Sabtu, 10 November 2018

Islam Berkemajuan



Perbincangan akademik seputar Islam akan selalu menarik. Agama ini diperbincangkan bukan saja karena memiliki populasi pengikut terbesar di Indonesia, tapi juga karena melahirkan beragam manifestasi keislaman. Berbagai wacana diperdebatkan secara kreatif. Tak terkecuali formulasi pemikiran  yang dikenal “Islam Berkemajuan”, menjadi perbincangan hangat. Konsekuensinya, banyak karya akademik lahir karena merespons formulasi itu.

Membaca Islam
Sebagaimana dipahami, Islam terambil dari bahasa Arab, aslama. Bagi sebagian kalangan, karena berasal dari bahasa Arab, maka kata Islam tidak tepat diberikan imbuhan apapun setelahnya, misalnya: “Islam Transformatif”, “Islam Inklusif”, “Islam Liberal”, Islam Transitif”, “Islam Nusantara”,  dan seterusnya. Selain karena perbedaan bahasa, makna yang dihasilkan dari penggunaan istilah itu tidak tepat. Islam adalah satu dan tak boleh terpenjara dengan istilah yang justru mengkerdilkan substansi Islam itu sendiri. 
Sebenarnya, kosa kata dalam Bahasa Indonesia menyerap berbagai kata yang berasal dari bahasa asing, tak terkecuali kata Islam itu. Namun pada akhirnya, kata itu menjadi baku dan dapat dijumpai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dengan demikian, maka kata Islam dapat disejajarkan dengan kata asing lain yang juga sudah menjadi kosa kata dalam bahasa Indonesia.
Demikian halnya dengan istilah “Islam Berkemajuan”. Kedua kata tersebut dapat disejajarkan dan dapat digunakan secara bersamaan karena sudah menjadi baku. Meskipun sesungguhnya, tanpa imbuhan kata berkemajuan, Islam memang agama yang sudah maju. Predikat itu sebagai sebuah aksentuasi, penekanan agar lebih kuat, dan mengingatkan bahwa secara normatif Islam adalah agama yang maju.
Islam berkemajuan merupakan formulasi pemikiran untuk memahami Diinul Islam (Agama Islam) itu sendiri. Nilai-nilai kemajuan yang terkandung sering tertutup debu zaman sehingga sering tidak terperhatikan. Islam berkemajuan merupakan ikhtiar mendinamisasikan Islam. Semangat Islam mesti menjiwai aspek-aspek kehidupan manusia. Kata berkemajuan mengindikasikan bahwa Islam adalah agama yang tidak berhenti bergerak ke depan dan selalu unggul. Islam selalu one or some steps ahead (satu atau beberapa langkah lebih maju).
Dalam konteks pemikiran Islam, Islam berkemajuan sesungguhnya menjadi bagian tak terpisahkan dari tajdiid. Tajdiid dapat dilihat dari dua konteks, yaitu: purifikasi, diartikan dengan pemurnian untuk akidah, dan pelurusan untuk urusan ritual. Akidah tidak bisa dirubah, karena memang sudah ada ketentuan yang dicontohkan Rasulullah, demikian pula dengan ibadah, mesti taken for granted (diterima sedemikian rupa) tanpa mesti menerima penambahan dan pengurangan.
Tajdiid dalam konteks kedua sering disebut dinamisasi, pembaruan maupun perubahan. Formulasi pemikiran Islam berkemajuan sesungguhnya berada dalam wilayah ini. Karena produk sejarah, maka sifatnya nisbi dan sejajar dengan produk pemikiran lain. Islam berkemajuan sejatinya mengembalikan model Islam murni sesuai dengan semangat yang terkandung dalam Alquran dan Hadis. Islam berkemajuan bukan Islam yang manut pada ketentuan sejarah, melainkan kreator dan pengarah sejarah.
Islam berkemajuan diantaranya ditunjukkan dengan budaya literasi (membaca dan menulis). Budaya tersebut  diperkenalkan  ketika wahyu pertama turun, aktifitas membaca bersamaan dengan pengakuan teologis tentang keberadaan Allah, yang disebut dalam ayat 1 Surah Al-‘Alaq dengan Rabb (Sang Pendidik). Di tengah masyarakat yang berbudaya sangat rendah ketika itu, Islam mengajarkan budaya maju dengan iqro’ (membaca dan menulis). Termasuk dalam pengertian membaca dalam ayat itu adalah meneliti, menelaah, mengkaji. Kini gerakan literasi menjadi nafas budaya di berbagai komunitas akademik di seluruh dunia.
Selain gerakan literasi, Islam berkemajuan ditandai dengan budaya toleran. Toleransi sangat penting di tengah berbagai perbedaan dan sekat-sekat yang kerap menjadikan masyarakat terkotak-kotak. Toleransi secara hakiki mengindikasikan sebuah kesiapan untuk menenggang dan mengapresiasi berbagai perbedaan sekaligus mengelolanya secara produktif. Toleransi bukan hidup tanpa sebuah prinsip, melainkan sikap teguh memegang ajaran Islam namun terbuka dalam konteks sosial.
Model Negara Madinah yang dicontohkan Rasulullah menjadi contoh ideal praktik toleransi itu. Berbagai latar belakang perbedaan sosial direkat menjadi satu dalam sebuah mata rantai persaudaraan kemanusiaan. Ini menjadi barang langka ketika itu. Jika dilihat secara jeli, Islam berkemajuan menawarkan sesuatu yang unik dan bergerak terdepan. Islam berkemajuan selalu kreatif dan inovatif melahirkan berbagai ide cerdas demi kepentingan bersama.
Islam berkemajuan juga berupaya menghidupkan dan merawat kembali semangat dasar keadilan. Karena keadilan menjadi salah satu pilar penting di masyarakat. Tanpa adanya keadilan maka siklus sosial akan mengalami turbulensi dan masyarakat berpotensi masuk ke dalam arus konfik. Ini mudah saja dibuktikan. Berbagai peperangan dan aksi teror hampir di semua belahan dunia, salah satu variabel pentingnya, dikarenakan persoalan keadilan yang tidak terdistribusi secara merata.
Islam berkemajuan juga meniscayakan sikap ramah budaya. Secara realistik, kehadiran Islam di semua pelosok dunia tidak terjadi di ruang hampa. Islam selalu bertemu dengan budaya lokal, untuk selanjutnya terjadi dialog. Dalam konteks ini, terjadi proses yang disebut akomodasi dan negasi. Budaya lokal yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan nilai dasar yang terkandung di dalam Alquran dan Hadis akan dinegasikan, meskipun tetap diapresiasi. Sementara budaya lokal yang sejalan dengan Alquran dan Hadis, bukan saja diakomodasi, malah digunakan untuk memperkaya manifestasi keislaman.

Rahmat untuk Semua
Islam berkemajuan bermuara pada predikat rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat bagi semua). Kalimat tersebut  mengandung cita-cita kuat untuk merawat nilai-nilai kemanusiaan, damai dengan alam sekitar dalam kerangka pengabdian kepada Allah. Predikat rahmatan lil ‘aalamiin berupaya menghidupkan kembali tiga relasi harmonis bagi terlaksananya kehidupan di dunia ini, yaitu; relasi seorang Muslim kepada Allah, relasi seorang Muslim kepada sesama manusia dan tentu yang tidak boleh dilupakan adalah relasi seorang Muslim kepada alam sekitar. Itulah hakikat Islam berkemajuan. Wallaahu a’lam.




Minggu, 30 September 2018

Ukhuwah dan Kekuasaan


Penting untuk dimengerti bahwa bangunan sebuah sistem sosial yang berjalan secara harmonis sering ditentukan oleh ukhuwah. Ukhuwah mempersatukan tidak saja satuan-satuan fisik menjadi sebuah komunitas, namun juga mempersatukan keinginan dan tujuan bersama yang hendak dicapai. Tugas-tugas besar dapat dijalankan dengan baik, dan masalah-masalah yang timbul dapat diselesaikan. Ukhuwah menjadi semacam barometer kekuatan sebuah komunitas, dan sekaligus kelemahan jika hal tersebut diabaikan. Ukhuwah menjadi rumah besar sebagai tempat bernaung berbagai latar belakang yang berbeda.

Jejak Hitam Ukhuwah
Ukhuwah terambil dari akar kata akh yang berarti teman dekat. Secara umum, ukhuwah diartikan dengan persaudaraan. Persaudaraan terbangun karena adanya kesamaan. Biasanya, orang akan merasa dekat dengan adanya kesamaan, baik kesamaan fisik, kesamaan sifat, kesamaan geografis, kesamaan suku, kesamaan bahasa atau kesamaan budaya. Di perantauan,  orang-orang akan merasa menjadi saudara karena berasal dari desa atau kota yang sama. Di luar negeri, orang-orang akan merasa menjadi saudara karena berasal dari negara yang sama. Demikian pula dalam masalah keimanan, persaudaraan tercipta karena menganut agama yang sama.
Dalam Islam, ukhuwah menjadi salah satu ajaran penting yang banyak mendapatkan penjelasan. Secara normatif Allah menyebutkan dalam Alquran bahwa orang Mukmin yang satu dengan lainnya adalah bersaudara (ikhwatun) (Q.S. Al-Hujuraat/ 49: 10). Ayat ini terbilang unik, karena kata ikhwatun biasanya digunakan untuk menjelaskan persaudaraan sekandung (biological brotherhood). Namun dalam ayat ini kata tersebut digunakan untuk menjelaskan hubungan antar sesama orang beriman. Secara kesukuan, kebahasaan, kebangsaan, orang Mukmin di dunia ini tak semuanya saling mengenal. Namun karena memiliki kesamaan iman, mereka dianggap saudara.
Karena bersaudara, orang-orang beriman harus saling melindungi dan memberikan atensi. Orang-orang beriman harus saling berbagi, saling menghormati, saling mengasihi, saling menyayangi, saling memberikan jaminan atas rasa aman untuk beraktifitas di ruang publik. Secara lebih rinci, Alquran menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial orang-orang yang beriman mesti bertanggungjawab terhadap sistem kehidupan yang berlangsung. Hal tersebut ditandai dengan sikap tidak merasa benar sendiri, tidak mencari-cari kesalahan saudara-saudaranya dan menjauhi ujaran-ujaran kebencian dan merendahkan orang lain (Q.S. Al-Hujuraat/ 49: 11).
Orang-orang yang beriman juga diharuskan menjauhi berbagai macam prasangka (dzan). Prasangka biasanya merubah energi positif menjadi negatif. Akibatnya, kehidupan menjadi tidak sehat dan tidak produktif. Demikian pula dengan sikap saling memata-matai (tajassus), menyebabkan aktifitas menjadi tidak nyaman. Rasa curiga melahirkan tekanan batin karena orang-orang yang ada di sekitar diduga akan berbuat buruk. Tak terkecuali dengan aktifitas bergunjing (ghibah), hal ini juga memiliki peran sentral sebagai kerikil tajam yang dapat merobohkan bangunan persaudaraan (Q.S. Al-Hujuraat/ 49: 12). Praktik ukhuwah ini juga dicontohkan Rasulullah dan direkam dalam berbagai hadis sahih. Misalnya, Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang beriman mesti memberikan rasa aman bagi lingkungannya.
Kendatipun bersifat sakral, pedoman tersebut tak selalu terimplementasi secara mulus. Ukhuwah di kalangan umat Islam pernah tidak memiliki pengaruh signifikan karena perbedaan kepentingan. Tercatat dalam sejarah bahwa perang Jamal yang kemudian menewaskan kader-kader terbaik Rasulullah menghadapkan dua kelompok, yaitu: Aisyah, Thalhah dan Zubair di satu kubu, dan Ali bin Abi Thalib di kubu lain. Thalhah dan Zubair akhirnya meregang nyawa. Tidak sampai di situ, malapetaka lain juga terjadi pada saat perang Shiffin. Perang ini menghadapkan Ali bin Abi Thalib di satu kubu, dan Mu’awiyah di kubu lain.
Pasca perang Jamal dan perang Shiffin, putera Muawiyah, Yazid bin Mu’awiyah, melanggengkan tradisi berdarah itu. Bagi Yazid, nyawa setara dengan barang dagangan kaki lima yang dibanderol dengan harga sangat murah. Abu A’la Al-Maududi dalam buku “Khilafah dan Kerajaan” menjelaskan bahwa putera Ali bin Abi Thalib, Husain bin Ali, terbunuh di Karbala karena kekejaman Yazid. Bukankah Yazid merupakan seorang Mukmin sebagaimana Husain bin Ali? Namun mengapa tetap saja terjadi pembunuhan? Secara faktual dapat dilihat, bahwa perebutan kekuasaan sedikit banyaknya telah turut menjadi pemantik perang saudara di kalangan umat Islam.
Api permusuhan menembus batas ruang dan waktu. Tidak saja di masa klasik namun juga di era modern seperti sekarang ini. Ketika sebagian besar orang berusaha mempersiapkan diri untuk hidup di era industrialisasi 4.0, umat Islam belum dapat melepaskan diri dari perang saudara. Jangankan untuk memproduksi teknologi canggih seperti di Barat, untuk bertahan hidup saja dapat dikatakan masih kesulitan. Perang saudara di Surya, perang saudara di Yaman, perang saudara di Irak, perang saudara di Mesir, perang saudara di Sudan, membuat dada kita sesak. Ukhuwah yang semestinya digadang-gadang dan diagungkan tidak mendapatkan apresiasi positif.
Terminologi “The Arab Spring” atau “Musim Semi Arab” yang dihembuskan Barat ke dunia Islam menyedot ongkos sosial yang tidak kecil. “Musim Semi Arab” ditandai dengan jatuhnya para diktator di dunia Islam yang sudah berkuasa cukup lama. Masyarakat ingin perubahan ketimbang dipimpin oleh penguasa yang despotik. Korupsi terjadi besar-besaran. Penguasa bersenang-senang di atas kelaparan rakyat yang dipimpin. Dalam kasus “Musim Semi Arab”, Barat sesungguhnya menjadi pihak yang sangat diuntungkan karena mereka mendapatkan devisa negara dari hasil penjualan senjata ke dunia Islam. Senjata itu digunakan untuk perang saudara.

Ukhuwah di Indonesia
Boleh jadi wajah Timur Tengah dengan perang saudaranya akan merangsek masuk ke Indonesia. Menjelang Pemilu Presiden, Pemilu Legislatif dan Pemilu Dewan Perwakilan Daerah 2019 mendatang, suhu politik demikian panas. Hal itu dapat dilihat dari berbagai dialog di beberapa media massa. Tokoh yang muncul ke permukaan lebih sering menampilkan sosok arogan yang memiliki filosofi “menangisme”, pokoknya harus menang, dari pada sosok panutan dengan budaya santun dan argumentasi kuat. Statemen yang bersifat apologetik lebih dominan ketimbang adu program terkait dengan persoalan-persoalan krusial di masyarakat.
Deklarasi pemilu damai oleh para kontestan perlu mendapat apresiasi. Namun demikian, deklarasi itu jika tidak disosialisasikan dengan baik maka akan menyentuh lapisan-lapisan elit dari pihak-pihak yang berkompetisi saja. Sementara potensi konflik terbesar berada di akar rumput (grass root). Gesekan psikologis, mungkin akan terjadi gesekan fisik, sudah demikian terasa. Ujaran-ujaran kebencian menjadi konsumsi harian. Hal ini mudah sekali dibuktikan lewat berbagai media sosial. Predikat peyoratif “kampret” versus “cebong” menandai betapa ukhuwah untuk saat ini menjadi barang yang sangat mahal.
Jika dibandingkan secara jujur, antara ukhuwah dan kontestasi menuju kekuasaan, maka akan terlihat perbedaannya. Ukhuwah bersifat suci dan permanen yang wajib dijunjung tinggi, sementara kontestasi menuju kekuasaan bersifat nisbi, sesaat dan menjadi wilayah ijtihadi. Ini artinya ukhuwah mesti dihormati di atas berbagai kepentingan dan model kekuasaan apa pun. Hal ini dilakukan demi persatuan umat Islam. Kini umat Islam kembali dibingungkan karena ulama terpecah. Definisi ulama disesuaikan dengan selera penafsirnya. Selanjutnya, masing-masing ulama mengeluarkan berbagai fatwa. Fatwa sangat bernuansa kepentingan dan cenderung digunakan untuk memperkuat pilihan politik.

Gesekan-gesekan menuju kekuasaan pada akhirnya menyentuh lembaga yang dianggap paling otoritatif dalam masalah keislaman, yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sadar atau tidak sadar, “Rumah Besar” umat Islam tersebut akan menjadi material yang diperebutkan demi sebuah kekuasaan. Karenanya,  MUI mesti dirawat dan mesti netral berbagai kepentingan politik. Butuh ikhtiar jernih agar MUI tidak terkesan seperti hidangan di atas meja yang siap disantap orang. Umat Islam boleh saja berbeda pilihan dalam politik kekuasaan, namun tetap dengan semangat Alquran dan hadis. Di atas pilihan itu terdapat ukhuwah yang mesti dijunjung tinggi. Wallaahu a’lam.

Selasa, 11 September 2018

IMM dan Do'a Iftitah




Tak dapat dipungkiri, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah lembaga kemahasiswaan yang paling dominan membentuk kerangka berpikirku. Namun akhir-akhir ini aku jengah berbicara tentang IMM. Berbagai ikhtiar ku lakukan untuk menghapus IMM dari memori hidupku. Semakin keras usaha itu, semakin kuat pula ingatanku terhadap lembaga yang kelahirannya pernah dipersoalkan tersebut. Harus ku akui, IMM ternyata telah bersenyawa dalam sukmaku. Eksistensiku kini tak bisa lepas dari tornado perubahan yang dihembuskan IMM.

Visi Yang Samar
Aku mencoba membuka nalar ideologis yang biasanya dijadikan landasan pergerakan para kader IMM. Beberapa di antaranya menyadarkan aku bahwa IMM merupakan salah satu ujung tombak dakwah besar Muhammadiyah. Deklarasi Kota Barat, Deklarasi Garut, Deklarasi Baiturrahman, memaparkan secara gamblang siapa sebenarnya IMM dan untuk apa organisasi elit ini dilahirkan. Poin-poin penting dalam deklarasi itu menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah membutuhkan IMM. Sinergitas gerakan IMM dengan Muhammadiyah menjadi sebuah kemutlakan sejarah.
Demikian pula dengan garis-garis ideologis yang dijelaskan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMM. Visi sebagai gerakan Islam yang bernaung di bawah tenda besar Muhammadiyah menjadi tujuan utama. Kata-kata yang bernuansa pencerahan, seperti: pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah merupakan mimpi-mimpi besar yang mesti diwujudkan. Sejauh yang dapat ku amati, visi cerdas yang seharusnya menjadi warisan kultural IMM itu malah terkubur abu sejarah dan terbelenggu rutinitas organisasi yang kumuh dan kering inovasi.
Aku tak tahu secara pasti apa penyebabnya. Dalam kedunguanku melihat  wajah IMM yang kian berubah, aku mencoba mereka-reka, bahwa turbulensi sosial dan politik di tanah air turut memberikan perubahan signifikan dalam  lagak dan gaya kader-kader IMM. Terutama politik, meskipun menjadi sarana dakwah paling efektif dan efisien, politik memiliki kepribadian tersendiri. Tak sedikit kader-kader IMM tersedot energi politik yang bersifat pragmatis dan oportunis. Penetrasi pragmatisme dan oportunisme ke tubuh IMM kurasakan menjadi kanker yang mematikan.
Predikat sebagai ujung tombak dakwah Muhammadiyah perlahan namun pasti bergeser menjadi ujung tombak kekuatan politik tertentu. Pergeseran ini juga berjalin berkelindan dengan kepentingan politik yang mengharapkan dukungan organisasi sosial (baca: anak main) seperti IMM. Dalam konteks ini, kekaburan visi berselingkuh dengan kepentingan politik yang mewujud dalam sebuah raga tanpa sukma. IMM berubah seperti Frankeinstein, selain fisik yang cenderung mengerikan, ia juga tak punya kepribadian karena arah dan langkahnya ditentukan pihak lain.
Moralitas publik yang semestinya bernuansa adem ayem, kental nuansa akademik sebagai ciri khas aktifis muda Muhammadiyah, berganti dengan obrolan praktis-pragmatis-oportunis yang memihak dan mendatangkan keuntungan instan. Diskusi-diskusi substantif, pengkajian-pengkajian keislaman, bedah buku, kajian rutin akademik, membaca dan menulis di media massa menjadi barang yang sangat langka dan mahal harganya. Budaya keras cenderung lebih dominan dalam membentuk kerangka berpikir kader-kader IMM ketimbang budaya yang santun penuh norma sebagaimana yang ditegaskan dalam nalar ideologisnya.
Mulai dari Muktamar, Musyda, Musycab, Musykom, terasa tidak sempurna jika tidak mengalami dead lock. Sumpah serapah, kursi melayang, bahkan mungkin kekuatan uang dalam perhelatan itu, demikian pula dengan kepemimpinan ganda, tak terlalu sulit dibuktikan. Ranting dan Cabang Muhammadiyah hanya merupakan rumah persinggahan dan mungkin juga lembaga untuk memanipulasi data demi Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah. Pengajian di Ranting dan Cabang Muhammadiyah menjadi sangat sepi kader-kader IMM, namun tidak demikian halnya dengan kafe-kafe dan lobi-lobi hotel.
Untuk menggulirkan dakwah pencerahan, harapan Muhammadiyah terlalu besar kepada IMM. Sungguh ironis justru yang terjadi sebaliknya, Muhammadiyah berbalik arah dan harus melakukan dakwah internal agar kader-kader IMM kembali kepada kesejatian dirinya. Ide-ide besar dan mendunia yang kini menjadi sasaran dakwah Muhammadiyah tidak dapat direspons secara positif dan gagal dipahami, apalagi dilaksanakan dalam perilaku organisasi. Elan vital berdirinya IMM adalah untuk turut serta menyelesaikan permasalahan keumatan. Kondisi sekarang menunjukkan bahwa kader-kader IMM menjadi bagian dari permasalahan itu sendiri.
Para pendiri IMM di masa lalu menjadikan etika akademik dalam berbuat, etika itulah yang selanjutnya melahirkan kegelisahan organisasional, pada akhirnya berujung dengan lahirnya IMM. IMM dilahirkan dari sebuah diskusi rutin untuk menjawab kebutuhan dakwah Muhammadiyah. Bukan menyusun logika terbalik, menempatkan IMM pada etalase dagangan lengkap dengan bandrolnya.  Nafas keislaman menjadi sangat kering. Kini dapat dibuktikan, berapa banyak kader IMM kelimpungan pada saat diminta untuk membaca doa iftitah, atau mempraktikkan pelaksanaan fardhu kifaayah.
Padahal, bacaan-bacaan ritual itu merupakan kajian paling mendasar dalam ber-Muhammadiyah. Apalah gunanya ber-IMM jika mengabaikan hal-hal yang paling fundamental itu? Dalam hal ini, pandanganku sangat tradisional. Melihat degradasi pemikiran IMM dan moralitas bermuhammadiyah yang cenderung melemah ini, aku sangat setuju jika dibuat aturan tegas. Mulai dari Pimpinan Komisariat, Pimpinan Cabang, Pimpinan Daerah bahkan Pimpinan Pusat sekalipun, tidak dibenarkan menjabat sebagai pengurus harian jika tidak aktif di ranting dan cabang Muhammadiyah. Bagiku, IMM bukan untuk IMM tapi IMM untuk Muhammadiyah. Tidak ada IMM tanpa Muhammadiyah.
Jika dapat ku sebut, kader-kader IMM seperti ashabul kahfi, bersembunyi dalam gua dalam waktu yang cukup lama. Begitu keluar dari gua, zaman telah berubah. Demikian pula dengan IMM, hidup hanya di dalam cangkang IMM, sempit dan gelap, tak tahu dunia luar. Begitu cangkang dipecah ternyata dunia sudah berubah. Kader-kader IMM banyak tertinggal  dibanding dengan yang lain. Jangankan berjalan, berlari sekalipun kader-kader IMM masih tertinggal. Kader-kader IMM mestinya juga akrab dengan dunia beasiswa dalam dan luar negeri. Peluang ini banyak diraih oleh orang lain, salah satu permasalahannya karena daya saing yang sangat lemah terutama dalam penguasaan bahasa asing.
Aku membayangkan bagaimana kader-kader IMM saling merapatkan barisan mempromosikan kader terbaiknya, dengan komitmen dan loyalitas kemuhammadiyahan yang kuat, untuk menduduki posisi publik dan menentukan masa depan persyarikatan dan bangsa, seperti: KPU, Bawaslu, Timsel, Legislatif, KNPI dan seterusnya. Namun hal tersebut mesti dikaji secara matang, bukan berdasarkan keinginan dan peluang saja, tapi juga kemampuan kognitif, keluasan jaringan dan kesanggupan finansial. Transformasi kader juga menjadi sebuah pemikiran penting. Banyak aspek kehidupan yang belum diisi kader IMM. Penumpukan kader di satu aspek bukan saja tidak sehat, tapi sering melahirkan konflik internal yang turut memperlemah roda organisasi.

Menjual Program
 Masa depan seseorang sedikitnya ditentukan oleh beberapa hal, yaitu: buku apa yang dibacanya, sahabat seperti apa yang didekatinya dan inovasi apa yang diciptakannya. Kader-kader IMM mesti kreatif dan inovatif dalam melahirkan ide-ide cerdas. Ide-ide itu dapat dijual melalui berbagai macam program. Selain mendatangkan keuntungan individual, program-program cerdas itu dapat diintegrasikan sebagai program unggulan organisasi. Jika program-program itu menarik, aku yakin, banyak lembaga dan alumni yang bersedia memberikan dukungan secara moral maupun finansial. Pendidikan anti korupsi, pengelolaan bank sampah, crisis centre untuk kaum difable, adalah program-program yang tidak tergarap, atau malah tak terpikirkan sama sekali.
Aku sedih, tidak sedikit yang berujar bahwa kader-kader IMM dalam jumlah yang tidak kecil bermentalitas dhu’afa. Mereka hanya ingin menghasilkan uang dengan meminta-minta. Untuk alasan tertentu ini dapat diterima, namun ketika aktifitas tersebut menjadi proyek fiktif maka akan sangat berbahaya. Ini bukan saja menghancurkan nama baik IMM namun membunuh masa depan manusianya. Ber-IMM tidak lama, ber-Muhammadiyah dan bermasyarakat akan selamanya. Tidak etis menyakiti batin masyarakat. Para sahabat, IMM merupakan laboratorium pemikiran dan gerakan. IMM rumah kita. Di antara kita sedang dan  pernah tinggal di dalamnya. Mari kita rawat bersama. Bravo IMM. Wallaahu a’lam.


Rabu, 29 Agustus 2018

Agama Tanpa Penghayatan





Agama menjadi salah satu objek paling menarik untuk dikaji. Tidak saja substansinya yang menyedot atensi para sarjana, perilaku keagamaan pemeluknya juga menjadi fenomena unik, bersifat dinamis dan sering melahirkan model-model keagamaan yang beragam. Agama diyakini berasal dari Tuhan, bersifat suci dan membimbing umat manusia untuk hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Selain itu, agama tak jarang dipolitisir menjadi pedang paling sadis dan belati paling tajam untuk menumpahkan darah.  

Meninggalkan Agama
Di banyak negara maju, agama seperti Katolik dan Protestan, cenderung ditinggalkan orang. Bahkan yang lebih miris, orang memilih hidup senang tanpa embel-embel agama. Di Australia, Perancis, Irlandia, Afrika Selatan, Amerika Serikat, bahkan Kroasia, secara kuantitatif lebih banyak yang tidak beragama ketimbang yang menganut agama. Mereka lebih taat pada aturan budaya yang mengikat satu sama lain ketimbang norma-norma agama. Mereka memiliki tanggung jawab keduniaan yang bercorak rasional namun tidak memberi ruang untuk urusan akhirat yang bercorak spiritual.
Tak terkecuali di Jepang yang didominasi agama Shinto, Vietnam yang didominasi agama Buddha, pengaruh penganut agama juga kalah dibanding dengan yang tidak beragama. Bahkan di Tunisia dengan mayoritas penduduk beragama Islam, masjid-masjid banyak yang kosong. Jamaah kecewa, karena perang saudara atas nama paham agama terus berlanjut. Lebih ironis lagi di Arab Saudi, ateisme secara laten tumbuh subur, padahal negara tersebut menjadi kiblat umat Islam dunia. Apakah faktor-faktor penyebab sehingga agama ditinggalkan orang?
Pertama, tidak dapat disangkal bahwa paham antroposentrisme turut serta menggerus keyakinan agama. Paham ini menganggap manusia telah dewasa dan dapat menentukan nasib kehidupannya sendiri. Manusia dengan bekal ilmu pengetahuan dan teknologi canggih telah dapat menguak berbagai misteri kehidupan yang semula menjadi kawasan kerja-kerja agama. Antroposentrisme juga mengajarkan kekinian dan kedisinian, hidup di dunia sebagai terminal akhir dari sebuah proses perjalanan kehidupan seseorang.
Antroposentrisme memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap pembongkaran doktrin-doktrin agama. Otoritas agama yang semula tak terbatas diikat dan dipreteli pengaruhnya. Kultur hidup hedonis tumbuh dan berkembang sejurus dengan berbagai penemuan ilmiah yang membuktikan keperkasaan umat manusia terhadap lingkungannya. Bapa-bapa gereja di masa awal menjadi penonton bisu yang tak dapat berbuat banyak melihat kenyataan tersebut.
Kedua, perilaku korup para tokoh agama. Para tokoh agama yang semula dianggap dan diharapkan menjadi pengayom dan pembimbing masyarakat justru berperilaku sebaliknya. Dalam konteks ini terjadi apa yang disebut religious despair (kekecewaan religius), yaitu sebuah kekecewaan yang ditimbulkan salah satunya oleh kelakuan menyimpang para elit agama. Kejujuran, kedamaian, kebersihan, persaudaraan yang mereka khutbahkan di mimbar-mimbar ternyata tak berkaitan dengan kenyataan hidup. Jujur diganti dengan dusta, damai diganti dengan iri hati, dengki dan permusuhan, bersih diganti dengan kotor, cinta diganti dengan benci.
Mereka juga kerap berjualan surga dengan cara infak dan sedekah, namun hanya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya saja. Masyarakat semakin miskin, sementara elit agama semakin kaya. Surga juga dibandrol dengan tarif tertentu. Semakin besar tarif yang ditetapkan maka akan semakin besar pula peluang masuk ke dalamnya. Niat busuk para pemuka agama secara perlahan terkuak karena masyarakat semakin cerdas. Tidak sampai di situ, selain meninggalkan agama mereka juga memusuhi agama karena dianggap melakukan pembodohan.
Ketiga, agama yang sejatinya menjadi kohesi sosial berubah menjadi faktor disintegratif. Tak ada dalam kitab suci mana pun yang menyatakan bahwa membunuh menjadi jenis ibadah untuk dekat kepada Tuhan. Bahkan dalam Islam sendiri ditegaskan bahwa menyakiti seseorang sama artinya dengan menyakiti nilai-nilai kemanusiaan. Namun pada kenyataannya, tak ada konflik besar dan panjang di dunia ini dimana agama tidak terlibat di dalamnya. Agama dijadikan sebagai elemen penyubur ikatan emosional dan media penyebar kebencian paling destruktif terhadap orang-orang yang berbeda paham.
Deretan fakta di depan mata kita menjadi argumentasi yang tak dapat dibantah. Konflik di Timur Tengah terjadi bukan saja antara Muslim dan Yahudi Zionis namun juga disebabkan perebutan paham antara umat Islam. Di Palestina sendiri, aksi  saling sikut antara Partai Fatah dan Partai Hamas sudah sedemikian pelik, ditambah lagi mereka mesti menghadapi kekuatan besar zionis Israel yang didukung total oleh Amerika Serikat. Di Surya, politik berkolaborasi dengan paham Sunni dan Syi’ah. Akibatnya, hujan bom, nyawa melayang, genangan darah, cucuran air mata dan eksodus dalam jumlah ribuan orang ke Benua Eropa terjadi setiap waktu.
Fenomena yang secara substantif sama berpotensi terjadi di Indonesia. Bukan tidak mungkin ke depan, jika para penganut agama tidak menyadari secara baik, wajah kelabu eksistensi agama di Eropa dan Amerika serta wajah sedih beberapa wilayah di Timur Tengah juga akan menemui momentumnya. Potensi ke arah itu sangat besar. Gaya hidup hedonis sudah menjadi sajian harian dan disosialisasikan melalui berbagai tayangan sinetron yang tidak mendidik.
Para koruptor, pelaku sex bebas, para bandar narkoba, para penipu pengelola haji dan umroh, menjadi sosok-sosok yang tidak merasa canggung tampil di layar kaca sembari melempar senyum. Anehnya aktifitas mereka dianggap kewajaran publik. Selain itu, perilaku harian umat beragama, terutama umat Islam, terkadang juga tidak lebih baik dari mereka yang menolak agama. Hal ini dapat dibuktikan dengan mudah. Seorang Muslim yang taat beribadah belum tentu memiliki komitmen untuk melaksanakan etika sosial. Misalnya saja, aksi buang sampah di sembarang tempat dianggap biasa dan tidak ada rasa bersalah sama sekali setelah tindakan biadab itu dilakukan.
Saat ini di Indonesia, ada ribuan orang meninggalkan agama mereka karena tak percaya lagi dan kecewa dengan perilaku penganut agama. Sedihnya, Islam menjadi agama pertama yang ditinggalkan, disusul Kristen, Buddha dan seterusnya. Meskipun bukan negara agama, Indonesia tidak memberi ruang bagi mereka yang tidak mengakui Tuhan. Sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi sebuah landasan hukum yang kuat betapa Indonesia merupakan negara yang religius. Tapi di sisi lain, baik secara terang-terangan maupun tertutup, paham ateisme tumbuh dengan subur.
Kini di masyarakat berkembang predikat Muslim tanpa masjid, Kristen tanpa gereja, Buddha tanpa wihara, Hindu tanpa kuil, Konghucu tanpa Klenteng. Ini menunjukkan bahwa agama hanya menjadi buah bibir dan hiasan administrasi ketimbang perilaku terpuji. Usulan agar kolom agama tidak dicantumkan dalam Kartu Tanda Penduduk menjadi bukti lain bahwa pengaruh agama dipertanyakan. Inilah deretan kejadian pahit dan kritik tajam agar penganut agama mengevaluasi sistem keberagamaannya.

Menghayati Agama
Agama sesungguhnya sarat dengan simbol. Simbol mengandung banyak makna yang harus dipahami. Misalnya saja wudhu’. Wudhu’ mengisyaratkan kebersihan secara totalitas, tidak saja ketika pelaksanaan sholat, namun juga bersih jasmani, ruhani dan lingkungan sekitar. Zakat juga merupakan simbol. Zakat melambangkan respons kepedulian sosial kepada masyarakat yang lemah dan membutuhkan uluran tangan. Zakat tidak tepat dimengerti sebagai aktifitas yang terbatas ruang dan waktu. Semangat zakat tidak boleh berhenti, namun harus ada di setiap waktu. Inilah maksud menghayati ajaran agama itu. Agama akan senantiasa menjadi pilihan utama masyarakat jika fungsi-fungsi sosialnya dirasakan secara langsung. Sebaliknya, agama akan dibenci dan ditinggalkan orang jika hanya berisi janji manis namun kering fungsi sosialnya. Wallaahu a’lam.