Minggu, 03 November 2019

Dr Muhammad Qorib, MA Khutbah Jumat di Masjid Ulul Albab UIN Medan



Beragama harus mencerahkan, produktif dan fungsional. Nilai nilai agama seperti, keadilan, persaudaraan, mesti diimplementasikan dalam kehidupan ril. Doktrin agama tidak boleh hanya terletak pada kitab suci saja, namun harus menjadi sumber moral berbagai kebajikan sosial.

Rabu, 10 April 2019

Overdosis Agama


Indonesia adalah negara dimana agama dapat tumbuh dengan subur. Tidak sampai di situ, setiap warga negara dijamin secara konstitusional untuk menentukan agama sesuai dengan pilihan imannya. Pancasila yang dijadikan falsafah dan dasar bernegara, pada sila pertama, menunjukkan bahwa agama menjadi nafas kehidupan. Ini memberikan pemahaman bahwa agama merupakan kebutuhan mendasar yang tidak bisa dipisahkan dari aktifitas warga negara.

Selebrasi Agama
Demikian pentingnya agama ini, sehingga pemerintah perlu membentuk lembaga yang secara khusus mengurusi kegiatan-kegiatan agama. Kini lembaga tersebut, setelah melewati berbagai perubahan, bernama Kementerian Agama. Bahkan pemerintah juga mengambil keputusan untuk menjadikan hari-hari besar agama sebagai hari libur nasional.
Selebrasi hari-hari besar agama, khususnya Islam, sangat terasa misalnya pada saat bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Ketika malam Ramadhan, suara tadarus Alquran bergema sampai larut malam. Demikian pula ketika Idul Fitri, suara takbir bersahutan seiring dengan berbagai asesoris lebaran yang bermunculan di banyak tempat.
Identitas agama juga mesti dicantumkan dalam Kartu Tanda Penduduk. Ini membuktikan bahwa tak ada warga negara yang tak beragama. Berbagai rumah ibadah amat mudah ditemukan. Informasi yang disampaikan Wakil Presiden RI, Yusuf Kalla, ketika menutup Sidang Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu bahwa jumlah masjid dengan segala kategorisasinya sekitar 800.000 unit. Jumlah sebesar itu mengagetkan Raja Salman ketika berkunjung ke Indonesia.
Fenomena keagamaan tersebut memberikan sebuah harapan besar. Dari sini akan lahir masyarakat agamis. Agama menjadi pijakan moral dan sumber yang menggerakkan. Sebagaimana misi setiap agama, masyarakat dituntut mengedepankan moralitas agama yang bermuara pada lahirnya berbagai kebaikan. Ucapan, perilaku, bahkan pada tataran yang lebih halus, getaran hati tetap terpaut dan terpancar dari nilai-nilai sakral agama.
Pada saat yang bersamaan, muncul persoalan serius yang justru dapat mencederai cita-cita suci agama. Kini berkembang apa yang diistilahkan dengan ritualisasi agama. Hal ini ditandai dengan kepatuhan yang berlebihan untuk melaksanakan berbagai ritus keagamaan namun kering substansi dan lupa tujuan ritual. Orang beribadah bukan untuk mengejar ridha ilahi yang dibuktikan melalui berbagai kebajikan publik, melainkan perburuan pahala secara terus menerus. 
Dalam konteks ini, seseorang yang boleh jadi berpenampilan religius, namun kumuh dalam kehidupan sosial. Ia akan berberilaku angkuh dan tidak ramah kepada orang lain, miskin empati kepada sesama. Orang seperti ini akan sangat merasa terusik jika ritual terganggu, namun batinnya tak gelisah ketika penyimpangan sosial terjadi di sekitarnya. Ia tidak merasa terusik dengan beragam penyakit masyarakat, seperti: korupsi, kolusi, nepotisme, culas, tidak jujur, suka berbohong, boleh jadi ia merupakan salah satu pelakunya.  
Ritualisasi melahirkan para penikmat agama yang bersifat egoistik, lebih mementingkan diri sendiri daripada kemaslahatan umum. Ritualisasi kerap mempromosikan simbol-simbol agama. Simbol menjadi sesuatu yang sangat penting bahkan terkadang mengubur dan mengaburkan semangat yang terkandung di balik simbol-simbol itu. Orang akan merasa kagum dengan awan di angkasa yang membentuk lafaz Allah, namun perintah Allah untuk menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim diabaikan. Padahal cinta kepada Allah harus diimplementasikan melalui berbagai aktifitas yang bersifat positif dan produktif.
Seiring dengan gejala ritualisasi agama, pada musim tertentu juga muncul gejala politisasi agama. Seperti ritualisasi agama, politisasi agama juga tak kalah bahayanya. Politisasi agama memanfaatkan agama untuk kepentingan politik kekuasaan. Pada batas tertentu, politisasi agama terlihat dari berbagai penafsiran agama yang ditarik sesuai dengan kepentingannya. Namun pada batas yang jauh, politisasi agama menyebabkan orang rela mati demi politik kekuasaan yang dibalut jubah agama.
Dalam agama terdapat emosi keagamaan. Inilah elemen paling sakral sekaligus sensitif dalam sebuah agama. Emosi keagamaan itu dalam bahasa lain diistilahkan dengan iman. Demi iman, maka apa pun mungkin dapat dilakukan oleh pemeluk agama. Iman dalam konteks ini ditransformasikan dari energi positif untuk kebajikan menjadi energi yang bersifat pragmatis dan oportunis.
Politisasi agama menampilkan wajah agama yang intoleran, penuh nuansa kebencian, kecurigaan, dan prasangka kepada orang yang pilihan politiknya berbeda. Tidak ada lagi nuansa kegembiraan dan kecerahan dalam beragama. Padahal beragama yang menggembirakan dan mencerahkan merupakan ajaran fundamental agama. Itulah sebabnya mengapa di berbagai media sosial berkembang istilah overdosis agama.
Overdosis agama ditandai dengan kecintaan terhadap agama secara berlebihan, namun penganutnya tidak tahu kemana arah dan untuk apa agama itu dianut. Agama dijadikan tujuan akhir, bukan media untuk dekat kepada Tuhan. Sifat yang sangat melekat pada masyarakat yang mengalami overdosis agama adalah hilangnya kepekaan sosial dan menguatnya rasa ingin benar sendiri. Setiap paham keagamaan dan realita sosial yang berkembang akan selalu “diadili” dengan menggunakan perspektif keagamaannya. Alih-alih menyelesaikan persoalan, sikap demikian justru melahirkan ketegangan sosial.
Terkait dengan overdosis agama ini, para psikolog menuduh penganut agama sebagai orang-orang yang menderita penyakit psikologis. Mereka menganggap agama sebagai biang terjadinya konflik sosial, prasangka-prasangka, dogmatisme, dan tindak kekerasan. Para psikolog tentu saja tidak sekedar beranjak dari teks-teks suci agama, mereka berkesimpulan seperti itu berdasarkan pengamatan faktual di lapangan.
Dalam konteks yang lebih luas, overdosis agama menjadi faktor disintegratif dan penghambat kemajuan masyarakat. Secara umum dapat dilihat, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kenyamanan beraktifitas di ruang-ruang publik justru dirasakan di negara-negara sekuler, yaitu negara-negara yang menganggap agama sebagai urusan individual, bukan negara berdasarkan agama. Meskipun dalam hal ini overgeneralisasi tidak tepat.
Setidaknya inilah yang dikemukakan oleh Hossein Askari guru besar politik dan bisnis internasional dari Universitas George Washington, AS. Menurutnya, nilai-nilai islami lebih banyak dipraktikkan di negara-negara seperti: Swedia, Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia. Negara-negara Islam seperti Malaysia menempati urutan ke-33, Kuwait ke-48, Arab Saudi ke-91, dan Qatar ke-111. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia  ternyata hanya berada pada peringkat di atas 140-an.

Energi Perubahan
Menjadikan agama sebagai sumber energi perubahan adalah sebuah kemestian. Ritual dan agama tidak bisa dipisahkan. Agama juga tidak dapat berkembang tanpa dukungan politik. Namun jika terjadi ritualisasi dan politisasi agama, maka agama yang semula berfungsi sebagai energi perubahan berubah menjadi sumber energi yang menghancurkan. Disinilah sebuah masyarakat mengalami overdosis agama. Karena itu, tujuan luhur agama tidak boleh terbelenggu oleh dominasi ritual dan politik secara berlebihan. Semoga bermanfaat.




Sabtu, 10 November 2018

Islam Berkemajuan



Perbincangan akademik seputar Islam akan selalu menarik. Agama ini diperbincangkan bukan saja karena memiliki populasi pengikut terbesar di Indonesia, tapi juga karena melahirkan beragam manifestasi keislaman. Berbagai wacana diperdebatkan secara kreatif. Tak terkecuali formulasi pemikiran  yang dikenal “Islam Berkemajuan”, menjadi perbincangan hangat. Konsekuensinya, banyak karya akademik lahir karena merespons formulasi itu.

Membaca Islam
Sebagaimana dipahami, Islam terambil dari bahasa Arab, aslama. Bagi sebagian kalangan, karena berasal dari bahasa Arab, maka kata Islam tidak tepat diberikan imbuhan apapun setelahnya, misalnya: “Islam Transformatif”, “Islam Inklusif”, “Islam Liberal”, Islam Transitif”, “Islam Nusantara”,  dan seterusnya. Selain karena perbedaan bahasa, makna yang dihasilkan dari penggunaan istilah itu tidak tepat. Islam adalah satu dan tak boleh terpenjara dengan istilah yang justru mengkerdilkan substansi Islam itu sendiri. 
Sebenarnya, kosa kata dalam Bahasa Indonesia menyerap berbagai kata yang berasal dari bahasa asing, tak terkecuali kata Islam itu. Namun pada akhirnya, kata itu menjadi baku dan dapat dijumpai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dengan demikian, maka kata Islam dapat disejajarkan dengan kata asing lain yang juga sudah menjadi kosa kata dalam bahasa Indonesia.
Demikian halnya dengan istilah “Islam Berkemajuan”. Kedua kata tersebut dapat disejajarkan dan dapat digunakan secara bersamaan karena sudah menjadi baku. Meskipun sesungguhnya, tanpa imbuhan kata berkemajuan, Islam memang agama yang sudah maju. Predikat itu sebagai sebuah aksentuasi, penekanan agar lebih kuat, dan mengingatkan bahwa secara normatif Islam adalah agama yang maju.
Islam berkemajuan merupakan formulasi pemikiran untuk memahami Diinul Islam (Agama Islam) itu sendiri. Nilai-nilai kemajuan yang terkandung sering tertutup debu zaman sehingga sering tidak terperhatikan. Islam berkemajuan merupakan ikhtiar mendinamisasikan Islam. Semangat Islam mesti menjiwai aspek-aspek kehidupan manusia. Kata berkemajuan mengindikasikan bahwa Islam adalah agama yang tidak berhenti bergerak ke depan dan selalu unggul. Islam selalu one or some steps ahead (satu atau beberapa langkah lebih maju).
Dalam konteks pemikiran Islam, Islam berkemajuan sesungguhnya menjadi bagian tak terpisahkan dari tajdiid. Tajdiid dapat dilihat dari dua konteks, yaitu: purifikasi, diartikan dengan pemurnian untuk akidah, dan pelurusan untuk urusan ritual. Akidah tidak bisa dirubah, karena memang sudah ada ketentuan yang dicontohkan Rasulullah, demikian pula dengan ibadah, mesti taken for granted (diterima sedemikian rupa) tanpa mesti menerima penambahan dan pengurangan.
Tajdiid dalam konteks kedua sering disebut dinamisasi, pembaruan maupun perubahan. Formulasi pemikiran Islam berkemajuan sesungguhnya berada dalam wilayah ini. Karena produk sejarah, maka sifatnya nisbi dan sejajar dengan produk pemikiran lain. Islam berkemajuan sejatinya mengembalikan model Islam murni sesuai dengan semangat yang terkandung dalam Alquran dan Hadis. Islam berkemajuan bukan Islam yang manut pada ketentuan sejarah, melainkan kreator dan pengarah sejarah.
Islam berkemajuan diantaranya ditunjukkan dengan budaya literasi (membaca dan menulis). Budaya tersebut  diperkenalkan  ketika wahyu pertama turun, aktifitas membaca bersamaan dengan pengakuan teologis tentang keberadaan Allah, yang disebut dalam ayat 1 Surah Al-‘Alaq dengan Rabb (Sang Pendidik). Di tengah masyarakat yang berbudaya sangat rendah ketika itu, Islam mengajarkan budaya maju dengan iqro’ (membaca dan menulis). Termasuk dalam pengertian membaca dalam ayat itu adalah meneliti, menelaah, mengkaji. Kini gerakan literasi menjadi nafas budaya di berbagai komunitas akademik di seluruh dunia.
Selain gerakan literasi, Islam berkemajuan ditandai dengan budaya toleran. Toleransi sangat penting di tengah berbagai perbedaan dan sekat-sekat yang kerap menjadikan masyarakat terkotak-kotak. Toleransi secara hakiki mengindikasikan sebuah kesiapan untuk menenggang dan mengapresiasi berbagai perbedaan sekaligus mengelolanya secara produktif. Toleransi bukan hidup tanpa sebuah prinsip, melainkan sikap teguh memegang ajaran Islam namun terbuka dalam konteks sosial.
Model Negara Madinah yang dicontohkan Rasulullah menjadi contoh ideal praktik toleransi itu. Berbagai latar belakang perbedaan sosial direkat menjadi satu dalam sebuah mata rantai persaudaraan kemanusiaan. Ini menjadi barang langka ketika itu. Jika dilihat secara jeli, Islam berkemajuan menawarkan sesuatu yang unik dan bergerak terdepan. Islam berkemajuan selalu kreatif dan inovatif melahirkan berbagai ide cerdas demi kepentingan bersama.
Islam berkemajuan juga berupaya menghidupkan dan merawat kembali semangat dasar keadilan. Karena keadilan menjadi salah satu pilar penting di masyarakat. Tanpa adanya keadilan maka siklus sosial akan mengalami turbulensi dan masyarakat berpotensi masuk ke dalam arus konfik. Ini mudah saja dibuktikan. Berbagai peperangan dan aksi teror hampir di semua belahan dunia, salah satu variabel pentingnya, dikarenakan persoalan keadilan yang tidak terdistribusi secara merata.
Islam berkemajuan juga meniscayakan sikap ramah budaya. Secara realistik, kehadiran Islam di semua pelosok dunia tidak terjadi di ruang hampa. Islam selalu bertemu dengan budaya lokal, untuk selanjutnya terjadi dialog. Dalam konteks ini, terjadi proses yang disebut akomodasi dan negasi. Budaya lokal yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan nilai dasar yang terkandung di dalam Alquran dan Hadis akan dinegasikan, meskipun tetap diapresiasi. Sementara budaya lokal yang sejalan dengan Alquran dan Hadis, bukan saja diakomodasi, malah digunakan untuk memperkaya manifestasi keislaman.

Rahmat untuk Semua
Islam berkemajuan bermuara pada predikat rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat bagi semua). Kalimat tersebut  mengandung cita-cita kuat untuk merawat nilai-nilai kemanusiaan, damai dengan alam sekitar dalam kerangka pengabdian kepada Allah. Predikat rahmatan lil ‘aalamiin berupaya menghidupkan kembali tiga relasi harmonis bagi terlaksananya kehidupan di dunia ini, yaitu; relasi seorang Muslim kepada Allah, relasi seorang Muslim kepada sesama manusia dan tentu yang tidak boleh dilupakan adalah relasi seorang Muslim kepada alam sekitar. Itulah hakikat Islam berkemajuan. Wallaahu a’lam.




Minggu, 30 September 2018

Ukhuwah dan Kekuasaan


Penting untuk dimengerti bahwa bangunan sebuah sistem sosial yang berjalan secara harmonis sering ditentukan oleh ukhuwah. Ukhuwah mempersatukan tidak saja satuan-satuan fisik menjadi sebuah komunitas, namun juga mempersatukan keinginan dan tujuan bersama yang hendak dicapai. Tugas-tugas besar dapat dijalankan dengan baik, dan masalah-masalah yang timbul dapat diselesaikan. Ukhuwah menjadi semacam barometer kekuatan sebuah komunitas, dan sekaligus kelemahan jika hal tersebut diabaikan. Ukhuwah menjadi rumah besar sebagai tempat bernaung berbagai latar belakang yang berbeda.

Jejak Hitam Ukhuwah
Ukhuwah terambil dari akar kata akh yang berarti teman dekat. Secara umum, ukhuwah diartikan dengan persaudaraan. Persaudaraan terbangun karena adanya kesamaan. Biasanya, orang akan merasa dekat dengan adanya kesamaan, baik kesamaan fisik, kesamaan sifat, kesamaan geografis, kesamaan suku, kesamaan bahasa atau kesamaan budaya. Di perantauan,  orang-orang akan merasa menjadi saudara karena berasal dari desa atau kota yang sama. Di luar negeri, orang-orang akan merasa menjadi saudara karena berasal dari negara yang sama. Demikian pula dalam masalah keimanan, persaudaraan tercipta karena menganut agama yang sama.
Dalam Islam, ukhuwah menjadi salah satu ajaran penting yang banyak mendapatkan penjelasan. Secara normatif Allah menyebutkan dalam Alquran bahwa orang Mukmin yang satu dengan lainnya adalah bersaudara (ikhwatun) (Q.S. Al-Hujuraat/ 49: 10). Ayat ini terbilang unik, karena kata ikhwatun biasanya digunakan untuk menjelaskan persaudaraan sekandung (biological brotherhood). Namun dalam ayat ini kata tersebut digunakan untuk menjelaskan hubungan antar sesama orang beriman. Secara kesukuan, kebahasaan, kebangsaan, orang Mukmin di dunia ini tak semuanya saling mengenal. Namun karena memiliki kesamaan iman, mereka dianggap saudara.
Karena bersaudara, orang-orang beriman harus saling melindungi dan memberikan atensi. Orang-orang beriman harus saling berbagi, saling menghormati, saling mengasihi, saling menyayangi, saling memberikan jaminan atas rasa aman untuk beraktifitas di ruang publik. Secara lebih rinci, Alquran menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial orang-orang yang beriman mesti bertanggungjawab terhadap sistem kehidupan yang berlangsung. Hal tersebut ditandai dengan sikap tidak merasa benar sendiri, tidak mencari-cari kesalahan saudara-saudaranya dan menjauhi ujaran-ujaran kebencian dan merendahkan orang lain (Q.S. Al-Hujuraat/ 49: 11).
Orang-orang yang beriman juga diharuskan menjauhi berbagai macam prasangka (dzan). Prasangka biasanya merubah energi positif menjadi negatif. Akibatnya, kehidupan menjadi tidak sehat dan tidak produktif. Demikian pula dengan sikap saling memata-matai (tajassus), menyebabkan aktifitas menjadi tidak nyaman. Rasa curiga melahirkan tekanan batin karena orang-orang yang ada di sekitar diduga akan berbuat buruk. Tak terkecuali dengan aktifitas bergunjing (ghibah), hal ini juga memiliki peran sentral sebagai kerikil tajam yang dapat merobohkan bangunan persaudaraan (Q.S. Al-Hujuraat/ 49: 12). Praktik ukhuwah ini juga dicontohkan Rasulullah dan direkam dalam berbagai hadis sahih. Misalnya, Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang beriman mesti memberikan rasa aman bagi lingkungannya.
Kendatipun bersifat sakral, pedoman tersebut tak selalu terimplementasi secara mulus. Ukhuwah di kalangan umat Islam pernah tidak memiliki pengaruh signifikan karena perbedaan kepentingan. Tercatat dalam sejarah bahwa perang Jamal yang kemudian menewaskan kader-kader terbaik Rasulullah menghadapkan dua kelompok, yaitu: Aisyah, Thalhah dan Zubair di satu kubu, dan Ali bin Abi Thalib di kubu lain. Thalhah dan Zubair akhirnya meregang nyawa. Tidak sampai di situ, malapetaka lain juga terjadi pada saat perang Shiffin. Perang ini menghadapkan Ali bin Abi Thalib di satu kubu, dan Mu’awiyah di kubu lain.
Pasca perang Jamal dan perang Shiffin, putera Muawiyah, Yazid bin Mu’awiyah, melanggengkan tradisi berdarah itu. Bagi Yazid, nyawa setara dengan barang dagangan kaki lima yang dibanderol dengan harga sangat murah. Abu A’la Al-Maududi dalam buku “Khilafah dan Kerajaan” menjelaskan bahwa putera Ali bin Abi Thalib, Husain bin Ali, terbunuh di Karbala karena kekejaman Yazid. Bukankah Yazid merupakan seorang Mukmin sebagaimana Husain bin Ali? Namun mengapa tetap saja terjadi pembunuhan? Secara faktual dapat dilihat, bahwa perebutan kekuasaan sedikit banyaknya telah turut menjadi pemantik perang saudara di kalangan umat Islam.
Api permusuhan menembus batas ruang dan waktu. Tidak saja di masa klasik namun juga di era modern seperti sekarang ini. Ketika sebagian besar orang berusaha mempersiapkan diri untuk hidup di era industrialisasi 4.0, umat Islam belum dapat melepaskan diri dari perang saudara. Jangankan untuk memproduksi teknologi canggih seperti di Barat, untuk bertahan hidup saja dapat dikatakan masih kesulitan. Perang saudara di Surya, perang saudara di Yaman, perang saudara di Irak, perang saudara di Mesir, perang saudara di Sudan, membuat dada kita sesak. Ukhuwah yang semestinya digadang-gadang dan diagungkan tidak mendapatkan apresiasi positif.
Terminologi “The Arab Spring” atau “Musim Semi Arab” yang dihembuskan Barat ke dunia Islam menyedot ongkos sosial yang tidak kecil. “Musim Semi Arab” ditandai dengan jatuhnya para diktator di dunia Islam yang sudah berkuasa cukup lama. Masyarakat ingin perubahan ketimbang dipimpin oleh penguasa yang despotik. Korupsi terjadi besar-besaran. Penguasa bersenang-senang di atas kelaparan rakyat yang dipimpin. Dalam kasus “Musim Semi Arab”, Barat sesungguhnya menjadi pihak yang sangat diuntungkan karena mereka mendapatkan devisa negara dari hasil penjualan senjata ke dunia Islam. Senjata itu digunakan untuk perang saudara.

Ukhuwah di Indonesia
Boleh jadi wajah Timur Tengah dengan perang saudaranya akan merangsek masuk ke Indonesia. Menjelang Pemilu Presiden, Pemilu Legislatif dan Pemilu Dewan Perwakilan Daerah 2019 mendatang, suhu politik demikian panas. Hal itu dapat dilihat dari berbagai dialog di beberapa media massa. Tokoh yang muncul ke permukaan lebih sering menampilkan sosok arogan yang memiliki filosofi “menangisme”, pokoknya harus menang, dari pada sosok panutan dengan budaya santun dan argumentasi kuat. Statemen yang bersifat apologetik lebih dominan ketimbang adu program terkait dengan persoalan-persoalan krusial di masyarakat.
Deklarasi pemilu damai oleh para kontestan perlu mendapat apresiasi. Namun demikian, deklarasi itu jika tidak disosialisasikan dengan baik maka akan menyentuh lapisan-lapisan elit dari pihak-pihak yang berkompetisi saja. Sementara potensi konflik terbesar berada di akar rumput (grass root). Gesekan psikologis, mungkin akan terjadi gesekan fisik, sudah demikian terasa. Ujaran-ujaran kebencian menjadi konsumsi harian. Hal ini mudah sekali dibuktikan lewat berbagai media sosial. Predikat peyoratif “kampret” versus “cebong” menandai betapa ukhuwah untuk saat ini menjadi barang yang sangat mahal.
Jika dibandingkan secara jujur, antara ukhuwah dan kontestasi menuju kekuasaan, maka akan terlihat perbedaannya. Ukhuwah bersifat suci dan permanen yang wajib dijunjung tinggi, sementara kontestasi menuju kekuasaan bersifat nisbi, sesaat dan menjadi wilayah ijtihadi. Ini artinya ukhuwah mesti dihormati di atas berbagai kepentingan dan model kekuasaan apa pun. Hal ini dilakukan demi persatuan umat Islam. Kini umat Islam kembali dibingungkan karena ulama terpecah. Definisi ulama disesuaikan dengan selera penafsirnya. Selanjutnya, masing-masing ulama mengeluarkan berbagai fatwa. Fatwa sangat bernuansa kepentingan dan cenderung digunakan untuk memperkuat pilihan politik.

Gesekan-gesekan menuju kekuasaan pada akhirnya menyentuh lembaga yang dianggap paling otoritatif dalam masalah keislaman, yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sadar atau tidak sadar, “Rumah Besar” umat Islam tersebut akan menjadi material yang diperebutkan demi sebuah kekuasaan. Karenanya,  MUI mesti dirawat dan mesti netral berbagai kepentingan politik. Butuh ikhtiar jernih agar MUI tidak terkesan seperti hidangan di atas meja yang siap disantap orang. Umat Islam boleh saja berbeda pilihan dalam politik kekuasaan, namun tetap dengan semangat Alquran dan hadis. Di atas pilihan itu terdapat ukhuwah yang mesti dijunjung tinggi. Wallaahu a’lam.