiga disebutkan bahwa rakyat Tiongkok sedang diberikan azab oleh Allah karena sekuler dan mengkonsumsi hewan liar dan mentah. Sifat dan tindakan itu menjadi pemantik munculnya virus mematikan tersebut. Selain itu, keadaan itu juga merupakan pembalasan Allah karena pemerintah Tiongkok berperilaku kejam kepada masyarakat Muslim Uyghur. Covid-19 juga merupakan skenario global yang diciptakan pihak tertentu untuk menguasai dunia. Inilah desas desus awam yang berkembang di media sosial.
Ada pula informasi arogan yang menyebutkan bahwa Covid-19 sulit berkembang di Indonesia. Virus tersebut juga tidak kompatibel dengan ras melayu. Demikian ungkapan seorang ahli kesehatan. Ungkapan yang sempat viral di media sosial dan media on-line itu menjadikan banyak elemen bangsa ini terlalu percaya diri untuk sekedar bersenda gurau atau menantang tragisnya “malaikat maut”. Tak memakan waktu lama, ungkapan pongah dan seolah bernyali tinggi itu berubah menjadi rasa malu ketika ditemukan beberapa orang yang menjadi korban. Puncaknya terjadi ketika seorang pejabat publik secara resmi diumumkan terpapar Covid-19.
Menariknya, banyak masyarakat awam tak peduli dengan bahaya yang mengancam. Ketika para agamawan tak henti-hentinya berdoa kepada Allah, dan para saintis mengerahkan segala kemampuannya untuk menemukan anti virus, para pedagang kaki lima, para pedagang keliling, para pedagang asongan, para pemulung, termasuk ojek dan taksi on-line, hilir mudik dan tetap beraktifitas seolah tak terpengaruh sedikitpun. Sepertinya mereka telah berdamai dengan Covid-19. Bagi mereka, mengais rezeki di bawah kelepak sayap “malaikat maut” adalah nyawa kehidupan. Mereka tak menghiraukan dengan sergapan kematian yang mungkin datang tiba-tiba.
Secara nasional, Presiden Jokowi mengumumkan situasi darurat diikuti dengan berbagai edaran dari kepala-kepala daerah agar menghentikan kegiatan di ruang publik. Bagi sebagian pelajar dan mahasiswa, pengumuman tersebut dianggap “rezeki nomplok”. “Rezeki nomplok” berwujud libur yang agak panjang, tujuh sampai empat belas hari. Keadaan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Tentu ada yang bersorak sorai kegirangan di tengah malapetaka yang menerpa, namun tidak sedikit pula yang belajar secara on-line dan mandiri. Ada pula yang memanfaatkannya untuk liburan. Pastilah aktifitas seperti ini bertentangan secara esensial dengan tujuan mulia dari surat edaran itu.


Mengambil Tindakan
Semakin hari, kelompok orang yang terpapar semakin banyak. Boleh jadi, jumlah yang belum terungkap jauh lebih banyak. Pemerintah sejatinya arif melibatkan semua elemen masyarakat dan sesegera mungkin beradu cepat dengan Covid-19 untuk membatasi pergerakannya. Beberapa tindakan belakangan diputuskan, seperti; lockdown, social distancing, mungkin juga social tracking. Di negara lain, tindakan tersebut terbukti ampuh untuk menghalangi kecepatan penyebaran virus.  Ini menjadi pengalaman berharga bagi negara kita. Pembatasan jumlah kedatangan dari luar negeri juga harus sangat ketat, terutama dari sumber munculnya Covid-19.
Selain anggaran negara tak sebesar yang digelontorkan Tiongkok, peralatan bagi korban yang terpapar juga sangat terbatas. Ujung tombak tindakan preventif dan kuratif adalah para medis yang terdiri dari; dokter, perawat, bidan, crews, dan elemen terkait. Sebagai “serdadu kemanusiaan” di garis terdepan, mereka perlu dilengkapi dengan berbagai peralatan memadai, karena pekerjaan mereka menantang maut. Ego struktural dari penyelenggara negara dan sikap nyinyir berlebihan dari masyarakat mesti dikurangi. Covid-19 merupakan problem kita secara kolektif. Dalam konteks ini, jangan ada pihak-pihak yang secara ekonomis dan politis mengambil keuntungan.
Pemerintah dan masyarakat harus bergandengan tangan dan bahu membahu untuk mengatasinya. Pemerintah memainkan peran sesuai dengan tugas-tugasnya, dan masyarakat juga mengambil peran sesuai dengan yang dapat diberikannya. Tidak boleh intip mengintip kelemahan. Sikap saling menyalahkan ditransformasikan menjadi energi positif. Kerjasama yang baik merupakan modal sosial yang sangat penting untuk merespons nestapa ini. Secara individual Covid-19 ini dapat dicegah melalui pola hidup sehat, istirahat yang cukup, lingkungan yang bersih, pikiran yang jernih, menjaga kestabilan tubuh, dan untuk sementara menghindari keramaian. Hal terpenting adalah integrasi antara ikhtiar dan tawakkal via do’a-doa  kepada Allah. Covid-19 seumpama cambuk kecil. Allah melecutkannya diatas punggung kita agar sadar bahwa Dialah diatas segalanya.





Muhammad Qorib
Wakil Ketua PWM Sumut dan Dekan Fakultas Agama Islam UMSU. Peminat Kajian Agama dan Sosial.