Jumat, 10 November 2017

Dakwah Muhammadiyah Melintas Zaman

Tanggal 18 Nopember 1912 Miladiyah atau 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah, menjadi momen penting bagi Muhammadiyah. Sebab pada tanggal tersebut Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Salah satu variabel penting berdirinya Muhammadiyah disebabkan karena terjadinya gerak menjauh praktik keislaman di Indonesia dari sumber utamanya, Alquran dan As-Sunnah. Muhammadiyah hadir untuk melakukan purifikasi terhadap paham dan pengamalan keagamaan Umat Islam saat itu.
Semangat berdirinya Muhammadiyah dapat dipahami secara rasional, mengingat sinkretisme ajaran Islam dengan budaya lokal demikian kental. Saat itu, sulit dibedakan ajaran otentik Islam dengan aktifitas yang lahir dari tradisi masyarakat setempat. Takhyul, Bid’ah, Churafat, yang dikenal dengan TBC menjadi sorotan utama Muhammadiyah. Gerakan kembali kepada Alquran dan As-Sunnah menjadi choice of movement (pilihan gerakan) organisasi pembaruan tersebut.
Selain itu, massifnya misi kristenisasi yang mendompleng pemerintah kolonial Belanda juga turut serta memantik kesadaran religius KH. Ahmad Dahlan.  Alwi Shihab dalam buku “Membendung Arus: Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (2016)”, menjelaskan bahwa agama Kristen yang secara moral dan finansial didukung pemerintah kolonial menjadi ancaman yang sangat mengkhawatirkan dakwah Islam, sebab itu gerakannya perlu untuk dibendung dan diimbangi.
Namun menariknya, meskipun terjadi kontestasi antara dakwah Islam dan misi penyebaran ajaran Kristen, relasi sosial yang dibangun KH. Ahmad Dahlan dengan tokoh-tokoh Kristen tetap berjalan secara baik. Haedar Nashir dalam buku “Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam (2010)”, menjelaskan bahwa KH. Ahmad Dahlan tak sungkan belajar tentang kelebihan-kelebihan gerakan misi Kristen. Uniknya, KH. Ahmad Dahlan melakukan, jika boleh diistilahkan,  “Muhammadiyahisasi” kelebihan-kelebihan gerakan keagamaan itu.
Kekuatan finansial yang dimiliki gerakan misi Kristen, terutama Katolik, memungkinkan mereka membangun lembaga pendidikan, panti asuhan, gereja, dan lembaga kesehatan. Keempat institusi itu menjadi kebutuhan mendasar masyarakat. Inilah yang pada akhirnya menyadarkan KH. Ahmad Dahlan betapa keberhasilan sebuah gerakan keagamaan sangat dipengaruhi oleh berdirinya lembaga-lembaga itu.
Kini usia Muhammadiyah sudah lebih dari satu abad, gerak melintasi zaman yang  pernah  dilalui  Persyarikatan ini mengambil model yang beragam, demikian pula tantangan-tantangan yang dihadapi. Benang merah gerakan Muhammadiyah dari masa ke masa tetap sama, tidak mengalami perubahan, meskipun terjadi kontekstualisasi. Terdapat empat wilayah gerakan Muhammadiyah yang senantiasa  menjadi karakteristik unik dalam dirinya, yaitu: purifying (memurnikan akidah dan meluruskan ibadah), schooling (sekolah dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan), feeding (memberi makan dengan menyantuni kaum dhu’afa dan mendirikan panti asuhan), healing (menyembuhkan penyakit dengan mendirikan lembaga-lembaga kesehatan).
Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan zaman menuntut Muhammadiyah melakukan pola gerakan yang semula sangat fokus pada urusan keagamaan ke arah kemanusiaan. Predikat sebagai gerakan puritan yang terkesan  berwatak keras dan eksklusif bergeser ke arah gerakan humanis yang berwatak inklusif dan terbuka. Pada level atas, lapisan elit Muhammadiyah tentu tidak tepat mendapat predikat puritan dan dan eksklusif, namun pada lapisan yang luas dan arus bawah, puritanisme dan eksklusifisme sangat kental. Inilah mungkin salah satu sebab mengapa di banyak tempat Muhammadiyah tidak dapat diterima dengan baik.
Oleh kebanyakan warga Muhammadiyah, eksklusifisme pada konteks tertentu (baca: ibadah), jarang diikuti dengan sikap toleran dan apresiatif terhadap perbedaan. Di banyak masjid, Muhammadiyah sering dirasakan sebagai “musuh” bersama. Warga Muhammadiyah seharusnya menyadari situasi seperti ini. Menelisik teks-teks ideologis Muhammadiyah, ditemukan secara eksplisit bahwa Muhammadiyah adalah persyarikatan terbuka dan cukup toleran. Gerakannya juga tidak melulu persoalan keagamaan as sich, melainkan gerakan-gerakan yang bersifat humanis dan responsif dengan tantangan zaman.
Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam “Kepribadian Muhammadiyah”  sejalan dengan predikat itu.  Pada butir kedua, ketiga dan keempat ditegaskan beberapa karakteristik Muhammadiyah, yaitu; Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah islamiyah; Lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam; Bersifat keagamaan dan kemanusiaan. Dalam konteks ini, sifat terbuka dan humanis sangat jelas. Karakteristik ini sering tidak mendapat perhatian warga Muhammadiyah secara luas.
Kekeliruan dalam memandang buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) juga kerap terjadi. HPT sering dianggap satu-satunya sumber, paling tidak bersifat dominan, yang merepresentasikan Muhammadiyah. Berbicara tentang Muhammadiyah selalu dilihat dari perspektif  HPT. Padahal Muhammadiyah tidak bisa dibonsai dengan menggunakan HPT itu. Seluruh aspek kebutuhan masyarakat disentuh oleh Muhammadiyah. Jumlah majelis dan lembaga yang demikian banyak menjadi bukti akan hal itu. Sebagian besar majelis dan lembaga tersebut terkait dengan persoalan humanitas.
Muktamar Muhammadiyah ke-46 yang dikenal dengan “Muktamar Satu Abad” di Yogyakarta tahun 2010 lalu menegaskan kembali jati diri Muhammadiyah sebagai gerakan tengahan dan kemanusiaan. Salah satu rumusan ideologis yang diputuskan dalam Muktamar tersebut adalah: “Pernyataan  Pikiran Muhammadiyah  Abad  Kedua”.  Ditegaskan dalam rumusan itu bahwa aktifitas Muhammadiyah bermuara pada kepentingan kemanusiaan secara universal tanpa diskriminasi. Muhammadiyah juga menegaskan ideologinya sebagai ummatan wasathaan (umat moderat) dan syuhadaa’a ‘alannaas (saksi untuk umat manusia). Kerja-kerja persyarikatan Muhammadiyah bermanfaat untuk semua tanpa memandang suku, agama, bangsa, dan budaya.
Salah satu hal menarik, sebagaimana mata rantai tak terputus dari misi sebelumnya, dalam rumusan ideologis itu dinyatakan bahwa Muhammadiyah mengintegrasikan keislaman dan keindonesiaan. Dua pesan penting yang terkandung dalam konteks ini, yaitu islamisasi dan indonesianisasi. Bagi Muhammadiyah, menjadi Muslim tidak harus menanggalkan bingkai keindonesiaan. Muhammadiyah melakukan integrasi antara Islam dengan budaya khas Indonesia. Muhammadiyah meniscayakan bahwa mencintai Islam selalu  melahirkan semangat kuat untuk mencintai Indonesia.
Pada Muktamar ke-47 di Makassar 2015 yang lalu, dirumuskan konsep Muhammadiyah tentang “Negara Pancasila Sebagai Daarul Ahdi Wa Syahaadah”. Rumusan ini sangat penting, mengingat pasca reformasi telah terjadi disorientasi kehidupan yang berpotensi menggerus pemahaman bangsa Indonesia tentang Negara bangsa. Sebab itulah, Muhammadiyah hadir untuk meluruskan kiblat bangsa. Ada empat hal yang terkandung dalam rumusan itu, yaitu; NKRI menjadi keputusan final yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika. Konsep itu akan bermuara pada lahirnya cita-cita  Negara bangsa sebagaimana disebut dalam Alquran “Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur”.
Usia 100 tahun merupakan waktu yang matang bagi Muhammadiyah untuk terus berkiprah. Program Muhammadiyah secara nasional dalam lima tahun  ke depan (2015-2020), diarahkan pada tiga bidang penting, yaitu; respons Muhammadiyah terhadap persoalan keumatan, respons Muhammadiyah terhadap persoalan kebangsaan, dan respons Muhammadiyah terhadap dinamika kehidupan global. Tiga ranah perhatian Muhammadiyah ini menjadi ikhtiar untuk turut serta memberikan kontribusi penting bagi kepentingan kemanusiaan. Sebab itu, setiap warga Persyarikatan harus memahaminya dan sedapat mungkin melaksanakan pesan-pesannya. Wallaahu a’lam.

Selasa, 31 Oktober 2017

Membaca Perubahan Zaman


Perintah membaca dalam Alquran yang diekspresikan dengan kata iqro’ (bacalah), mengandung berbagai aktifitas akademik yang tidak sederhana. Termasuk dalam lingkup perintah membaca adalah mengamati, mencermati, menganalisa, menghubung-hubungkan, mengkritik, mendalami, meninggalkan, dan tentu aktifitas yang sejenis.
Kata iqro’ sendiri dapat dipahami dalam dua konteks, yaitu; membaca yang tersurat. Pembacaan ini tentu saja terkait dengan ayat-ayat Alquran yang jumlahnya terbatas, menurut sebuat versi 6236 ayat, sementara versi lainnya 6666 ayat. Membaca yang tersirat terkait dengan perkembangan sosial kemasyarakatan yang jumlahnya tidak terbatas.
Khusus membaca yang tersirat, diperlukan respons yang serius karena ada dua hal yang terkandung, yaitu hal-hal positif dan tentu hal-hal negatif dan cenderung tidak sesuai dengan norma agama . Di sinilah respons jeli kita dituntut, karena Islam telah melintasi berbagai zaman, keluar masuk ruang dan waktu, berikut berbagai tantangan zaman yang mengitarinya. Sebab itu dibutuhkan daya baca kritis untuk mengantisipasi berbagai hal negatif yang boleh jadi masuk dan mempengaruhi pola pikir dan sikap hidup masyarakat.
Era informasi yang kini tengah melanda dunia merupakan fase kehidupan yang tidak dapat dihindari termasuk juga oleh umat Islam. Era ini menyediakan berbagai kemudahan di antaranya cara berkomunikasi. Dunia yang luas dan jauh terasa dekat sekali dan seolah tak berjarak. Peristiwa yang terjadi di berbagai bagian dunia pada saat yang sama dapat disaksikan di bagian dunia lain, bahkan bisa saling berinteraksi. Meskipun demikian, nilai-nilai kebebasan yang terkandung dalam era ini tidak kecil, bahkan tidak sedikit yang bertentangan dengan doktrin agama.
Berangkat dari paham antroposentris, dimana manusia memiliki otoritas mutlak untuk mengatur dirinya sendiri dan mengendalikan dunia, hidup manusia berputar dari manusia dan bermuara kepada manusia itu. Manusia merasaa sudah dewasa, agama tidak lagi dibutuhkan. Tidak ada unsur teleologis (akhirat) dalam paham itu. Demikian pula dengan paham liberal yang berkembang pesat di Barat dan kini menjadi konsumsi warga dunia secara luas, kebebasan individu harus dihormati dan dijunjung tinggi. Semuanya boleh dilakukan selama tidak mengganggu kepentingan orang lain.
Revolusi informasi melalui jaringan internet menjadi semacam pasar dunia dan bersifat sangat bebas. Siapa pun berhak untuk mengakses informasi dan konten yang ada di dalamnya. Sebut saja misalnya sekolah Prostitusi yang didirikan di Spanyol, selain legal, sekolah Prostitusi tersebut membekali para siswa dengan ilmu tentang sejarah prostitusi dan bagaimana menjadi praktisi prostitusi yang profesional dan berpendapatan tinggi.  Gaya hidup bebas (free life) dan praktik sex bebas (free sex) yang menyertainya akan berkompetisi melawan ideologi negara yang memegang kuat prinsip-prinsip agama.
Informasi lain yang tak kalah menantangnya adalah sekolah Lesbian, Gay, Bi Sexual, dan Trans Gender (LGBT). Sekolah ini didirikan di New York dan Atlanta Amerika Serikat, diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki kecenderungan sex berbeda di lingkungan masyarakat, dan wadah bagi mereka yang selalu mendapatkan perlakuan sosial yang tidak baik. Sekolah ini legal dan mendapatkan dukungan masyarakat. Meskipun ditentang, namun otorita sekolah tidak mempedulikan hal tersebut.
Melalui teknologi informasi, bukan tidak mungkin kedua lembaga pendidikan aneh ini akan diimpor ke Indonesia. Potensi ke arah itu sangat besar. Meskipun prostitusi dan LGBT dianggap ilegal dan tidak memiliki akar historis kuat, namun faktanya tidak sedikit para praktisi dan pegiat kedua penyakit sosial itu menunjukkan eksistensinya. Bahkan kini banyak yang mencari dukungan, tidak saja secara konstitusional namun juga agama.
Perlu pembacaan yang komprehensif terhadap berbagai perubahan masyarakat yang bergerak dan ditopang oleh kecanggihan teknologi itu. Para penganut agama dalam konteks ini tidak bisa tinggal diam. Sebuah agama yang marketable (banyak diminati orang) adalah agama yang mampu untuk memberikan respons konkrit terhadap persoalan yang muncul di rahim sejarah. Sebaliknya, agama yang hanya berisi janji-janji manis tentang keselamatan akhirat (salvation) perlahan akan ditinggalkan orang dan ceritanya hanya dimuat dalam kitab masa lalu.
Tak terkecuali Islam, agama termuda dalam rumpun agama-agama semitik  (Abrahamic Religions) ini tak kurang kayanya dengan nilai-nilai sakral yang sampai kapan pun tak lekang dari kehidupan. Mulai dari etika pribadi sampai etika sosial diatur secara detail. Meskipun demikian, bukan tidak mungkin Islam juga tinggal kenangan dan korban peradaban modern-liberal jika umat Islam gagal merespons perubahan.
Sebagai agama langit, kebenaran Islam tidak diragukan lagi. Namun, siapa pun tidak pernah menyangkal agama langit ini pasti menapak dan dilaksanakan di bumi. Di sinilah kemudian umat Islam amat bertanggung jawab dalam mengawal jatuh dan bangunnya peradaban Islam, maju dan mundurnya peradaban tersebut. Melihat betapa beratnya tantangan dakwah kini dan ke depan, sudah saatnya umat Islam membangun kesadaran kolektif dan membuat sebuah common platform (platform umum) yang dapat menyatukan berbagai elemen.
Media perekat umat Islam bukan lagi pada kesamaan mazhab dan aliran, namun terletak pada ikhtiar bersama untuk menghadapi tantangan yang diajukan zaman. Sunni dan Syi’ah dalam konteks global, Muhammadiyah, NU, Al-Washliyah dalam konteks nasional, harus kita anggap sebagai media penafsiran dan alat ikhtiar untuk memperjuangkan Islam. Perbedaan teologis dan perbedaan detail ibadah praktis mestinya harus diakhiri, meskipun tetap dapat didiskusikan, namun bukan instrumen yang dapat menjauhkan relasi persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah) yang indah itu, apalagi sebagai alat justifikasi benar dan salah sebuah kelompok.
Jika cangkang ketertutupan dipecah dan umat Islam melihat dunia lebih luas, betapa umat Islam sudah jauh tertinggal dibanding dengan yang lain. Peradaban yang dibangun di Eropa dan Amerika, serta kemajuan ekonomi dan politik Negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Taiwan, berat untuk ditandingi. Jangankan berjalan, berlari kencang pun umat Islam mungkin tidak dapat mengejarnya. Ekspor ilmu pengetahuan, teknologi dan gaya hidup yang mereka kirimkan ke Indonesia dengan mayoritas masyarakat Muslim jelas terasa. Terkadang nilai positif dan negatif terintegrasi menjadi satu dan sulit untuk dipilah.
Bagi mereka, Indonesia menjadi pasar global yang dapat mendatangkan devisa negara. Lihat saja teknologi Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Tiongkok, atau gaya hidup Barat  bergumul menjadi satu. Belum lagi penyelundupan narkoba dalam jumlah besar, bahkan narkoba kini seperti malaikat maut yang mencabut akal dan nyawa anak bangsa secara perlahan. Umat Islam mesti melek perubahan dan memberikan respons, sambil melakukan ikhtiar untuk mengejar ketertinggalan dari mereka, meskipun tidak sama, minimal tidak berjarak terlalu jauh.
Tidak ada pilihan lain, umat Islam Indonesia harus melakukan integrasi dan akomodasi. Apa saja yang datang dari luar, sejauh sejalan dengan Alquran dan As-Sunnah dan bermanfaat bagi kemajuan umat Islam harus diambil. Sikap kritis  (tabayyun) dan terbuka diperlukan untuk merespons ini. Generasi cerdas Islam mesti mengambil bidang kajian beragam, bukan saja tafsir, hadis, teologi, tapi juga bidang-bidang yang terkait dengan teknologi, ekonomi, politik dan seterusnya.
Melawan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat dan negara-negara Asia Timur bukan dengan gerakan radikal, melainkan dengan mempromosikan nilai-nilai luhur dan beradab berbasis agama, mereka kering dalam konteks ini. Namun demikian, nilai-nilai itu bukan yang bersifat eksklusif dan cenderung memojokkan orang lain, melainkan nilai-nilai Islam berkemajuan dan Islam yang mencerahkan, yaitu Islam rahmatan lil ‘alamin, sebuah Islam yang dapat memayungi berbagai perbedaan religius dan kultural.

Karena itu, umat Islam mesti memiliki kesadaran kolektif, bahwa hidup bersama di bawah payung persaudaraan Islam  harus ditempatkan  di atas berbagai kepentingan golongan. Selama ini umat Islam banyak menghabiskan potensi energi untuk urusan konflik, lalu berdebat untuk urusan penafsiran yang tak pernah sampai ke muara, kini hal tersebut harus dikelola lebih produktif untuk membangun peradaban islami. Wallaahu a’lam.

Kamis, 24 Agustus 2017

Hijrah Ke Madinah


Membaca rangkaian historis tentang peristiwa hijrahnya Rasulullah, selalu melahirkan atmosfir yang berbeda. Semakin dibaca, rangkaian itu semakin memberikan semangat segar untuk dikontekstualisasikan dalam berbagai ruang aktifitas. Peristiwa hijrah sesungguhnya berangkat dari sebuah kesadaran teologis, yaitu sebuah kesadaran ilahiyah, bahwa hijrah memang mesti dilakukan dan atas dasar perintah dari Allah. Namun hijrah bukan berarti bersifat ahistoris, di luar perilaku manusia, melainkan sebuah aktifitas manusiawi yang dilakukan para aktor sejarah. Di sinilah pentingnya nilai-nilai hijrah itu digali secara terus menerus.

Alasan Melakukan Hijrah
Banyak variabel penting yang melatarbelakangi peristiwa hijrah tersebut. Terkait ini, para sarjana masuk ke sebuah perdebatan akademik yang menarik, apa sesungguhnya faktor utama yang menyebabkan Rasulullah meninggalkan tanah kelahirannya. Alfred Guillamme dalam bukunya “Islam”, menjelaskan bahwa Rasulullah mengalami apa yang disebut sebagai exile (pengusiran). Tidak saja mengguncang sistem keyakinan politeisme masyarakat Arab, kehadiran dakwah Rasulullah juga merobohkan sistem sosial, ekonomi dan politik yang sudah terbangun demikian kokoh. Sistem itu menguntungkan dan dikuasai oleh segelintir orang. Mereka merasa terusik. Dengan alasan ini, Rasulullah harus diusir.
Analisa dari Philip K. Hitti dalam bukunya, “Islamic Way of Life” lebih bernada positif. Ia menyebut bahwa Rasulullah melakukan hijrah karena pertimbangan perluasan wilayah dakwah, meskipun tekanan secara sosial politik dari para tiran Mekkah adalah fakta yang tak terbantahkan. Selama 13 tahun berdakwah di kota Mekkah, namun nilai-nilai tauhid seperti kompas bagi terbangunnya peradaban besar.
Peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah lahir dari sebuah strategi yang cukup matang. Rasulullah melalui sebuah jalan yang berliku dan lebih jauh dibanding jalan umum yang selalu dilalui para saudagar ketika menempuh tujuan yang sama. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengecoh orang-orang yang mengejarnya. Hal lain yang terbilang penting dalam keberhasilan perjalanan hijrah ini adalah loyalitas dua orang sahabatnya, yaitu Abu Bakar As-Siddik sebagai teman di perjalanan dan Ali bin Abi Thalib yang bertaruh nyawa  karena menggantikan posisi Rasulullah di atas tempat tidur.
Para sejarawan menjelaskan bahwa sebelum kota itu bernama Madinah, masyarakat mengenalnya dengan Yatsrib. Nama tersebut menggambarkan sebuah daerah dengan penduduk yang pola pikirnya masih sangat sederhana dan berperadaban rendah. Selain itu, Yatsrib didiami oleh beragam suku, qabilah dan bahkan agama. Uniknya tradisi buruk berupa peperangan sering kali terjadi. Alih-alih memikirkan peradaban besar dan maju, penduduk Yatsrib terpenjara oleh sejenis hukum rimba, siapa kuat maka dialah yang dapat memegang kendali dalam berbagai aspek.
Sampai di Madinah, Rasulullah disambut oleh kaum Muslimin dengan suka cita. Kehadiran Rasulullah diharapkan dapat mengubur rapat-rapat konflik horizontal antar qabilah yang sudah berlangsung lama. Misalnya Auz dan Khazraj, dua kabilah besar Madinah yang kerap berebut pengaruh dan sumber ekonomi. Kedua kabilah itu merasa letih dan selama ini menguras banyak energi karena konflik. Ada yang menyebut bahwa Rasulullah hijrah karena permintaan kedua suku ini. Sebelumnya memang sudah ada komunikasi yang dibangun antara Rasulullah dengan masyarakat Madinah melalui Perjanjian Aqobah.
Kehadiran Rasulullah hendak meletakkan dasar-dasar dan membangun hubungan harmonis dengan berbagai elemen masyarakat tersebut. Pertama yang dibangun setelah sampai di Madinah adalah masjid, yang dikenal dengan Quba. Langkah Rasulullah dapat dipahami, sebuah peradaban besar tidak akan memiliki arti jika nilai-nilai agama tidak dijadikan dasar pembangunan. Selain sebagai sarana ibadah, masjid menjadi sebuah tempat kaum Muslimin berkumpul untuk bermusyawarah dan merumuskan ide-ide bernas untuk pergerakan.
Belakangan Yatsrib diganti menjadi Madinah. Kata ini memiliki akar yang sama dengan tamaddun (peradaban) dalam bahasa Arab atau civilization dalam bahasa Inggris. Madinah juga seakar dengan diin yang berarti agama. Pesan universal yang ingin disampaikan Rasulullah adalah signifikansi nilai-nilai agama dalam kehidupan. Agama menjadi fitrah dalam diri setiap orang. Fitrah secara sederhana dapat diartikan dengan sesuatu yang asasi dan melekat. Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan agama. Menegasikan agama sama artinya dengan mengingkari kesejatian diri manusia. 
Meskipun nilai-nilai Islam sebagai basis, Rasulullah tidak serta merta membabat agama-agama yang ada dan membumihanguskan kepercayaan tradisional. Di luar dugaan, Rasulullah membangun sebuah sistem sosial. Dalam sistem tersebut beragam keyakinan diikat menjadi satu demi sebuah kepentingan, saling membantu dan saling melindungi. Sebuah tapak sejarah diletakkan Rasulullah dengan membuat sebuah undang-undang untuk kepentingan kolektif. Undang-undang itu dinamai “Miitsaaqul Madinah/ Piagam Madinah”, dalam bahasa Inggris dikenal dengan “The Medina Document”.
Piagam tersebut memuat 47 pasal. Secara garis besar Piagam Madinah berisi tentang pembentukan umat, hak asasi manusia, pluralitas agama, hubungan antar warga negara, golongan minoritas, hak dan kewajiban warga Negara, kepemimpinan negara, dan tentang perdamaian. Melalui undang-undang ini, Rasulullah membuat masyarakat menjadi peka terhadap hukum dan bagaimana mentaati hukum sebagai peraturan bersama. Muaranya adalah hidup secara teratur.
Respons Rasulullah terhadap agama lain menjadi contoh modern tentang praktik toleransi. Dengan kekuatan sosial politik yang berada dalam genggamannya, bisa saja Rasulullah menunjukkan hegemoni kekuasaan agar penduduk Madinah menjadi Muslim, namun hal itu tidak dilakukannya. Keragaman agama oleh Rasulullah dianyam menjadi sebuah kekuatan bersama untuk membangun Madinah. Kebesaran Islam ditunjukkan lewat relasi sosial yang harmonis dan beradab. Islam tidak akan menjadi kecil dan ternoda dengan sikap toleran yang dipromosikannya.

Model Masyarakat Modern
Rasulullah membangun sebuah negara berdasarkan kepentingan bersama dan penuh dengan keteraturan. Hubungan sosial yang harmonis, kaum mayoritas menjadi payung sosial bagi kaum minoritas, menjadikan kota yang dibangun Rasulullah bercorak modern. Madinah menjadi milik bersama. Tidak ada tirani mayoritas atas minoritas. Tidak pula ada radikalisme minoritas terhadap mayoritas. Semua berjalan secara seimbang dan adil.
Apresiasi terhadap prestasi kerja demikian tinggi. Meritokrasi menjadi standar  status seseorang. Kemuliaan tidak berdasarkan garis keturunan, melainkan prestasi yang dicapai seseorang. Setelah Madinah berada di bawah kendali Rasulullah, potensi mengganti nama Yatsrib menjadi nama Muhammad sebenarnya terbuka lebar. Namun hal itu tidak dilakukannya. Rasulullah ingin menunjukkan kepada masyarakat tentang buruknya kultus individu. Ada semacam kekhawatiran, kelak sepeninggalnya akan terjadi kultus individu sekiranya nama Yatsrib diganti dengan Muhammad.
Wajar saja, sosiolog Robert N. Bellah dalam bukunya “Beyond Belief”  menjelaskan bahwa prestasi Rasulullah dalam membangun peradaban merupakan lompatan jauh ke depan yang belum pernah ada sebelumnya. Menurut Bellah, sistem sosial yang dibangun Rasulullah sangat modern, jauh meninggalkan masanya. Masyarakat Madinah adalah komunitas paling demokratis ketika itu. Prinsip keterbukaan (openness) dan partisipasi (participation) warga negara demikian tinggi. Bagi Bellah, karakteristik inilah yang menjadi alasan kuat kemodernan Madinah. Wallaahu a’lam.


Sabtu, 19 Agustus 2017

Muhammadiyah Kita



Membaca perkembangan Muhammadiyah akan memberikan daya tarik tersendiri. Berbagai predikat telah disematkan oleh para pakar untuk organisasi ini. Mulai dari gerakan modernisasi, gerakan kultural, gerakan sosial, sampai gerakan purifikasi, menunjukkan bahwa Muhammadiyah tak pernah berhenti dikaji. Namun demikian, gerakan purifikasi lebih populer daripada berbagai predikat yang lain.
Hal ini dapat dimengerti, karena secara historis kelahiran Muhammadiyah tak lepas dari situasi sosial yang penuh dengan praktik keislaman sinkretik. Kehadiran Muhammadiyah ketika itu hendak mengembalikan Islam agar sesuai dengan ajaran yang sebenarnya. Itulah sebabnya mengapa dalam lintasan sejarah aroma ritualisme demikian kental dan berakar kuat hingga kini.
Muhammadiyah didesain untuk menjadi sebuah gerakan yang responsif dengan berbagai kebutuhan masyarakat. Berbagai majelis dan lembaga, yang dikenal dengan badan pembantu pimpinan dan sifatnya diangkat atau ditunjuk, merupakan bukti tentang itu. Majelis dan lembaga tersebut dibuat berdasarkan kebutuhan masyarakat dan meliputi berbagai aspek kehidupan.
Semangat yang ada di balik keragaman majelis dan lembaga adalah bagaimana Muhammadiyah memainkan peran penting dalam berbagai aspek kehidupan. Tujuannya agar kehadiran Muhammadiyah benar-benar dirasakan. Mencermati cakupan bidang yang sangat luas, ini membuktikan bahwa Muhammadiyah bersifat progresif dan siap dengan berbagai tantangan yang tersaji di meja sejarah.
Namun demikian, mengintegrasikan antara cita-cita ideal dengan fakta-fakta yang bergulir di lapangan tidak selalu mudah. Problem nasional yang dihadapi Muhammadiyah di berbagai tingkatan secara umum sama. Tidak semua majelis dan lembaga berjalan sesuai dengan harapan, terlebih di tingkat Wilayah, Daerah, Cabang maupun Ranting.
Tak terkecuali di Sumatera Utara, jumlah majelis dan lembaga yang tergeletak di pusaran pasifitas jauh lebih banyak dibanding majelis dan lembaga yang kaya terobosan. Banyak problem klasik yang dijadikan alasan, misalnya; problem finansial, kesibukan pengurusnya, tuna visi dan lemah semangat, sampai konflik internal yang tak berujung. Alih-alih melahirkan inovasi, keberadaan majelis dan lembaga yang tidak aktif sering menjadi beban psikologis dan institusional.
Namun dari sederatan aktifitas tersebut, ternyata posisi ritualisme begitu kuat. Terlebih jika nama Muhammadiyah disebut, maka warna fikih demikian kental. Majelis Tarjih dan Tajdid, Majelis Tabligh, sering tercelup ke dalam warna itu. Tugas utama majelis-majelis itu sebenarnya untuk melahirkan berbagai pemikiran dan model dakwah Islam kontemporer, namun kemudian terpasung hanya pada persoalan klasik yang sudah dibahas selama ribuan tahun.
Perdebatan akademik seputar ritualisme harus dianggap final, dalam arti wacana itu bukan lagi menjadi opsi utama, mengingat ujian-ujian sejarah semakin kompleks dan membutuhkan respons matang. Majelis-majelis yang khusus menangani keagamaan mesti mengarahkan lampu perubahannya pada persoalan-persoalan yang bersifat kontemporer dan menjadi kebutuhan mendesak, misalnya terkait dengan fatwa haram dan dosa besar bagi orang yang membuang sampah sembarangan.
Program Muhammadiyah mestinya dapat lebih diarahkan pada terobosan-terobosan aktual. Misalnya untuk konteks Kota Medan, degradasi etika sosial hampir menemui titik puncak. Dalam berlalu lintas, Muhammadiyah dituntut melahirkan sebuah fatwa yang dapat menjadi pedoman tentang tata cara berlalu lintas. Sampai saat ini belum ada fatwa haram terkait menerabas lampu merah. Padahal aktifitas itu dapat membahayakan banyak pihak bahkan tidak sedikit yang berujung kematian.
Selanjutnya tentang infrastruktur yang sangat buruk, Muhammadiyah dapat menyodorkan kritik terhadap pemangku amanat yang kurang memperhatikan kualitas  fasilitas umum. Kesadaran masyarakat juga rendah untuk merawat fasilitas tersebut. Anggaran yang disiapkan pemerintah tak jarang habis di tengah jalan dan hanya tinggal sisanya untuk pembangunan infrastruktur. Carut marut wajah kota Medan diperparah oleh warga masyarakat yang menggunakan jalan sekehendak hati untuk kepentingan pesta perkawinan.
Fakta getir ini mestinya menjadi “buah bibir” dan material pemikiran. Bagi para pemangku amanat yang menyelewengkan dana pembangunan dikategorikan musyrik. Muhammadiyah mesti lebih berani dari ormas Islam lain dalam mengeluarkan fatwa untuk masalah ini. Muhammadiyah tentu saja tidak boleh menjadi korban sekaligus penikmat sengkarut kota Medan yang nyaris sempurna.  Muhammadiyah diharapkan hadir memberikan solusi alternatif terhadap kebiadaban sosial ini.
Warga persyarikatan harus berpikir di luar kotak (out of the box), tidak terkungkung dalam sangkar Muhammadiyah. Transformasi kader persyarikatan di berbagai bidang setidaknya dapat menjadi skala prioritas. Posisi strategis dan politis seperti; gubernur dan wakil gubernur, wali kota dan wakil wali kota, bupati dan wakil bupati, dan seterusnya, dapat menjadi perhatian serius. Bahkan yang menyedihkan, dalam beberapa kali Pemilu, belum pernah kader Muhammadiyah duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Bahwa Muhammadiyah tidak dapat memainkan politik praktis adalah norma yang tidak boleh diabaikan. Namun kekuatan Muhammadiyah setidaknya dapat memberikan nilai tawar yang tinggi dan disegani. Lemahnya peran dalam ranah ini cukup menyakitkan. Sebagai contoh, Kementerian Agama kini kental dengan nuansa yang kurang menguntungkan, demikian pula di Kemenristekdikti, akhirnya Muhammadiyah kalah cepat dalam mendapatkan “roti” kebijakan.
Warga persyarikatan mesti menghentikan sikap reaktif dan instan. Sikap tersebut menyedot energi yang tidak kecil. Tidakkah lebih baik energi yang ada dipersiapkan untuk pelatihan tilawah Alquran, mengingat mencari sosok yang dapat membaca Alquran di lingkungan Muhammadiyah seperti menarik bambu dari ujungnya, terasa sangat sulit. Krisis ulama juga menjadi masalah tersendiri. Jika ini terjadi terus menerus, maka predikat sebagai organisasi pembaruan Islam hanya akan menjadi hiasan sejarah.
Warga persyarikatan juga seringkali heboh dengan berita yang beredar di media sosial. Nuansanya penuh kecurigaan. Isu seputar kristenisasi, penodaan Islam, penodaan Alquran, penghinaan terhadap Rasululullah, menjadi perdebatan harian. Jangan-jangan, reaksi warga persyarikatan dan umat Islam pada umumnya dalam hal-hal seperti ini adalah hasil sekenario. Ada kesengajaan dari pihak tertentu. Umat disibukkan agar lupa menciptakan berbagai aktifitas strategis dan permanen.
Keributan di amal usaha pendidikan dan kesehatan juga menjadi tradisi buruk. Hal ini berakibat pada kualitas pendidikan yang rendah, institusi kesehatan juga tidak akan berkembang. Hal yang tak kalah menyedihkan adalah banyaknya warga Muhammadiyah yang enggan membayar setelah berobat. Ini salah satu faktor yang menyebabkan lembaga kesehatan mengalami kerugian yang tidak kecil. Sikap buruk tersebut menyebabkan hutang menumpuk dan aliran dana tersumbat, kepercayaan masyarakat pun menurun.
Di atas itu semua, Muhammadiyah Sumatera Utara membutuhkan gedung  dakwah representatif yang dapat berusia 30 sampai 40 tahun ke depan. Rencana ini berangkat dari harapan dan impian seluruh warga persyarikan. Gedung itu berlantai sepuluh. Dana yang dibutuhkan tidak kecil, sekitar 50 sampai 70 milyar rupiah. Di harapkan gedung itu akan menjadi rumah bersama, pusat berbagai aktifitas dan tempat merumuskan ide-ide cerdas untuk Islam berkemajuan. Sementara gedung yang sekarang sudah berusia tua dan sangat kumuh. Untuk ini, diperlukan doa dan dukungan semua pihak.
Sudah saatnya warga persyarikatan bangkit dari mimpi panjangnya. Menjadi warga dari sebuah organisasi yang dikenal modern dan berkemajuan tidak boleh menyebabkan lupa diri, bangga dengan predikat itu namun lupa berbagai kualifikasi yang mesti dipenuhi. Kini warga persyarikatan harus mampu meninggalkan tradisi inward looking (hanya menilik ke dalam), sambil memancangkan pandangan jauh ke depan. Melihat berbagai kemajuan dan prestasi orang lain menjadi sangat penting, sembari menciptakan berbagai prestasi. Muhammadiyah adalah milik kita dan mari kita rawat bersama. Wallaahu a’lam.