Selasa, 20 September 2016

Nabi Para Pecinta Lingkungan



Nabi dalam tulisan ini bukan sosok manusia suci yang mendapatkan wahyu dari Allah dan dilengkapi berbagai mukjizat.  Tentunya, dalam konteks kekinian, nabi dalam pengertian itu sudah final sejak diutusnya Rasulullah  Muhammad SAW. sebagai utusan Allah yang terakhir. Sebagaimana makna dasarnya dan dalam perspektif yang paling sederhana, nabi dalam tulisan ini merupakan sebuah perspektif sosial bagi orang yang membawa berita baru, memberikan pencerahan, dan tentu saja melakukan perubahan yang berdampak pada kesejahteraan publik.
Adalah Mbah Sadiman, sosok sederhana dari Wonogiri Jawa Tengah yang menurut penulis layak diberikan predikat sebagai nabi. Secara spesifik adalah nabi para pencinta lingkungan. Bagaimana tidak? Di tengah terjadinya konflik antara manusia dengan alam, Mbah Sadiman tampil sebagai sosok penengah dan agen perdamaian di kedua belah pihak. Mbah Sadiman melihat, relasi yang memburuk antara manusia dengan alam berkonsekuensi negatif pada kedua pihak, alam semakin rusak dan ketentraman manusia menjadi terusik.
Dalam pandangan Mbah Sadiman, alam di sekelilingnya berubah secara tidak wajar. Misalnya, debit sumber mata air di kampungnya berkurang, dan ada juga yang mengalami kekeringan. Padahal, sumber mata air tersebut merupakan pilar kehidupan bagi masyarakat setempat. Selain itu, Mbah Sadiman merasakan perubahan cuaca yang terjadi secara perlahan namun pasti, dari dingin ke panas. Setelah diketahui ternyata penyebabnya adalah karena kebakaran hutan dan illegal lodging (penebangan hutan secara liar).
Fakta getir itu mengusik kesadaran sekaligus menuntut tanggung jawab sosial Mbah Sadiman. Ia bertekad keras agar bagaimana debit mata air kembali seperti semula dan hutan menjadi hijau kembali. Mbah Sadiman mengambil langkah konkrit dengan cara menanami areal yang gundul dengan bibit pohon beringin. Uniknya, bibit pohon beringin itu ia beli dengan uang pribadinya atau barter dengan bibit cengkeh yang sudah ia persiapkan.
Ikhtiar Mbah Sadiman untuk merawat alam dan mengeliminir konflik manusia dengan alam dilakukan sendirian tanpa diketahui keluarganya. Wilayah kerja Mbah Sadiman juga tidak kecil. Ia menanami areal yang gundul seluas lebih daripada 100 hektar. Usianya yang sudah mencapai 65 tahun tidak melunturkan semangatnya untuk  memberikan yang terbaik bagi bagi alam, manusia dan generasi setelahnya. Dengan memori yang tak pasti, Mbah Sadiman menuturkan bahwa ia melakukan itu sudah lebih daripada 20 tahun dan sekitar 20.000 tanaman beringin telah ia tancapkan.
Usaha Mbah Sadiman membuahkan hasil. Pohon-pohon yang ia tanam dapat mengikat air dengan baik. Hal itu ditandai dengan debit air yang bertambah dan hutan yang semula gersang menjadi hijau kembali. Masyarakat dapat menikmati hasil dari penghijauan yang dilakukan Mbah Sadiman, termasuk orang-orang yang semula mencerca dan menghalangi aktivitas sosialnya.
Di tengah tradisi pragmatisme dan oportunisme, aktifitas mulia Mbah Sadiman seperti lentera kecil penunjuk jalan. Yaitu jalan yang mesti dilalui oleh banyak orang jika ingin hidup damai dan jauh dari bencana. Dari konteks pendidikan yang dimiliki, Mbah Sadiman bukanlah sarjana yang di belakang namanya tersusun berbagai  titel akademik. Mbah Sadiman lebih tepat disebut sebagai sarjana alam. Almamater yang mendidiknya adalah lingkungan sekitarnya. Boleh jadi dosen-dosennya tempat ia menimba ilmu adalah sungai, air, batu, maupun pepohonan. 
Mbah Sadiman juga bekerja bukan karena skenario untuk mendapatkan status tinggi di masyarakat. Ia juga tak pernah mengharapkan sorotan kamera agar berbagai komunitas memberikan apresiasi kepadanya. Mbah Sadiman jauh dari tujuan pragmatis dan oportunis itu. Ia bekerja karena dilandasi dua hal, yaitu ikhlas dan sabar. Kedua sifat tersebut mudah sekali dikaji dan diucapkan, namun tak sedikit yang gagal membawanya ke arena kehidupan nyata.
Menurut para ulama, landasan berbagai aktifitas yang dilakukan manusia adalah ikhlas. Bahkan di dalam Alquran dijelaskan bahwa ikhlas menjadi dasar utama dalam menjalankan Islam. Secara semantik, ikhlas terambil dari akar kata bahasa Arab, akhlasha, yukhlishu, ikhlaasha. Kata tersebut bermakna murni, bersih, jernih dan tidak terkontaminasi. Memang demikian, Mbah Sadiman menanami hutan yang gundul karena kemurnian, kebersihan dan kejernihan hati, serta yang ia lakukan tidak terkontaminasi dengan berbagai kepentingan.
Selain ikhlas, sifat sabar menjadi penentu keberhasilan usahanya dalam merawat alam. Sabar juga bukan merupakan sesuatu yang sederhana dan dapat dilakukan setiap orang dengan mudah. Sabar adalah sifat yang menuntut perjuangan. Sebagaimana ikhlas, sabar terambil dari akar kata bahasa Arab yang memiliki arti, pengendalian, kokoh seperti batu karang dan tempat yang tinggi. Sepintas memang ketiga arti ini tidak saling terkait. Namun jika ditelisik dengan cermat, ketiga arti sabar ternyata saling mendukung dan seperti tahapan yang bersifat integratif.
Orang yang dapat mengendalikan dirinya secara baik melalui berbagai macam aktifitas, dan itu dilakukan secara konsisten seperti batu karang di lautan, maka suatu ketika orang tersebut akan menempati posisi yang mulia atau tinggi, baik di hadapan manusia, maupun di hadapan Allah. Tiga tahapan dalam sabar tersebut telah dilalui Mbah Sadiman. Yang pertama tentunya aktifitas menanam pohon. Hal tersebut ia lakukan secara konsisten, berkelanjutan dan kokoh, sekokoh batu karang di lautan. Akhirnya apa yang dilakukan Mbah Sadiman mendapatkan apresiasi tinggi di masyarakat, tentunya di hadapan Allah.
Sosok Mbah Sadiman dapat dikategorisasikan sebagai abundant personality (pribadi yang melimpah). Abundant personality ditandai dengan rasa cukup terhadap apa yang dimiliki dan kecenderungan untuk berbuat baik bagi kepentingan bersama. Secara faktual demikian adanya. Pendapatan Mbah Sadiman terbilang hanya dapat untuk mencukupi kehidupan istri dan dirinya. Namun di sisi lain ia masih dapat menyisihkan uangnya untuk membeli bibit tanaman beringin sebagai material penghijauan. Abundant personality berdiri di atas keyakinan, “apa yang dapat saya berikan untuk orang lain, bukan sebaliknya, apa yang dapat diberikan orang lain untuk saya”.
Boleh jadi, Mbah Sadiman secara fisikal kerap merasakan lapar, namun secara spiritual ia merasa kenyang. Ini menarik untuk dicermati lebih komprehensif lagi. Dalam kehidupan seperti sekarang ini tidak sedikit orang yang secara fisikal sebenarnya sudah kenyang namun spiritualnya masih merasa lapar. Illegal lodging penulis amati terjadi karena hal tersebut. Demikian pula dengan malapetaka korupsi yang akhir-akhir ini dianggap makruf (hal yang biasa). Aktifitas biadab tersebut bukan disebabkan karena pelakunya lapar secara fisikal, namun karena spiritualnyalah yang lapar.
Meskipun tidak disadarinya, Mbah Sadiman sebenarnya memberikan kritik  sosial kepada masyarakat luas. Bahwa pendidikan dan deretan titel bukan merupakan variabel penentu bermanfaatnya eksistensi seseorang atau pun tidak. Tanpa titel sekalipun, seperti Mbah Sadiman, berbagai kebajikan sosial dapat dilakukan. Bahkan betapa banyak orang yang dapat mengabdikan dirinya dengan tulus di masyarakat tanpa terlebih dahulu mengecap pendidikan tinggi. Inilah manusia terbaik seperti yang disinggung Rasulullah, yaitu orang yang dapat memberikan manfaat untuk sesama.
Justru sebaliknya, dihadapan kita sering disodorkan berbagai kejahatan di masyarakat, dan pelakunya adalah orang-orang yang pernah mengecap pendidikan tinggi. Secara nasional misalnya, para koruptor yang kini berhasil “membangun” atmosfir korupsi di negeri ini, hampir keseluruhannya pernah belajar di perguruan tinggi. Yang lebih miris lagi, khusus penganut Islam, tidak sedikit yang pernah menunaikan ibadah haji. Dalam hal ini, pendidikan tinggi dan haji tak lebih daripada predikat semu yang menyebabkan lahirnya derita kolektif di masyarakat.
Mbah Sadiman sudah menunjukkan, bahwa orang yang sering dianggap sebagai manusia biasa ternyata memiliki pemikiran dan aktifitas yang sangat luar biasa. Visi Mbah Sadiman juga jauh ke depan, menembus kabut kepentingan pribadi. Ia ingin mewariskan alam dalam keadaan damai dan tentram. Ia juga menginginkan generasi yang hidup pada masa belakangan dapat bersahabat dengan alam sebagaimana yang sudah dicontohkan generasi sebelumnya.
Ketika jutaan kaum Muslimin mendekatkan diri kepada Allah lewat zikir berjamaah, antri naik haji dengan sanjung dan puji, berlomba-lomba membeli hewan kurban, Mbah Sadiman keluar dari perangkap ritual itu. Ia mendekatkan diri kepada Allah dengan merawat lingkungan yang rusak. Getaran manfaat yang dilakukannya bukan untuk ia saja, namun untuk semua. Bagi penulis, tidaklah berlebihan jika Mbah Sadiman disebut sebagai nabi, yaitu nabi para pencinta lingkungan. Wallaahu a’lam.





Selasa, 12 Juli 2016

Kesan-Kesan Inspiratif dari New Zealand




Tulisan ini tentu tidak dapat merepresentasikan kondisi objektif New Zealand (NZ) dan berbagai dinamika masyarakat yang ada di dalamnya. Tulisan ini hanya merupakan kesan yang penulis tuangkan untuk menjadi catatan-catatan sederhana selama berada di New Zealand dalam waktu yang demikian singkat. Muara dari tulisan ini tentu saja munculnya pelajaran berharga yang dapat ditransformasikan dalam berbagai konteks.

Kecintaan terhadap Alam
Alam NZ dikenal karena panoramanya yang demikian indah. Mulai dari jumlah penduduk yang tidak begitu padat, hanya 4.5 juta, sampai hamparan padang rumput yang terbentang indah. Masyarakat NZ terbiasa hidup berdasarkan aturan yang telah menjadi kesepakatan bersama, tentu muara dari peraturan yang ketat itu kembali untuk kepentingan masyarakat NZ sendiri. Berbagai pelanggaran terhadap aturan akan berujung pada denda. Namun denda yang dimasukkan ke dalam kas negara, penggunaannya untuk kemaslahatan masyarakat itu sendiri.
Kecintaan masyarakat NZ terhadap alam cukup tinggi. Satu ketika, penulis mengunjungi sebuah tempat wisata di kota Auckland, ada sebuah cerita menarik yang  penulis dapatkan dari kunjungan tersebut. Penulis melihat ada sebatang pohon yang tumbang secara alamiah karena alasan sudah tua atau gejala alam. Hal tersebut menjadi sebuah musibah yang menyedihkan dan dirasakan seperti seperti kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Beberapa hari setelah pohon itu tumbang, berbagai ucapan belasungkawa dapat dibaca dilokasi tersebut.
Perlakuan mereka terhadap pohon sama seperti mereka memperlakukan manusia. Pohon dianggap sebagai anggota masyarakat yang haknya sama dengan manusia. Masyarakat NZ merasa memiliki tanggung jawab untuk merawat alam. Itulah sebabnya, jarang terdengar ada aktifitas penebangan hutan secara liar. Selain karena kesadaran masyarakat yang sudah matang, denda terhadap aktifitas menebang hutan sembarangan amat tinggi, boleh jadi bernilai puluhan juta rupiah.

Perlakuan terhadap Hewan
Penulis juga menyaksikan kecintaan masyarakat NZ terhadap hewan peliharaan seperti anjing, kucing, kuda dan sebagainya.  Anjing misalnya, merupakan hewan peliharaan yang sangat digemari. Selain karena kecerdasannya, anjing dapat menjadi teman di kala sepi. Ada sebuah keyakinan unik, seorang anak di NZ akan meninggalkan orang tua mereka ketika menginjak usia dewasa. Sementara anjing tidak akan pernah meninggalkan tuannya. Sebab itulah masyarakat NZ memperlakukan anjing layaknya anak mereka sendiri. Mereka kerap mengajak anjing peliharaan mereka untuk menghirup udara segar ke alam terbuka. Bahkan ada satu hal ekstrim menurut pandangan penulis, ada seekor anjing yang mendapatkan hak warisan setelah tuannya meninggal dunia. Ini mungkin kasus langka yang jarang ditemui di tempat lain.
Pernah satu ketika, seekor kucing memanjat sebuah pohon, namun kemudian kucing itu kesulitan untuk turun. Kasus tersebut dilaporkan kepada pemerintah setempat. Dalam waktu yang tidak begitu lama turun bantuan penyelamatan. Tim penyelamatan yang diturunkan terdiri dari kepolisian, dinas pemadam kebakaran dan dokter hewan. Untuk menyelamatkan hidup seekor kucing persis seperti penyelamatan seorang manusia yang sedang mengalami persoalan serius.
Merawat hewan peliharaan di NZ terbilang tidak murah. Mulai dari perawatan kesehatannya sampai aktifitas memandikannya. Informasi yang penulis dapatkan, ada seorang pemilik hewan peliharaan yang dijebloskan ke dalam penjara dikarenakan meninggalkan kuda peliharaannya untuk liburan. Padahal, pemiliknya sudah mempersiapkan makanan untuk kuda itu. Namun salah seorang tetangganya melaporkan jika si pemilik kuda tersebut membiarkannya.

Fasilitas Umum
Fasilitas umum yang disediakan pemerintah benar-benar memanjakan masyarakatnya. Di fasilitas umum disediakan tempat bermain untuk anak-anak layaknya taman kanak kanak yang ada di Indonesia, tempat untuk membaca, lapangan basket ball, barbeque (tempat untuk membakar ikan), lahan hijau yang menyejukkan mata. Semuanya terawat dengan baik. Rasa haus di NZ tidak perlu dikhawatirkan karena air keran di NZ dapat di konsumsi secara langsung, meskipun tidak disemua tempat demikian. Namun secara umum, air di NZ layak untuk dikonsumsi tanpa harus dimasak terlebih dulu.
Fasilitas umum ini tidak saja dijumpai di kota-kota besar, di berbagai daerah fasilitas umum juga tersedia secara baik dan merata. Di satu tempat ada sebuah rumah yang jaraknya puluhan kilometer dari kota, namun rumah itu mendapat aliran listrik sebagaimana yang dialirkan di kota-kota besar. Menurut masyarakat NZ, itu adalah hak warga negara yang mesti diberikan tanpa terkecuali. Fasilitas umum seperti toilet juga disiapkan pemerintah di puncak gunung, padahal tempat itu jarang dikunjungi. Pemerintah mempertimbangkan, lebih baik berkorban toilet daripada masyarakat mengotori lingkungan. Membersihkan lingkungan kotor membutuhkan biaya yang lebih besar daripada sekedar menyiapkan toilet.

 Pajak yang Tinggi
Gaji masyarakat NZ dipotong oleh pemerintah, besarannya tergantung pada jenis pekerjaan yang dilakoni. Boleh jadi mulai dari 20 persen sampai 30 persen dari pendapatan. Menariknya, aturan itu dipatuhi dengan baik. Masyarakat sadar, pemotongan itu akan dikembalikan penggunaannya untuk masyarakat. Misalnya untuk membangun infrastruktur seperti jalan, rambu-rambu lalu lintas, perawatan fasilitas umum.

Dukungan untuk Pendidikan
Pendidikan di NZ mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas digratiskan. Model pendidikan untuk sekolah dasar cukup sederhana. Kurikulum yang disusun hanya untuk mata pelajaran tertentu seperti matematika, menggambar, mengarang, dan membaca. Para siswa tidak dijejali dengan berbagai mata pelajaran yang memberatkan. Itulah sebabnya siswa siswi di sekolah NZ merasa rugi jika tidak ke sekolah. Karena di sekolah mereka bermain (having fun). Selain itu, para guru lebih cenderung memotifasi ketimbang memfonis. Ungkapan seperti, fantastic (luar biasa), excellent (sempurna), very good (sangat baik), menjadi santapan sehari-hari.
Seseorang yang ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi seringkali terbentur persoalan finansial. Pemerintah NZ menyediakan pinjaman dana (loan) untuk calon mahasiswa yang akan melanjutkan pendidikan tinggi. Pengembaliannya dapat dicicil ketika mereka sudah tamat dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Untuk sarana transportasi, masyarakat NZ lebih memilih memiliki kendaraan pribadi daripada menggunakan transportasi publik. Meskipun disiapkan, transportasi publik seperti bus dan kereta masih terbilang tidak begitu banyak.

Respons terhadap Pengangguran
Para pengangguran dapat santunan dari pemerintah. Inilah cerminan masyarakat yang sudah makmur. NZ bukan negara kaya, namun pembangunan dirasakan secara merata. Tingkat korupsi terbilang sangat rendah. Status pejabat publik dan masyarakat biasa hampir sama. Mobil mudah sekali dibeli karena harganya murah. Banyak mahasiswa Indonesia (S.2 dan S.3) yang dapat membeli mobil-mobil, tak jarang yang mewah. Sepeda motor jarang penulis jumpai, harganya juga murah. Harga sepeda motor lebih murah dibanding dengan sepeda. Mengayuh sepeda ke kantor atau ke tempat tertentu menjadi aktifitas bergengsi. Sebab masyarakat NZ mengutamakan kesehatan.
Di NZ, penulis tidak menjumpai petugas parkir. Masing-masing pemilik kendaraan memasukkan beberapa koin ke sebuah tempat yang disediakan di pinggir jalan untuk pembayaran parkir. Parkir juga tidak boleh dilakukan sembarangan. Sebab jika parkir dilakukan sembarangan akan ditindak oleh petugas melalui towing (menderek) mobil tersebut ke kantor pemerintah yang menangani towing. Dendanya amat mahal, sekitar 200 NZD (dua juta rupiah atau lebih). Itulah sebabnya, posisi mobil yang parkir sangat rapi dan tertata.
Rambu-rambu lalu lintas di NZ ditaati dengan baik. Tidak semua persimpangan terdapat lampu lalu lintas, namun para pengguna jalan cukup melihat garis-garis lalu lintas yang diatur sedemikian rupa, maka kendaraan berjalan dengan rapi dan terarah. Suara horn (klakson) kendaraan jarang sekali terdengar. Para pengguna jalan merasa nyaman, selain karena jalanan yang mulus tapi juga para pengguna jalan yang kerap mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Beberapa kali penulis melihat para pengguna jalan mempersilahkan yang lain untuk lewat terlebih dahulu. Tidak ada yang saling menyerobot.

Atensi terhadap Kesehatan
Biaya perobatan di NZ sangat mahal. Namun pemerintah menyiapkan fasilitas rumah sakit secara gratis untuk masyarakat. Dokter yang menangani pasien juga sangat profesional dan bertanggung jawab. Dokter-dokter tidak akan membiarkan pasiennya kecuali pasien tersebut sudah sembuh dari penyakit yang dideritanya. Menariknya, dokter-dokter dapat dibooking berdasarkan keinginan. Misalnya, jika seseorang menginginkan dokter pria atau wanita maka pihak rumah sakit akan menyediakan sesuai dengan pilihan pasien.

Kejujuran yang Membudaya
Di NZ juga tersedia super market tanpa penjaga. Pembeli dibebaskan untuk membeli barang pilihan sesuai keinginannya. Namun demikian, setelah barang-barang dibeli, maka pembayarannya cukup mempergunakan komputer yang sudah diprogram. Tingkat kejujuran di NZ terbilang tinggi. Belum pernah terjadi manipulasi belanjaan di super market tanpa pengawas itu.
Penulis mendapatkan informasi bahwa seseorang tidak merasa berat melakukan sesuatu untuk orang lain meskipun mengeluarkan biasa. Sebagai contoh, salah seorang sahabat penulis membayar rekening listrik, tanpa disadari kwitansi bukti pembayaraan tercecer. Seorang warga NZ menemukannya dan mengirimkan kwitansi itu melalui kantor pos ke alamat rumah teman penulis. Selain persoalan waktu, aktifitas itu mengeluarkan biaya minimal untuk membeli sebuah perangko.
Rumah-rumah masyarakat tidak ada yang mempergunakan teralis, semuanya kaca biasa tanpa adanya pengaman tambahan. Namun demikian, belum pernah terjadi pencurian yang membobol rumah masyarakat. Tentu saja, kriminalitas pasti ada namun volumenya amat kecil dan dapat dihitung jari. Rumah-rumah cukup ramah lingkungan, sebagian besar terdiri dari kayu-kayu yang kuat dan tahan lama.

Kritik untuk Beberapa Budaya
Meski demikian, terdapat tradisi di NZ yang bertentangan dengan tradisi di Indonesia terutama jika dilihat dari perspektif agama. Misalnya gaya hidup free sex, seorang remaja yang sudah menginjak usia 18 tahun dibebaskan untuk tinggal bersama dengan pasangannya tanpa diikat pernikahan. Bahkan ada orang tua yang merasa bahagia ditinggal oleh anaknya, karena boleh jadi selama ini menjadi beban finansial dalam keluarga. Budaya minuman keras (liquor) juga demikian, memiliki dasar hukum. Selain itu, NZ termasuk negara yang mendukung eksisitensi LGBT (lesbian, gay, bi seksual dan trans gender). Meskipun demikian, hak-hak individual tetap dihormati dan dijunjung tinggi. Seseorang akan berurusan dengan hukum jika memaksakan minuman keras atau LGBT kepada orang lain.

Inilah diantara berbagai hal yang harus ditolak. Bersikap kritis bukan berarti menolak semua atau menerima semua, namun sebuah kecerdasan untuk menjaring mana yang baik dan tidak baik. Para pembaca yang dirahmati Allah, inilah setidaknya kesan-kesan yang dapat penulis tuangkan untuk menjadi pelajaran kita bersama. Demikian, semoga bermanfaat.

Jumat, 01 Juli 2016

IMM dan Proyek Besar Perubahan



Tulisan ini dibuat dalam balutan musim dingin yang meraba tulang.  Namun penulis mencoba menuangkan kalimat demi kalimat untuk melahirkan makna, kendatipun cubitan-cubitan nakal rasa dingin seringkali tak dapat dihindari.   Meski demikian, pesona dan keramahan panorama alam New Zealand, saat penulis menuangkan kalimat di kanvas pemikiran ini, menjadi penghangat sukma tersendiri. Selain itu, sistem sosial yang tertata rapi dan bernuansa islami juga menjadi bagian pijar kehangatan yang mengitari penulis.
Salah satu diskursus akademik yang selalu membangkitkan syahwat penulis adalah diskursus tentang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Penulis berhutang sejarah hidup kepada IMM. Penulis ibarat sebutir pasir yang demikian tidak berarti di tengah milyaran pasir-pasir lain yang bergerak. Namun demikian, desahan nafas dan detak jantung penulis hingga kini tak lepas dari jasa fantastik IMM.
Di lembaga tersebut, penulis mendapatkan banyak hal yang tak habis diuraikan dengan kata-kata. Mulai  dari semangat untuk bertahan hidup dan konsistensi untuk menjadi sosok  yang bermanfaat bagi kehidupan.  Dalam pandangan penulis, IMM merupakan universitas sungguhan yang mendidik para santri untuk menatap realita, memproduksi nilai-nilai yang mesti diimplementasikan, dan ladang persemaian bibit strategi untuk mencandra masa depan.
Berangkat dari kesadaran normatif tersebut, penulis melihat betapa IMM merupakan salah satu proyek mewah perubahan sosial yang dimiliki umat. Di pundaknya terletak cita-cita dan ribuan semangat perubahan, demi terwujudnya masyarakat islami sebagaimana yang dirumuskan organisasi induknya, yaitu Muhammadiyah. Di sinilah sesungguhnya peran dan fungsi IMM, yaitu sebagai laboratorium pemikiran dan pijar pergerakan.
IMM merupakan salah satu lembaga civil Islam, yaitu sebuah lembaga yang menjadi ruang kesadaran dan dialog komunitas elit. Berbeda dengan lainnya, IMM merupakan lapisan terdepan masyarakat. Elitisme komunitas IMM dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang dimilikinya, yaitu mahasiswa. Dilihat dari optik usia, rata-rata usia komunitas ini antara 18 sd 25 tahun. Rentang usia yang mencerminkan dinamika yang tinggi.
Berbagai persoalan masyarakat dikaji dan dibahas tuntas dalam berbagai diskusi bernas yang dilaksanakan. Menggiring ikhtiar ke arah itu bukan langkah yang mudah seperti membalikkan telapak tangan dan kelihaian bersilat lidah. Perlu niat yang terawat baik dan berbagai usaha yang mengiringinya. Mengingat hidangan persoalan kini kian kompleks, maka IMM perlu mempersiapkan amunisi tempur yang dibutuhkan untuk melahirkan sebuah peradaban besar yang inklusif dan berwawasan kemanusiaan.
Kasus kebangsaan yang kini terjadi di Indonesia menyeret spirit keislaman IMM untuk hadir dan turut serta mengawal eksistensi bangsa ini. Korupsi sebagai kejahatan kemanusiaan, dianggap menjadi faktor dominan yang hampir menenggelamkan bangsa ini dalam lumpur sejarah. IMM dapat menciptakan berbagai ruang dan peluang bagaimana pendidikan anti korupsi dilaksanakan. Perlu dirumuskan sebuah program inklusif kebangsaan di lingkungan IMM yang di dalamnya membahas langkah normatif dan kongkrit agar kultur korupsi tercabik dan pada akhirnya sampai pada momentum ajalnya.
Mulai dari lingkungan mini, akuntabilitas keuangan IMM dapat dipertanggungjawabkan kepada dua pihak, yaitu: laporan organisasional dan tanggung jawab kepada Allah. Seberapa pun keuangan yang beredar di lingkungan IMM tetap tercatat dalam laporan yang terpercaya dan jauh dari rekayasa. Sejujurnya, di lingkungan IMM, pendidikan anti korupsi cukup kuat. Namun rumusan konkrit dan real model yang terimplementasi tak mudah diamati.
Di New Zealand sendiri ada sebuah contoh menarik tentang super market kejujuran. Di dalamnya setiap orang dapat mengambil apa saja dan melakukan pembayaran sendiri tanpa perlu diawasi petugas. Ini berhasil dan sudah berlangsung lama. Jika dicermati, persoalan bangsa kita terletak pada kemauan dan keberanian untuk mengimplementasikan kejujuran. Super market yang penulis contohkan berada di lingkungan masyarakat sekuler, namun praktiknya islami. Budaya seperti ini dapat dimulai oleh IMM, jujur pada spektrum kecil untuk menuju spektrum yang lebih besar.
Bangsa ini terpuruk karena pilar kejujuran hampir ambruk. Ini harus menjadi nafas kesadaran IMM. Kejujuran menjadi barang mewah yang mahal sekali harganya. Beruntung, dengan landasan teologis yang kuat, bagaimana nilai-nilai kejujuran dianggap penting sebagaimana pentingnya sebuah keimanan yang selama ini terhunjam kokoh di lubuk sanubari kader-kader IMM. Agaknya, IMM perlu menjadikan nilai-nilai kejujuran tersebut sebagai modal individual yang bermuara pada aksi sosial.
Memang di sisi lain, kultur pragmatisme menjadi hambatan tersendiri dan dapat menikam nilai-nilai luhur IMM. Predikat sebagai aktifis IMM memberikan status bergengsi di masyarakat sekaligus menuntut sikap matang dan dewasa dalam bertindak. Predikat sebagai aktifis IMM dapat digunakan untuk menaikkan nilai tawar kepada masyarakat luas, siapa IMM, bagaimana gerakannya, dan apa prestasinya dalam sebuah proses pencerahan. Dari IMM kembali untuk IMM. Sementara kultur pragmatisme menyeret IMM untuk menjadi sebuah media pihak tertentu untuk menaikkan nilai tawar bagi kepentingan tertentu. Siklus gerakannya akan bergerak dari IMM, namun untuk kemaslahatan individual.
Kultur pragmatisme itulah yang kerap memproduksi konflik internal yang terkadang terjadi secara berkelanjutan. IMM dalam posisi seperti itu akan terkulai lesu dan seolah hidup dengan energi yang lemah. Sebab energi yang banyak terkuras untuk urusan konflik internal. Inilah diantara variabel penting mengapa IMM tidak pernah tumbuh dan berkembang besar secara eksternal. IMM tidak sanggup bertarung di luar, jika pun ada, maka kerap kali kalah dalam berkompetisi. Tak jarang IMM hanya menjadi lapisan kedua atau malah tak diperhitungkan sama sekali.
Kultur pragmatisme masuk ke IMM sedemikian dahsyatnya. Ungkapan-ungkapan religius dan damai di lingkungan IMM tergerus oleh ungkapan yang dirasakan kering dan instruksional, seperti: “perintah ketua”, “petunjuk ketua”, “izin menghadap ketua”, “mohon arahan ketua”. Jika dikritisi, ungkapan-ungkapan tersebut memojokkan IMM pada sebuah sudut yang kering persahabatan tulus. Kesan yang muncul adalah kepentingan yang datang bertubi-tubi. Hubungan yang dibangun hanya melahirkan “who gets what”, “siapa mendapatkan apa”, bukan sebaliknya “who gives what”, “siapa memberikan apa”. Itulah sebabnya, penulis melihat, jangan sampai IMM seperti daun pisang. Dimanfaatkan orang untuk melindungi diri dari air hujan, setelah hujan berhenti daun pisang itu pun dicampakkan, bahkan diinjak orang nan lalu.
Fenomena sebagai generasi robotik penulis amati juga menyapa IMM. Generasi robotik adalah komunitas manusia yang tidak mengenal jati dirinya, apa yang dilakukannya dan kemana dia sedang melangkah. Generasi robotik terperangkap dalam eforia gerakan secara simbolik namun tak memahami untuk apa gerakan itu ia lakukan. Generasi robotik bernafas sesuai dengan keinginan kreator yang secara jeli menyusun program-program canggih dan terencana yang sudah disiapkan. Dalam konteks ini, balutan idealisme yang disusupi berbagai kepentingan jangka pendek menumpulkan nalar kritis IMM.
Generasi robotik mudah saja dikikis bahkan dihalau dari IMM. Alquran mengajarkan kepada kita untuk tabayyun, melihat secara jeli akar sebuah persoalan untuk kemudian menentukan sikap. Imam Ali pernah berpesan agar kita arif dalam mensikapi persoalan. Kata beliau, “Jika engkau ingin menyelesaikan sebuah persoalan, maka ambillah informasi dari orang kedua sebagaimana engkau telah mengambil informasi dari orang pertama.” Pesan ini bernuansa tengahan (wasatha), tidak berat sebelah namun cenderung mempertemukan.
Batin penulis bergetar ketika menghayati Mukaddimah Anggaran Dasar IMM. Di Mukaddimah itu dijelaskan bahwa IMM bergerak untuk Muhammadiyah, untuk bangsa dan untuk dunia. Betapa cerdas dan progresifnya Mukaddimah itu. Muhammadiyah tidak mungkin ditinggalkan, karena Muhammadiyah maka IMM ada. Sebagai komunitas elit, IMM perlu menjadi katalisator perdamaian dan aktor berbagai aktifitas yang dilaksanakan Muhammadiyah. Relasi antara IMM dan Muhammadiyah seperti tubuh dan kaki. Kaki selalu melekat pada tubuh. Jika tubuh kehilangan kaki, maka langkahnya menjadi tidak seimbang. Begitu pula jika kaki terlepas dari tubuh, yang lahir adalah seonggok bangkai yang tanpa makna.
Meminjam terminologi fikih, penulis menyampaikan bahwa IMM tanpa Muhammadiyah adalah haram. Haram adalah sesuatu yang terlarang dan harus dihindari. Itulah sebabnya, fatwa “nyasar” ini mesti dilekatkan dalam berbagai regulasi. Syahadah Darul Arqam Dasar (DAD) misalnya, tidak boleh diserahkan sebelum yang bersangkutan melibatkan diri di Muhammadiyah minimal tiga bulan, itu pun harus disertai bukti atau keterangan yang mendukung. Perlu pula dirumuskan kurikulum dan berbagai kegiatan lanjutan setelah perkaderan dasar itu, tentu materinya seputar penguatan ideologi Muhammadiyah.
Kepekaan IMM terhadap isu kebangsaan merupakan poin penting yang mesti dipertahankan. IMM merupakan check and balance (bersikap kritis dan pencipta keseimbangan). Kekuatan moral merupakan modal utama IMM. Penulis setuju, jika IMM turun ke lapangan untuk melancarkan berbagai aksi yang ditujukan untuk mengkritisi bahkan mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak adil. IMM melahirkan kualitas manusia yang peka terhadap lingkungannya. Inilah ulul albaab itu, yaitu kelompok manusia yang peka lahir dan batin.
Sebagaimana Muhammadiyah, IMM perlu memberikan kritik budaya dan politik terhadap berbagai kezaliman yang terjadi. Muhammadiyah mempelopori lahirnya judicial review untuk berbagai peraturan pemerintah yang menyembelih nyawa rakyat. IMM dalam berbagai konteks juga demikian, memberikan kritik konstruktif, misalnya, terkait dengan infrastruktur khususnya di kota Medan yang secara real centang prenang. Ruang hijau kota Medan tidak memadai, kegersangan menjadi selimut aktifitas yang dinikmati secara terpaksa, bahkan kemacetan menjadi momok tersendiri bagi para pengguna jalan. IMM dapat hadir dengan mengangkat berbagai isu tersebut, baik dalam tulisan, dialog, diskusi atau aksi turun ke jalan.
Penulis merasa sebagai orang yang selalu gagal dalam hidup ini. Dalam beberapa kesempatan kunjungan ke luar negeri, penulis tetap menyempatkan diri berkumpul dengan putera dan puteri terbaik Indonesia yang sedang mengambil gelar master dan doktor di berbagai universitas ternama. Kunjungan penulis ke Ohio State University beberapa waktu yang lalu, mengantarkan penulis bertemu dengan para peraih beasiswa Fullbright, LPDP, Dikti, dan seterusnya. Di antara mereka ada yang menetap di Amerika, namun sebagian besar harus mengabdi di tanah air. Mereka telah membuktikan diri sebagai tokoh dunia, menjadi penyangga laju dan berkembangnya peradaban modern.
Melihat kenyataan ini, ingin rasanya penulis kembali ke masa lalu, aktif di IMM sembari menambah kualitas keilmuan terutama penguasaan bahasa asing. Sepertinya penulis ditakdirkan Tuhan berhenti sampai di sini sembari menangisi kegagalan demi kegagalan untuk menjadi yang terbaik. Tentu saja ratapan ini tidak boleh berlangsung secara berkelanjutan. Ratapan seperti ini harus diamputasi segera, sembari melakukan kreasi terbaik dalam apa yang dapat penulis kerjakan saat ini.
Demikian pula perbincangan penulis dengan putera-puteri terbaik Indonesia yang kini tengah menuntut ilmu di beberapa perguruan Tinggi ternama New Zealand, mereka akan menjadi pilar jatuh dan bangunnya masa depan Indonesia selanjutnya. Penulis bermimpi bagaimana IMM dapat menjadi rumah tidak saja untuk pergerakan namun juga pemikiran ke arah itu. Kader-kader IMM tidak boleh dikungkung ego geografis, melihat dunia hanya sebatas halaman rumahnya, berebut lahan gerakan dan menjatuhkan para koleganya. Kader-kader IMM harus berdiri di gunung cita-cita, menatap panorama dunia sekaligus menjadi salah satu elemen perawatnya. Lima atau sepuluh tahun ke depan, jika ada kesempatan untuk berkunjung kembali ke luar negeri, penulis berbahagia sekali mendapat sebuah ungkapan, “aku adalah kader IMM”.
Kader-kader IMM harus berdiaspora, dimana saja dan kemana saja. Penulis berharap, konsep fantasyiruu fil ardh (bertebaranlah di muka bumi), menjadi semacam doktrin teologis IMM. Penggalan kalimat itu menyiratkan betapa kecilnya dunia. Sebab itu, terbuka gerbang yang demikian besar bagi kader-kader IMM untuk membuka dan memasukinya. Dari keinginan itulah kader-kader IMM dapat menjadi musafir pergerakan dan akademik.
Menyangkut  scope gerakan, kader IMM harus memainkan peran secara regional, nasional, bahkan internasional. Potensi ini mungkin bisa dilakukan selama kader-kader IMM merintis ke arah itu dan IMM menjadi fasilitator utama di dalamnya. IMM adalah sebuah proyek penting, yaitu proyek mewah perubahan yang dimiliki Muhammadiyah. Proyek mewah itu mensyaratkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mencukupi. Melalui IMM perubahan masyarakat minimal sebatas benihnya dapat ditumbuhkan sebaik mungkin. Demikian semoga bermanfaat. Fastabiquul khairaat.

Selasa, 28 Juni 2016

Gema Ramadhan di New Zealand



Gema Ramadhan setiap tahun menyapa kaum Muslimin, tidak saja berlangsung di tanah air, melainkan juga berlangsung di seluruh belahan dunia. Di Indonesia, gema Ramadhan begitu kental. Sejak saat-saat kedatangannya, pelaksanaannya, sampai kepada kepergiannya, mendapat atensi dan selebrasi yang besar. Dari kota-kota metropolitan sampai dusun-dusun yang terletak jauh dari keramaian, gema Ramadhan tetap terasa.
Hal ini wajar saja terjadi, mengingat Indonesia menjadi sebuah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun demikian, tidak semua negara  memberikan respons sama terhadap perjalanan Ramadhan, sebagaimana yang terjadi di New Zealand. Ramadhan di Negara mungil tapi makmur ini tanpa simbol dan selebrasi. Perjalanannya hening, sehening seseorang yang duduk dalam kesendirian namun penuh pemaknaan.
Penulis berkesempatan mengunjungi dua daerah besar di New Zealand, yaitu Auckland dan Christchurch. Fenomena di kedua daerah ini lebih kurang sama. Gema Ramadhan menjadi sebuah fenomena menarik untuk dicermati. New Zealand merupakan negara dengan sistem sekular yang menempatkan agama pada wilayah private (pribadi), namun justru kebebasan beragama dijunjung tinggi oleh negara sebagai hak dasar setiap individu.
Berangkat dari regulasi ini, kaum Muslimin bebas melaksanakan puasa Ramadhan tanpa mendapat halangan. Siapa saja yang berupaya menghalangi seseorang dalam melaksanakan ibadah puasa maka akan berhadapan dengan hukum. Hukum cukup dihormati dan dijunjung tinggi. Hal ini dapat dilihat dari sistem sosial yang tertata rapi, jauh dari kesan semrawut dan tak berperadaban. Mulai dari kebersihan, keramahan, ketaatan terhadap peraturan lalu lintas, memanjakan setiap orang yang datang ke New Zealand.
Simbol-simbol agama apa pun tidak pernah terlihat kecuali di tempat-tempat tertentu, seperti masjid dan gereja. Di gereja sendiri, lonceng kebaktian tidak pernah terdengar, sama seperti azan. Pengeras suara hanya diperbolehkan di dalam ruangan, namun tidak boleh keluar karena dapat mengganggu kenyamanan kolektif. Meskipun gereja dapat dijumpai di banyak sudut kota, namun kebaktian dilaksanakan tanpa mengganggu pihak lain.
Kultur toleransi di New Zealand terbilang tinggi. Menurut penuturan beberapa rekan penulis yang bekerja sebagai pegawai di instansi pemerintah maupun swasta, setiap orang bebas melaksanakan keyakinannya. Sebagai contoh, jika waktu berbuka puasa tiba dan bersamaan waktunya dengan jam kerja, maka bagi yang berbuka puasa diberikan waktu luang untuk berbuka puasa sampai pelaksanaan shalat maghrib. Sarana ibadah seperti musholla disediakan, meskipun tidak di setiap tempat.
Para orang Kiwi, sebutan untuk penduduk New Zealand, tidak akan sungkan membuka kantornya bagi seorang Muslim untuk melaksanakan sholat. Bahkan penulis melaksanakan sholat maghrib berjamaah di Musholla Universitas Lincoln yang memang dibangun secara khusus. Tentu di berbagai Universitas lain seperti Universitas Canterbury, Universitas Auckland, fasilitas itu mudah dijumpai.
Puasa Ramadhan pada tahun ini 1437 H./ 2016 bertepatan dengan musim dingin (winter). Dapat dibayangkan, rasa haus yang biasa meraba tenggorokan tidak begitu berpengaruh. Waktu rata-rata pelaksanaan puasa Ramadhan adalah 11 jam. Di Auckland misalnya, waktu berbuka berada pada kisaran pukul 17.15 sementara Imsak pada pukul 06.00. Waktu puasa di Christchurch 15 menit lebih cepat. Suhu rata-rata di Auckland antara 10-15 derajat celcius, sementara di Christchurch antara 4-10 derajat celcius.
Keadaan ini cukup berbeda jika Ramadhan bertepatan dengan musim panas (Summer). Selain cuaca yang agak ekstrim, puasa pada musim ini terbilang panjang. Biasanya, kaum Muslimin berbuka puasa pada pukul 21.30 dan harus bangun pada pukul 02.30 pagi untuk makan sahur. Dapat dibayangkan, betapa singkatnya malam hari yang hanya berlangsung dari pukul 21.30 sampai pukul 03.00. Di rentang waktu tersebut kaum Muslimin melaksanakan shalat Maghrib, Isya, dan Tarawih.
Di New Zealand, kaum Muslimin tidak dengan mudah dapat membeli makanan untuk berbuka puasa. Tidak seperti di Indonesia, di berbagai tempat dijumpai menu berbuka puasa yang dapat dibeli dan disesuaikan dengan selera dan kemampuan. Di negara ini, menu-menu kegemaran tidak akan ditemui kecuali disiapkan sendiri. Selain itu, status hukum makanan mesti diperhatikan secara jeli. Tak jarang menu makanan yang dijual tidak sesuai dengan syariat Islam.
Itulah sebabnya, aktifitas buka puasa bersama menjadi salah satu momen yang cukup dirindukan oleh kaum Muslimin Indonesia. Selain dapat bertukar informasi, menjalin silaturrahim, buka bersama juga dapat dipergunakan sebagai media untuk mengaktifkan kembali lidah Indonesia yang setelah sekian lama “tersandera” oleh keadaan. Penulis merasa kagum dengan salah seorang warga Indonesia yang menempuh perjalanan 250 km. hanya untuk buka puasa bersama. Selain memang beliau ingin bersilaturrahim dengan yang lain.
Di beberapa masjid seperti An-Nur di Christchurch dan Air Port Mosque di Auckland, buka puasa bersama dilaksanakan secara rutin. Biasanya panitia yang mengelola adalah kaum Muslimin India. Menu yang disajikan juga khas India. Penulis juga berkesempatan hadir di acara itu. Menariknya, umat Islam yang ikut buka puasa bersama datang dari banyak negara seperti Burma, Malaysia, Singapura, Mesir, Arab Saudi dan Bangladesh. Meskipun persoalan kebersihan dan kerapian menjadi poin penting yang harus ditingkatkan.
Masyarakat Muslim Indonesia, selain ada yang melaksanakan tarawih di masjid-masjid umum, juga menggunakan rumah-rumah mereka sebagai musholla sementara. Penulis juga diminta untuk menjadi imam sekaligus penceramah pada acara tersebut. Antusiasme mereka tinggi. Tak jarang mereka membawa anak-anak mereka untuk mengikuti sholat tarawih itu untuk menanamkan nilai-nilai keislaman. Meskipun sebagian besar dari anak-anak itu tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik.
Secara umum, masyarakat Muslim Indonesia dapat dikategorikan ke dalam beberapa varian: Pertama, citizen. Mereka merupakan warga negara tetap dan memiliki passport New Zealand. Kedua, indefinite citizen. Mereka merupakan warga negara Indonesia yang boleh tinggal di New Zealand dalam waktu yang tidak terbatas. Ketiga, permanent resident. Mereka merupakan warga negara Indonesia yang boleh tinggal di New Zealand dalam waktu lama, namun dalam waktu tertentu harus melapor ke kantor imigrasi. Jika mereka meninggalkan New Zealand selama dua tahun berturut-turut, maka haknya sebagai permanent resident akan hilang. Keempat, international setudent. Mereka tinggal di New Zealand selama masa studi. Kelima, pekerja. Mereka tinggal di New Zealand karena urusan pekerjaan.
Berbagai kategori itu lebur menjadi satu dalam banyak kesempatan, termasuk acara-acara hari besar keislaman. Hubungan emosional mereka menjadi lebih erat karena dilatarbelakangi oleh faktor ke-Indonesiaan. Dalam pembacaan penulis, paham keagamaan umat Islam Indonesia tidak tunggal. Pengaruh Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Al-Irsyad, salafy, sedikit mewarnai. Meskipun terkadang terjadi gesekan kecil, namun persaudaraan tetap terawat baik.
Ikhtiar untuk mempertahankan Islam bagi masyarakat Islam Indonesia di New Zealand perlu mendapat apresiasi dan dukungan moral. Di samping kemakmurannya, kultur free sex (sex bebas) dan minuman keras menjadi tantangan tersendiri. Seorang remaja yang sudah mencapai usia 18 tahun akan diberikan kebebasan untuk hidup bersama pasangannya tanpa ikatan perkawinan. Bahkan tidak sedikit yang sudah memiliki beberapa anak namun tetap belum melangsungkan perkawinan. Demikian pula tantangan yang disajikan minuman keras. Semuanya dianggap legal, tentu dengan peraturan tertentu.
Karena itulah, lembaga-lembaga keislaman yang dikelola oleh masyarakat Indonesia seperti Umat Muslim Indonesia (UMI) di Wellington dan Himpunan Umat Muslim Indonesia Auckland (HUMIA) di Auckland perlu mendapat atensi besar para da’i di Indonesia. Secara umum mereka haus akan siraman ruhani dan rindu kedatangan para da’i Indonesia. Kerjasama mereka dengan lembaga-lembaga seperti Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama untuk pengiriman da’i mulai dirintis.
HUMIA misalnya meminta kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) di Jakarta seorang da’i yang dapat diterbangkan ke New Zealand. Selanjutnya Pimpinan Pusat Muhammadiyah meminta lembaga pendidikan Tinggi, seperti Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), untuk mengutus da’i-nya. Penulis sendiri berangkat ke New Zealand dari UMSU atas nama PP Muhammadiyah. Kedepan diharapkan ada da’i-da’i yang melakukan aktivitas sama di New Zealand untuk memberikan pencerahan keagamaan. Demikian semoga bermanfaat.