Kamis, 24 Agustus 2017

Hijrah Ke Madinah


Membaca rangkaian historis tentang peristiwa hijrahnya Rasulullah, selalu melahirkan atmosfir yang berbeda. Semakin dibaca, rangkaian itu semakin memberikan semangat segar untuk dikontekstualisasikan dalam berbagai ruang aktifitas. Peristiwa hijrah sesungguhnya berangkat dari sebuah kesadaran teologis, yaitu sebuah kesadaran ilahiyah, bahwa hijrah memang mesti dilakukan dan atas dasar perintah dari Allah. Namun hijrah bukan berarti bersifat ahistoris, di luar perilaku manusia, melainkan sebuah aktifitas manusiawi yang dilakukan para aktor sejarah. Di sinilah pentingnya nilai-nilai hijrah itu digali secara terus menerus.

Alasan Melakukan Hijrah
Banyak variabel penting yang melatarbelakangi peristiwa hijrah tersebut. Terkait ini, para sarjana masuk ke sebuah perdebatan akademik yang menarik, apa sesungguhnya faktor utama yang menyebabkan Rasulullah meninggalkan tanah kelahirannya. Alfred Guillamme dalam bukunya “Islam”, menjelaskan bahwa Rasulullah mengalami apa yang disebut sebagai exile (pengusiran). Tidak saja mengguncang sistem keyakinan politeisme masyarakat Arab, kehadiran dakwah Rasulullah juga merobohkan sistem sosial, ekonomi dan politik yang sudah terbangun demikian kokoh. Sistem itu menguntungkan dan dikuasai oleh segelintir orang. Mereka merasa terusik. Dengan alasan ini, Rasulullah harus diusir.
Analisa dari Philip K. Hitti dalam bukunya, “Islamic Way of Life” lebih bernada positif. Ia menyebut bahwa Rasulullah melakukan hijrah karena pertimbangan perluasan wilayah dakwah, meskipun tekanan secara sosial politik dari para tiran Mekkah adalah fakta yang tak terbantahkan. Selama 13 tahun berdakwah di kota Mekkah, namun nilai-nilai tauhid seperti kompas bagi terbangunnya peradaban besar.
Peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah lahir dari sebuah strategi yang cukup matang. Rasulullah melalui sebuah jalan yang berliku dan lebih jauh dibanding jalan umum yang selalu dilalui para saudagar ketika menempuh tujuan yang sama. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengecoh orang-orang yang mengejarnya. Hal lain yang terbilang penting dalam keberhasilan perjalanan hijrah ini adalah loyalitas dua orang sahabatnya, yaitu Abu Bakar As-Siddik sebagai teman di perjalanan dan Ali bin Abi Thalib yang bertaruh nyawa  karena menggantikan posisi Rasulullah di atas tempat tidur.
Para sejarawan menjelaskan bahwa sebelum kota itu bernama Madinah, masyarakat mengenalnya dengan Yatsrib. Nama tersebut menggambarkan sebuah daerah dengan penduduk yang pola pikirnya masih sangat sederhana dan berperadaban rendah. Selain itu, Yatsrib didiami oleh beragam suku, qabilah dan bahkan agama. Uniknya tradisi buruk berupa peperangan sering kali terjadi. Alih-alih memikirkan peradaban besar dan maju, penduduk Yatsrib terpenjara oleh sejenis hukum rimba, siapa kuat maka dialah yang dapat memegang kendali dalam berbagai aspek.
Sampai di Madinah, Rasulullah disambut oleh kaum Muslimin dengan suka cita. Kehadiran Rasulullah diharapkan dapat mengubur rapat-rapat konflik horizontal antar qabilah yang sudah berlangsung lama. Misalnya Auz dan Khazraj, dua kabilah besar Madinah yang kerap berebut pengaruh dan sumber ekonomi. Kedua kabilah itu merasa letih dan selama ini menguras banyak energi karena konflik. Ada yang menyebut bahwa Rasulullah hijrah karena permintaan kedua suku ini. Sebelumnya memang sudah ada komunikasi yang dibangun antara Rasulullah dengan masyarakat Madinah melalui Perjanjian Aqobah.
Kehadiran Rasulullah hendak meletakkan dasar-dasar dan membangun hubungan harmonis dengan berbagai elemen masyarakat tersebut. Pertama yang dibangun setelah sampai di Madinah adalah masjid, yang dikenal dengan Quba. Langkah Rasulullah dapat dipahami, sebuah peradaban besar tidak akan memiliki arti jika nilai-nilai agama tidak dijadikan dasar pembangunan. Selain sebagai sarana ibadah, masjid menjadi sebuah tempat kaum Muslimin berkumpul untuk bermusyawarah dan merumuskan ide-ide bernas untuk pergerakan.
Belakangan Yatsrib diganti menjadi Madinah. Kata ini memiliki akar yang sama dengan tamaddun (peradaban) dalam bahasa Arab atau civilization dalam bahasa Inggris. Madinah juga seakar dengan diin yang berarti agama. Pesan universal yang ingin disampaikan Rasulullah adalah signifikansi nilai-nilai agama dalam kehidupan. Agama menjadi fitrah dalam diri setiap orang. Fitrah secara sederhana dapat diartikan dengan sesuatu yang asasi dan melekat. Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan agama. Menegasikan agama sama artinya dengan mengingkari kesejatian diri manusia. 
Meskipun nilai-nilai Islam sebagai basis, Rasulullah tidak serta merta membabat agama-agama yang ada dan membumihanguskan kepercayaan tradisional. Di luar dugaan, Rasulullah membangun sebuah sistem sosial. Dalam sistem tersebut beragam keyakinan diikat menjadi satu demi sebuah kepentingan, saling membantu dan saling melindungi. Sebuah tapak sejarah diletakkan Rasulullah dengan membuat sebuah undang-undang untuk kepentingan kolektif. Undang-undang itu dinamai “Miitsaaqul Madinah/ Piagam Madinah”, dalam bahasa Inggris dikenal dengan “The Medina Document”.
Piagam tersebut memuat 47 pasal. Secara garis besar Piagam Madinah berisi tentang pembentukan umat, hak asasi manusia, pluralitas agama, hubungan antar warga negara, golongan minoritas, hak dan kewajiban warga Negara, kepemimpinan negara, dan tentang perdamaian. Melalui undang-undang ini, Rasulullah membuat masyarakat menjadi peka terhadap hukum dan bagaimana mentaati hukum sebagai peraturan bersama. Muaranya adalah hidup secara teratur.
Respons Rasulullah terhadap agama lain menjadi contoh modern tentang praktik toleransi. Dengan kekuatan sosial politik yang berada dalam genggamannya, bisa saja Rasulullah menunjukkan hegemoni kekuasaan agar penduduk Madinah menjadi Muslim, namun hal itu tidak dilakukannya. Keragaman agama oleh Rasulullah dianyam menjadi sebuah kekuatan bersama untuk membangun Madinah. Kebesaran Islam ditunjukkan lewat relasi sosial yang harmonis dan beradab. Islam tidak akan menjadi kecil dan ternoda dengan sikap toleran yang dipromosikannya.

Model Masyarakat Modern
Rasulullah membangun sebuah negara berdasarkan kepentingan bersama dan penuh dengan keteraturan. Hubungan sosial yang harmonis, kaum mayoritas menjadi payung sosial bagi kaum minoritas, menjadikan kota yang dibangun Rasulullah bercorak modern. Madinah menjadi milik bersama. Tidak ada tirani mayoritas atas minoritas. Tidak pula ada radikalisme minoritas terhadap mayoritas. Semua berjalan secara seimbang dan adil.
Apresiasi terhadap prestasi kerja demikian tinggi. Meritokrasi menjadi standar  status seseorang. Kemuliaan tidak berdasarkan garis keturunan, melainkan prestasi yang dicapai seseorang. Setelah Madinah berada di bawah kendali Rasulullah, potensi mengganti nama Yatsrib menjadi nama Muhammad sebenarnya terbuka lebar. Namun hal itu tidak dilakukannya. Rasulullah ingin menunjukkan kepada masyarakat tentang buruknya kultus individu. Ada semacam kekhawatiran, kelak sepeninggalnya akan terjadi kultus individu sekiranya nama Yatsrib diganti dengan Muhammad.
Wajar saja, sosiolog Robert N. Bellah dalam bukunya “Beyond Belief”  menjelaskan bahwa prestasi Rasulullah dalam membangun peradaban merupakan lompatan jauh ke depan yang belum pernah ada sebelumnya. Menurut Bellah, sistem sosial yang dibangun Rasulullah sangat modern, jauh meninggalkan masanya. Masyarakat Madinah adalah komunitas paling demokratis ketika itu. Prinsip keterbukaan (openness) dan partisipasi (participation) warga negara demikian tinggi. Bagi Bellah, karakteristik inilah yang menjadi alasan kuat kemodernan Madinah. Wallaahu a’lam.


Sabtu, 19 Agustus 2017

Muhammadiyah Kita



Membaca perkembangan Muhammadiyah akan memberikan daya tarik tersendiri. Berbagai predikat telah disematkan oleh para pakar untuk organisasi ini. Mulai dari gerakan modernisasi, gerakan kultural, gerakan sosial, sampai gerakan purifikasi, menunjukkan bahwa Muhammadiyah tak pernah berhenti dikaji. Namun demikian, gerakan purifikasi lebih populer daripada berbagai predikat yang lain.
Hal ini dapat dimengerti, karena secara historis kelahiran Muhammadiyah tak lepas dari situasi sosial yang penuh dengan praktik keislaman sinkretik. Kehadiran Muhammadiyah ketika itu hendak mengembalikan Islam agar sesuai dengan ajaran yang sebenarnya. Itulah sebabnya mengapa dalam lintasan sejarah aroma ritualisme demikian kental dan berakar kuat hingga kini.
Muhammadiyah didesain untuk menjadi sebuah gerakan yang responsif dengan berbagai kebutuhan masyarakat. Berbagai majelis dan lembaga, yang dikenal dengan badan pembantu pimpinan dan sifatnya diangkat atau ditunjuk, merupakan bukti tentang itu. Majelis dan lembaga tersebut dibuat berdasarkan kebutuhan masyarakat dan meliputi berbagai aspek kehidupan.
Semangat yang ada di balik keragaman majelis dan lembaga adalah bagaimana Muhammadiyah memainkan peran penting dalam berbagai aspek kehidupan. Tujuannya agar kehadiran Muhammadiyah benar-benar dirasakan. Mencermati cakupan bidang yang sangat luas, ini membuktikan bahwa Muhammadiyah bersifat progresif dan siap dengan berbagai tantangan yang tersaji di meja sejarah.
Namun demikian, mengintegrasikan antara cita-cita ideal dengan fakta-fakta yang bergulir di lapangan tidak selalu mudah. Problem nasional yang dihadapi Muhammadiyah di berbagai tingkatan secara umum sama. Tidak semua majelis dan lembaga berjalan sesuai dengan harapan, terlebih di tingkat Wilayah, Daerah, Cabang maupun Ranting.
Tak terkecuali di Sumatera Utara, jumlah majelis dan lembaga yang tergeletak di pusaran pasifitas jauh lebih banyak dibanding majelis dan lembaga yang kaya terobosan. Banyak problem klasik yang dijadikan alasan, misalnya; problem finansial, kesibukan pengurusnya, tuna visi dan lemah semangat, sampai konflik internal yang tak berujung. Alih-alih melahirkan inovasi, keberadaan majelis dan lembaga yang tidak aktif sering menjadi beban psikologis dan institusional.
Namun dari sederatan aktifitas tersebut, ternyata posisi ritualisme begitu kuat. Terlebih jika nama Muhammadiyah disebut, maka warna fikih demikian kental. Majelis Tarjih dan Tajdid, Majelis Tabligh, sering tercelup ke dalam warna itu. Tugas utama majelis-majelis itu sebenarnya untuk melahirkan berbagai pemikiran dan model dakwah Islam kontemporer, namun kemudian terpasung hanya pada persoalan klasik yang sudah dibahas selama ribuan tahun.
Perdebatan akademik seputar ritualisme harus dianggap final, dalam arti wacana itu bukan lagi menjadi opsi utama, mengingat ujian-ujian sejarah semakin kompleks dan membutuhkan respons matang. Majelis-majelis yang khusus menangani keagamaan mesti mengarahkan lampu perubahannya pada persoalan-persoalan yang bersifat kontemporer dan menjadi kebutuhan mendesak, misalnya terkait dengan fatwa haram dan dosa besar bagi orang yang membuang sampah sembarangan.
Program Muhammadiyah mestinya dapat lebih diarahkan pada terobosan-terobosan aktual. Misalnya untuk konteks Kota Medan, degradasi etika sosial hampir menemui titik puncak. Dalam berlalu lintas, Muhammadiyah dituntut melahirkan sebuah fatwa yang dapat menjadi pedoman tentang tata cara berlalu lintas. Sampai saat ini belum ada fatwa haram terkait menerabas lampu merah. Padahal aktifitas itu dapat membahayakan banyak pihak bahkan tidak sedikit yang berujung kematian.
Selanjutnya tentang infrastruktur yang sangat buruk, Muhammadiyah dapat menyodorkan kritik terhadap pemangku amanat yang kurang memperhatikan kualitas  fasilitas umum. Kesadaran masyarakat juga rendah untuk merawat fasilitas tersebut. Anggaran yang disiapkan pemerintah tak jarang habis di tengah jalan dan hanya tinggal sisanya untuk pembangunan infrastruktur. Carut marut wajah kota Medan diperparah oleh warga masyarakat yang menggunakan jalan sekehendak hati untuk kepentingan pesta perkawinan.
Fakta getir ini mestinya menjadi “buah bibir” dan material pemikiran. Bagi para pemangku amanat yang menyelewengkan dana pembangunan dikategorikan musyrik. Muhammadiyah mesti lebih berani dari ormas Islam lain dalam mengeluarkan fatwa untuk masalah ini. Muhammadiyah tentu saja tidak boleh menjadi korban sekaligus penikmat sengkarut kota Medan yang nyaris sempurna.  Muhammadiyah diharapkan hadir memberikan solusi alternatif terhadap kebiadaban sosial ini.
Warga persyarikatan harus berpikir di luar kotak (out of the box), tidak terkungkung dalam sangkar Muhammadiyah. Transformasi kader persyarikatan di berbagai bidang setidaknya dapat menjadi skala prioritas. Posisi strategis dan politis seperti; gubernur dan wakil gubernur, wali kota dan wakil wali kota, bupati dan wakil bupati, dan seterusnya, dapat menjadi perhatian serius. Bahkan yang menyedihkan, dalam beberapa kali Pemilu, belum pernah kader Muhammadiyah duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Bahwa Muhammadiyah tidak dapat memainkan politik praktis adalah norma yang tidak boleh diabaikan. Namun kekuatan Muhammadiyah setidaknya dapat memberikan nilai tawar yang tinggi dan disegani. Lemahnya peran dalam ranah ini cukup menyakitkan. Sebagai contoh, Kementerian Agama kini kental dengan nuansa yang kurang menguntungkan, demikian pula di Kemenristekdikti, akhirnya Muhammadiyah kalah cepat dalam mendapatkan “roti” kebijakan.
Warga persyarikatan mesti menghentikan sikap reaktif dan instan. Sikap tersebut menyedot energi yang tidak kecil. Tidakkah lebih baik energi yang ada dipersiapkan untuk pelatihan tilawah Alquran, mengingat mencari sosok yang dapat membaca Alquran di lingkungan Muhammadiyah seperti menarik bambu dari ujungnya, terasa sangat sulit. Krisis ulama juga menjadi masalah tersendiri. Jika ini terjadi terus menerus, maka predikat sebagai organisasi pembaruan Islam hanya akan menjadi hiasan sejarah.
Warga persyarikatan juga seringkali heboh dengan berita yang beredar di media sosial. Nuansanya penuh kecurigaan. Isu seputar kristenisasi, penodaan Islam, penodaan Alquran, penghinaan terhadap Rasululullah, menjadi perdebatan harian. Jangan-jangan, reaksi warga persyarikatan dan umat Islam pada umumnya dalam hal-hal seperti ini adalah hasil sekenario. Ada kesengajaan dari pihak tertentu. Umat disibukkan agar lupa menciptakan berbagai aktifitas strategis dan permanen.
Keributan di amal usaha pendidikan dan kesehatan juga menjadi tradisi buruk. Hal ini berakibat pada kualitas pendidikan yang rendah, institusi kesehatan juga tidak akan berkembang. Hal yang tak kalah menyedihkan adalah banyaknya warga Muhammadiyah yang enggan membayar setelah berobat. Ini salah satu faktor yang menyebabkan lembaga kesehatan mengalami kerugian yang tidak kecil. Sikap buruk tersebut menyebabkan hutang menumpuk dan aliran dana tersumbat, kepercayaan masyarakat pun menurun.
Di atas itu semua, Muhammadiyah Sumatera Utara membutuhkan gedung  dakwah representatif yang dapat berusia 30 sampai 40 tahun ke depan. Rencana ini berangkat dari harapan dan impian seluruh warga persyarikan. Gedung itu berlantai sepuluh. Dana yang dibutuhkan tidak kecil, sekitar 50 sampai 70 milyar rupiah. Di harapkan gedung itu akan menjadi rumah bersama, pusat berbagai aktifitas dan tempat merumuskan ide-ide cerdas untuk Islam berkemajuan. Sementara gedung yang sekarang sudah berusia tua dan sangat kumuh. Untuk ini, diperlukan doa dan dukungan semua pihak.
Sudah saatnya warga persyarikatan bangkit dari mimpi panjangnya. Menjadi warga dari sebuah organisasi yang dikenal modern dan berkemajuan tidak boleh menyebabkan lupa diri, bangga dengan predikat itu namun lupa berbagai kualifikasi yang mesti dipenuhi. Kini warga persyarikatan harus mampu meninggalkan tradisi inward looking (hanya menilik ke dalam), sambil memancangkan pandangan jauh ke depan. Melihat berbagai kemajuan dan prestasi orang lain menjadi sangat penting, sembari menciptakan berbagai prestasi. Muhammadiyah adalah milik kita dan mari kita rawat bersama. Wallaahu a’lam.

Minggu, 13 Agustus 2017

Haji dan Kesadaran Budaya


Ibadah haji merupakan sebuah ritual unggul (par excellent) dan dapat dibaca dari berbagai perspektif. Keunggulannya bukan berarti ibadah ini terpisah dari ibadah-ibadah lain dan menjadi yang terbaik. Selain memerlukan persiapan mental yang baik, ritual ini perlu didukung oleh kekuatan fisik sekaligus finansial pelakunya. Dapat dilihat, sebagian besar syarat dan rukun haji membutuhkan kebugaran fisik dan tentunya kecukupan dana yang disiapkan. Tanpa keduanya, meskipun bisa, ibadah haji tidak dapat berlangsung maksimal.
Namun ada sebuah perspektif menarik untuk meneropong ritual tahunan ini. Ibadah haji menjadi sebuah magnet raksasa yang menyedot jutaan umat Islam dari seluruh dunia untuk berkumpul di satu tempat. Selain tentunya untuk mensucikan jiwa, pertemuan tersebut melahirkan interaksi budaya yang besar dan menjadi sebuah keunikan tersendiri. Umat Islam dari satu tempat dapat belajar dan memperkaya wawasan dari saudara-saudaranya yang datang dari tempat lain.
Adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan, bahwa Islam memang satu, namun melahirkan beragam ekspresi. Islam berasal dari sumber yang satu, namun karena dipratikkan di lingkungan sosial yang berbeda maka ekspresi keislaman masyarakat Muslim dari satu tempat dibanding lainnya akan berpotensi berbeda. Di sinilah kemudian kearifan respons keagamaan umat Islam dituntut. Perbedaan budaya menjadi media penting untuk mempercantik wajah Islam dan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai Islam dalam konteks lokal.
Budaya dalam hal ini perlu dipahami secara luas, bukan menyangkut seni saja. Sebagaimana dijelaskan Ralph Linton dalam “The Cultural Background of Personality (1947)” bahwa budaya mengandung berbagai aspek. Budaya tidak saja menyangkut seni, musik, melainkan juga termasuk pola pikir, gagasan, sikap, perilaku dan seterusnya. Ini artinya, budaya mempunyai banyak cakupan. Aspek sosial, ekonomi, politik, kesehatan, pandangan dan ekspresi keagamaan, dapat dikategorisasikan sebagai budaya. Karenanya, kesadaran budaya dalam pelaksanaan haji menjadi sesuatu yang penting dimiliki.
Perbedaan budaya bukan menjadi sebuah momok dan ancaman yang harus dimusnahkan, melainkan keindahan sebagai anugerah terindah dari Allah yang mesti diterima. Dalam Alquran sendiri, dijelaskan bahwa Allah menciptakan (kholaqo) manusia dalam keberbagaian, laki-laki dan perempuan, menjadikan (ja’ala) manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar manusia dapat saling mengisi (Q.S. Al-Hujurat/ 49: 13).
Ayat ini menjadi menarik ketika kata kholaqo (menciptakan) dan ja’ala (menjadikan) disandingkan. Sepintas memang keduanya sama, namun jika dianalisis lebih dalam keduanya memiliki perbedaan dalam konteks pragmatisnya. Allah menggunakan kata kholaqo untuk penciptaan laki-laki dan perempuan, karena memang proses penciptaan kedua jenis kelamin tersebut menjadi hak prerogatif Allah, tidak ada interfensi manusia di dalamnya. Sementara kata ja’ala digunakan untuk menunjukkan proses kejadian yang melibatkan pihak selain Allah, dalam hal ini manusia.
Interaksi suku-suku dan bangsa-bangsa di dunia ini merupakan konsekuensi logis dari sebuah proses budaya yang panjang. Keterlibatan manusia yang memiliki budaya tidak dapat dinegasikan karena manusia sebagai subjek interaksi. Sebab itulah, suku-suku dan bangsa-bangsa saling memberi dan saling menerima budaya lain sebagai sebuah khasanah kemanusiaan yang wajar. Di sini menjadi jelas mengapa Allah menempatkan kata ja’ala terkait dengan kelahiran suku-suku dan bangsa-bangsa. Budaya sekelompok manusia akan kering jika tidak dihiasi dan dipercantik dengan budaya lainnya.
Dalam pelaksanaan ibadah haji, umat Islam dari seluruh penjuru dunia berkumpul menjadi satu. Mereka datang dengan latar belakang sosiologis (masyarakat) dan antropologis (budaya) yang tidak sama. Kedatangan mereka selain untuk memenuhi panggilan Allah melalui ritual haji, juga saling bertukar pengalaman dan kebudayaan yang berbeda. Bukan untuk menunjukkan bahwa satu budaya lebih unggul dan lebih baik dari yang lain, melainkan apa kearifan yang dapat dipetik dari lokalitas budaya tertentu.
Muara dari pelaksanaan haji adalah predikat mabrur. Kata mabrur tidak sesederhana yang dibayangkan masyarakat selama ini. Meskipun populer, kata mabrur memiliki makna yang luas dan terbuka. Kata ini tidak saja bermakna kebaikan ritual, dalam arti seorang peraih haji mabrur akan semakin tertib ibadahnya, namun juga kematangan dalam berinteraksi sosial, saling membantu, toleran, saling menghormati dan jujur untuk melihat kelebihan orang lain.
Tidak sampai di situ, peraih haji mabrur siap dan rela membuka diri untuk mempelajari kelebihan dan kekuatan yang dimiliki saudara-saudaranya. Inilah yang tersimpul dalam penggalan kata “li ta’aarofuu/ untuk saling belajar”. Jamaah haji asal Indonesia tentu memiliki budaya berbeda dengan jamaah haji asal Turki. Jamaah haji asal Cina tentu memiliki latar belakang budaya yang tidak sama dengan jamaah haji asal Iran. Jamaah haji asal Korea kemungkinan memiliki model keagamaan yang berbeda dengan jamaah haji asal Afrika. Begitu pula seterusnya.
Banyak pengalaman menarik yang selalu diungkapkan oleh saudara-saudara kita sepulang menunaikan ibadah haji. Sebagian menceritakan bahwa jamaah haji asal Indonesia tergolong yang paling tertib. Lain pula dengan jamaah haji asal Afrika, selain berpostur besar dan tinggi, tidak sedikit dari mereka yang tidak tertib, seperti menyerobot antrean, dan ingin menang sendiri ketika tawaf dan sa’i. Namun boleh jadi hal ini bersifat subjektif. Sama seperti jamaah haji asal Indonesia, mungkin saja mereka berpendidikan rendah dan dari desa pedalaman sehingga budaya antri dan tertib masih dianggap aktifitas yang asing.
Haji bukan hanya persoalan keimanan, tapi juga kesadaran bahwa selain diri kita ada orang lain yang punya kepentingan sama. Egoisme budaya yang selama ini menjadi berhala dan kerap menempatkan umat Islam pada kelas-kelas tertentu menjadi runtuh karena kesadaran budaya itu sendiri. Di sisi lain perlu dipahami, memindahkan budaya umat Islam dari satu tempat ke tempat lain juga mesti melalui proses kontekstualisasi, disesuaikan dengan situasi dan kondisi tertentu. Jangan sampai terjadi benturan budaya karena adanya pemaksaan budaya satu atas yang lain.
Kasus seperti ini sudah berkali-kali terjadi di Indonesia. Kultur Islam Timur Tengah yang pada satu sisi keras tentu tidak dapat diimpor begitu saja ke Indonesia yang secara umum memiliki kultur sejuk dan damai. Demikian pula dengan tindakan radikal seperti peledakan bom bunuh diri. Dengan alasan apa pun, tindakan ini tidak dapat dicontoh dan tidak dapat dibenarkan. Kultur keras ini selain tidak memiliki akar kuat, juga bertentangan dengan doktrin suci Islam. Model khilafah dan negara Islam juga tidak mesti diadopsi begitu saja, mengingat Indonesia memiliki model negara sendiri.
Kesadaran budaya mengantarkan pelaksana haji sebagai pribadi-pribadi dengan karakteristik terbuka dan toleran namun tetap kritis, mana yang bisa diambil maupun tidak. Kesadaran ini menjadi benteng masuknya sikap tertutup dan intoleran, yaitu sebuah sikap yang menganggap dirinya paling absah dan paling otoritatif dalam menafsirkan Islam. Meyakini sebuah paham keagamaan menjadi hak seseorang. Namun ketika paham itu dijadikan “pengadil” untuk semua paham keagamaan maka akan menjadi masalah tersendiri.
Jamaah haji Indonesia dapat berfungsi sebagai duta-duta budaya. Amanah nasional yang ada di pundak mereka adalah memperkenalkan Islam Indonesia kepada masyarakat Muslim dunia. Karakteristik lembut, toleran, sifat gotong royong dan gemar bekerjasama adalah nilai-nilai yang wajib diekspor. Beragam suku, agama dan bahasa bukan merupakan penghalang bagi bangsa Indonesia untuk hidup bersama. Pluralitas sosiologis merupakan sebuah kekuatan dan keunikan yang dapat memantik hasrat masyarakat Muslim dunia untuk belajar kepada bangsa Indonesia.
Ibadah haji menjadi sebuah momentum bagi umat Islam Indonesia untuk membayar hutang sejarah. Jika berbagai kajian Islam baik klasik maupun  modern selalu dirujuk dari Timur Tengah, maka sudah saatnya kajian itu menjadikan berbagai ekspresi keislaman di Indonesia sebagai objek menarik yang tidak kalah menantangnya dibanding Islam Timur Tengah. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Islam Indonesia satu saat akan menjadi kiblat perkembangan budaya Islam dunia. Wallaahu a’lam.

Selasa, 30 Mei 2017

Catatan Tentang Idul Fitri


Atmosfir Idul Fitri dalam beberapa hari ini demikian terasa. Berbagai asesoris yang kerap mewarnai Idul Fitri mengusik atensi masyarakat di berbagai  tempat. Mulai dari spanduk ucapan selamat Idul Fitri, ketupat lebaran, festival tabuh bedug, iklan di berbagai media, berkurangnya jamaah sholat tarawih, menjadi fenomena tersendiri. Tidak hanya itu,  kesibukan masyarakat terus meningkat dalam mempersiapkan pakaian baru, membeli makanan dan minuman untuk memeriahkan “Hari Bahagia” tersebut.
Budaya mudik juga tak alpa untuk dilakukan. Dengan menempuh perjalanan jauh dan beban berat yang dibawa, orang-orang dengan suka rela pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga, berbagi cerita suka dan duka sembari menunjukkan keberhasilan pekerjaan selama hidup di perantauan. Mirisnya, dalam perjalanan mudik banyak yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas, namun hal tersebut tak mengurangi hasrat untuk melepas Ramadhan dan menyongsong Idul Fitri di kampung halaman.
Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam. Jika disebut kemenangan maka ada kesan telah terjadi pertempuran dahsyat. Memang demikian adanya. Selama satu bulan penuh orang-orang beriman menjalani pertempuran fisikal dan spiritual. Pertempuran fisikal dapat dilihat dari aktifitas tidak makan dan minum pada siang hari selama Ramadhan. Sementara pertempuran spiritual dapat dilihat dari manajemen hati yang terus dirawat untuk tidak cenderung apalagi berbuat kemaksiatan. Wajar saja, hari kemenangan Idul Fitri merupakan momen yang didambakan kehadirannya.
Terdapat perdebatan akademik tentang apa sesungguhnya makna dan hakikat Idul Fitri itu. Ada yang menyebutkan bahwa Idul Fitri adalah sebuah hari dimana umat Islam berbuka karena sudah melaksanakan puasa Ramadhan selama sebulan penuh. Ada juga yang menjelaskan bahwa Idul Fitri berarti kembali kepada kesucian. Ramadhan seolah membasuh debu-debu kesalahan sehingga bersih. Karena debu-debu kesalahan itu sudah lekang, maka orang-orang yang beriman kembali menjadi suci. Masing-masing memiliki argumentasi sendiri.
Meskipun kerap terjadi tarik menarik tentang tafsir Idul Fitri, tapi yang pasti, Idul Fitri adalah hari bahagia. Kebahagiaan itu terpancar dari eskpresi suka cita karena sudah berjuang melawan hawa nafsu. Selain itu, Idul Fitri menjadi sebuah waktu untuk melakukan distribusi materi kepada sesama. Hari itu tidak ada lagi orang-orang yang kelaparan karena kekurangan makanan. Idul Fitri juga mengumpulkan keluarga yang terpencar, mendekatkan yang jauh, karena kesibukan masing-masing dalam sebuah ikatan persaudaraan yang padu.
Meskipun merupakan hari bahagia, Idul Fitri kerap meninggalkan sederetan luka sosial yang berkepanjangan. Memang benar, saat Idul Fitri datang setiap orang merasa bahagia. Namun kebahagian itu sering bersifat tidak permanen. Dengan kata lain, kebahagiaan yang dilahirkan Idul Fitri bersifat teritorial dan situasional. Kebahagiaan hanya terjadi pada momen-momen tertentu dan saat-saat tertentu saja.
Beberapa saat sebelum datangnya Idul Fitri, ada ritual wajib yang mesti ditunaikan setiap umat Islam, yaitu membayar zakat fitrah. Zakat fitrah kerap dipahami sebagai harta tertentu yang mesti dikeluarkan untuk orang-orang tertentu sebagaimana eksplanasi Alquran. Ketika Alquran menyebutkan, “aqiimuushhalaata wa aatuuzzakaata/ tunaikanlah sholat dan keluarkanlah zakat”, harus dipahami bahwa zakat memiliki makna yang luas.
Zakat juga dapat diartikan dengan infak dan sedekah. Ini artinya zakat tidak terbatas pada ruang dan waktu dan mesti dilakukan secara kontinyu dan konsisten. Mungkinkah kaum dhu’afa lepas dari belenggu kemiskinan jika hanya menerima zakat fitrah yang frekuensinya setahun sekali? Bukankah zakat fitrah secara kuantitatif  demikian terbatas?  Dapat diasumsikan bahwa jawabannya tidak bisa.
Agar tidak melahirkan luka sosial yang permanen maka zakat memiliki makna yang fleksibel dan dapat diperluas. Waktu pelaksanaannya juga tidak boleh dibatasi hanya pada momen menjelang Idul Fitri saja. Pesan moral yang mesti ditangkap adalah bahwa berbagi kepedulian sosial yang disimbolkan dengan zakat fitrah dan infak serta sedekah harus dilakukan setiap waktu dan dimana saja. Tanpa pemahaman seperti itu, zakat fitrah hanya sejenis ritual yang terjadi secara berulang namun tidak membawa efek perubahan yang berarti.
Terdapat pemahaman yang keliru, bahwa membayar zakat fitrah menggugurkan kewajiban-kewajiban lain seperti membantu kaum dhu’afa. Pemahaman seperti ini mesti dikikis. Zakat pada hakikatnya sejenis ritual simbolik yang penuh pesan-pesan kemanusiaan. Tinggal bagaimana umat Islam bersikap jujur dan berani untuk melihat zakat dari perspektif yang luas dan humanis. Inilah yang mesti dirawat agar ruh Idul Fitri tidak kering dan kandas dalam pusaran sejarah.
Memang pada sisi tertentu benar,  zakat fitrah dapat menghapus duka dan lara, namun pertanyaan selanjutnya adalah sampai kapankah keberlangsungannya? Bagaimana dengan kelanjutan hidup dari kaum dhu’afa selama  sebelas   bulan selanjutnya  pasca  Idul Fitri?  Transformasi bentuk zakat fitrah ke aksi sosial jauh lebih penting, baik dilakukan secara individual maupun kolektif, secara personal maupun institusional.
Selain itu, umat Islam yang berkecukupan kerap mengeluarkan zakat maal (zakat harta) pada bulan Ramadhan. Tradisi ini dapat dikelola agar lebih produktif. Misalnya, mengeluarkan zakat maal bukan untuk aktifitas-aktifitas yang bersifat konsumtif dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, melainkan pemberian modal usaha sehingga pada akhirnya sang mustahik (penerima zakat) akan menjadi mandiri.  
Masalah kemiskinan juga masih menjadi momok yang mengerikan bagi umat Islam. Malam menjelang Idul Fitri, gema suara takbir sering beriringan dengan pemandangan yang kurang elok. Ratusan bahkan ribuan kaum dhu’afa menanti belas kasih orang-orang yang mampu untuk mendapatkan bagian zakat maupun sekedar infak dan sedekah. Wajah muram umat Islam ini menjadi masalah tersendiri dan melahirkan catatan negatif bagi banyak pihak. Islam seolah-olah amat identik dengan kemiskinan.
Meskipun jika ditelusuri secara cermat, tidak semua orang yang duduk dan berdiri berjajar itu adalah umat Islam atau berasal dari kategori kaum dhu’afa, namun sebagian besar dapat diduga umat Islam. Zakat fitrah dengan turunannya infak dan sedekah mesti hadir dalam memberikan respons. Sungguh ironi memang, di satu sisi Allah dipuja dan dipuji di semua masjid dan musholla pada malam sakral itu, namun ternyata sanjung dan puji itu terusik oleh duka dan derita umat Islam yang senantiasa dililit kemiskinan.
Masalah lain yang masih menjadi kanker bagi masa depan generasi Islam adalah rendahnya tingkat pendidikan. Islam di masa yang akan datang tentu berada dipundak generasi mendatang pula. Bagaimana peradaban Islam dapat terbangun secara asri jika sumber daya umat Islam demikian lemah? Sebab itulah, umat Islam yang mampu dapat menjadi orang tua asuh untuk turut serta membantu biaya pendidikan kaum dhu’afa tersebut.
Banyak anak cerdas yang terusir dari sekolah karena tidak mampu menebus biaya pendidikan. Padahal mungkin saja generasi emas Islam mendatang diciptakan oleh mereka. Sementara di sisi lain, ratusan ribu umat Islam terus membangun masjid, terus menunaikan haji dan umroh, terus membangun rumah-rumah mewah, makan berlebihan, wisata ke berbagai negara, sementara di sekeliling mereka terdapat anak-anak cerdas yang tengah kelimpungan memikirkan masa depan pendidikannya. Karena itu diharapkan, Idul Fitri dengan berbagai hal yang dikandungnya menjadi tumpuan perubahan masa depan itu.
Dengan pembacaan demikian, maka Idul Fitri tidak akan berwajah dingin dan acuh tak acuh dengan lingkungan sosial yang dilaluinya. Lewat penafsiran mendalam dan luas tentang Idul Fitri, maka diharapkan ada sejenis transformasi sosial yang terjadi. Transformasi itu bukan hanya menyangkut hubungan personal kepada Allah, lebih daripada itu adalah hubungan umat Islam kepada saudara-saudaranya yang lain. Inilah sesungguhnya Idul Fitri yang bermakna, yaitu hari bahagia yang bersifat humanis dan penuh dengan energi kebaikan.