Selasa, 30 Mei 2017

Catatan Tentang Idul Fitri


Atmosfir Idul Fitri dalam beberapa hari ini demikian terasa. Berbagai asesoris yang kerap mewarnai Idul Fitri mengusik atensi masyarakat di berbagai  tempat. Mulai dari spanduk ucapan selamat Idul Fitri, ketupat lebaran, festival tabuh bedug, iklan di berbagai media, berkurangnya jamaah sholat tarawih, menjadi fenomena tersendiri. Tidak hanya itu,  kesibukan masyarakat terus meningkat dalam mempersiapkan pakaian baru, membeli makanan dan minuman untuk memeriahkan “Hari Bahagia” tersebut.
Budaya mudik juga tak alpa untuk dilakukan. Dengan menempuh perjalanan jauh dan beban berat yang dibawa, orang-orang dengan suka rela pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga, berbagi cerita suka dan duka sembari menunjukkan keberhasilan pekerjaan selama hidup di perantauan. Mirisnya, dalam perjalanan mudik banyak yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas, namun hal tersebut tak mengurangi hasrat untuk melepas Ramadhan dan menyongsong Idul Fitri di kampung halaman.
Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam. Jika disebut kemenangan maka ada kesan telah terjadi pertempuran dahsyat. Memang demikian adanya. Selama satu bulan penuh orang-orang beriman menjalani pertempuran fisikal dan spiritual. Pertempuran fisikal dapat dilihat dari aktifitas tidak makan dan minum pada siang hari selama Ramadhan. Sementara pertempuran spiritual dapat dilihat dari manajemen hati yang terus dirawat untuk tidak cenderung apalagi berbuat kemaksiatan. Wajar saja, hari kemenangan Idul Fitri merupakan momen yang didambakan kehadirannya.
Terdapat perdebatan akademik tentang apa sesungguhnya makna dan hakikat Idul Fitri itu. Ada yang menyebutkan bahwa Idul Fitri adalah sebuah hari dimana umat Islam berbuka karena sudah melaksanakan puasa Ramadhan selama sebulan penuh. Ada juga yang menjelaskan bahwa Idul Fitri berarti kembali kepada kesucian. Ramadhan seolah membasuh debu-debu kesalahan sehingga bersih. Karena debu-debu kesalahan itu sudah lekang, maka orang-orang yang beriman kembali menjadi suci. Masing-masing memiliki argumentasi sendiri.
Meskipun kerap terjadi tarik menarik tentang tafsir Idul Fitri, tapi yang pasti, Idul Fitri adalah hari bahagia. Kebahagiaan itu terpancar dari eskpresi suka cita karena sudah berjuang melawan hawa nafsu. Selain itu, Idul Fitri menjadi sebuah waktu untuk melakukan distribusi materi kepada sesama. Hari itu tidak ada lagi orang-orang yang kelaparan karena kekurangan makanan. Idul Fitri juga mengumpulkan keluarga yang terpencar, mendekatkan yang jauh, karena kesibukan masing-masing dalam sebuah ikatan persaudaraan yang padu.
Meskipun merupakan hari bahagia, Idul Fitri kerap meninggalkan sederetan luka sosial yang berkepanjangan. Memang benar, saat Idul Fitri datang setiap orang merasa bahagia. Namun kebahagian itu sering bersifat tidak permanen. Dengan kata lain, kebahagiaan yang dilahirkan Idul Fitri bersifat teritorial dan situasional. Kebahagiaan hanya terjadi pada momen-momen tertentu dan saat-saat tertentu saja.
Beberapa saat sebelum datangnya Idul Fitri, ada ritual wajib yang mesti ditunaikan setiap umat Islam, yaitu membayar zakat fitrah. Zakat fitrah kerap dipahami sebagai harta tertentu yang mesti dikeluarkan untuk orang-orang tertentu sebagaimana eksplanasi Alquran. Ketika Alquran menyebutkan, “aqiimuushhalaata wa aatuuzzakaata/ tunaikanlah sholat dan keluarkanlah zakat”, harus dipahami bahwa zakat memiliki makna yang luas.
Zakat juga dapat diartikan dengan infak dan sedekah. Ini artinya zakat tidak terbatas pada ruang dan waktu dan mesti dilakukan secara kontinyu dan konsisten. Mungkinkah kaum dhu’afa lepas dari belenggu kemiskinan jika hanya menerima zakat fitrah yang frekuensinya setahun sekali? Bukankah zakat fitrah secara kuantitatif  demikian terbatas?  Dapat diasumsikan bahwa jawabannya tidak bisa.
Agar tidak melahirkan luka sosial yang permanen maka zakat memiliki makna yang fleksibel dan dapat diperluas. Waktu pelaksanaannya juga tidak boleh dibatasi hanya pada momen menjelang Idul Fitri saja. Pesan moral yang mesti ditangkap adalah bahwa berbagi kepedulian sosial yang disimbolkan dengan zakat fitrah dan infak serta sedekah harus dilakukan setiap waktu dan dimana saja. Tanpa pemahaman seperti itu, zakat fitrah hanya sejenis ritual yang terjadi secara berulang namun tidak membawa efek perubahan yang berarti.
Terdapat pemahaman yang keliru, bahwa membayar zakat fitrah menggugurkan kewajiban-kewajiban lain seperti membantu kaum dhu’afa. Pemahaman seperti ini mesti dikikis. Zakat pada hakikatnya sejenis ritual simbolik yang penuh pesan-pesan kemanusiaan. Tinggal bagaimana umat Islam bersikap jujur dan berani untuk melihat zakat dari perspektif yang luas dan humanis. Inilah yang mesti dirawat agar ruh Idul Fitri tidak kering dan kandas dalam pusaran sejarah.
Memang pada sisi tertentu benar,  zakat fitrah dapat menghapus duka dan lara, namun pertanyaan selanjutnya adalah sampai kapankah keberlangsungannya? Bagaimana dengan kelanjutan hidup dari kaum dhu’afa selama  sebelas   bulan selanjutnya  pasca  Idul Fitri?  Transformasi bentuk zakat fitrah ke aksi sosial jauh lebih penting, baik dilakukan secara individual maupun kolektif, secara personal maupun institusional.
Selain itu, umat Islam yang berkecukupan kerap mengeluarkan zakat maal (zakat harta) pada bulan Ramadhan. Tradisi ini dapat dikelola agar lebih produktif. Misalnya, mengeluarkan zakat maal bukan untuk aktifitas-aktifitas yang bersifat konsumtif dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, melainkan pemberian modal usaha sehingga pada akhirnya sang mustahik (penerima zakat) akan menjadi mandiri.  
Masalah kemiskinan juga masih menjadi momok yang mengerikan bagi umat Islam. Malam menjelang Idul Fitri, gema suara takbir sering beriringan dengan pemandangan yang kurang elok. Ratusan bahkan ribuan kaum dhu’afa menanti belas kasih orang-orang yang mampu untuk mendapatkan bagian zakat maupun sekedar infak dan sedekah. Wajah muram umat Islam ini menjadi masalah tersendiri dan melahirkan catatan negatif bagi banyak pihak. Islam seolah-olah amat identik dengan kemiskinan.
Meskipun jika ditelusuri secara cermat, tidak semua orang yang duduk dan berdiri berjajar itu adalah umat Islam atau berasal dari kategori kaum dhu’afa, namun sebagian besar dapat diduga umat Islam. Zakat fitrah dengan turunannya infak dan sedekah mesti hadir dalam memberikan respons. Sungguh ironi memang, di satu sisi Allah dipuja dan dipuji di semua masjid dan musholla pada malam sakral itu, namun ternyata sanjung dan puji itu terusik oleh duka dan derita umat Islam yang senantiasa dililit kemiskinan.
Masalah lain yang masih menjadi kanker bagi masa depan generasi Islam adalah rendahnya tingkat pendidikan. Islam di masa yang akan datang tentu berada dipundak generasi mendatang pula. Bagaimana peradaban Islam dapat terbangun secara asri jika sumber daya umat Islam demikian lemah? Sebab itulah, umat Islam yang mampu dapat menjadi orang tua asuh untuk turut serta membantu biaya pendidikan kaum dhu’afa tersebut.
Banyak anak cerdas yang terusir dari sekolah karena tidak mampu menebus biaya pendidikan. Padahal mungkin saja generasi emas Islam mendatang diciptakan oleh mereka. Sementara di sisi lain, ratusan ribu umat Islam terus membangun masjid, terus menunaikan haji dan umroh, terus membangun rumah-rumah mewah, makan berlebihan, wisata ke berbagai negara, sementara di sekeliling mereka terdapat anak-anak cerdas yang tengah kelimpungan memikirkan masa depan pendidikannya. Karena itu diharapkan, Idul Fitri dengan berbagai hal yang dikandungnya menjadi tumpuan perubahan masa depan itu.
Dengan pembacaan demikian, maka Idul Fitri tidak akan berwajah dingin dan acuh tak acuh dengan lingkungan sosial yang dilaluinya. Lewat penafsiran mendalam dan luas tentang Idul Fitri, maka diharapkan ada sejenis transformasi sosial yang terjadi. Transformasi itu bukan hanya menyangkut hubungan personal kepada Allah, lebih daripada itu adalah hubungan umat Islam kepada saudara-saudaranya yang lain. Inilah sesungguhnya Idul Fitri yang bermakna, yaitu hari bahagia yang bersifat humanis dan penuh dengan energi kebaikan.



Senin, 22 Mei 2017

Surga Yang Jauh


Dalam sebuah pengajian, seorang ustaz bercerita bahwa ia memiliki sahabat yang giat bekerja dan kini kaya raya. Ia memiliki perusahan besar dengan ribuan tenaga kerja. Kekayaan yang dimilikinya mengantarkan ia dan keluarganya dapat menunaikan haji dan umroh berulang kali. Bahkan para karyawan yang berprestasi selalu mendapat hadiah umroh. Budi luhur yang ia praktikkan mengundang decak kagum siapa pun.
 Satu ketika sang ustaz bertanya, “Mas, untuk apa engkau lakukan semua ini?” Ia menjawab, “Ustaz, aku ingin mendapatkan surga. Bukankah dengan menunaikan haji dan umroh Allah akan memberi balasan surga?”. Sang ustaz menjawab, “Alhamdullillah, kamu menyimpan niat yang cukup mulia. Namun mohon maaf, apakah kamu masih memiliki ibu?” Mendengar pertanyaan seperti itu, wajahnya menjadi merah dan tersinggung. Ia kemudian meninggalkan sang ustaz.
Di sebuah pertemuan dengan para karyawannya, kebetulan sang ustaz diundang untuk hadir, telepon selular sahabat ustaz itu berdering berkali-kali. Anehnya, setelah ia lihat tetap tak ia pedulikan. Karena merasa terusik, dengan berat hati ia jawab panggilan itu dengan intonasi suara yang bengis dan kasar. Para karyawan tak terkecuali sang ustaz merasa heran dan bertanya-tanya siapa sebenarnya orang yang memanggilnya.
Setelah diketahui ternyata panggilan itu berasal dari ibu kandungnya. Sang ibu hanya ingin melepas rindu karena sudah cukup lama tidak mendengar kabar dari anaknya. Selain itu, sang ibu dalam keadaan sakit. Sontak saja para karyawan merasa terkejut dengan perilaku aneh sang pimpinan. Mengapa ia memperlakukan ibu kandungnya begitu kejam. Namun pada akhirnya, si ibu meninggal dunia sebelum anak yang begitu ia rindukan tiba disampingnya.
Dalam kawasan akademik, dikenal istilah “Kajian Islam Komprehensif”. Kata komprehensif bermuatan pembacaan yang dalam dan menyeluruh, utuh dan tidak sepenggal-sepenggal. Islam dilihat dari berbagai aspek, baik akidah, akhlak, ibadah maupun mu’amalah. Bahkan Islam juga dilihat dari aspek politik, ekonomi, sosial, budaya dan seterusnya.
Jika perspektif ini digunakan untuk melihat dan membaca perilaku keislaman sahabat ustaz itu, maka kita dapat mengetahui bahwa keislaman yang diamalkan terbelah, sepenggal dan tidak utuh. Islam yang begitu luas dikebiri dan dipahami secara simplistik. Akhirnya, Islam dimengerti hanya sebatas seperangkat rutinitas ritual yang rigid. Islam yang begitu luas disederhanakan dan menjadi agama yang mahal dan bersifat eksklusif.
Meminjam istilah dalam wilayah psikologi, pribadi yang seperti ini menderita split personality (pribadi yang terpecah). Pribadi ini mengharapkan kebaikan yang jauh dan sukar  pada satu sisi namun mengabaikan kebaikan yang sebenarnya mudah dilakukan dan dekat pada sisi lain. Pribadi yang seperti ini terbelenggu sehingga lupa untuk melihat Islam yang sesungguhnya mengandung banyak aspek dan cakupan amaliyahnya tak terbatas.
Dalam Islam, ibu memiliki posisi yang demikian penting bahkan manusia yang dianggap sakral. Menariknya, dalam Alquran Surah Al-Isra’/ 17: 23 dijelaskan bahwa kebaktian tertinggi seorang anak setelah menyembah Allah adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, salah satunya adalah ibu. Kata ihsaanaan mengandung arti berbuat baik dengan sebaik-baiknya bahkan amat luas. Sungguh ironis, jika ada yang merasa sholeh dengan mengerjakan berbagai kebajikan namun menafikan posisi ibu dalam hidupnya.
Salah seorang sahabat mendapatkan penjelasan dari Rasulullah bahwa ibu adalah manusia yang wajib dihormati. Penekanan terhadap pentingnya menghormati dan menyayangi ibu diulangi oleh Rasulullah sampai tiga kali. Kedua orang tua dalam hal ini adalah ibu, merupakan orang yang paling berjasa dalam hidup seseorang. Namun terkadang fakta mengejutkan kerap terjadi di depan kita, betapa seorang anak merasa cukup berat membantu bahkan menyayangi ibu kandungnya sendiri. Tak jarang ibu dan ayah dititipkan di panti jompo. 
Bahkan akhir-akhir ini kita kerap dikejutkan oleh beberapa anak yang dengan tega menyeret ibu dan ayah kandungnya ke pengadilan karena sengketa warisan. Jika di dalam Alquran maupun hadis ditabulasi dosa-dosa besar yang mesti dihindari, maka akan diketahui salah satu diantaranya adalah durhaka kepada kedua orang tua. Sebab itulah, keberhasilan seorang anak di tengah masyarakat akan sangat tidak berarti di hadapan Allah jika ia tidak menaruh rasa hormat dan menyayangi kedua orang tuanya.
Perlu dipahami, ibu dan ayah mertua termasuk dalam pengertian orang tua kandung. Sering terjadi di tengah masyarakat seorang menantu hanya mau menerima seseorang menjadi suami atau istrinya, namun enggan menerima mertua layaknya orang tua kandung sendiri. Pemahaman ini jelas keliru. Ibu atau ayah mertua harus diposisikan sebagaimana orang tua kandung sendiri. Rasa hormat dan kasih sayang untuk mereka haruslah sama besarnya sebagaimana yang diberikan kepada orang tua kandung kita.
Selain berbakti kepada kedua orang tua, kebajikan (al-birr) tidak mesti dikerjakan dengan biaya mahal dan menempuh jarak yang cukup jauh. Kebajikan dapat dilakukan melalui hal-hal yang kecil dan sangat sederhana. Rasulullah menjelaskan bahwa senyum ikhlas yang kita berikan kepada sahabat menjadi sedekah. Artinya, aktifitas positif yang kita lakukan selama dapat membahagiakan orang lain menjadi bagian dari kebajikan itu sendiri.
Kini media sosial menjadi alat yang paling mudah dan efektif dalam membangun komunikasi. Menulis status yang berisi doa dan membawa kabar gembira juga termasuk kebajikan. Bahkan memberikan tanda “like” yang berarti suka untuk status yang positif mengandung nilai kebajikan. Jika dikalkulasikan secara matematis, aktifitas tersebut tidak membutuhkan biaya besar dan amat mudah dilakukan. Dengan kata lain, kebajikan itu sendiri tidak berjarak dengan kita.
Sebagaimana adagium, “Banyak jalan menuju Roma”, jalan yang dapat kita tempuh untuk mengerjakan berbagai kebajikan jauh lebih banyak dibanding jalan menuju kota Roma itu. Sebagian besar ada di sekitar kita. Namun terkadang kebajikan yang sangat sederhana kurang membuat diri kita puas karena kecilnya apresiasi. Akhirnya kita memilih amalan yang mengandung puja dan puji masyarakat meskipun harus mengeluarkan dana yang tidak kecil.
Untuk mengejar surga, tidak mesti mengeluarkan biaya puluhan sampai ratusan juta rupiah sebagaimana pelaksanaan haji dan umroh. Membersihkan toilet dan tempat wudhu’ masjid tak kalah mulianya. Fakta di lapangan mestinya membuat kita sadar, masjid sebagai sarana ibadah dan simbol kebersihan kaum Muslimin kini banyak yang dalam kondisi memprihatinkan. Mulai aroma yang tidak mencerminkan kebersihan sampai rendahnya sense of belonging (rasa memiliki) fasilitas ibadah tersebut.
Jika belakangan ini muncul gerakan subuh berjamaah, maka gerakan itu mesti diimbangi dengan gerakan masjid bersih secara massal. Subuh berjamaah amat penting, namun menjaga kebersihan masjid tentu tidak kalah pentingnya. Hadis Nabi yang menjelaskan bahwa kebersihan sebagian dari iman harus diimplementasikan dalam ranah faktual. Hadis itu tidak boleh indah di bibir saja, namun butuh ikhtiar kolektif untuk membawanya dalam aktifitas sehari-hari.
Persoalannya tentu terletak pada dua pihak, pengelola masjid yang rendah memberikan atensi, dan tentu para jamaah yang kurang peduli untuk turut serta merawatnya. Sholat merupakan kewajiban pribadi yang wajib ditunaikan. Menjaga kebersihan masjid dan sarana ibadah sama wajibnya dengan pelaksanaan sholat itu. Logika dan kesadaran seperti ini perlu dibangun, agar kebajikan benar-benar dapat dilakukan dalam berbagai konteks.

Sesungguhnya filosofi kebajikan bergerak dari sesuatu yang kecil dan dimulai dari lingkungan terdekat. Apa pun yang ada di sekitar kita dapat dikelola sebagai media kebajikan, apalagi berbakti kepada kedua orang tua. Sebab itulah, Islam harus kita pahami secara utuh. Jika kita mendamba surga, maka surga dapat diraih dengan melakukan berbagai hal sederhana dan dapat dilakukan pada lingkungan terkecil sekalipun. Sesungguhnya surga itu amat dekat. Surga tidak jauh dan kunci-kuncinya ada di sekitar kita. 

Sabtu, 20 Mei 2017

Ramadhan Yang Membebaskan


Ramadhan datang kembali. Bulan mulia ini menyapa kita dalam keadaan moral dan material yang semakin kumuh. Rentetan peristiwa sosial dan politik baik nasional maupun lokal cukup menguras energi kita. Ancaman disintegrasi bangsa dan momok konflik horizontal di tengah masyarakat membuat kita diliputi rasa cemas dan merasa tak nyaman beraktifitas. Lingkungan yang kotor, sampah yang berserakan, lalu lintas yang hingar bingar tanpa aturan menjadi asesoris menyambut Ramadhan yang kita anggap bulan revolusi spiritual. 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, respons kita menyambut Ramadhan cukup beragam. Tapi yang pasti, bulan mulia ini dipahami sebagai sebuah oase perubahan kearah yang lebih baik lagi. Namun satu hal yang menyedihkan, Ramadhan kerap dipahami secara simplistik sebagai wadah untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Sering pemahaman ini memutus mata rantai nilai-nilai Ramadhan yang semestinya ditransformasikan ke berbagai ruang publik. Ramadhan menjadi kering. Datang dan perginya hanya dianggap sebagai sebuah rutinitas yang bergulir begitu saja.

Padahal Ramadhan merupakan sebuah waktu dimana kita melakukan berbagai evaluasi sosial dan spiritual. Tidak hanya sebatas memindahkan waktu makan dari siang hari ke malam hari, lebih daripada itu, Ramadhan menenggelamkan kita pada sebuah perenungan komprehensif  tentang apa sesungguhnya makna dan etika publik yang mesti kita telusuri dalam Ramadhan. Ramadhan menyelipkan pesan moral yang secara cerdas mesti kita tangkap dan kita hidupkan dari waktu ke waktu. Dengan ini Ramadhan tidak akan kehilangan bekas.

Menelisik perintah puasa Ramadhan, biasanya ayat Alquran yang dijadikan landasan normatif adalah surah Al-Baqarah/ 2: 183. Ayat ini demikian populer, baik saat saat menjelang datangnya bulan Ramadhan atau menjelang kepergiannya. Menariknya, ayat ini diawali dengan kalimat panggilan, “yaa ayyuhalladziina aamanuu/ hai orang-orang yang beriman”. Ini memberikan indikasi yang kuat bahwa di sini ada komunitas elit yang diseru oleh Allah untuk melaksanakan puasa Ramadhan. Bukan komunitas manusia secara umum.

Komunitas elit itu disebut sebagai “orang-orang yang beriman”. Komunitas ini secara kualitas moral dan material siap untuk melaksanakan perintah Allah. Orang-orang yang beriman selalu memaknai keimanan secara hidup dan produktif. Iman tidak dimaknai hanya sesuatu yang tersimpan di hati. Iman dalam konteks ini mencakup tiga hal padu yang integratif dan tidak bisa dipisahkan, yaitu; kualitas lisan yang terpuji, kualitas hati yang istiqomah, dan perilaku bermanfaat untuk lingkungannya. 

Itulah sebabnya, Allah menjadikan komunitas beriman sebagai subjek yang melaksanakan perintah puasa Ramadhan. Ini bukan merupakan sebuah kebetulan, melainkan skenario suci agar bagaimana Ramadhan dipahami dan dilaksanakan secara komprehensif dan integral. Keutuhan memahami dan melaksanakan Ramadhan mencakup tidak hanya aktifitas penjarakan makan dan minum di siang hari selama Ramadhan, melainkan juga nilai-nilai moral yang ditelusuri secara radikal, sampai menghunjam ke akar-akarnya dengan muara lahirnya ketertiban sosial. 

Dalam pelaksanaan puasa Ramadhan ada semacam regulasi waktu yang mesti dihormati dan dipatuhi secara konsisten. Hal ini ditunjukkan terhadap larangan makan dan minum kecuali pada waktu-waktu yang dibolehkan. Substansi dari regulasi ini adalah prinsip kedisiplinan. Jika dikembangkan lebih luas, disiplin sesungguhnya merupakan pangkal ketertiban sosial yang dapat diimplementasikan di ruang-ruang publik. Nilai-nilai disiplin bergerak dari ranah ritual ke aksi nyata. Disiplin yang sudah melekat secara kokoh dalam iman dapat diwujudkan dalam disiplin berlalu lintas, disiplin dalam menjaga kebersihan lingkungan,  dan disiplin dalam birokrasi. 

Menariknya lagi, kedisiplinan diyakini sebagai bagian integral keimanan. Dengan kata lain, disiplin merupakan bagian dari keimanan itu sendiri. Di sini, orang yang berpuasa Ramadahan akan memiliki rasa sensitivitas sosial yang tinggi. Puasa yang dilaksanakan terasa tidak bermakna di sisi Allah jika di jalan raya tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas, buang sampah di sembarang tempat, dan masih tetap kotor dalam melaksanakan dan mengendalikan  birokrasi. Ramadhan dalam konteks ini merupakan bagian yang cukup lekat dengan kehidupan.

Ramadhan juga mengajarkan kejujuran. Ada dua tanggung jawab yang terbangun di sini, yaitu tanggung jawab pribadi kepada Allah dan tanggung jawab sosial. Kedua model tanggung jawab ini saling terkait dan tak terpisahkan. Tanpa pengawasan dari orang lain, orang yang melaksanakan puasa tetap tidak makan dan minum. Ini dikarenakan tanggung jawab kepada Allah sudah demikian melekat. Persoalan selanjutnya adalah tanggung jawab sosial, seorang yang melaksanakan puasa ramadhan mesti jujur dalam kehidupan sosial. 

Dalam kehidupan sosial, Ramadhan akan menggerus kultur korupsi dan praktik culas yang kerap kita saksikan. Kejujuran sosial kini demikian dibutuhkan. Melalui Ramadhan kita disadarkan bahwa kejujuran menjadi bagian agama dan pilar kehidupan masyarakat. Tanpa kejujuran maka bangunan sosial akan oleng dan boleh jadi ambruk. Pelaku puasa akan merasa mantap selama jujur dan merasa rendah kualitas puasanya jika dalam aktifitas tidak berlaku jujur. Kejujuran juga mengkritik dan menjauhkan perilaku korup dalam berbagai hal.

Menarik sekiranya kita meminjam hasil penelitian yang dilakukan Thomas J. Stanley dalam bukunya “The Millionaire Mind”. Dalam buku itu ia menjelaskan bahwa kepribadian menjadi faktor utama keberhasilan seseorang dalam kehidupan. Misalnya, ia menempatkan kedisiplinan dan kejujuran pada tingkat tertinggi. Artinya jika seseorang ingin berhasil dalam hidup ini maka ia mesti bersikap disiplin dan memiliki kepribadian yang jujur. Uniknya, Stanley menempatkan IQ pada urutan ke-21, sekolah di lembaga pendidikan bergengsi pada urutan ke-23 dan lulus dengan nilai yang tinggi pada urutan ke-30.

Berdasarkan penelitian ini, maka Ramadhan menjadi semacam madrasah untuk menggodok pribadi-pribadi luhur dengan berbagai karakter unggul. Keunggulannya dapat dilihat dari sikap disiplin dan jujur. Ramadhan akan melahirkan manusia-manusia yang tercerahkan. Yaitu manusia-manusia organik yang kuat hubungannya kepada Allah dan matang secara moral. Tanggung jawab sosial manusia-manusia organik di atas kebanyakan manusia pada umumnya. Pribadinya akan merasa resah jika ketimpangan sosial terjadi di sekitarnya. Manusia organik berbeda dengan pelaksana puasa pada umumnya. 

Manusia organik melihat Ramadhan sebagai lumbung spiritual untuk menyerap pesan-pesan ilahiyah untuk ditransformasikan ke tengah-tengah masyarakat. Jika pelaksana puasa pada umumnya melihat Ramadhan sebatas ruang untuk mengumpulkan sekeranjang pahala yang cenderung bersifat ritualistik dan individualistik, manusia-manusia organik justru melakukan passing over (melampaui itu). Kumpulan pesan ilahiyah membutuhkan pemahaman dan implementasi. Di sinilah peran aktif  dan kreatif manusia organik dibutuhkan. 

Dalam penjelasan ayat ditekankan bahwa Ramadhan melahirkan manusia-manusia takwa. Dengan kata lain, manusia-manusia organik itulah orang-orang yang bertakwa. Yaitu kelompok manusia yang sudah terbebaskan dari penjara dan tarikan nafas bendawi. Hidupnya berkisar untuk kemaslahatan orang-orang banyak. Manusia-manusia seperti inilah yang diharapkan menyemarakkan Ramadhan yang datangnya hanya setahun sekali. Komunitas manusia seperti ini memaknakan Ramadhan secara membebaskan. Ramadhan tidak lagi dihiasi dengan seperangkat asesoris material seperti buka puasa bersama dengan dana yang besar, tabuh bedug, tadarus dengan pengeras suara hingga mengganggu orang yang ingin bersitirahat. Ramadhan diisi dengan berbagai karitas sosial dan kecintaan yang lebih kepada kaum dhu’afa.

Jika pelaksana puasa hanya mengendalikan makan dan minum dari terbit fajar sampai terbenam mata hari, tidak demikian halnya dengan kaum dhu’afa. Boleh jadi mereka berpuasa setiap waktu, sepanjang hari dan sepanjang tahun, karena tidak ada lagi makanan dan minuman yang dapat dikonsumsi. Ramadhan menyentuh rasa lapar kita. Agar bagaimana kita dapat berbagai kepada sesama. Ramadhan juga menjadi bulan dimana kepedualian sosial diasah kembali bahkan ditingkatkan. Ini diantara nilai penting yang mesti dipahami dan dimengerti oleh pelaksana puasa. Tanpa itu, maka Ramadhan hanyalah sebuah waktu hampa yang berlalu begitu saja tanpa makna.

Ramadhan kita harapkan menjadi bulan pembebasan. Pembebasan diarahkan kepada dua target perubahan, yaitu; pembebasan pikiran dan pembebasan perilaku. Pembebasan pikiran dibuktikan dengan bagaimana kita memaknai Ramadhan secara proporsional sesuai dengan kehendak wahyu. Pembebasan perilaku dibuktikan dengan sikap istiqomah untuk mengimplementasikan nilai-nilai Ramadhan dalam aktifitas di masyarakat. Ramadhan menjadi sejenis sumber dimana etika publik diproduksi untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah makna Ramadhan yan membebaskan itu.

Meskipun datang dalam suasana yang carut marut dan situasi yang tak menentu, Ramadhan diharapkan menjadi waktu dimana kita dapat kembali menggali nilai-nilai ilahiyah yang kerap tersembelih oleh ego dan kepentingan pribadi kita. Nafsu serakah, pola hidup hewani yang selama ini melekat dalam diri kita, sedapat mungkin kita kikis. Selama satu bulan penuh nilai-nilai kesucian kita injeksi ke dalam keimanan kita agar kita benar-benar menjadi manusia bertakwa sebagaimana muara dari Ramadhan itu. 

Senin, 26 Desember 2016

Wahyu Yang Tersandera


Di sebuah gang sempit di tengah deru kendaraan bermotor dan polusi udara yang nyaris sempurna, hiduplah seorang janda tua yang miskin. Rumah yang dihuninya sungguh tidak layak. Selain tidak memenuhi standar kesehatan, rumah itu juga terletak di sebelah parit busuk. Parit itu berpredikat busuk bukan  agar mudah dikenali, namun benar-benar busuk karena aroma yang ditimbulkannya. Mulai dari limbah keluarga sampai tradisi membuang sampah sekehendak hati menjadi variabel penting kebusukan aroma parit itu.
Janda sengsara tersebut sudah beberapa tahun ditinggal mati  oleh suaminya. Ia berprofesi sebagai penarik becak tua. Anaknya terdiri dari tiga orang. Satu berkelana dan entah dimana rimbanya, satu sudah berkeluarga namun minus atensi kepada ibunya, dan satunya lagi hidup membujang dan kini mengalami depresi berat. Secara sosial, keluarga malang itu hidup dalam suasana sepi di tengah keramaian. Tak sedikit anggota masyarakat mencibir kehidupan mereka bahkan meletakkan mereka pada kasta kehidupan terendah.
Kini janda tua itu hidup sendirian menjalani hari-hari tua yang terasa semakin tak pasti. Bagaimana tidak? Salah seorang anak yang menjadi tumpuan dan harapan hidupnya tidak lagi dapat diandalkan. Sementara pada sisi lain, kurangnya asupan gizi dan penyakit berat yang dideritanya menjadi masalah tersendiri. Secara psikologis hidupnya penuh dengan tekanan, sementara secara material hidupnya penuh dengan berbagai kekurangan.
Tapi ada sebuah ironi di seputar kehidupan janda tua itu. Gubuk reot yang menjadi tempatnya bernaung terletak tidak jauh dari beberapa masjid yang terbilang mewah. Bahkan di sekitarnya juga hidup kaum Muslimin, cerdik cendekia, bahkan orang-orang kaya yang berkecukupan. Ada dua perjalanan hidup yang berlangsung di tempat itu, namun keduanya tidak berjalan beriringan, bahkan bergerak saling menjauh. Kehidupan si janda tua semakin terpuruk sementara masyarakat di sekitarnya semakin hidup mewah.
Melihat fenomena ini, nalar keagamaan kita bekerja kembali. Tidakkah agama diturunkan Allah untuk sebuah pembebasan? Tentu saja pembebasan dalam arti yang luas, misalnya bebas dari kebodohan, bebas dari kepicikan, bebas dari keterbelakangan, bebas dari penjajahan dan bebas dari kemiskinan? Mengapa terjadi kemiskinan di tengah-tengah kecukupan? Bukankah Islam adalah agama pembebasan yang peduli dengan berbagai penyakit sosial?
Tentu saja, pertanyaan-pertanyaan nakal dan menggelitik ini tidak mudah untuk dijawab. Hal ini membutuhkan pengkajian serius dan komprehensif. Meskipun demikian, penulis berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang kurang beres dalam sistem keagamaan yang dipahami atau diamalkan selama ini. Sistem keagamaan yang kurang beres ini berkonsekuensi logis pada pengamalan Islam sehari-hari. Pada tataran yang lebih jauh, hal ini akan berujung pada lahirnya citra negatif terhadap agama Islam itu sendiri.
Penjelasan yang paling sederhana dengan melihat model keislaman kaum Muslimin di lokasi tersebut. Model keislaman fikih oriented sepertinya menjadi primadona, bukan model keislaman komprehensif. Model ini bertujuan membentuk pola pikir keislaman kaum Muslimin melalui ibadah-ibadah ritual praktis yang dilaksanakan sehari-hari. Misalnya syahadat, sholat, puasa, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji. Apa dan bagaimana implementasi nilai-nilai ritual itu dalam kehidupan sehari-hari sering terabaikan.
Dengan model keislaman tersebut, standar kemuliaan seseorang diukur dari syahadat yang diucapkannya, sholat yang tidak pernah ditinggalkannya, puasa yang dikerjakannya, zakat yang dibayarkannya, dan haji yang ditunaikannya. Jika seorang Muslim melaksanakan ritual-ritual ini, maka predikatnya sebagai hamba yang religius layak disematkan. Rasa keislaman seorang Muslim dianggap sempurna melalui runtutan ritual ini.
Sampai di sini, rasa keislaman itu tidak melahirkan masalah. Masalah akan muncul ketika hal itu berhenti pada tataran ritual dan mandul untuk melahirkan pesan moral  dalam kehidupan nyata. Karena itu, sering kita lihat seorang Muslim rajin dalam melaksanakan sholat, namun hidupnya kumuh, buang sampah sembarangan, egois dan hanya mementingkan kesenangannya sendiri, serta tidak peduli dengan nasib orang lain. Menjadi Muslim sejati dirasakan cukup hanya dengan aktifitas itu.
Padahal sesungguhnya, Islam adalah agama kemanusiaan. Artinya, agama ini diturunkan Allah untuk kebahagiaan umat manusia. Menjadi seorang Muslim berarti menjadi orang yang memiliki komitmen kuat untuk mengangkat harkat dan martabat nilai-nilai kemanusiaan. Sejauh yang penulis pahami, semua ajaran Islam yang terkandung dalam Alquran maupun As-Sunnah bermuara untuk kemaslahatan umat manusia.
Disinilah letak kesucian Islam itu. Kesucian Islam tidak lepas dari konteks kehidupan. Kesuciannya justru melekat erat dengan kehidupan. Dimana ada permasalahan dalam kehidupan, nilai-nilai luhur Islam mesti hadir di tempat itu. Kesucian Islam itu mengintegrasikan dua hal yang padu, yaitu; teks dan konteks, atau nilai-nilai normatif sebagai panduan dan nilai-nilai praktis sebagai implementasi. Kesucian Islam ternodai ketika ajaran-ajarannya tumpul dan lumpuh menghadapi dinamika persoalan di masyarakat. Inilah yang sekarang menjadi fenomena menyedihkan.
Jika dicermati model ideal keislaman versi Rasulullah, maka kehadirannya merupakan titik balik perubahan dari sistem kehidupan yang merendahkan harkat dan martabat manusia menuju pembebasan yang mencerahkan. Di antara jasa besar Rasulullah adalah ikhtiar kemanusiaan yang dilakukannya secara sistemik. Padahal sebelumnya nilai-nilai kemanusiaan ditentukan oleh hegemoni kekuasaan dan kapitalisasi ekonomi.  Dari lisannya yang suci terlontar kalimat-kalimat yang tak usang hingga kini, misalnya; jadilah tokoh-tokoh perdamaian, hilangkanlah rasa lapar, eratkan hubungan silaturrahim.
Wahyu di tangan Rasulullah ditransfomasikan dalam segala lini kehidupan, baik dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Wahyu begitu hidup. Wahyu tidak berhenti pada tataran hapalan apa lagi membatu yang hanya terletak di hati. Wahyu bagi Rasulullah adalah nyawa dan dinamisator peradaban. Ia membumi dan dirasakan oleh manusia tanpa memandang latar belakang keimanan dan status sosial. Pemahaman dan semangat seperti ini seharusnya menjadi bahan renungan dan nafas berbagai perubahan di masyarakat.
Mulai dari persaksian syahadat sampai pelaksanaan ibadah haji, Rasulullah menjadikan nilai-nilai kemanusiaan sebagai ending target (target akhir). Ukuran kemuliaan manusia sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah terletak pada kematangan setiap pribadi Muslim dalam merawat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Penistaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan secara substantif sama artinya  dengan mencederai tujuan syahadat sampai pelaksanaan ibadah haji.
Umat Islam kini lupa jika terdapat seorang Muslim yang masih kelaparan di tengah kecukupan harta saudara-saudaranya, itu sama artinya menistakan kesucian dan kemuliaan Islam. Untuk masalah argumen teologis, baik dari Alquran maupun As-Sunnah, tidak perlu diragukan lagi. Islam sudah mengatur itu secara eksplisit baik berbentuk semangat atau tuntunan praktis. Namun umat Islam kerap gagal membawanya dalam prilaku. Pada konteks ini wahyu menjadi tersandera. Semestinya wahyu turun dari langit untuk membebaskan manusia, namun kini dominan untuk urusan ritual.
Gubuk reot tempat berteduh janda tua itu setiap waktu disinggahi gema suara azan. Namun suara itu tidak serta merta dapat menghapus duka dan lara  serta kekurangan makanan di rumahnya. Masjid semestinya menjadi media penghubung dan waduk kesadaran religius dan sosial umat Islam. Berbagai persoalan dibahas dan dicarikan jalan keluarnya termasuk persoalan janda tua itu. Masjid juga bukan sarana yang bertujuan mensucikan Allah secara tekstual dan teritorial, melainkan tempat untuk mentabulasi berbagai persoalan keumatan.
Kasus menyedihkan janda tua itu sebenarnya tak perlu terjadi. Umat Islam dapat bahu membahu mengatasi berbagai kesulitannya, apakah secara konsumtif maupun produktif. Kunci-kunci surga sebenarnya dapat dicari di berbagai tempat, salah satunya dengan membantu orang yang kelaparan. Penulis yakin, jika seorang Muslim turun tangan membantu kesusahan janda tua itu, Allah tidak akan membalasnya dengan apa pun kecuali surga. Dengan cara ini wahyu menjadi hidup dan tidak lagi tersandera.