Senin, 26 Desember 2016

Wahyu Yang Tersandera


Di sebuah gang sempit di tengah deru kendaraan bermotor dan polusi udara yang nyaris sempurna, hiduplah seorang janda tua yang miskin. Rumah yang dihuninya sungguh tidak layak. Selain tidak memenuhi standar kesehatan, rumah itu juga terletak di sebelah parit busuk. Parit itu berpredikat busuk bukan  agar mudah dikenali, namun benar-benar busuk karena aroma yang ditimbulkannya. Mulai dari limbah keluarga sampai tradisi membuang sampah sekehendak hati menjadi variabel penting kebusukan aroma parit itu.
Janda sengsara tersebut sudah beberapa tahun ditinggal mati  oleh suaminya. Ia berprofesi sebagai penarik becak tua. Anaknya terdiri dari tiga orang. Satu berkelana dan entah dimana rimbanya, satu sudah berkeluarga namun minus atensi kepada ibunya, dan satunya lagi hidup membujang dan kini mengalami depresi berat. Secara sosial, keluarga malang itu hidup dalam suasana sepi di tengah keramaian. Tak sedikit anggota masyarakat mencibir kehidupan mereka bahkan meletakkan mereka pada kasta kehidupan terendah.
Kini janda tua itu hidup sendirian menjalani hari-hari tua yang terasa semakin tak pasti. Bagaimana tidak? Salah seorang anak yang menjadi tumpuan dan harapan hidupnya tidak lagi dapat diandalkan. Sementara pada sisi lain, kurangnya asupan gizi dan penyakit berat yang dideritanya menjadi masalah tersendiri. Secara psikologis hidupnya penuh dengan tekanan, sementara secara material hidupnya penuh dengan berbagai kekurangan.
Tapi ada sebuah ironi di seputar kehidupan janda tua itu. Gubuk reot yang menjadi tempatnya bernaung terletak tidak jauh dari beberapa masjid yang terbilang mewah. Bahkan di sekitarnya juga hidup kaum Muslimin, cerdik cendekia, bahkan orang-orang kaya yang berkecukupan. Ada dua perjalanan hidup yang berlangsung di tempat itu, namun keduanya tidak berjalan beriringan, bahkan bergerak saling menjauh. Kehidupan si janda tua semakin terpuruk sementara masyarakat di sekitarnya semakin hidup mewah.
Melihat fenomena ini, nalar keagamaan kita bekerja kembali. Tidakkah agama diturunkan Allah untuk sebuah pembebasan? Tentu saja pembebasan dalam arti yang luas, misalnya bebas dari kebodohan, bebas dari kepicikan, bebas dari keterbelakangan, bebas dari penjajahan dan bebas dari kemiskinan? Mengapa terjadi kemiskinan di tengah-tengah kecukupan? Bukankah Islam adalah agama pembebasan yang peduli dengan berbagai penyakit sosial?
Tentu saja, pertanyaan-pertanyaan nakal dan menggelitik ini tidak mudah untuk dijawab. Hal ini membutuhkan pengkajian serius dan komprehensif. Meskipun demikian, penulis berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang kurang beres dalam sistem keagamaan yang dipahami atau diamalkan selama ini. Sistem keagamaan yang kurang beres ini berkonsekuensi logis pada pengamalan Islam sehari-hari. Pada tataran yang lebih jauh, hal ini akan berujung pada lahirnya citra negatif terhadap agama Islam itu sendiri.
Penjelasan yang paling sederhana dengan melihat model keislaman kaum Muslimin di lokasi tersebut. Model keislaman fikih oriented sepertinya menjadi primadona, bukan model keislaman komprehensif. Model ini bertujuan membentuk pola pikir keislaman kaum Muslimin melalui ibadah-ibadah ritual praktis yang dilaksanakan sehari-hari. Misalnya syahadat, sholat, puasa, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji. Apa dan bagaimana implementasi nilai-nilai ritual itu dalam kehidupan sehari-hari sering terabaikan.
Dengan model keislaman tersebut, standar kemuliaan seseorang diukur dari syahadat yang diucapkannya, sholat yang tidak pernah ditinggalkannya, puasa yang dikerjakannya, zakat yang dibayarkannya, dan haji yang ditunaikannya. Jika seorang Muslim melaksanakan ritual-ritual ini, maka predikatnya sebagai hamba yang religius layak disematkan. Rasa keislaman seorang Muslim dianggap sempurna melalui runtutan ritual ini.
Sampai di sini, rasa keislaman itu tidak melahirkan masalah. Masalah akan muncul ketika hal itu berhenti pada tataran ritual dan mandul untuk melahirkan pesan moral  dalam kehidupan nyata. Karena itu, sering kita lihat seorang Muslim rajin dalam melaksanakan sholat, namun hidupnya kumuh, buang sampah sembarangan, egois dan hanya mementingkan kesenangannya sendiri, serta tidak peduli dengan nasib orang lain. Menjadi Muslim sejati dirasakan cukup hanya dengan aktifitas itu.
Padahal sesungguhnya, Islam adalah agama kemanusiaan. Artinya, agama ini diturunkan Allah untuk kebahagiaan umat manusia. Menjadi seorang Muslim berarti menjadi orang yang memiliki komitmen kuat untuk mengangkat harkat dan martabat nilai-nilai kemanusiaan. Sejauh yang penulis pahami, semua ajaran Islam yang terkandung dalam Alquran maupun As-Sunnah bermuara untuk kemaslahatan umat manusia.
Disinilah letak kesucian Islam itu. Kesucian Islam tidak lepas dari konteks kehidupan. Kesuciannya justru melekat erat dengan kehidupan. Dimana ada permasalahan dalam kehidupan, nilai-nilai luhur Islam mesti hadir di tempat itu. Kesucian Islam itu mengintegrasikan dua hal yang padu, yaitu; teks dan konteks, atau nilai-nilai normatif sebagai panduan dan nilai-nilai praktis sebagai implementasi. Kesucian Islam ternodai ketika ajaran-ajarannya tumpul dan lumpuh menghadapi dinamika persoalan di masyarakat. Inilah yang sekarang menjadi fenomena menyedihkan.
Jika dicermati model ideal keislaman versi Rasulullah, maka kehadirannya merupakan titik balik perubahan dari sistem kehidupan yang merendahkan harkat dan martabat manusia menuju pembebasan yang mencerahkan. Di antara jasa besar Rasulullah adalah ikhtiar kemanusiaan yang dilakukannya secara sistemik. Padahal sebelumnya nilai-nilai kemanusiaan ditentukan oleh hegemoni kekuasaan dan kapitalisasi ekonomi.  Dari lisannya yang suci terlontar kalimat-kalimat yang tak usang hingga kini, misalnya; jadilah tokoh-tokoh perdamaian, hilangkanlah rasa lapar, eratkan hubungan silaturrahim.
Wahyu di tangan Rasulullah ditransfomasikan dalam segala lini kehidupan, baik dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Wahyu begitu hidup. Wahyu tidak berhenti pada tataran hapalan apa lagi membatu yang hanya terletak di hati. Wahyu bagi Rasulullah adalah nyawa dan dinamisator peradaban. Ia membumi dan dirasakan oleh manusia tanpa memandang latar belakang keimanan dan status sosial. Pemahaman dan semangat seperti ini seharusnya menjadi bahan renungan dan nafas berbagai perubahan di masyarakat.
Mulai dari persaksian syahadat sampai pelaksanaan ibadah haji, Rasulullah menjadikan nilai-nilai kemanusiaan sebagai ending target (target akhir). Ukuran kemuliaan manusia sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah terletak pada kematangan setiap pribadi Muslim dalam merawat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Penistaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan secara substantif sama artinya  dengan mencederai tujuan syahadat sampai pelaksanaan ibadah haji.
Umat Islam kini lupa jika terdapat seorang Muslim yang masih kelaparan di tengah kecukupan harta saudara-saudaranya, itu sama artinya menistakan kesucian dan kemuliaan Islam. Untuk masalah argumen teologis, baik dari Alquran maupun As-Sunnah, tidak perlu diragukan lagi. Islam sudah mengatur itu secara eksplisit baik berbentuk semangat atau tuntunan praktis. Namun umat Islam kerap gagal membawanya dalam prilaku. Pada konteks ini wahyu menjadi tersandera. Semestinya wahyu turun dari langit untuk membebaskan manusia, namun kini dominan untuk urusan ritual.
Gubuk reot tempat berteduh janda tua itu setiap waktu disinggahi gema suara azan. Namun suara itu tidak serta merta dapat menghapus duka dan lara  serta kekurangan makanan di rumahnya. Masjid semestinya menjadi media penghubung dan waduk kesadaran religius dan sosial umat Islam. Berbagai persoalan dibahas dan dicarikan jalan keluarnya termasuk persoalan janda tua itu. Masjid juga bukan sarana yang bertujuan mensucikan Allah secara tekstual dan teritorial, melainkan tempat untuk mentabulasi berbagai persoalan keumatan.
Kasus menyedihkan janda tua itu sebenarnya tak perlu terjadi. Umat Islam dapat bahu membahu mengatasi berbagai kesulitannya, apakah secara konsumtif maupun produktif. Kunci-kunci surga sebenarnya dapat dicari di berbagai tempat, salah satunya dengan membantu orang yang kelaparan. Penulis yakin, jika seorang Muslim turun tangan membantu kesusahan janda tua itu, Allah tidak akan membalasnya dengan apa pun kecuali surga. Dengan cara ini wahyu menjadi hidup dan tidak lagi tersandera.

Kamis, 08 Desember 2016

Tukang Bubur Mendamba Surga



Berguru tidak harus melalui pendidikan formal. Aktifitas tersebut dapat saja dilakukan di berbagai tempat dan kepada siapa saja. Yang terpenting tentu adalah ibrah (pelajaran) yang dapat dipetik dan semangat yang dapat dikontekstualisasikan dalam aktifitas nyata. Seperti diungkapkan lewat penggalan kalimat berikut: “Alam terkembang menjadi guru”, mengisyaratkan betapa berbagai aktifitas yang terbentang di dalam kehidupan dapat menjadi laboratorium pembelajaran.
Demikian pula dengan aktifitas yang penulis saksikan secara langsung. Suatu ketika, dalam perjalanan menuju ke sebuah tempat, penulis melihat seorang ibu mengayuh sepedanya dengan sedikit kencang. Tanpa asumsi apa pun kepadanya, tiba-tiba ia mendekat ke sebuah kotak infak yang berukuran agak besar di depan sebuah masjid lalu melemparkan beberapa lembar rupiah ke dalamnya.
Aktifitas aneh tersebut membuat penulis terkejut. Dilatarbelakangi rasa ingin tahu yang besar, penulis mencoba mengejar sepeda yang dikayuh ibu itu. Batin penulis bergetar ketika memandang gerobak kecil berwarna biru yang ia bawa bertuliskan sebuah kata singkat, “Bubur”. Penulis berusaha untuk melihat lebih cermat lagi, gerobak tersebut sudah usang dan memiliki warna yang sudah pudar. Batin penulis bergejolak, bagaimana mungkin seorang pedagang kecil seperti ibu itu, dengan pendapatan yang kecil pula, namun masih bersedekah untuk kepentingan publik?
Di sepanjang jalan, nalar penulis terpaksa mengembara sembari mencari jawaban atas fenomena yang baru saja terjadi. Semestinya, seorang pedagang kecil jika ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa tergantung kepada orang lain, tentu hal itu sudah dikatakan cukup. Sesuatu dapat dikatakan luar biasa jika dengan volume ekonomi serba terbatas namun ia masih bisa berbagi kepada orang lain. Setidaknya dalam analisa yang paling sederhana, itulah alas pikir untuk memotret aktifitas ibu tersebut.
Jika Alquran ditelisik lebih jernih dan mendalam, akan dijumpai beragam ajakan yang ditawarkan oleh Allah untuk mengerjakan kebajikan. Kebajikan sesungguhnya tidak tunggal. Ia amat beragam dan dapat termanifestasi ke dalam banyak aktifitas. Uniknya, aktifitas yang dikenal dengan kebajikan tersebut dapat dilakukan oleh siapa pun tanpa dilatarbelakangi deretan status sosial. Penghilangan status sosial diganti oleh Allah dengan kategorisasi komunitas. Komunitas mengisyaratkan kualitas dan bukan berdasarkan status sosial.
Dalam kalimat “yaa ayyuhalladziina aamanuu/ hai kaum yang beriman”, Allah menyeru komunitas beriman. Komunitas tersebut dianggap sanggup dan siap secara material dan spiritual untuk memenuhi panggilan Allah. Itulah sebabnya, komunitas beriman dapat saja muncul dari kalangan marginal, yaitu kelompok manusia yang kerap dianggap terpinggirkan dan tidak penting dalam siklus kehidupan. Namun demikian, rasa dan kualitas keagamaan kaum marginal belum tentu sama marginalnya dengan status yang mereka sandang.
Apa yang dilakukan ibu penjual bubur itu menunjukkan kualitas dan rasa keagamaan yang sudah matang (matured religiosity). Rasa keagamaan seperti itu ditandai dengan memudarnya egoisme individual yang kemudian mewujud ke dalam atensi komunal. Batin orang dengan rasa keagamaan yang sudah matang akan meronta jika ia tidak dilibatkan dalam banyak kebajikan dan hasratnya untuk berbuat baik terhalangi.  Berangkat dari rasa keagamaan yang sudah matang, ibu penjual bubur itu rela melakukan sesuatu yang menurut ukuran orang banyak terasa berat.
Pada konteks lain, ada yang disebut optimisme teleologis. Seseorang  terpanggil untuk melakukan kebajikan karena yakin bahwa apa yang dilakukannya akan berbuah yang kelak dinikmati di akhirat. Keyakinan seperti ini mengantarkan seseorang berpikir jauh ke depan, melampaui kekinian dan kedisinian. Seseorang dengan pendidikan rendah pun dapat saja memiliki keyakinan seperti ini, karena keyakinan memang merupakan profound emotion (rasa terdalam) dan menjadi basis setiap agama. Sebab itu, keyakinan sering melahirkan berbagai aktifitas yang sulit dijangkau nalar.
Kini jika dilihat, betapa banyak orang dengan tingkat pendidikan  formal yang  rendah namun menghasilkan karya besar dan menggelegar. Bahkan karya-karya tersebut menembus batas-batas generasi dan dapat menyelamatkan banyak kehidupan. Mereka akrab dan dekat dengan dinamika sosial serta dapat memecahkan persoalan di masyarakat. Sosok-sosok seperti Mbah Sadiman sang penyelamat lingkungan atau M. Saleh Yusuf, sopir truk yang mampu membangun sekolah untuk masyarakat, menjadi cermin hidup untuk semua.
Sebaliknya juga demikian, seseorang dengan predikat tertinggi dalam dunia pendidikan tak sedikit yang seringkali merasa terasing dengan lingkungannya dan tak dapat berbuat banyak, kecuali untuk kepentingan dirinya saja. Bahkan tak jarang yang kemudian menjadi sampah masyarakat dan aktor utama terjadinya keresahan sosial. Para terpidana kasus korupsi dapat menjadi sampel nyata untuk hal ini. Gelar akademik dan keagamaan yang mereka sandang tidak berbanding lurus dengan sikap dewasa dalam beragama. Pada akhirnya semua berujung dengan petaka.
Dambaan ibu penjual bubur itu untuk meraih surga tidak berlebihan. Allah secara eksplisit memaparkan bahwa surga amat luas, bahkan diibaratkan seluas langit dan bumi. Potensi untuk masuk ke dalamnya tidak ditentukan oleh jaringan sosial yang luas, jabatan yang tinggi, gelar akademik yang beraneka ragam, nama yang masyhur, maupun harta yang berlimpah. Allah menentukan kualifikasi tersendiri, yaitu rutinitas mengeluarkan infak, pengendalian diri dengan baik, dan memberi maaf kepada orang lain.
Kualifikasi yang ditentukan Allah itu memang secara literal terbilang gampang dan hampir dapat dilakukan banyak orang. Namun ketika kualifikasi tersebut sampai pada tataran implementasi maka berbagai persoalan sering muncul, termasuk menguatnya virus kebakhilan. Inilah yang menyebabkan potensi untuk masuk ke dalam surga menjadi terhambat. Tidak demikian halnya dengan ibu penjual bubur itu. Dengan mengayuh sepeda, ia dengan mantap memenuhi salah satu persyaratan yang ditetapkan Allah, yaitu berbagi kepada sesama.
Berbagi kepada sesama selain sebagai salah satu bentuk kebajikan juga dianggap bagian dari jihad. Pada konteks ini menjadi lebih menarik, mengingat jihad tidak mesti selalu diartikan dengan menghunus pedang di tangan untuk menghadapi musuh-musuh Islam. Jihad dalam arti universal adalah memberikan sesuatu yang positif untuk kepentingan bersama, termasuk menghilangkan rasa lapar, berpartisipasi mendirikan rumah ibadah, merawat lingkungan, atau mentaati rambu-rambu lalu lintas. Bagi penulis sendiri, jihad bermuara pada terwujudnya sebuah peradaban asri yang bersifat universal dan inklusif untuk manusia dan bermanfaat bagi semua kehidupan.
Apa yang dilakukan ibu penjual bubur itu pada sisi tertentu dapat digunakan sebagai kritik sosial terhadap orang-orang yang menistakan agama (insulting of religion). Sebatas yang sering dipahami bahwa para penista agama adalah orang-orang yang dengan sengaja menghina elemen-elemen yang dianggap suci dalam sebuah agama, seperti kitab suci, rumah ibadah dan sebagainya. Penistaan agama dapat pula dikategorikan orang-orang yang memiliki kemampuan namun enggan melakukan kebajikan di ruang-ruang publik. Padahal kebajikan tersebut tertera di dalam kitab suci.
Membela Islam merupakan tindakan luhur dan terpuji. Membela Islam tidak selalu diekspresikan dengan teriakan Allahu Akbar di berbagai tempat. Dalam penterjemahan yang lebih luas dan dinamis, membela Islam dapat diwujudkan ke dalam berbagai aktifitas sosial. Aktifitas tersebut tidak mesti ditujukan untuk mengawal elemen-elemen yang diyakini sebagai sesuatu yang suci di dalam Islam.

Mengawal Islam dapat dilihat dari kecakapan umat Islam membawa doktrin-doktrin Islam yang bersifat suci ke tataran sejarah, ke dalam perilaku individual maupun kelompok, sehingga umat manusia benar-benar merasakan kehadiran Islam tersebut. Watak Islam sebagai diinurrahmah (agama rahmat) dapat dirasakan berbagai pihak. Jika kita ingin melihat salah satu aksi bela Islam dalam konteks sederhana, lihatlah ibu penjual bubur itu. Wallaahu a’lam.

Selasa, 20 September 2016

Nabi Para Pecinta Lingkungan



Nabi dalam tulisan ini bukan sosok manusia suci yang mendapatkan wahyu dari Allah dan dilengkapi berbagai mukjizat.  Tentunya, dalam konteks kekinian, nabi dalam pengertian itu sudah final sejak diutusnya Rasulullah  Muhammad SAW. sebagai utusan Allah yang terakhir. Sebagaimana makna dasarnya dan dalam perspektif yang paling sederhana, nabi dalam tulisan ini merupakan sebuah perspektif sosial bagi orang yang membawa berita baru, memberikan pencerahan, dan tentu saja melakukan perubahan yang berdampak pada kesejahteraan publik.
Adalah Mbah Sadiman, sosok sederhana dari Wonogiri Jawa Tengah yang menurut penulis layak diberikan predikat sebagai nabi. Secara spesifik adalah nabi para pencinta lingkungan. Bagaimana tidak? Di tengah terjadinya konflik antara manusia dengan alam, Mbah Sadiman tampil sebagai sosok penengah dan agen perdamaian di kedua belah pihak. Mbah Sadiman melihat, relasi yang memburuk antara manusia dengan alam berkonsekuensi negatif pada kedua pihak, alam semakin rusak dan ketentraman manusia menjadi terusik.
Dalam pandangan Mbah Sadiman, alam di sekelilingnya berubah secara tidak wajar. Misalnya, debit sumber mata air di kampungnya berkurang, dan ada juga yang mengalami kekeringan. Padahal, sumber mata air tersebut merupakan pilar kehidupan bagi masyarakat setempat. Selain itu, Mbah Sadiman merasakan perubahan cuaca yang terjadi secara perlahan namun pasti, dari dingin ke panas. Setelah diketahui ternyata penyebabnya adalah karena kebakaran hutan dan illegal lodging (penebangan hutan secara liar).
Fakta getir itu mengusik kesadaran sekaligus menuntut tanggung jawab sosial Mbah Sadiman. Ia bertekad keras agar bagaimana debit mata air kembali seperti semula dan hutan menjadi hijau kembali. Mbah Sadiman mengambil langkah konkrit dengan cara menanami areal yang gundul dengan bibit pohon beringin. Uniknya, bibit pohon beringin itu ia beli dengan uang pribadinya atau barter dengan bibit cengkeh yang sudah ia persiapkan.
Ikhtiar Mbah Sadiman untuk merawat alam dan mengeliminir konflik manusia dengan alam dilakukan sendirian tanpa diketahui keluarganya. Wilayah kerja Mbah Sadiman juga tidak kecil. Ia menanami areal yang gundul seluas lebih daripada 100 hektar. Usianya yang sudah mencapai 65 tahun tidak melunturkan semangatnya untuk  memberikan yang terbaik bagi bagi alam, manusia dan generasi setelahnya. Dengan memori yang tak pasti, Mbah Sadiman menuturkan bahwa ia melakukan itu sudah lebih daripada 20 tahun dan sekitar 20.000 tanaman beringin telah ia tancapkan.
Usaha Mbah Sadiman membuahkan hasil. Pohon-pohon yang ia tanam dapat mengikat air dengan baik. Hal itu ditandai dengan debit air yang bertambah dan hutan yang semula gersang menjadi hijau kembali. Masyarakat dapat menikmati hasil dari penghijauan yang dilakukan Mbah Sadiman, termasuk orang-orang yang semula mencerca dan menghalangi aktivitas sosialnya.
Di tengah tradisi pragmatisme dan oportunisme, aktifitas mulia Mbah Sadiman seperti lentera kecil penunjuk jalan. Yaitu jalan yang mesti dilalui oleh banyak orang jika ingin hidup damai dan jauh dari bencana. Dari konteks pendidikan yang dimiliki, Mbah Sadiman bukanlah sarjana yang di belakang namanya tersusun berbagai  titel akademik. Mbah Sadiman lebih tepat disebut sebagai sarjana alam. Almamater yang mendidiknya adalah lingkungan sekitarnya. Boleh jadi dosen-dosennya tempat ia menimba ilmu adalah sungai, air, batu, maupun pepohonan. 
Mbah Sadiman juga bekerja bukan karena skenario untuk mendapatkan status tinggi di masyarakat. Ia juga tak pernah mengharapkan sorotan kamera agar berbagai komunitas memberikan apresiasi kepadanya. Mbah Sadiman jauh dari tujuan pragmatis dan oportunis itu. Ia bekerja karena dilandasi dua hal, yaitu ikhlas dan sabar. Kedua sifat tersebut mudah sekali dikaji dan diucapkan, namun tak sedikit yang gagal membawanya ke arena kehidupan nyata.
Menurut para ulama, landasan berbagai aktifitas yang dilakukan manusia adalah ikhlas. Bahkan di dalam Alquran dijelaskan bahwa ikhlas menjadi dasar utama dalam menjalankan Islam. Secara semantik, ikhlas terambil dari akar kata bahasa Arab, akhlasha, yukhlishu, ikhlaasha. Kata tersebut bermakna murni, bersih, jernih dan tidak terkontaminasi. Memang demikian, Mbah Sadiman menanami hutan yang gundul karena kemurnian, kebersihan dan kejernihan hati, serta yang ia lakukan tidak terkontaminasi dengan berbagai kepentingan.
Selain ikhlas, sifat sabar menjadi penentu keberhasilan usahanya dalam merawat alam. Sabar juga bukan merupakan sesuatu yang sederhana dan dapat dilakukan setiap orang dengan mudah. Sabar adalah sifat yang menuntut perjuangan. Sebagaimana ikhlas, sabar terambil dari akar kata bahasa Arab yang memiliki arti, pengendalian, kokoh seperti batu karang dan tempat yang tinggi. Sepintas memang ketiga arti ini tidak saling terkait. Namun jika ditelisik dengan cermat, ketiga arti sabar ternyata saling mendukung dan seperti tahapan yang bersifat integratif.
Orang yang dapat mengendalikan dirinya secara baik melalui berbagai macam aktifitas, dan itu dilakukan secara konsisten seperti batu karang di lautan, maka suatu ketika orang tersebut akan menempati posisi yang mulia atau tinggi, baik di hadapan manusia, maupun di hadapan Allah. Tiga tahapan dalam sabar tersebut telah dilalui Mbah Sadiman. Yang pertama tentunya aktifitas menanam pohon. Hal tersebut ia lakukan secara konsisten, berkelanjutan dan kokoh, sekokoh batu karang di lautan. Akhirnya apa yang dilakukan Mbah Sadiman mendapatkan apresiasi tinggi di masyarakat, tentunya di hadapan Allah.
Sosok Mbah Sadiman dapat dikategorisasikan sebagai abundant personality (pribadi yang melimpah). Abundant personality ditandai dengan rasa cukup terhadap apa yang dimiliki dan kecenderungan untuk berbuat baik bagi kepentingan bersama. Secara faktual demikian adanya. Pendapatan Mbah Sadiman terbilang hanya dapat untuk mencukupi kehidupan istri dan dirinya. Namun di sisi lain ia masih dapat menyisihkan uangnya untuk membeli bibit tanaman beringin sebagai material penghijauan. Abundant personality berdiri di atas keyakinan, “apa yang dapat saya berikan untuk orang lain, bukan sebaliknya, apa yang dapat diberikan orang lain untuk saya”.
Boleh jadi, Mbah Sadiman secara fisikal kerap merasakan lapar, namun secara spiritual ia merasa kenyang. Ini menarik untuk dicermati lebih komprehensif lagi. Dalam kehidupan seperti sekarang ini tidak sedikit orang yang secara fisikal sebenarnya sudah kenyang namun spiritualnya masih merasa lapar. Illegal lodging penulis amati terjadi karena hal tersebut. Demikian pula dengan malapetaka korupsi yang akhir-akhir ini dianggap makruf (hal yang biasa). Aktifitas biadab tersebut bukan disebabkan karena pelakunya lapar secara fisikal, namun karena spiritualnyalah yang lapar.
Meskipun tidak disadarinya, Mbah Sadiman sebenarnya memberikan kritik  sosial kepada masyarakat luas. Bahwa pendidikan dan deretan titel bukan merupakan variabel penentu bermanfaatnya eksistensi seseorang atau pun tidak. Tanpa titel sekalipun, seperti Mbah Sadiman, berbagai kebajikan sosial dapat dilakukan. Bahkan betapa banyak orang yang dapat mengabdikan dirinya dengan tulus di masyarakat tanpa terlebih dahulu mengecap pendidikan tinggi. Inilah manusia terbaik seperti yang disinggung Rasulullah, yaitu orang yang dapat memberikan manfaat untuk sesama.
Justru sebaliknya, dihadapan kita sering disodorkan berbagai kejahatan di masyarakat, dan pelakunya adalah orang-orang yang pernah mengecap pendidikan tinggi. Secara nasional misalnya, para koruptor yang kini berhasil “membangun” atmosfir korupsi di negeri ini, hampir keseluruhannya pernah belajar di perguruan tinggi. Yang lebih miris lagi, khusus penganut Islam, tidak sedikit yang pernah menunaikan ibadah haji. Dalam hal ini, pendidikan tinggi dan haji tak lebih daripada predikat semu yang menyebabkan lahirnya derita kolektif di masyarakat.
Mbah Sadiman sudah menunjukkan, bahwa orang yang sering dianggap sebagai manusia biasa ternyata memiliki pemikiran dan aktifitas yang sangat luar biasa. Visi Mbah Sadiman juga jauh ke depan, menembus kabut kepentingan pribadi. Ia ingin mewariskan alam dalam keadaan damai dan tentram. Ia juga menginginkan generasi yang hidup pada masa belakangan dapat bersahabat dengan alam sebagaimana yang sudah dicontohkan generasi sebelumnya.
Ketika jutaan kaum Muslimin mendekatkan diri kepada Allah lewat zikir berjamaah, antri naik haji dengan sanjung dan puji, berlomba-lomba membeli hewan kurban, Mbah Sadiman keluar dari perangkap ritual itu. Ia mendekatkan diri kepada Allah dengan merawat lingkungan yang rusak. Getaran manfaat yang dilakukannya bukan untuk ia saja, namun untuk semua. Bagi penulis, tidaklah berlebihan jika Mbah Sadiman disebut sebagai nabi, yaitu nabi para pencinta lingkungan. Wallaahu a’lam.





Selasa, 12 Juli 2016

Kesan-Kesan Inspiratif dari New Zealand




Tulisan ini tentu tidak dapat merepresentasikan kondisi objektif New Zealand (NZ) dan berbagai dinamika masyarakat yang ada di dalamnya. Tulisan ini hanya merupakan kesan yang penulis tuangkan untuk menjadi catatan-catatan sederhana selama berada di New Zealand dalam waktu yang demikian singkat. Muara dari tulisan ini tentu saja munculnya pelajaran berharga yang dapat ditransformasikan dalam berbagai konteks.

Kecintaan terhadap Alam
Alam NZ dikenal karena panoramanya yang demikian indah. Mulai dari jumlah penduduk yang tidak begitu padat, hanya 4.5 juta, sampai hamparan padang rumput yang terbentang indah. Masyarakat NZ terbiasa hidup berdasarkan aturan yang telah menjadi kesepakatan bersama, tentu muara dari peraturan yang ketat itu kembali untuk kepentingan masyarakat NZ sendiri. Berbagai pelanggaran terhadap aturan akan berujung pada denda. Namun denda yang dimasukkan ke dalam kas negara, penggunaannya untuk kemaslahatan masyarakat itu sendiri.
Kecintaan masyarakat NZ terhadap alam cukup tinggi. Satu ketika, penulis mengunjungi sebuah tempat wisata di kota Auckland, ada sebuah cerita menarik yang  penulis dapatkan dari kunjungan tersebut. Penulis melihat ada sebatang pohon yang tumbang secara alamiah karena alasan sudah tua atau gejala alam. Hal tersebut menjadi sebuah musibah yang menyedihkan dan dirasakan seperti seperti kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Beberapa hari setelah pohon itu tumbang, berbagai ucapan belasungkawa dapat dibaca dilokasi tersebut.
Perlakuan mereka terhadap pohon sama seperti mereka memperlakukan manusia. Pohon dianggap sebagai anggota masyarakat yang haknya sama dengan manusia. Masyarakat NZ merasa memiliki tanggung jawab untuk merawat alam. Itulah sebabnya, jarang terdengar ada aktifitas penebangan hutan secara liar. Selain karena kesadaran masyarakat yang sudah matang, denda terhadap aktifitas menebang hutan sembarangan amat tinggi, boleh jadi bernilai puluhan juta rupiah.

Perlakuan terhadap Hewan
Penulis juga menyaksikan kecintaan masyarakat NZ terhadap hewan peliharaan seperti anjing, kucing, kuda dan sebagainya.  Anjing misalnya, merupakan hewan peliharaan yang sangat digemari. Selain karena kecerdasannya, anjing dapat menjadi teman di kala sepi. Ada sebuah keyakinan unik, seorang anak di NZ akan meninggalkan orang tua mereka ketika menginjak usia dewasa. Sementara anjing tidak akan pernah meninggalkan tuannya. Sebab itulah masyarakat NZ memperlakukan anjing layaknya anak mereka sendiri. Mereka kerap mengajak anjing peliharaan mereka untuk menghirup udara segar ke alam terbuka. Bahkan ada satu hal ekstrim menurut pandangan penulis, ada seekor anjing yang mendapatkan hak warisan setelah tuannya meninggal dunia. Ini mungkin kasus langka yang jarang ditemui di tempat lain.
Pernah satu ketika, seekor kucing memanjat sebuah pohon, namun kemudian kucing itu kesulitan untuk turun. Kasus tersebut dilaporkan kepada pemerintah setempat. Dalam waktu yang tidak begitu lama turun bantuan penyelamatan. Tim penyelamatan yang diturunkan terdiri dari kepolisian, dinas pemadam kebakaran dan dokter hewan. Untuk menyelamatkan hidup seekor kucing persis seperti penyelamatan seorang manusia yang sedang mengalami persoalan serius.
Merawat hewan peliharaan di NZ terbilang tidak murah. Mulai dari perawatan kesehatannya sampai aktifitas memandikannya. Informasi yang penulis dapatkan, ada seorang pemilik hewan peliharaan yang dijebloskan ke dalam penjara dikarenakan meninggalkan kuda peliharaannya untuk liburan. Padahal, pemiliknya sudah mempersiapkan makanan untuk kuda itu. Namun salah seorang tetangganya melaporkan jika si pemilik kuda tersebut membiarkannya.

Fasilitas Umum
Fasilitas umum yang disediakan pemerintah benar-benar memanjakan masyarakatnya. Di fasilitas umum disediakan tempat bermain untuk anak-anak layaknya taman kanak kanak yang ada di Indonesia, tempat untuk membaca, lapangan basket ball, barbeque (tempat untuk membakar ikan), lahan hijau yang menyejukkan mata. Semuanya terawat dengan baik. Rasa haus di NZ tidak perlu dikhawatirkan karena air keran di NZ dapat di konsumsi secara langsung, meskipun tidak disemua tempat demikian. Namun secara umum, air di NZ layak untuk dikonsumsi tanpa harus dimasak terlebih dulu.
Fasilitas umum ini tidak saja dijumpai di kota-kota besar, di berbagai daerah fasilitas umum juga tersedia secara baik dan merata. Di satu tempat ada sebuah rumah yang jaraknya puluhan kilometer dari kota, namun rumah itu mendapat aliran listrik sebagaimana yang dialirkan di kota-kota besar. Menurut masyarakat NZ, itu adalah hak warga negara yang mesti diberikan tanpa terkecuali. Fasilitas umum seperti toilet juga disiapkan pemerintah di puncak gunung, padahal tempat itu jarang dikunjungi. Pemerintah mempertimbangkan, lebih baik berkorban toilet daripada masyarakat mengotori lingkungan. Membersihkan lingkungan kotor membutuhkan biaya yang lebih besar daripada sekedar menyiapkan toilet.

 Pajak yang Tinggi
Gaji masyarakat NZ dipotong oleh pemerintah, besarannya tergantung pada jenis pekerjaan yang dilakoni. Boleh jadi mulai dari 20 persen sampai 30 persen dari pendapatan. Menariknya, aturan itu dipatuhi dengan baik. Masyarakat sadar, pemotongan itu akan dikembalikan penggunaannya untuk masyarakat. Misalnya untuk membangun infrastruktur seperti jalan, rambu-rambu lalu lintas, perawatan fasilitas umum.

Dukungan untuk Pendidikan
Pendidikan di NZ mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas digratiskan. Model pendidikan untuk sekolah dasar cukup sederhana. Kurikulum yang disusun hanya untuk mata pelajaran tertentu seperti matematika, menggambar, mengarang, dan membaca. Para siswa tidak dijejali dengan berbagai mata pelajaran yang memberatkan. Itulah sebabnya siswa siswi di sekolah NZ merasa rugi jika tidak ke sekolah. Karena di sekolah mereka bermain (having fun). Selain itu, para guru lebih cenderung memotifasi ketimbang memfonis. Ungkapan seperti, fantastic (luar biasa), excellent (sempurna), very good (sangat baik), menjadi santapan sehari-hari.
Seseorang yang ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi seringkali terbentur persoalan finansial. Pemerintah NZ menyediakan pinjaman dana (loan) untuk calon mahasiswa yang akan melanjutkan pendidikan tinggi. Pengembaliannya dapat dicicil ketika mereka sudah tamat dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Untuk sarana transportasi, masyarakat NZ lebih memilih memiliki kendaraan pribadi daripada menggunakan transportasi publik. Meskipun disiapkan, transportasi publik seperti bus dan kereta masih terbilang tidak begitu banyak.

Respons terhadap Pengangguran
Para pengangguran dapat santunan dari pemerintah. Inilah cerminan masyarakat yang sudah makmur. NZ bukan negara kaya, namun pembangunan dirasakan secara merata. Tingkat korupsi terbilang sangat rendah. Status pejabat publik dan masyarakat biasa hampir sama. Mobil mudah sekali dibeli karena harganya murah. Banyak mahasiswa Indonesia (S.2 dan S.3) yang dapat membeli mobil-mobil, tak jarang yang mewah. Sepeda motor jarang penulis jumpai, harganya juga murah. Harga sepeda motor lebih murah dibanding dengan sepeda. Mengayuh sepeda ke kantor atau ke tempat tertentu menjadi aktifitas bergengsi. Sebab masyarakat NZ mengutamakan kesehatan.
Di NZ, penulis tidak menjumpai petugas parkir. Masing-masing pemilik kendaraan memasukkan beberapa koin ke sebuah tempat yang disediakan di pinggir jalan untuk pembayaran parkir. Parkir juga tidak boleh dilakukan sembarangan. Sebab jika parkir dilakukan sembarangan akan ditindak oleh petugas melalui towing (menderek) mobil tersebut ke kantor pemerintah yang menangani towing. Dendanya amat mahal, sekitar 200 NZD (dua juta rupiah atau lebih). Itulah sebabnya, posisi mobil yang parkir sangat rapi dan tertata.
Rambu-rambu lalu lintas di NZ ditaati dengan baik. Tidak semua persimpangan terdapat lampu lalu lintas, namun para pengguna jalan cukup melihat garis-garis lalu lintas yang diatur sedemikian rupa, maka kendaraan berjalan dengan rapi dan terarah. Suara horn (klakson) kendaraan jarang sekali terdengar. Para pengguna jalan merasa nyaman, selain karena jalanan yang mulus tapi juga para pengguna jalan yang kerap mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Beberapa kali penulis melihat para pengguna jalan mempersilahkan yang lain untuk lewat terlebih dahulu. Tidak ada yang saling menyerobot.

Atensi terhadap Kesehatan
Biaya perobatan di NZ sangat mahal. Namun pemerintah menyiapkan fasilitas rumah sakit secara gratis untuk masyarakat. Dokter yang menangani pasien juga sangat profesional dan bertanggung jawab. Dokter-dokter tidak akan membiarkan pasiennya kecuali pasien tersebut sudah sembuh dari penyakit yang dideritanya. Menariknya, dokter-dokter dapat dibooking berdasarkan keinginan. Misalnya, jika seseorang menginginkan dokter pria atau wanita maka pihak rumah sakit akan menyediakan sesuai dengan pilihan pasien.

Kejujuran yang Membudaya
Di NZ juga tersedia super market tanpa penjaga. Pembeli dibebaskan untuk membeli barang pilihan sesuai keinginannya. Namun demikian, setelah barang-barang dibeli, maka pembayarannya cukup mempergunakan komputer yang sudah diprogram. Tingkat kejujuran di NZ terbilang tinggi. Belum pernah terjadi manipulasi belanjaan di super market tanpa pengawas itu.
Penulis mendapatkan informasi bahwa seseorang tidak merasa berat melakukan sesuatu untuk orang lain meskipun mengeluarkan biasa. Sebagai contoh, salah seorang sahabat penulis membayar rekening listrik, tanpa disadari kwitansi bukti pembayaraan tercecer. Seorang warga NZ menemukannya dan mengirimkan kwitansi itu melalui kantor pos ke alamat rumah teman penulis. Selain persoalan waktu, aktifitas itu mengeluarkan biaya minimal untuk membeli sebuah perangko.
Rumah-rumah masyarakat tidak ada yang mempergunakan teralis, semuanya kaca biasa tanpa adanya pengaman tambahan. Namun demikian, belum pernah terjadi pencurian yang membobol rumah masyarakat. Tentu saja, kriminalitas pasti ada namun volumenya amat kecil dan dapat dihitung jari. Rumah-rumah cukup ramah lingkungan, sebagian besar terdiri dari kayu-kayu yang kuat dan tahan lama.

Kritik untuk Beberapa Budaya
Meski demikian, terdapat tradisi di NZ yang bertentangan dengan tradisi di Indonesia terutama jika dilihat dari perspektif agama. Misalnya gaya hidup free sex, seorang remaja yang sudah menginjak usia 18 tahun dibebaskan untuk tinggal bersama dengan pasangannya tanpa diikat pernikahan. Bahkan ada orang tua yang merasa bahagia ditinggal oleh anaknya, karena boleh jadi selama ini menjadi beban finansial dalam keluarga. Budaya minuman keras (liquor) juga demikian, memiliki dasar hukum. Selain itu, NZ termasuk negara yang mendukung eksisitensi LGBT (lesbian, gay, bi seksual dan trans gender). Meskipun demikian, hak-hak individual tetap dihormati dan dijunjung tinggi. Seseorang akan berurusan dengan hukum jika memaksakan minuman keras atau LGBT kepada orang lain.

Inilah diantara berbagai hal yang harus ditolak. Bersikap kritis bukan berarti menolak semua atau menerima semua, namun sebuah kecerdasan untuk menjaring mana yang baik dan tidak baik. Para pembaca yang dirahmati Allah, inilah setidaknya kesan-kesan yang dapat penulis tuangkan untuk menjadi pelajaran kita bersama. Demikian, semoga bermanfaat.