Selasa, 11 September 2018

IMM dan Do'a Iftitah




Tak dapat dipungkiri, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah lembaga kemahasiswaan yang paling dominan membentuk kerangka berpikirku. Namun akhir-akhir ini aku jengah berbicara tentang IMM. Berbagai ikhtiar ku lakukan untuk menghapus IMM dari memori hidupku. Semakin keras usaha itu, semakin kuat pula ingatanku terhadap lembaga yang kelahirannya pernah dipersoalkan tersebut. Harus ku akui, IMM ternyata telah bersenyawa dalam sukmaku. Eksistensiku kini tak bisa lepas dari tornado perubahan yang dihembuskan IMM.

Visi Yang Samar
Aku mencoba membuka nalar ideologis yang biasanya dijadikan landasan pergerakan para kader IMM. Beberapa di antaranya menyadarkan aku bahwa IMM merupakan salah satu ujung tombak dakwah besar Muhammadiyah. Deklarasi Kota Barat, Deklarasi Garut, Deklarasi Baiturrahman, memaparkan secara gamblang siapa sebenarnya IMM dan untuk apa organisasi elit ini dilahirkan. Poin-poin penting dalam deklarasi itu menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah membutuhkan IMM. Sinergitas gerakan IMM dengan Muhammadiyah menjadi sebuah kemutlakan sejarah.
Demikian pula dengan garis-garis ideologis yang dijelaskan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMM. Visi sebagai gerakan Islam yang bernaung di bawah tenda besar Muhammadiyah menjadi tujuan utama. Kata-kata yang bernuansa pencerahan, seperti: pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah merupakan mimpi-mimpi besar yang mesti diwujudkan. Sejauh yang dapat ku amati, visi cerdas yang seharusnya menjadi warisan kultural IMM itu malah terkubur abu sejarah dan terbelenggu rutinitas organisasi yang kumuh dan kering inovasi.
Aku tak tahu secara pasti apa penyebabnya. Dalam kedunguanku melihat  wajah IMM yang kian berubah, aku mencoba mereka-reka, bahwa turbulensi sosial dan politik di tanah air turut memberikan perubahan signifikan dalam  lagak dan gaya kader-kader IMM. Terutama politik, meskipun menjadi sarana dakwah paling efektif dan efisien, politik memiliki kepribadian tersendiri. Tak sedikit kader-kader IMM tersedot energi politik yang bersifat pragmatis dan oportunis. Penetrasi pragmatisme dan oportunisme ke tubuh IMM kurasakan menjadi kanker yang mematikan.
Predikat sebagai ujung tombak dakwah Muhammadiyah perlahan namun pasti bergeser menjadi ujung tombak kekuatan politik tertentu. Pergeseran ini juga berjalin berkelindan dengan kepentingan politik yang mengharapkan dukungan organisasi sosial (baca: anak main) seperti IMM. Dalam konteks ini, kekaburan visi berselingkuh dengan kepentingan politik yang mewujud dalam sebuah raga tanpa sukma. IMM berubah seperti Frankeinstein, selain fisik yang cenderung mengerikan, ia juga tak punya kepribadian karena arah dan langkahnya ditentukan pihak lain.
Moralitas publik yang semestinya bernuansa adem ayem, kental nuansa akademik sebagai ciri khas aktifis muda Muhammadiyah, berganti dengan obrolan praktis-pragmatis-oportunis yang memihak dan mendatangkan keuntungan instan. Diskusi-diskusi substantif, pengkajian-pengkajian keislaman, bedah buku, kajian rutin akademik, membaca dan menulis di media massa menjadi barang yang sangat langka dan mahal harganya. Budaya keras cenderung lebih dominan dalam membentuk kerangka berpikir kader-kader IMM ketimbang budaya yang santun penuh norma sebagaimana yang ditegaskan dalam nalar ideologisnya.
Mulai dari Muktamar, Musyda, Musycab, Musykom, terasa tidak sempurna jika tidak mengalami dead lock. Sumpah serapah, kursi melayang, bahkan mungkin kekuatan uang dalam perhelatan itu, demikian pula dengan kepemimpinan ganda, tak terlalu sulit dibuktikan. Ranting dan Cabang Muhammadiyah hanya merupakan rumah persinggahan dan mungkin juga lembaga untuk memanipulasi data demi Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah. Pengajian di Ranting dan Cabang Muhammadiyah menjadi sangat sepi kader-kader IMM, namun tidak demikian halnya dengan kafe-kafe dan lobi-lobi hotel.
Untuk menggulirkan dakwah pencerahan, harapan Muhammadiyah terlalu besar kepada IMM. Sungguh ironis justru yang terjadi sebaliknya, Muhammadiyah berbalik arah dan harus melakukan dakwah internal agar kader-kader IMM kembali kepada kesejatian dirinya. Ide-ide besar dan mendunia yang kini menjadi sasaran dakwah Muhammadiyah tidak dapat direspons secara positif dan gagal dipahami, apalagi dilaksanakan dalam perilaku organisasi. Elan vital berdirinya IMM adalah untuk turut serta menyelesaikan permasalahan keumatan. Kondisi sekarang menunjukkan bahwa kader-kader IMM menjadi bagian dari permasalahan itu sendiri.
Para pendiri IMM di masa lalu menjadikan etika akademik dalam berbuat, etika itulah yang selanjutnya melahirkan kegelisahan organisasional, pada akhirnya berujung dengan lahirnya IMM. IMM dilahirkan dari sebuah diskusi rutin untuk menjawab kebutuhan dakwah Muhammadiyah. Bukan menyusun logika terbalik, menempatkan IMM pada etalase dagangan lengkap dengan bandrolnya.  Nafas keislaman menjadi sangat kering. Kini dapat dibuktikan, berapa banyak kader IMM kelimpungan pada saat diminta untuk membaca doa iftitah, atau mempraktikkan pelaksanaan fardhu kifaayah.
Padahal, bacaan-bacaan ritual itu merupakan kajian paling mendasar dalam ber-Muhammadiyah. Apalah gunanya ber-IMM jika mengabaikan hal-hal yang paling fundamental itu? Dalam hal ini, pandanganku sangat tradisional. Melihat degradasi pemikiran IMM dan moralitas bermuhammadiyah yang cenderung melemah ini, aku sangat setuju jika dibuat aturan tegas. Mulai dari Pimpinan Komisariat, Pimpinan Cabang, Pimpinan Daerah bahkan Pimpinan Pusat sekalipun, tidak dibenarkan menjabat sebagai pengurus harian jika tidak aktif di ranting dan cabang Muhammadiyah. Bagiku, IMM bukan untuk IMM tapi IMM untuk Muhammadiyah. Tidak ada IMM tanpa Muhammadiyah.
Jika dapat ku sebut, kader-kader IMM seperti ashabul kahfi, bersembunyi dalam gua dalam waktu yang cukup lama. Begitu keluar dari gua, zaman telah berubah. Demikian pula dengan IMM, hidup hanya di dalam cangkang IMM, sempit dan gelap, tak tahu dunia luar. Begitu cangkang dipecah ternyata dunia sudah berubah. Kader-kader IMM banyak tertinggal  dibanding dengan yang lain. Jangankan berjalan, berlari sekalipun kader-kader IMM masih tertinggal. Kader-kader IMM mestinya juga akrab dengan dunia beasiswa dalam dan luar negeri. Peluang ini banyak diraih oleh orang lain, salah satu permasalahannya karena daya saing yang sangat lemah terutama dalam penguasaan bahasa asing.
Aku membayangkan bagaimana kader-kader IMM saling merapatkan barisan mempromosikan kader terbaiknya, dengan komitmen dan loyalitas kemuhammadiyahan yang kuat, untuk menduduki posisi publik dan menentukan masa depan persyarikatan dan bangsa, seperti: KPU, Bawaslu, Timsel, Legislatif, KNPI dan seterusnya. Namun hal tersebut mesti dikaji secara matang, bukan berdasarkan keinginan dan peluang saja, tapi juga kemampuan kognitif, keluasan jaringan dan kesanggupan finansial. Transformasi kader juga menjadi sebuah pemikiran penting. Banyak aspek kehidupan yang belum diisi kader IMM. Penumpukan kader di satu aspek bukan saja tidak sehat, tapi sering melahirkan konflik internal yang turut memperlemah roda organisasi.

Menjual Program
 Masa depan seseorang sedikitnya ditentukan oleh beberapa hal, yaitu: buku apa yang dibacanya, sahabat seperti apa yang didekatinya dan inovasi apa yang diciptakannya. Kader-kader IMM mesti kreatif dan inovatif dalam melahirkan ide-ide cerdas. Ide-ide itu dapat dijual melalui berbagai macam program. Selain mendatangkan keuntungan individual, program-program cerdas itu dapat diintegrasikan sebagai program unggulan organisasi. Jika program-program itu menarik, aku yakin, banyak lembaga dan alumni yang bersedia memberikan dukungan secara moral maupun finansial. Pendidikan anti korupsi, pengelolaan bank sampah, crisis centre untuk kaum difable, adalah program-program yang tidak tergarap, atau malah tak terpikirkan sama sekali.
Aku sedih, tidak sedikit yang berujar bahwa kader-kader IMM dalam jumlah yang tidak kecil bermentalitas dhu’afa. Mereka hanya ingin menghasilkan uang dengan meminta-minta. Untuk alasan tertentu ini dapat diterima, namun ketika aktifitas tersebut menjadi proyek fiktif maka akan sangat berbahaya. Ini bukan saja menghancurkan nama baik IMM namun membunuh masa depan manusianya. Ber-IMM tidak lama, ber-Muhammadiyah dan bermasyarakat akan selamanya. Tidak etis menyakiti batin masyarakat. Para sahabat, IMM merupakan laboratorium pemikiran dan gerakan. IMM rumah kita. Di antara kita sedang dan  pernah tinggal di dalamnya. Mari kita rawat bersama. Bravo IMM. Wallaahu a’lam.


Rabu, 29 Agustus 2018

Agama Tanpa Penghayatan





Agama menjadi salah satu objek paling menarik untuk dikaji. Tidak saja substansinya yang menyedot atensi para sarjana, perilaku keagamaan pemeluknya juga menjadi fenomena unik, bersifat dinamis dan sering melahirkan model-model keagamaan yang beragam. Agama diyakini berasal dari Tuhan, bersifat suci dan membimbing umat manusia untuk hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Selain itu, agama tak jarang dipolitisir menjadi pedang paling sadis dan belati paling tajam untuk menumpahkan darah.  

Meninggalkan Agama
Di banyak negara maju, agama seperti Katolik dan Protestan, cenderung ditinggalkan orang. Bahkan yang lebih miris, orang memilih hidup senang tanpa embel-embel agama. Di Australia, Perancis, Irlandia, Afrika Selatan, Amerika Serikat, bahkan Kroasia, secara kuantitatif lebih banyak yang tidak beragama ketimbang yang menganut agama. Mereka lebih taat pada aturan budaya yang mengikat satu sama lain ketimbang norma-norma agama. Mereka memiliki tanggung jawab keduniaan yang bercorak rasional namun tidak memberi ruang untuk urusan akhirat yang bercorak spiritual.
Tak terkecuali di Jepang yang didominasi agama Shinto, Vietnam yang didominasi agama Buddha, pengaruh penganut agama juga kalah dibanding dengan yang tidak beragama. Bahkan di Tunisia dengan mayoritas penduduk beragama Islam, masjid-masjid banyak yang kosong. Jamaah kecewa, karena perang saudara atas nama paham agama terus berlanjut. Lebih ironis lagi di Arab Saudi, ateisme secara laten tumbuh subur, padahal negara tersebut menjadi kiblat umat Islam dunia. Apakah faktor-faktor penyebab sehingga agama ditinggalkan orang?
Pertama, tidak dapat disangkal bahwa paham antroposentrisme turut serta menggerus keyakinan agama. Paham ini menganggap manusia telah dewasa dan dapat menentukan nasib kehidupannya sendiri. Manusia dengan bekal ilmu pengetahuan dan teknologi canggih telah dapat menguak berbagai misteri kehidupan yang semula menjadi kawasan kerja-kerja agama. Antroposentrisme juga mengajarkan kekinian dan kedisinian, hidup di dunia sebagai terminal akhir dari sebuah proses perjalanan kehidupan seseorang.
Antroposentrisme memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap pembongkaran doktrin-doktrin agama. Otoritas agama yang semula tak terbatas diikat dan dipreteli pengaruhnya. Kultur hidup hedonis tumbuh dan berkembang sejurus dengan berbagai penemuan ilmiah yang membuktikan keperkasaan umat manusia terhadap lingkungannya. Bapa-bapa gereja di masa awal menjadi penonton bisu yang tak dapat berbuat banyak melihat kenyataan tersebut.
Kedua, perilaku korup para tokoh agama. Para tokoh agama yang semula dianggap dan diharapkan menjadi pengayom dan pembimbing masyarakat justru berperilaku sebaliknya. Dalam konteks ini terjadi apa yang disebut religious despair (kekecewaan religius), yaitu sebuah kekecewaan yang ditimbulkan salah satunya oleh kelakuan menyimpang para elit agama. Kejujuran, kedamaian, kebersihan, persaudaraan yang mereka khutbahkan di mimbar-mimbar ternyata tak berkaitan dengan kenyataan hidup. Jujur diganti dengan dusta, damai diganti dengan iri hati, dengki dan permusuhan, bersih diganti dengan kotor, cinta diganti dengan benci.
Mereka juga kerap berjualan surga dengan cara infak dan sedekah, namun hanya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya saja. Masyarakat semakin miskin, sementara elit agama semakin kaya. Surga juga dibandrol dengan tarif tertentu. Semakin besar tarif yang ditetapkan maka akan semakin besar pula peluang masuk ke dalamnya. Niat busuk para pemuka agama secara perlahan terkuak karena masyarakat semakin cerdas. Tidak sampai di situ, selain meninggalkan agama mereka juga memusuhi agama karena dianggap melakukan pembodohan.
Ketiga, agama yang sejatinya menjadi kohesi sosial berubah menjadi faktor disintegratif. Tak ada dalam kitab suci mana pun yang menyatakan bahwa membunuh menjadi jenis ibadah untuk dekat kepada Tuhan. Bahkan dalam Islam sendiri ditegaskan bahwa menyakiti seseorang sama artinya dengan menyakiti nilai-nilai kemanusiaan. Namun pada kenyataannya, tak ada konflik besar dan panjang di dunia ini dimana agama tidak terlibat di dalamnya. Agama dijadikan sebagai elemen penyubur ikatan emosional dan media penyebar kebencian paling destruktif terhadap orang-orang yang berbeda paham.
Deretan fakta di depan mata kita menjadi argumentasi yang tak dapat dibantah. Konflik di Timur Tengah terjadi bukan saja antara Muslim dan Yahudi Zionis namun juga disebabkan perebutan paham antara umat Islam. Di Palestina sendiri, aksi  saling sikut antara Partai Fatah dan Partai Hamas sudah sedemikian pelik, ditambah lagi mereka mesti menghadapi kekuatan besar zionis Israel yang didukung total oleh Amerika Serikat. Di Surya, politik berkolaborasi dengan paham Sunni dan Syi’ah. Akibatnya, hujan bom, nyawa melayang, genangan darah, cucuran air mata dan eksodus dalam jumlah ribuan orang ke Benua Eropa terjadi setiap waktu.
Fenomena yang secara substantif sama berpotensi terjadi di Indonesia. Bukan tidak mungkin ke depan, jika para penganut agama tidak menyadari secara baik, wajah kelabu eksistensi agama di Eropa dan Amerika serta wajah sedih beberapa wilayah di Timur Tengah juga akan menemui momentumnya. Potensi ke arah itu sangat besar. Gaya hidup hedonis sudah menjadi sajian harian dan disosialisasikan melalui berbagai tayangan sinetron yang tidak mendidik.
Para koruptor, pelaku sex bebas, para bandar narkoba, para penipu pengelola haji dan umroh, menjadi sosok-sosok yang tidak merasa canggung tampil di layar kaca sembari melempar senyum. Anehnya aktifitas mereka dianggap kewajaran publik. Selain itu, perilaku harian umat beragama, terutama umat Islam, terkadang juga tidak lebih baik dari mereka yang menolak agama. Hal ini dapat dibuktikan dengan mudah. Seorang Muslim yang taat beribadah belum tentu memiliki komitmen untuk melaksanakan etika sosial. Misalnya saja, aksi buang sampah di sembarang tempat dianggap biasa dan tidak ada rasa bersalah sama sekali setelah tindakan biadab itu dilakukan.
Saat ini di Indonesia, ada ribuan orang meninggalkan agama mereka karena tak percaya lagi dan kecewa dengan perilaku penganut agama. Sedihnya, Islam menjadi agama pertama yang ditinggalkan, disusul Kristen, Buddha dan seterusnya. Meskipun bukan negara agama, Indonesia tidak memberi ruang bagi mereka yang tidak mengakui Tuhan. Sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi sebuah landasan hukum yang kuat betapa Indonesia merupakan negara yang religius. Tapi di sisi lain, baik secara terang-terangan maupun tertutup, paham ateisme tumbuh dengan subur.
Kini di masyarakat berkembang predikat Muslim tanpa masjid, Kristen tanpa gereja, Buddha tanpa wihara, Hindu tanpa kuil, Konghucu tanpa Klenteng. Ini menunjukkan bahwa agama hanya menjadi buah bibir dan hiasan administrasi ketimbang perilaku terpuji. Usulan agar kolom agama tidak dicantumkan dalam Kartu Tanda Penduduk menjadi bukti lain bahwa pengaruh agama dipertanyakan. Inilah deretan kejadian pahit dan kritik tajam agar penganut agama mengevaluasi sistem keberagamaannya.

Menghayati Agama
Agama sesungguhnya sarat dengan simbol. Simbol mengandung banyak makna yang harus dipahami. Misalnya saja wudhu’. Wudhu’ mengisyaratkan kebersihan secara totalitas, tidak saja ketika pelaksanaan sholat, namun juga bersih jasmani, ruhani dan lingkungan sekitar. Zakat juga merupakan simbol. Zakat melambangkan respons kepedulian sosial kepada masyarakat yang lemah dan membutuhkan uluran tangan. Zakat tidak tepat dimengerti sebagai aktifitas yang terbatas ruang dan waktu. Semangat zakat tidak boleh berhenti, namun harus ada di setiap waktu. Inilah maksud menghayati ajaran agama itu. Agama akan senantiasa menjadi pilihan utama masyarakat jika fungsi-fungsi sosialnya dirasakan secara langsung. Sebaliknya, agama akan dibenci dan ditinggalkan orang jika hanya berisi janji manis namun kering fungsi sosialnya. Wallaahu a’lam.

Sabtu, 18 Agustus 2018

Merawat Semangat Ritual Haji



Ibadah haji selain mensyaratkan kesiapan mental juga kesiapan finansial yang tidak kecil. Kedua kesiapan itu mesti diiringi oleh kejujuran dan kesabaran. Kejujuran diperlukan karena calon pelaksana haji harus membersihkan semua fasilitas yang digunakan untuk ibadah haji. Tidak etis menunaikan ibadah haji dengan harta yang remang-remang, apalagi haram. Demikian pula dengan kesabaran. Antrian haji dapat memakan waktu lima, sepuluh bahkan lima belas tahun pasca mendaftar haji. Penantian itu tak mungkin dapat dilakukan jika calon pelaksana haji tidak membingkainya dengan kesabaran.

Daya Tarik Haji
Alasan yang terbilang logis mengapa secara kuantitatif jumlah jamaah calon haji meningkat, sesungguhnya terletak pada harapan teologis. Balasan yang diberikan Allah kepada peraih haji mabrur adalah surga, selain dapat melaksanakan wisata ruhani alias jalan-jalan ke luar negeri. Tentu saja ini menjadi dorongan kuat bagi setiap Muslim untuk melakukannya. Alasan psikologis juga memberikan andil yang tidak kecil. Dalam konteks ini, keislaman seorang Muslim dirasakan kurang lengkap tanpa rukun Islam kelima itu. Badal haji, terlepas dari perdebatan hukumnya, menjadi salah satu bukti faktual betapa orang rela mengeluarkan dana untuk orang yang sudah wafat demi haji.
Meskipun tidak ada dasar hukumnya, orang yang sudah melaksanakan ibadah haji merasa senang dan bangga jika di depan namanya terletak huruf “H”. Ini pertanda bahwa orang yang bersangkutan sudah menunaikan ibadah haji. Pemberian predikat ini tidak salah, justru melahirkan tuntutan moral agar orang yang sudah melaksanakan ibadah haji menjadi uswah hasanah (suri tauladan) di tengah masyarakat. Secara sosial, hal ini menjadi alasan lain  mengapa ibadah haji melahirkan kekuatan magnetik. Pada konteks ini, ada kepuasan sosial dan rasa memiliki status terhormat jika haji sudah ditunaikan.
Ibadah haji merupakan panggilan Allah. Orang-orang yang menunaikan ibadah haji disebut dengan Dhuyuufur Rahmaan (Tamu Allah Yang Maha Pengasih). Allah adalah Zat Yang Maha Suci. Oleh karena itu, panggilan Allah bersifat suci. Para pelaksana haji mesti mensucikan dirinya, baik lahir maupun batin. Zat Yang Maha Suci hanya dapat direspons oleh sesuatu yang suci pula.
Oleh karena itu, etape-etape pelaksanaan haji mesti suci, mulai dari niat, rangkaian ritual sampai material yang digunakan, semuanya mesti suci. Ibadah haji tidak mungkin membuahkan hasil maksimal jika Allah Yang Maha Suci didekati dengan persiapan yang remang-remang, apalagi haram. Inilah di antara poin penting yang mesti menjadi atensi para kafilah haji itu.
Alquran menjelaskan bahwa al-haq (kebenaran) tidak mungkin terintegrasi dengan al-baathil (kebatilan) (Q.S. Al-Baqarah/ 2: 43). Haji merupakan ritual yang suci, ia tidak mungkin bercampur dengan niat, pelaksanaan, fasilitas yang batil. Dengan kata lain, haji adalah kutub positif. Haji hanya dapat menyatu dengan hal-hal yang positif pula. Jika haji yang positif dicampuradukkan dengan niat, cara, fasilitas yang negatif, maka yang lahir hanya kesia-siaan saja.
 Waktu, tenaga, pikiran, dan biaya besar yang sudah dikeluarkan tidak melahirkan keuntungan, sebaliknya kerugian yang diterima. Hajinya hanya sebatas simbolisme agama, namun kering pemaknaan. Haji yang kering makna terlihat dari perilaku yang tidak semakin baik, malah lebih pro kepada kemunkaran.

Menangkap Semangat
Rangkaian ritual haji mengandung ribuan makna. Para pelaksana haji dapat melakukan perenungan pesan-pesan di balik ritualisme simbolik tersebut. Tahun ini saja, diperkirakan ada sekitar enam juta umat Islam yang berkumpul untuk melaksanakan haji, 221.000 di antaranya berasal dari Indonesia. Jumlah yang demikian besar itu berasal dari suku, bangsa, bahasa, budaya dan negara berbeda di seluruh dunia ini.
Keragaman tersebut masuk dalam sebuah melting pot (titik lebur) yang satu, yaitu sama-sama menjadi tamu Allah. Status sosial yang kerap membedakan rakyat biasa dengan bangsawan dan raja-raja seperti yang  selama ini menjadi berhala harus dihapuskan. Radius pergaulan yang dibangun bukan antar kampung dan antar kota seperti yang selama ini dilakukan, melainkan pergaulan manusia global (global friendship) dengan karakteristik yang tidak sama.
Dengan demikian, ibadah haji dapat mendeskripsikan persaudaraan umat Islam universal. Ka’bah sebagai bangunan suci menjadi magnet spiritual yang dapat menarik jutaan umat Islam untuk berputar mengelilinginya. Siapa pun ia, pasti akan melakukan ritual yang sama dalam haji. Haji mempertemukan umat Islam dan menampilkan persaudaraan paling besar secara langsung dibanding ritual-ritual lain. Inilah implementasi dari ukhuwwah (persaudaraan) yang secara eksplisit dijelaskan dalam Alquran (Q.S. al-Hujurat/ 49: 10).
Salah satu problem terbesar umat Islam adalah lemahnya implementasi persaudaraan ini. Di antara kawasan yang paling banyak terlibat konflik adalah negara-negara Islam di Timur Tengah. Mulai dari perang saudara sampai campur tangan asing turut serta memporakporandakan bangunan persaudaraan antar Umat Islam.
Banjir darah dan air mata menjadi lukisan harian yang dimaklumi, belum lagi jutaan nyawa telah melayang sia-sia. Ukhuwwah yang semestinya menjadi rumah besar hanya indah pada tataran ajaran saja namun lumpuh dan terkadang buta secara total pada tataran praktis. Ini terjadi pada masa klasik dan diwarisi secara berkelanjutan hingga kini. Jamaah haji yang cukup besar itu diharapkan dapat menjadi duta-duta persaudaraan sekembalinya mereka ke negara masing-masing.
Tak terkecuali di Tanah Air, benih-benih ketegangan bahkan mungkin konflik berpotensi terjadi, meskipun diharapkan tidak benar-benar terjadi. Peluang ke arah itu dapat dilihat minimal di wilayah virtual. Respons kebencian, aksi saling serang, berbagai predikat yang menyudutkan antar sesama umat Islam kini menjadi materi perbincangan harian.
Hal ini semakin subur menjelang pesta demokrasi terbesar di tanah air, yaitu Pemilihan Presiden, Legislatif dan Dewan Perwakilan Daerah secara bersamaan. Standarisasi persaudaraan sering ditentukan oleh kelompok yang punya interest (kepentingan) sama. Jika ini terus berlanjut dan bergulir liar, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi Timur Tengah selanjutnya.
Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah kuantitas jamaah haji yang sangat besar. Jutaan umat Islam yang terdiri dari sekumpulan satuan-satuan kecil disadarkan sebagai warga internasional. Mereka diharapkan dapat belajar dari keragaman latar belakang yang dimiliki, bukan memaksakan secara radikal agar latar belakang seseorang diterima orang lain. Warga internasional meniscayakan heterogenitas, bukan homogenitas. Inilah implementasi dari ta’aaruf  (saling mengenal) itu (Q.S. Al-Hujurat/ 49: 13).  
Ta’aaruf  melahirkan sikap saling mendengar dan belajar, bukan keinginan untuk terus didengar dan dimengerti. Ta’aaruf  juga mensyaratkan sikap toleran, lapang dada dengan berbagai perbedaan, berpikir dan bertindak tidak hitam putih, melainkan penuh dengan pertimbangan matang dan menggunakan perspektif yang luas. Ta’aaruf dapat memperkaya cara pandang para pelaksana haji.
Bibit ketegangan di masyarakat disemai oleh perasaan benar sendiri dengan menegasikan eksistensi orang lain. Kehadiran orang lain dan latar belakang berbeda dianggap bukan sebagai energi positif untuk turut serta menguatkan bangunan yang sudah ada, tetapi dikhawatirkan menjadi sebuah ancaman. Rasa khawatir yang melewati tapal batas seperti ini mestinya dikikis dan dibasmi habis dengan respons positif lewat ta’aaruf tersebut. Haji akan sangat kehilangan makna, jika pelaksananya tidak mendapat pengetahuan baru dan hanya tenggelam dalam keasyikan ritualisme yang sempit.
Pelaksanaan ibadah haji dapat diumpamakan seperti kajian Islam secara teoritis dan praktis. Meskipun secara ritual ibadah itu berakhir, namun secara moral semangatnya harus tetap dirawat dan dihidupkan, tidak hanya dalam konteks moralitas individual tapi juga moralitas publik. Haji bukan hanya sekedar ibadah ritual yang terpenjara ruang dan waktu, melainkan ibadah lintas ruang dan lintas waktu yang semangatnya mengakar pada realitas. Wallaahu a’lam.




Rabu, 15 Agustus 2018

Kontekstualisasi Makna Jihad



Jihad dalam konteks ajaran Islam memiliki arti yang cukup luas dan kerap diperdebatkan oleh berbagai komunitas akademik. Akhir-akhir ini, karena perkembangan media informasi begitu masif, jihad yang sejatinya dipahami dan dilaksanakan secara proporsional mengalami defisit makna. Tak jarang terminologi jihad melahirkan kegusaran hati dan rasa ngeri yang tinggi bagi berbagai kalangan. Jihad diartikan dengan membunuh atau dibunuh (to kill or to be killed). Kaum jihadis dipersepsi sebagai  kelompok yang diklaim bernalar dangkal, rela melakukan apa pun termasuk membeli kematian dengan cara tak wajar demi predikat sebagai seorang syahid.

Membaca Realitas
Pemaknaan yang terkesan sembrono dan tendensius tersebut semakin kuat karena peran media massa barat, untuk hal ini adalah Eropa dan Amerika beserta semua kerabat politiknya. Barat dengan kepentingannya menjadikan jihad sebagai senjata yang terbilang ampuh dalam rangka melumpuhkan akal sehat umat Islam, menstigmatisasi, memecah dan kemudian menancapkan hegemoni di dunia Islam. Akar makna jihad yang semula mulia menjadi kotor, keras dan beraspek sempit. Kesan inilah yang menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Energi jihad menyedot tidak saja aktor intelektual yang kerap berdiri di belakang layar, tapi juga kelompok putus harapan yang terpinggirkan secara ekonomi, pendidikan, bahkan mungkin status sosial.  Mereka menjadi eksekutor lapangan. Menurut beberapa informasi, tidak semua yang direkrut menjadi martir memiliki latar belakang agama baik. Ada yang sebelumnya menjadi penjudi, peminum, pencuri, pengangguran dan tersisihkan dari masyarakat. Mereka mendapat tawaran untuk memperbaiki diri. Agar hidup mereka lebih bermakna dan memiliki dimensi religius, maka jihad menjadi semacam kanalisasi demi sebuah kebermaknaan.
Dengan jumlah yang tidak kecil, anak-anak muda berbekal semangat keislaman tinggi, namun miskin pengetahuan sosial, berdiri di garda terdepan untuk aksi bela Islam. Jihad dalam arti holy war (perang suci) memberi tarikan kuat agar mereka turut bergabung. Mereka ingin merubah tatanan dunia yang cenderung tidak adil dan merugikan umat Islam. Selain itu mindset keagamaan untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahiy munkar menjadi pilihan utama. Sistem sosial barat yang sekuler dan kafir mesti diruntuhkan agar umat Islam jaya. Di tangan mereka, Islam dengan konsep jihadnya yang semula ramah dan penuh harapan berubah bengis dan tidak ramah.  

Jihad Substantif
Benarkah makna jihad sesempit dan sesederhana itu? Dari segi ruang lingkup, jihad sesungguhnya amalan yang bersifat luas dan tak terbatas. Jihad juga dapat dikategorisasikan ke dalam banyak varian, misalnya; ada yang disebut dengan jihadul fikr (jihad dengan mempergunakan pemikiran), jihadun nafs(jihad dengan menggunakan jiwa dan mengendalikan diri), jihadul mal (jihad dengan menggunakan harta), termasuk qital (perang fisik). Meskipun salah satu makna jihad adalah qital, namun secara kuantitatif tidak banyak. Disinilah kemudian jihad perlu dan harus dimaknai secara kontekstual.
Sebagai contoh, dalam Alquran dijelaskan bahwa proses perbaikan dan penyucian diri sehingga seseorang dekat kepada Allah disebut jihad (Q.S. al-Ankabuut/ 29: 6). Sementara pada ayat lain ditemukan bahwa termasuk dalam kategori jihad adalah membantu kaum dhu’afa dalam bentuk advokasi ekonomi (Q.S. As-Shaaf/ 62: 11). Di sini terlihat jelas bahwa jihad tidak mesti terkait war (peperangan) antara satu pihak kepada yang lain. Jihad lebih terletak pada mujahadah (kesungguhan) dan pengorbanan untuk menyelamatkan kehidupan pihak-pihak yang membutuhkan.
Secara kebahasaan, jihad seakar dengan jahd atau juhd. Kata tersebut mengandung makna kesungguhan, keletihan dan kesukaran. Dapat dimengerti mengapa lapangan jihad demikian luas. Jihad dapat dilakukan di berbagai bidang. Jihad tidak boleh dikebiri menjadi aktifitas sempit dan statis. Jihad sesungguhnya aktifitas yang bersifat dinamis dan mencerahkan. Jika sebuah aktifitas, tentu yang sejalan dengan Alquran dan As-Sunnah, dilakukan dengan sungguh-sungguh, pelakunya merasa sangat letih dan dicapai dengan cara yang tidak mudah, maka itulah sesungguhnya jihad.
Untuk bangsa Indonesia, jihad tidaklah tepat jika dimaknai dengan qital. Ketidaksesuaian ini terkait dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berada dalam situasi dan kondisi yang aman dan damai. NKRI menuntut umat Islam menjadi mujahid-mujahid yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, jihad mesti sejalan dengan realitas masyarakat. Ada dua problem mendasar yang dihadapi umat Islam Indonesia saat ini, yaitu; kemiskinan dan kebodohan. Kemiskinan terkait dengan aspek ekonomi dan kebodohan terkait dengan aspek pendidikan. Jika jihad harus diartikan perang, maka perang dalam hal ini adalah tindakan radikal melawan kemiskinan dan kebodohan.
Dalam konteks ini maka pemberian beasiswa bagi anak-anak kurang mampu menjadi relevan. Untuk hal ini, umat Islam mesti memenuhi panggilan jihad dalam bidang pendidikan. Secara kuantitatif, umat Islam dapat dibanggakan, namun keunggulan kuantitatif tak selalu berbanding lurus dengan kualitas yang dimiliki. Secara natural, generasi muda Islam memiliki potensi yang besar untuk maju, namun hal ini sering tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, akhirnya potensi tersebut tidak dapat berkembang dengan baik. Semangat iqro’ (bacalah) sebenarnya mengandung pesan moral tentang arti pentingnya jihad dalam aspek pendidikan ini. Tak ada sejarah bangsa-bangsa maju di dunia ini tanpa diawali kemajuan dalam aspek pendidikan.
Demikian pula jihad dalam aspek ekonomi. Hal ini harus diyakini menjadi sebuah aktifitas yang sakral. Dari 261 juta penduduk Indonesia, menurut informasi Badan Pusat Statistik (2017), 26,58 juta (10,12%)  hidup di bawah garis kemiskinan. Dapat diduga, dari jumlah itu sebagian besar adalah umat Islam. Jika pada lapisan elit ekonomi umat Islam berkembang pemeo, “Hari ini akan makan dimana dan makan dengan menu apa, bahkan mungkin makan siapa”, tak sedikit umat Islam yang lain juga memiliki pemeo, “Hari ini tak tahu akan makan apa”. Kenyataan pahit ini memanggil para mujahid ekonomi untuk mengatasi minimal mengurangi angka kemiskinan.
Fenomena getir dan menyesakkan dada di sekitar kita mestinya dapat dihempang. Dapat dibayangkan serombongan anak kampung menuju sekolah, tidak saja berjalan belasan bahkan puluhan kilo meter, mereka juga mesti menyeberangi sungai dengan arus deras di atas seutas tali yang rentan putus. Tentu saja nyawa taruhannya. Belum lagi di saat musim hujan tiba, mereka sampai ke sekolah dengan baju yang basah kuyup dan perut yang kembung. Di pundak merekalah nasib bangsa dan umat Islam.

Tak hanya itu, potret buram umat Islam juga dinarasikan oleh para orang tua yang sudah sepuh dengan bakul dagangan di punggungnya, atau berdagang sayur dan buah-buahan yang sudah layu. Hal tersebut turut serta memaksa mata ini sembab karena tak kuasa menahan kesedihannya. Recehan uang kecil dikumpulkan demi sesuap nasi di tengah raksasa kapitalisme yang melahap kehidupan mereka. Dengan demikian, makna jihad yang segar menjadi suluh penerang di kegelapan dan harapan terhadap masalah yang menerpa. Jihad bukan sekedar teriakan suci dan bunuh diri atas nama Tuhan, melainkan aktifitas mulia untuk menghilangkan rasa haus dan lapar pada aspek ekonomi, atau mencerdaskan otak-otak umat Islam pada aspek pendidikan. Wallahu a’lam.