Selasa, 12 Juli 2016

Kesan-Kesan Inspiratif dari New Zealand




Tulisan ini tentu tidak dapat merepresentasikan kondisi objektif New Zealand (NZ) dan berbagai dinamika masyarakat yang ada di dalamnya. Tulisan ini hanya merupakan kesan yang penulis tuangkan untuk menjadi catatan-catatan sederhana selama berada di New Zealand dalam waktu yang demikian singkat. Muara dari tulisan ini tentu saja munculnya pelajaran berharga yang dapat ditransformasikan dalam berbagai konteks.

Kecintaan terhadap Alam
Alam NZ dikenal karena panoramanya yang demikian indah. Mulai dari jumlah penduduk yang tidak begitu padat, hanya 4.5 juta, sampai hamparan padang rumput yang terbentang indah. Masyarakat NZ terbiasa hidup berdasarkan aturan yang telah menjadi kesepakatan bersama, tentu muara dari peraturan yang ketat itu kembali untuk kepentingan masyarakat NZ sendiri. Berbagai pelanggaran terhadap aturan akan berujung pada denda. Namun denda yang dimasukkan ke dalam kas negara, penggunaannya untuk kemaslahatan masyarakat itu sendiri.
Kecintaan masyarakat NZ terhadap alam cukup tinggi. Satu ketika, penulis mengunjungi sebuah tempat wisata di kota Auckland, ada sebuah cerita menarik yang  penulis dapatkan dari kunjungan tersebut. Penulis melihat ada sebatang pohon yang tumbang secara alamiah karena alasan sudah tua atau gejala alam. Hal tersebut menjadi sebuah musibah yang menyedihkan dan dirasakan seperti seperti kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Beberapa hari setelah pohon itu tumbang, berbagai ucapan belasungkawa dapat dibaca dilokasi tersebut.
Perlakuan mereka terhadap pohon sama seperti mereka memperlakukan manusia. Pohon dianggap sebagai anggota masyarakat yang haknya sama dengan manusia. Masyarakat NZ merasa memiliki tanggung jawab untuk merawat alam. Itulah sebabnya, jarang terdengar ada aktifitas penebangan hutan secara liar. Selain karena kesadaran masyarakat yang sudah matang, denda terhadap aktifitas menebang hutan sembarangan amat tinggi, boleh jadi bernilai puluhan juta rupiah.

Perlakuan terhadap Hewan
Penulis juga menyaksikan kecintaan masyarakat NZ terhadap hewan peliharaan seperti anjing, kucing, kuda dan sebagainya.  Anjing misalnya, merupakan hewan peliharaan yang sangat digemari. Selain karena kecerdasannya, anjing dapat menjadi teman di kala sepi. Ada sebuah keyakinan unik, seorang anak di NZ akan meninggalkan orang tua mereka ketika menginjak usia dewasa. Sementara anjing tidak akan pernah meninggalkan tuannya. Sebab itulah masyarakat NZ memperlakukan anjing layaknya anak mereka sendiri. Mereka kerap mengajak anjing peliharaan mereka untuk menghirup udara segar ke alam terbuka. Bahkan ada satu hal ekstrim menurut pandangan penulis, ada seekor anjing yang mendapatkan hak warisan setelah tuannya meninggal dunia. Ini mungkin kasus langka yang jarang ditemui di tempat lain.
Pernah satu ketika, seekor kucing memanjat sebuah pohon, namun kemudian kucing itu kesulitan untuk turun. Kasus tersebut dilaporkan kepada pemerintah setempat. Dalam waktu yang tidak begitu lama turun bantuan penyelamatan. Tim penyelamatan yang diturunkan terdiri dari kepolisian, dinas pemadam kebakaran dan dokter hewan. Untuk menyelamatkan hidup seekor kucing persis seperti penyelamatan seorang manusia yang sedang mengalami persoalan serius.
Merawat hewan peliharaan di NZ terbilang tidak murah. Mulai dari perawatan kesehatannya sampai aktifitas memandikannya. Informasi yang penulis dapatkan, ada seorang pemilik hewan peliharaan yang dijebloskan ke dalam penjara dikarenakan meninggalkan kuda peliharaannya untuk liburan. Padahal, pemiliknya sudah mempersiapkan makanan untuk kuda itu. Namun salah seorang tetangganya melaporkan jika si pemilik kuda tersebut membiarkannya.

Fasilitas Umum
Fasilitas umum yang disediakan pemerintah benar-benar memanjakan masyarakatnya. Di fasilitas umum disediakan tempat bermain untuk anak-anak layaknya taman kanak kanak yang ada di Indonesia, tempat untuk membaca, lapangan basket ball, barbeque (tempat untuk membakar ikan), lahan hijau yang menyejukkan mata. Semuanya terawat dengan baik. Rasa haus di NZ tidak perlu dikhawatirkan karena air keran di NZ dapat di konsumsi secara langsung, meskipun tidak disemua tempat demikian. Namun secara umum, air di NZ layak untuk dikonsumsi tanpa harus dimasak terlebih dulu.
Fasilitas umum ini tidak saja dijumpai di kota-kota besar, di berbagai daerah fasilitas umum juga tersedia secara baik dan merata. Di satu tempat ada sebuah rumah yang jaraknya puluhan kilometer dari kota, namun rumah itu mendapat aliran listrik sebagaimana yang dialirkan di kota-kota besar. Menurut masyarakat NZ, itu adalah hak warga negara yang mesti diberikan tanpa terkecuali. Fasilitas umum seperti toilet juga disiapkan pemerintah di puncak gunung, padahal tempat itu jarang dikunjungi. Pemerintah mempertimbangkan, lebih baik berkorban toilet daripada masyarakat mengotori lingkungan. Membersihkan lingkungan kotor membutuhkan biaya yang lebih besar daripada sekedar menyiapkan toilet.

 Pajak yang Tinggi
Gaji masyarakat NZ dipotong oleh pemerintah, besarannya tergantung pada jenis pekerjaan yang dilakoni. Boleh jadi mulai dari 20 persen sampai 30 persen dari pendapatan. Menariknya, aturan itu dipatuhi dengan baik. Masyarakat sadar, pemotongan itu akan dikembalikan penggunaannya untuk masyarakat. Misalnya untuk membangun infrastruktur seperti jalan, rambu-rambu lalu lintas, perawatan fasilitas umum.

Dukungan untuk Pendidikan
Pendidikan di NZ mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas digratiskan. Model pendidikan untuk sekolah dasar cukup sederhana. Kurikulum yang disusun hanya untuk mata pelajaran tertentu seperti matematika, menggambar, mengarang, dan membaca. Para siswa tidak dijejali dengan berbagai mata pelajaran yang memberatkan. Itulah sebabnya siswa siswi di sekolah NZ merasa rugi jika tidak ke sekolah. Karena di sekolah mereka bermain (having fun). Selain itu, para guru lebih cenderung memotifasi ketimbang memfonis. Ungkapan seperti, fantastic (luar biasa), excellent (sempurna), very good (sangat baik), menjadi santapan sehari-hari.
Seseorang yang ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi seringkali terbentur persoalan finansial. Pemerintah NZ menyediakan pinjaman dana (loan) untuk calon mahasiswa yang akan melanjutkan pendidikan tinggi. Pengembaliannya dapat dicicil ketika mereka sudah tamat dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Untuk sarana transportasi, masyarakat NZ lebih memilih memiliki kendaraan pribadi daripada menggunakan transportasi publik. Meskipun disiapkan, transportasi publik seperti bus dan kereta masih terbilang tidak begitu banyak.

Respons terhadap Pengangguran
Para pengangguran dapat santunan dari pemerintah. Inilah cerminan masyarakat yang sudah makmur. NZ bukan negara kaya, namun pembangunan dirasakan secara merata. Tingkat korupsi terbilang sangat rendah. Status pejabat publik dan masyarakat biasa hampir sama. Mobil mudah sekali dibeli karena harganya murah. Banyak mahasiswa Indonesia (S.2 dan S.3) yang dapat membeli mobil-mobil, tak jarang yang mewah. Sepeda motor jarang penulis jumpai, harganya juga murah. Harga sepeda motor lebih murah dibanding dengan sepeda. Mengayuh sepeda ke kantor atau ke tempat tertentu menjadi aktifitas bergengsi. Sebab masyarakat NZ mengutamakan kesehatan.
Di NZ, penulis tidak menjumpai petugas parkir. Masing-masing pemilik kendaraan memasukkan beberapa koin ke sebuah tempat yang disediakan di pinggir jalan untuk pembayaran parkir. Parkir juga tidak boleh dilakukan sembarangan. Sebab jika parkir dilakukan sembarangan akan ditindak oleh petugas melalui towing (menderek) mobil tersebut ke kantor pemerintah yang menangani towing. Dendanya amat mahal, sekitar 200 NZD (dua juta rupiah atau lebih). Itulah sebabnya, posisi mobil yang parkir sangat rapi dan tertata.
Rambu-rambu lalu lintas di NZ ditaati dengan baik. Tidak semua persimpangan terdapat lampu lalu lintas, namun para pengguna jalan cukup melihat garis-garis lalu lintas yang diatur sedemikian rupa, maka kendaraan berjalan dengan rapi dan terarah. Suara horn (klakson) kendaraan jarang sekali terdengar. Para pengguna jalan merasa nyaman, selain karena jalanan yang mulus tapi juga para pengguna jalan yang kerap mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Beberapa kali penulis melihat para pengguna jalan mempersilahkan yang lain untuk lewat terlebih dahulu. Tidak ada yang saling menyerobot.

Atensi terhadap Kesehatan
Biaya perobatan di NZ sangat mahal. Namun pemerintah menyiapkan fasilitas rumah sakit secara gratis untuk masyarakat. Dokter yang menangani pasien juga sangat profesional dan bertanggung jawab. Dokter-dokter tidak akan membiarkan pasiennya kecuali pasien tersebut sudah sembuh dari penyakit yang dideritanya. Menariknya, dokter-dokter dapat dibooking berdasarkan keinginan. Misalnya, jika seseorang menginginkan dokter pria atau wanita maka pihak rumah sakit akan menyediakan sesuai dengan pilihan pasien.

Kejujuran yang Membudaya
Di NZ juga tersedia super market tanpa penjaga. Pembeli dibebaskan untuk membeli barang pilihan sesuai keinginannya. Namun demikian, setelah barang-barang dibeli, maka pembayarannya cukup mempergunakan komputer yang sudah diprogram. Tingkat kejujuran di NZ terbilang tinggi. Belum pernah terjadi manipulasi belanjaan di super market tanpa pengawas itu.
Penulis mendapatkan informasi bahwa seseorang tidak merasa berat melakukan sesuatu untuk orang lain meskipun mengeluarkan biasa. Sebagai contoh, salah seorang sahabat penulis membayar rekening listrik, tanpa disadari kwitansi bukti pembayaraan tercecer. Seorang warga NZ menemukannya dan mengirimkan kwitansi itu melalui kantor pos ke alamat rumah teman penulis. Selain persoalan waktu, aktifitas itu mengeluarkan biaya minimal untuk membeli sebuah perangko.
Rumah-rumah masyarakat tidak ada yang mempergunakan teralis, semuanya kaca biasa tanpa adanya pengaman tambahan. Namun demikian, belum pernah terjadi pencurian yang membobol rumah masyarakat. Tentu saja, kriminalitas pasti ada namun volumenya amat kecil dan dapat dihitung jari. Rumah-rumah cukup ramah lingkungan, sebagian besar terdiri dari kayu-kayu yang kuat dan tahan lama.

Kritik untuk Beberapa Budaya
Meski demikian, terdapat tradisi di NZ yang bertentangan dengan tradisi di Indonesia terutama jika dilihat dari perspektif agama. Misalnya gaya hidup free sex, seorang remaja yang sudah menginjak usia 18 tahun dibebaskan untuk tinggal bersama dengan pasangannya tanpa diikat pernikahan. Bahkan ada orang tua yang merasa bahagia ditinggal oleh anaknya, karena boleh jadi selama ini menjadi beban finansial dalam keluarga. Budaya minuman keras (liquor) juga demikian, memiliki dasar hukum. Selain itu, NZ termasuk negara yang mendukung eksisitensi LGBT (lesbian, gay, bi seksual dan trans gender). Meskipun demikian, hak-hak individual tetap dihormati dan dijunjung tinggi. Seseorang akan berurusan dengan hukum jika memaksakan minuman keras atau LGBT kepada orang lain.

Inilah diantara berbagai hal yang harus ditolak. Bersikap kritis bukan berarti menolak semua atau menerima semua, namun sebuah kecerdasan untuk menjaring mana yang baik dan tidak baik. Para pembaca yang dirahmati Allah, inilah setidaknya kesan-kesan yang dapat penulis tuangkan untuk menjadi pelajaran kita bersama. Demikian, semoga bermanfaat.

Jumat, 01 Juli 2016

IMM dan Proyek Besar Perubahan



Tulisan ini dibuat dalam balutan musim dingin yang meraba tulang.  Namun penulis mencoba menuangkan kalimat demi kalimat untuk melahirkan makna, kendatipun cubitan-cubitan nakal rasa dingin seringkali tak dapat dihindari.   Meski demikian, pesona dan keramahan panorama alam New Zealand, saat penulis menuangkan kalimat di kanvas pemikiran ini, menjadi penghangat sukma tersendiri. Selain itu, sistem sosial yang tertata rapi dan bernuansa islami juga menjadi bagian pijar kehangatan yang mengitari penulis.
Salah satu diskursus akademik yang selalu membangkitkan syahwat penulis adalah diskursus tentang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Penulis berhutang sejarah hidup kepada IMM. Penulis ibarat sebutir pasir yang demikian tidak berarti di tengah milyaran pasir-pasir lain yang bergerak. Namun demikian, desahan nafas dan detak jantung penulis hingga kini tak lepas dari jasa fantastik IMM.
Di lembaga tersebut, penulis mendapatkan banyak hal yang tak habis diuraikan dengan kata-kata. Mulai  dari semangat untuk bertahan hidup dan konsistensi untuk menjadi sosok  yang bermanfaat bagi kehidupan.  Dalam pandangan penulis, IMM merupakan universitas sungguhan yang mendidik para santri untuk menatap realita, memproduksi nilai-nilai yang mesti diimplementasikan, dan ladang persemaian bibit strategi untuk mencandra masa depan.
Berangkat dari kesadaran normatif tersebut, penulis melihat betapa IMM merupakan salah satu proyek mewah perubahan sosial yang dimiliki umat. Di pundaknya terletak cita-cita dan ribuan semangat perubahan, demi terwujudnya masyarakat islami sebagaimana yang dirumuskan organisasi induknya, yaitu Muhammadiyah. Di sinilah sesungguhnya peran dan fungsi IMM, yaitu sebagai laboratorium pemikiran dan pijar pergerakan.
IMM merupakan salah satu lembaga civil Islam, yaitu sebuah lembaga yang menjadi ruang kesadaran dan dialog komunitas elit. Berbeda dengan lainnya, IMM merupakan lapisan terdepan masyarakat. Elitisme komunitas IMM dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang dimilikinya, yaitu mahasiswa. Dilihat dari optik usia, rata-rata usia komunitas ini antara 18 sd 25 tahun. Rentang usia yang mencerminkan dinamika yang tinggi.
Berbagai persoalan masyarakat dikaji dan dibahas tuntas dalam berbagai diskusi bernas yang dilaksanakan. Menggiring ikhtiar ke arah itu bukan langkah yang mudah seperti membalikkan telapak tangan dan kelihaian bersilat lidah. Perlu niat yang terawat baik dan berbagai usaha yang mengiringinya. Mengingat hidangan persoalan kini kian kompleks, maka IMM perlu mempersiapkan amunisi tempur yang dibutuhkan untuk melahirkan sebuah peradaban besar yang inklusif dan berwawasan kemanusiaan.
Kasus kebangsaan yang kini terjadi di Indonesia menyeret spirit keislaman IMM untuk hadir dan turut serta mengawal eksistensi bangsa ini. Korupsi sebagai kejahatan kemanusiaan, dianggap menjadi faktor dominan yang hampir menenggelamkan bangsa ini dalam lumpur sejarah. IMM dapat menciptakan berbagai ruang dan peluang bagaimana pendidikan anti korupsi dilaksanakan. Perlu dirumuskan sebuah program inklusif kebangsaan di lingkungan IMM yang di dalamnya membahas langkah normatif dan kongkrit agar kultur korupsi tercabik dan pada akhirnya sampai pada momentum ajalnya.
Mulai dari lingkungan mini, akuntabilitas keuangan IMM dapat dipertanggungjawabkan kepada dua pihak, yaitu: laporan organisasional dan tanggung jawab kepada Allah. Seberapa pun keuangan yang beredar di lingkungan IMM tetap tercatat dalam laporan yang terpercaya dan jauh dari rekayasa. Sejujurnya, di lingkungan IMM, pendidikan anti korupsi cukup kuat. Namun rumusan konkrit dan real model yang terimplementasi tak mudah diamati.
Di New Zealand sendiri ada sebuah contoh menarik tentang super market kejujuran. Di dalamnya setiap orang dapat mengambil apa saja dan melakukan pembayaran sendiri tanpa perlu diawasi petugas. Ini berhasil dan sudah berlangsung lama. Jika dicermati, persoalan bangsa kita terletak pada kemauan dan keberanian untuk mengimplementasikan kejujuran. Super market yang penulis contohkan berada di lingkungan masyarakat sekuler, namun praktiknya islami. Budaya seperti ini dapat dimulai oleh IMM, jujur pada spektrum kecil untuk menuju spektrum yang lebih besar.
Bangsa ini terpuruk karena pilar kejujuran hampir ambruk. Ini harus menjadi nafas kesadaran IMM. Kejujuran menjadi barang mewah yang mahal sekali harganya. Beruntung, dengan landasan teologis yang kuat, bagaimana nilai-nilai kejujuran dianggap penting sebagaimana pentingnya sebuah keimanan yang selama ini terhunjam kokoh di lubuk sanubari kader-kader IMM. Agaknya, IMM perlu menjadikan nilai-nilai kejujuran tersebut sebagai modal individual yang bermuara pada aksi sosial.
Memang di sisi lain, kultur pragmatisme menjadi hambatan tersendiri dan dapat menikam nilai-nilai luhur IMM. Predikat sebagai aktifis IMM memberikan status bergengsi di masyarakat sekaligus menuntut sikap matang dan dewasa dalam bertindak. Predikat sebagai aktifis IMM dapat digunakan untuk menaikkan nilai tawar kepada masyarakat luas, siapa IMM, bagaimana gerakannya, dan apa prestasinya dalam sebuah proses pencerahan. Dari IMM kembali untuk IMM. Sementara kultur pragmatisme menyeret IMM untuk menjadi sebuah media pihak tertentu untuk menaikkan nilai tawar bagi kepentingan tertentu. Siklus gerakannya akan bergerak dari IMM, namun untuk kemaslahatan individual.
Kultur pragmatisme itulah yang kerap memproduksi konflik internal yang terkadang terjadi secara berkelanjutan. IMM dalam posisi seperti itu akan terkulai lesu dan seolah hidup dengan energi yang lemah. Sebab energi yang banyak terkuras untuk urusan konflik internal. Inilah diantara variabel penting mengapa IMM tidak pernah tumbuh dan berkembang besar secara eksternal. IMM tidak sanggup bertarung di luar, jika pun ada, maka kerap kali kalah dalam berkompetisi. Tak jarang IMM hanya menjadi lapisan kedua atau malah tak diperhitungkan sama sekali.
Kultur pragmatisme masuk ke IMM sedemikian dahsyatnya. Ungkapan-ungkapan religius dan damai di lingkungan IMM tergerus oleh ungkapan yang dirasakan kering dan instruksional, seperti: “perintah ketua”, “petunjuk ketua”, “izin menghadap ketua”, “mohon arahan ketua”. Jika dikritisi, ungkapan-ungkapan tersebut memojokkan IMM pada sebuah sudut yang kering persahabatan tulus. Kesan yang muncul adalah kepentingan yang datang bertubi-tubi. Hubungan yang dibangun hanya melahirkan “who gets what”, “siapa mendapatkan apa”, bukan sebaliknya “who gives what”, “siapa memberikan apa”. Itulah sebabnya, penulis melihat, jangan sampai IMM seperti daun pisang. Dimanfaatkan orang untuk melindungi diri dari air hujan, setelah hujan berhenti daun pisang itu pun dicampakkan, bahkan diinjak orang nan lalu.
Fenomena sebagai generasi robotik penulis amati juga menyapa IMM. Generasi robotik adalah komunitas manusia yang tidak mengenal jati dirinya, apa yang dilakukannya dan kemana dia sedang melangkah. Generasi robotik terperangkap dalam eforia gerakan secara simbolik namun tak memahami untuk apa gerakan itu ia lakukan. Generasi robotik bernafas sesuai dengan keinginan kreator yang secara jeli menyusun program-program canggih dan terencana yang sudah disiapkan. Dalam konteks ini, balutan idealisme yang disusupi berbagai kepentingan jangka pendek menumpulkan nalar kritis IMM.
Generasi robotik mudah saja dikikis bahkan dihalau dari IMM. Alquran mengajarkan kepada kita untuk tabayyun, melihat secara jeli akar sebuah persoalan untuk kemudian menentukan sikap. Imam Ali pernah berpesan agar kita arif dalam mensikapi persoalan. Kata beliau, “Jika engkau ingin menyelesaikan sebuah persoalan, maka ambillah informasi dari orang kedua sebagaimana engkau telah mengambil informasi dari orang pertama.” Pesan ini bernuansa tengahan (wasatha), tidak berat sebelah namun cenderung mempertemukan.
Batin penulis bergetar ketika menghayati Mukaddimah Anggaran Dasar IMM. Di Mukaddimah itu dijelaskan bahwa IMM bergerak untuk Muhammadiyah, untuk bangsa dan untuk dunia. Betapa cerdas dan progresifnya Mukaddimah itu. Muhammadiyah tidak mungkin ditinggalkan, karena Muhammadiyah maka IMM ada. Sebagai komunitas elit, IMM perlu menjadi katalisator perdamaian dan aktor berbagai aktifitas yang dilaksanakan Muhammadiyah. Relasi antara IMM dan Muhammadiyah seperti tubuh dan kaki. Kaki selalu melekat pada tubuh. Jika tubuh kehilangan kaki, maka langkahnya menjadi tidak seimbang. Begitu pula jika kaki terlepas dari tubuh, yang lahir adalah seonggok bangkai yang tanpa makna.
Meminjam terminologi fikih, penulis menyampaikan bahwa IMM tanpa Muhammadiyah adalah haram. Haram adalah sesuatu yang terlarang dan harus dihindari. Itulah sebabnya, fatwa “nyasar” ini mesti dilekatkan dalam berbagai regulasi. Syahadah Darul Arqam Dasar (DAD) misalnya, tidak boleh diserahkan sebelum yang bersangkutan melibatkan diri di Muhammadiyah minimal tiga bulan, itu pun harus disertai bukti atau keterangan yang mendukung. Perlu pula dirumuskan kurikulum dan berbagai kegiatan lanjutan setelah perkaderan dasar itu, tentu materinya seputar penguatan ideologi Muhammadiyah.
Kepekaan IMM terhadap isu kebangsaan merupakan poin penting yang mesti dipertahankan. IMM merupakan check and balance (bersikap kritis dan pencipta keseimbangan). Kekuatan moral merupakan modal utama IMM. Penulis setuju, jika IMM turun ke lapangan untuk melancarkan berbagai aksi yang ditujukan untuk mengkritisi bahkan mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak adil. IMM melahirkan kualitas manusia yang peka terhadap lingkungannya. Inilah ulul albaab itu, yaitu kelompok manusia yang peka lahir dan batin.
Sebagaimana Muhammadiyah, IMM perlu memberikan kritik budaya dan politik terhadap berbagai kezaliman yang terjadi. Muhammadiyah mempelopori lahirnya judicial review untuk berbagai peraturan pemerintah yang menyembelih nyawa rakyat. IMM dalam berbagai konteks juga demikian, memberikan kritik konstruktif, misalnya, terkait dengan infrastruktur khususnya di kota Medan yang secara real centang prenang. Ruang hijau kota Medan tidak memadai, kegersangan menjadi selimut aktifitas yang dinikmati secara terpaksa, bahkan kemacetan menjadi momok tersendiri bagi para pengguna jalan. IMM dapat hadir dengan mengangkat berbagai isu tersebut, baik dalam tulisan, dialog, diskusi atau aksi turun ke jalan.
Penulis merasa sebagai orang yang selalu gagal dalam hidup ini. Dalam beberapa kesempatan kunjungan ke luar negeri, penulis tetap menyempatkan diri berkumpul dengan putera dan puteri terbaik Indonesia yang sedang mengambil gelar master dan doktor di berbagai universitas ternama. Kunjungan penulis ke Ohio State University beberapa waktu yang lalu, mengantarkan penulis bertemu dengan para peraih beasiswa Fullbright, LPDP, Dikti, dan seterusnya. Di antara mereka ada yang menetap di Amerika, namun sebagian besar harus mengabdi di tanah air. Mereka telah membuktikan diri sebagai tokoh dunia, menjadi penyangga laju dan berkembangnya peradaban modern.
Melihat kenyataan ini, ingin rasanya penulis kembali ke masa lalu, aktif di IMM sembari menambah kualitas keilmuan terutama penguasaan bahasa asing. Sepertinya penulis ditakdirkan Tuhan berhenti sampai di sini sembari menangisi kegagalan demi kegagalan untuk menjadi yang terbaik. Tentu saja ratapan ini tidak boleh berlangsung secara berkelanjutan. Ratapan seperti ini harus diamputasi segera, sembari melakukan kreasi terbaik dalam apa yang dapat penulis kerjakan saat ini.
Demikian pula perbincangan penulis dengan putera-puteri terbaik Indonesia yang kini tengah menuntut ilmu di beberapa perguruan Tinggi ternama New Zealand, mereka akan menjadi pilar jatuh dan bangunnya masa depan Indonesia selanjutnya. Penulis bermimpi bagaimana IMM dapat menjadi rumah tidak saja untuk pergerakan namun juga pemikiran ke arah itu. Kader-kader IMM tidak boleh dikungkung ego geografis, melihat dunia hanya sebatas halaman rumahnya, berebut lahan gerakan dan menjatuhkan para koleganya. Kader-kader IMM harus berdiri di gunung cita-cita, menatap panorama dunia sekaligus menjadi salah satu elemen perawatnya. Lima atau sepuluh tahun ke depan, jika ada kesempatan untuk berkunjung kembali ke luar negeri, penulis berbahagia sekali mendapat sebuah ungkapan, “aku adalah kader IMM”.
Kader-kader IMM harus berdiaspora, dimana saja dan kemana saja. Penulis berharap, konsep fantasyiruu fil ardh (bertebaranlah di muka bumi), menjadi semacam doktrin teologis IMM. Penggalan kalimat itu menyiratkan betapa kecilnya dunia. Sebab itu, terbuka gerbang yang demikian besar bagi kader-kader IMM untuk membuka dan memasukinya. Dari keinginan itulah kader-kader IMM dapat menjadi musafir pergerakan dan akademik.
Menyangkut  scope gerakan, kader IMM harus memainkan peran secara regional, nasional, bahkan internasional. Potensi ini mungkin bisa dilakukan selama kader-kader IMM merintis ke arah itu dan IMM menjadi fasilitator utama di dalamnya. IMM adalah sebuah proyek penting, yaitu proyek mewah perubahan yang dimiliki Muhammadiyah. Proyek mewah itu mensyaratkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mencukupi. Melalui IMM perubahan masyarakat minimal sebatas benihnya dapat ditumbuhkan sebaik mungkin. Demikian semoga bermanfaat. Fastabiquul khairaat.

Selasa, 28 Juni 2016

Gema Ramadhan di New Zealand



Gema Ramadhan setiap tahun menyapa kaum Muslimin, tidak saja berlangsung di tanah air, melainkan juga berlangsung di seluruh belahan dunia. Di Indonesia, gema Ramadhan begitu kental. Sejak saat-saat kedatangannya, pelaksanaannya, sampai kepada kepergiannya, mendapat atensi dan selebrasi yang besar. Dari kota-kota metropolitan sampai dusun-dusun yang terletak jauh dari keramaian, gema Ramadhan tetap terasa.
Hal ini wajar saja terjadi, mengingat Indonesia menjadi sebuah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun demikian, tidak semua negara  memberikan respons sama terhadap perjalanan Ramadhan, sebagaimana yang terjadi di New Zealand. Ramadhan di Negara mungil tapi makmur ini tanpa simbol dan selebrasi. Perjalanannya hening, sehening seseorang yang duduk dalam kesendirian namun penuh pemaknaan.
Penulis berkesempatan mengunjungi dua daerah besar di New Zealand, yaitu Auckland dan Christchurch. Fenomena di kedua daerah ini lebih kurang sama. Gema Ramadhan menjadi sebuah fenomena menarik untuk dicermati. New Zealand merupakan negara dengan sistem sekular yang menempatkan agama pada wilayah private (pribadi), namun justru kebebasan beragama dijunjung tinggi oleh negara sebagai hak dasar setiap individu.
Berangkat dari regulasi ini, kaum Muslimin bebas melaksanakan puasa Ramadhan tanpa mendapat halangan. Siapa saja yang berupaya menghalangi seseorang dalam melaksanakan ibadah puasa maka akan berhadapan dengan hukum. Hukum cukup dihormati dan dijunjung tinggi. Hal ini dapat dilihat dari sistem sosial yang tertata rapi, jauh dari kesan semrawut dan tak berperadaban. Mulai dari kebersihan, keramahan, ketaatan terhadap peraturan lalu lintas, memanjakan setiap orang yang datang ke New Zealand.
Simbol-simbol agama apa pun tidak pernah terlihat kecuali di tempat-tempat tertentu, seperti masjid dan gereja. Di gereja sendiri, lonceng kebaktian tidak pernah terdengar, sama seperti azan. Pengeras suara hanya diperbolehkan di dalam ruangan, namun tidak boleh keluar karena dapat mengganggu kenyamanan kolektif. Meskipun gereja dapat dijumpai di banyak sudut kota, namun kebaktian dilaksanakan tanpa mengganggu pihak lain.
Kultur toleransi di New Zealand terbilang tinggi. Menurut penuturan beberapa rekan penulis yang bekerja sebagai pegawai di instansi pemerintah maupun swasta, setiap orang bebas melaksanakan keyakinannya. Sebagai contoh, jika waktu berbuka puasa tiba dan bersamaan waktunya dengan jam kerja, maka bagi yang berbuka puasa diberikan waktu luang untuk berbuka puasa sampai pelaksanaan shalat maghrib. Sarana ibadah seperti musholla disediakan, meskipun tidak di setiap tempat.
Para orang Kiwi, sebutan untuk penduduk New Zealand, tidak akan sungkan membuka kantornya bagi seorang Muslim untuk melaksanakan sholat. Bahkan penulis melaksanakan sholat maghrib berjamaah di Musholla Universitas Lincoln yang memang dibangun secara khusus. Tentu di berbagai Universitas lain seperti Universitas Canterbury, Universitas Auckland, fasilitas itu mudah dijumpai.
Puasa Ramadhan pada tahun ini 1437 H./ 2016 bertepatan dengan musim dingin (winter). Dapat dibayangkan, rasa haus yang biasa meraba tenggorokan tidak begitu berpengaruh. Waktu rata-rata pelaksanaan puasa Ramadhan adalah 11 jam. Di Auckland misalnya, waktu berbuka berada pada kisaran pukul 17.15 sementara Imsak pada pukul 06.00. Waktu puasa di Christchurch 15 menit lebih cepat. Suhu rata-rata di Auckland antara 10-15 derajat celcius, sementara di Christchurch antara 4-10 derajat celcius.
Keadaan ini cukup berbeda jika Ramadhan bertepatan dengan musim panas (Summer). Selain cuaca yang agak ekstrim, puasa pada musim ini terbilang panjang. Biasanya, kaum Muslimin berbuka puasa pada pukul 21.30 dan harus bangun pada pukul 02.30 pagi untuk makan sahur. Dapat dibayangkan, betapa singkatnya malam hari yang hanya berlangsung dari pukul 21.30 sampai pukul 03.00. Di rentang waktu tersebut kaum Muslimin melaksanakan shalat Maghrib, Isya, dan Tarawih.
Di New Zealand, kaum Muslimin tidak dengan mudah dapat membeli makanan untuk berbuka puasa. Tidak seperti di Indonesia, di berbagai tempat dijumpai menu berbuka puasa yang dapat dibeli dan disesuaikan dengan selera dan kemampuan. Di negara ini, menu-menu kegemaran tidak akan ditemui kecuali disiapkan sendiri. Selain itu, status hukum makanan mesti diperhatikan secara jeli. Tak jarang menu makanan yang dijual tidak sesuai dengan syariat Islam.
Itulah sebabnya, aktifitas buka puasa bersama menjadi salah satu momen yang cukup dirindukan oleh kaum Muslimin Indonesia. Selain dapat bertukar informasi, menjalin silaturrahim, buka bersama juga dapat dipergunakan sebagai media untuk mengaktifkan kembali lidah Indonesia yang setelah sekian lama “tersandera” oleh keadaan. Penulis merasa kagum dengan salah seorang warga Indonesia yang menempuh perjalanan 250 km. hanya untuk buka puasa bersama. Selain memang beliau ingin bersilaturrahim dengan yang lain.
Di beberapa masjid seperti An-Nur di Christchurch dan Air Port Mosque di Auckland, buka puasa bersama dilaksanakan secara rutin. Biasanya panitia yang mengelola adalah kaum Muslimin India. Menu yang disajikan juga khas India. Penulis juga berkesempatan hadir di acara itu. Menariknya, umat Islam yang ikut buka puasa bersama datang dari banyak negara seperti Burma, Malaysia, Singapura, Mesir, Arab Saudi dan Bangladesh. Meskipun persoalan kebersihan dan kerapian menjadi poin penting yang harus ditingkatkan.
Masyarakat Muslim Indonesia, selain ada yang melaksanakan tarawih di masjid-masjid umum, juga menggunakan rumah-rumah mereka sebagai musholla sementara. Penulis juga diminta untuk menjadi imam sekaligus penceramah pada acara tersebut. Antusiasme mereka tinggi. Tak jarang mereka membawa anak-anak mereka untuk mengikuti sholat tarawih itu untuk menanamkan nilai-nilai keislaman. Meskipun sebagian besar dari anak-anak itu tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik.
Secara umum, masyarakat Muslim Indonesia dapat dikategorikan ke dalam beberapa varian: Pertama, citizen. Mereka merupakan warga negara tetap dan memiliki passport New Zealand. Kedua, indefinite citizen. Mereka merupakan warga negara Indonesia yang boleh tinggal di New Zealand dalam waktu yang tidak terbatas. Ketiga, permanent resident. Mereka merupakan warga negara Indonesia yang boleh tinggal di New Zealand dalam waktu lama, namun dalam waktu tertentu harus melapor ke kantor imigrasi. Jika mereka meninggalkan New Zealand selama dua tahun berturut-turut, maka haknya sebagai permanent resident akan hilang. Keempat, international setudent. Mereka tinggal di New Zealand selama masa studi. Kelima, pekerja. Mereka tinggal di New Zealand karena urusan pekerjaan.
Berbagai kategori itu lebur menjadi satu dalam banyak kesempatan, termasuk acara-acara hari besar keislaman. Hubungan emosional mereka menjadi lebih erat karena dilatarbelakangi oleh faktor ke-Indonesiaan. Dalam pembacaan penulis, paham keagamaan umat Islam Indonesia tidak tunggal. Pengaruh Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, Al-Irsyad, salafy, sedikit mewarnai. Meskipun terkadang terjadi gesekan kecil, namun persaudaraan tetap terawat baik.
Ikhtiar untuk mempertahankan Islam bagi masyarakat Islam Indonesia di New Zealand perlu mendapat apresiasi dan dukungan moral. Di samping kemakmurannya, kultur free sex (sex bebas) dan minuman keras menjadi tantangan tersendiri. Seorang remaja yang sudah mencapai usia 18 tahun akan diberikan kebebasan untuk hidup bersama pasangannya tanpa ikatan perkawinan. Bahkan tidak sedikit yang sudah memiliki beberapa anak namun tetap belum melangsungkan perkawinan. Demikian pula tantangan yang disajikan minuman keras. Semuanya dianggap legal, tentu dengan peraturan tertentu.
Karena itulah, lembaga-lembaga keislaman yang dikelola oleh masyarakat Indonesia seperti Umat Muslim Indonesia (UMI) di Wellington dan Himpunan Umat Muslim Indonesia Auckland (HUMIA) di Auckland perlu mendapat atensi besar para da’i di Indonesia. Secara umum mereka haus akan siraman ruhani dan rindu kedatangan para da’i Indonesia. Kerjasama mereka dengan lembaga-lembaga seperti Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama untuk pengiriman da’i mulai dirintis.
HUMIA misalnya meminta kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) di Jakarta seorang da’i yang dapat diterbangkan ke New Zealand. Selanjutnya Pimpinan Pusat Muhammadiyah meminta lembaga pendidikan Tinggi, seperti Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), untuk mengutus da’i-nya. Penulis sendiri berangkat ke New Zealand dari UMSU atas nama PP Muhammadiyah. Kedepan diharapkan ada da’i-da’i yang melakukan aktivitas sama di New Zealand untuk memberikan pencerahan keagamaan. Demikian semoga bermanfaat.

Sabtu, 23 April 2016

Narkoba dan Respons Agama


Tantangan-tantangan yang tersaji di pentas kehidupan akhir-akhir ini semakin menuntut rasa khawatir kita. Mulai dari kasus pembunuhan yang berujung mutilasi sampai kepada peredaran narkoba (narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif) terjadi secara masif.  Untuk yang terakhir, telah mengantarkan Indonesia sebagai negara dengan predikat “darurat narkoba”. Predikat ini bukan menyeruak sebagai opini yang tidak beralasan, melainkan lahir dari fakta-fakta hitam di lapangan. Mulai dari pejabat tinggi negara, artis, akademisi, oknum aparat keamanan, tua dan muda, tak lepas dari sentuhan lingkaran setan itu.
Dalam merespon fakta tersebut, seperti yang diberitakan Kompas.Com, baru baru ini Presiden Joko Widodo sempat menggelar rapat terbatas di kantor Presiden. Hasil dari pertemuan para pejabat negara tersebut dapat disimpulkan dalam dua hal: Pertama, perlunya sinergitas antar satu departemen dengan departemen lainnya untuk membendung arus peredaran sekaligus pemberantasan narkoba. Ego sektoral dalam konteks ini diletakkan pada posisi belakang. Narkoba menjadi semacam common enemy (musuh bersama) semua pihak. Kedua, perlunya disusun by design (secara terencana) langkah-langkah rehabilitasi para pemakai narkoba.
Presiden Joko Widodo juga menginformasikan bahwa di Indonesia korban narkoba yang meninggal dalam satu hari berjumlah 50 orang. Sementara dalam satu tahun korban meninggal dunia akibat narkoba dapat mencapai 18.000 orang. Pada 2015, jumlah pengguna narkoba yang terdaftar direhabilitasi mencapai 4.5 juta orang. Hal yang juga mencengangkan disampaikan Kepala BNN Komjen Pol. Budi Waseso, menurutnya, 62 persen peredaran narkoba yang terjadi di Indonesia dikendalikan dari rumah tahanan. Wajar saja, predikat “darurat narkoba” yang disemat Indonesia menuntut atensi kolektif berbagai pihak.
Untuk melengkapi ikhtiar tersebut, maka kesadaran beragama dalam kasus perang melawan narkoba seperti yang digemakan Presiden Joko Widodo tidak bisa diabaikan. Indonesia memang bukan negara agama, namun dapat dipastikan bahwa hampir seluruh masyarakatnya menganut agama. Respon agama terhadap narkoba dapat dilihat dari seperangkat penjelasan normatif dan penawaran nilai-nilai untuk mengantisipasi narkoba tersebut.

Narkoba dan Khamr
Istilah narkoba tidak dikenal di dalam Alquran, namun terdapat kata yang secara substantif sama bahkan mengandung makna lebih luas daripada narkoba, yaitu khamr. Sebagaimana dijelaskan dalam Ensiklopedi Alquran: Kajian Kosa Kata (2007) bahwa secara semantik khamr berarti tutup. Segala sesuatu yang berfungsi sebagai penutup disebut khimaar. Kata tersebut lebih populer diartikan dengan kerudung atau tutup kepala wanita. Arti lain dari khamr adalah minuman yang memabukkan. Disebut khamr, karena minuman keras memberikan pengaruh negatif yang dapat melenyapkan akal pikiran.
Kata khamr di dalam Alquran disebut enam kali, antara lain dalam Q.S. Al-Baqarah/ 2: 219 dan Q.S. Al-Maa’idah/ 90 dan 91. Memang inti pembicaraan Alquran dalam ayat ini berkisar pada hukum meminum jenis minuman tersebut. Alquran menegaskan bahwa hukum meminum khamr adalah haram. Menariknya, penetapan hukum haram tidak terjadi sekaligus, melainkan secara gradual. Jika ditelusuri secara antropologis, khamr merupakan simbol status sosial yang cukup lekat dengan masyarakat Arab dan sudah menjadi tradisi sendiri. Melarang sebuah tradisi untuk ditinggalkan tanpa proses tentunya tidak sejalan dengan hikmah diturunkannya Alquran secara berangsur-angsur.
Narkoba dan khamr meskipun terbaca berbeda secara tekstual, namun keduanya berpengaruh pada penurunan daya kerja akal. Dengan demikian narkoba dapat disamakan dengan khamr karena berfungsi menutupi kinerja akal. Menurut As-Syathibi, salah satu tujuan diturunkannya agama kepada umat manusia adalah untuk menjaga akal (hifz al-aql) agar tetap berfungsi secara baik. Salah satu letak kelebihan umat manusia dibanding mahluk-mahluk Allah yang lain adalah potensi akal. Sebab itulah mengkonsumsi narkoba dilarang dalam Islam. Narkoba itu sendiri menjadi momok paling berbahaya dan dapat dikategorikan pembunuh berdarah dingin.
Dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Imam Ahmad dinyatakan bahwa Rasulullah melarang semua yang memabukkan dan mufattir. Kata mufattir diartikan dengan yang membuat lemah. Karena memang narkoba membuat akal menjadi lemah. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dijelaskan bahwa Rasulullah melarang umatnya untuk melakukan hal-hal yang dapat merusak dan merugikan diri sendiri. Balasan untuk pelakunya adalah neraka jahannam. Jika dilacak secara jeli, narkoba dengan berbagai formatnya sesungguhnya benda lama dengan kemasan baru.
Dalam hal ini, ada beberapa kerugian sebagai konsekuensi penggunaan narkoba, yaitu: Pertama, kerugian di dunia. Hal ini dapat meliputi kerugian fisik, mental dan tentu saja sangsi sosial. Kedua, kerugian di akhirat. Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran dan hadis, bahwa narkoba membunuh kemampuan akal. Sementara akal merupakan salah satu bagian penting dalam beragama. Membunuh akal sama saja dengan mendisfungsikan agama. Selain itu, Allah memberikan ancaman berat bagi para bandar dan pengguna narkoba.
Sebab itulah, para pemuka agama mesti memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan umat dari bahaya narkoba. Tantangan yang diajukan zaman terhadap Islam bukan hanya menyangkut pendangkalan akidah dan pemurtadan saja. Kini umat malah dikejutkan dengan tantangan yang sama dahsyatnya dengan hal tersebut, yaitu narkoba. Mengawal akidah umat memang penting dan memagari umat dari gerakan pemurtadan juga harus dilakukan. Sementara narkoba dapat merusak skenario pembentukan umat. Narkoba akan melahirkan generasi dengan kelengkapan raga namun tanpa sukma. Dalam hal ini tidak ada kata berhenti melawan narkoba.
Serangan laten yang dilakukan para bandar dan pengguna narkoba lebih berbahaya daripada terorisme. Terorisme terjadi tidak dalam setiap saat, namun narkoba dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Jaringan yang dibangun tidak saja berskala lokal, nasional, tapi juga internasional. Indonesia dianggap lahan subur dan menjanjikan dalam peredaran narkoba. Musnahnya satu generasi tidak selalu diakibatkan oleh terjadinya bencana alam dan berlangsungnya peperangan.  Penyalahgunaan narkoba oleh masyarakat dapat pula menyebabkan musnahnya satu generasi.

Ikhtiar yang Dilakukan
Perang melawan narkoba kini menjadi tugas kolektif berbagai pihak termasuk para pemuka agama. Nilai-nilai yang diberikan agama sebagai pagar moral dalam hal ini cukup signifikan dan senantiasa dinantikan. Penanaman nilai-nilai keimanan menjadi bagian penting dan salah satu strategi mencegah peredaran narkoba. Dalam teks keagamaan dijelaskan secara eksplisit betapa narkoba menjadi isu penting yang wajib dicegah dan dijauhi karena dapat merugikan keberlangsungan dan suasana normal kehidupan seseorang.
Respon keluarga dalam membimbing anggotanya untuk menjauhi narkoba juga amat berperan. Keluarga broken home berpotensi terjerat lingkaran narkoba. Seorang anak ketika tidak merasa nyaman tinggal dalam sebuah keluarga, maka ia akan mencari komunitas yang memberikannya kenyamanan dan dapat mengakui eksistensi dirinya. Peluang inilah yang kemudian ditangkap oleh para bandar narkoba untuk mencari korban. Dalam hal ini, nilai-nilai sakiinah (rasa tenteram), mawaddah (rasa cinta), dan rahmah (rasa sayang), menjadi sebuah kebutuhan mendasar.

Seperti disampaikan Rasulullah, jika seseorang berteman dengan pandai besi maka ia akan mendapatkan panasnya api minimal debunya. Berteman dengan penjual minyak wangi meskipun minyaknya tidak didapatkan maka aromanya yang wangi dapat tercium. Berteman dengan pengedar dan pengguna narkoba juga seperti itu. Meskipun narkobanya tidak dikonsumsi, maka atmosfir narkoba dapat memberikan pengaruh. Dengan demikian, memilih teman dalam pergaulan mutlak diperlukan untuk menghindari pengaruh narkoba tersebut. Bergaul dan berkomunikasi dengan mereka dibenarkan dengan alasan-alasan tertentu. Seorang ahli hikmah mengingatkan bahwa tabi’at itu suka meniru. Sebab itu, tirulah orang-orang baik dan shaleh dalam pergaulan. Mari kita bentengi diri dan keluarga kita dari perngaruh narkoba melalui agama. Wallaahu a’lam.